>From Angkor with Love (Part 3)
Perjalanan kami menuju Floating Village di danau Tonle Sap
dari kota Siem Reap memberikan kesan sendiri. Seperti yang sudah pernah saya
baca, kota Siem Reap ini panas dan berdebu. Beberapa penduduk lokal malahan
menggunakan masker saat mereka berkendaraan motor di jalan-jalan Siem Reap.
Debu ini bukan dari asap polusi (terbukti langit di atas Angkor masih biru :),
tapi memang benar-benar debu dari tanah. Tanah di Siem Reap mirip seperti Lumpur
yang telah mengering lalu terbang terkikis angin.
Udara Siem Reap juga sangat panas. Tidak heran beberapa tips
yang pernah saya baca menyarankan waktu terbaik mengunjungi Angkor adalah bulan
Oktober – Desember. Karena pada bulan-bulan itu cuaca tidak terlalu panas.
Bersyukur pada bulan Januari-Februari seperti kunjungan kemarin, udara Siem
Reap masih cukup bersahabat. Selain cuaca yang panas dan berdebu, udara menuju
Tonle Sap juga tercium bau ikan asin di jemur. Makanya sepanjang jalan ke Tonle
Sap kami berseloroh kalau Siem Reap ini adalah gabungan antara Pantura, Bekasi,
dan Jakarta Utara…plus Sulawesi hehehe. Kering dan berdebunya kayak di Pantura,
panasnya kayak Bekasi, bau ikan asinnya kayak di Jakarta Utara (Marunda atau
Muara Karang?), dan kanan kiri jalan berdiri rumah penduduk asli yang berbentuk
panggung yang cukup tinggi. Kata Ari, ini mirip banget kayak di Sulawesi…
weleh…
Kami juga melalui area persawahan yang hijau, area rumput
liar, dan kolam-kolam besar yang dipenuhi tanaman bunga Lotus. Sayang sih pada
nggak mau berenti, padahal saya pengin sekali foto-foto diantara lotus-lotus
besar yang bermekaran itu.
“Nanti aja mbak, foto-foto di Kebun Raya Bogor sono….” Kata
teman saya. Lho yang di KRB sono lotusnya beda sama yang ini. Makin kepengen
begitu ada rombongan
turis Jepang berhenti dan foto-foto di sana…huhuhuhu…coba kami punya waktu
seminggu di sini :D (“yaailah..jauh-jauh ke Kamboja cuma mo poto sama terate
doang yak..” celetuk yang laen)
Akhirnya setelah ber-Tuk-tuk selama kurang lebih empatpuluh
menit sampailah kami di Floating Village. Kendaraan pribadi, dan bus-bus
rombongan sudah lebih dulu ada di sana. Padahal hari pagi. Setelah dibantu Sam,
supir Tuk-tuk kami, akhirnya dengan 10 dolar per orang kami bisa menikmati
paket wisata Floating Village.
Tonle Sap memang danau yang luas, sejauh mata memandang,
semuanya air. Sebenarnya ini bukan wisata yang istimewa. Bagi kami melihat
rumah di atas air adalah hal yang biasa. Di Indonesia juga ada. Penduduk asli
dan anak-anak lalu lalang dengan perahu juga bukan hal yang aneh. Malahan lebih
indah di negeri sendiri. Yang ini kesannya kumuh dan….pemandangan ini
membuktikan bahwa Kamboja adalah negara yang ‘sangat’ miskin.
To be continue…