>From Angkor with Love ( part 4)
Penghuni Tonle Sap kebanyakaan adalah Vietnamese kata supir
perahu kami. Hmm, memang sih wajahnya sedikit berbeda dengan wajah orang
Kamboja kebanyakan yang tadi pagi kami liat di Siem Reap (yang mirip-mirip
wajah orang Jawa). Mereka dan orang-orang yang berada di sekitar danau hidup
dengan menangkap ikan. Rupanya bau ikan asin itu berasal dari ikan-ikan yang
mereka diasinkan supaya awet karena hasil tangkapan yang berlimpah.
Sepanjang berperahu, kami melihat ‘bangunan-bangunan’
sumbangan negara lain yang tampak menonjol karena ada papan nama dan negara
penyumbang. Ada seperangkat permainan untuk anak-anak (semacam jungkat-jungkit,
papan meluncur, dan lain-lain) sumbangan negara Korea – bertuliskan “For Our
Happiness” dan dalam tulisan Hangul yang mungkin isinya sama ;), gereja-gereja
(juga sumbangan Korea), lapangan basket, sekolah dan semacam rumah untuk
pertemuan dan pengobatan (yang tidak jelas sumbangan dari negara mana lagi
karena letaknya jauh dari perahu kami). Kecuali yang disebutkan pertama (papan
luncur, jungkat-jungkit), semua ‘bangunan’ itu ada di atas air dan tentunya
terapung-apung, termasuk lapangan basketnya juga lho…
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, sopir perahu
membawa kami ke Crocodile Farm. Ihhh.. mendengar namanya aja udah ngeri.
Sebetulnya Crocodile Farm ini sejenis ‘rest area’. Turis yang datang selain
bisa melihat-lihat buaya (ini free of charge – sudah termasuk dalam paket
perjalanan), mereka juga bisa makan minum di situ, atau membeli souvenir yang
tersedia. Anak-anak yang tinggal di situ juga bisa memeragakan ‘atraksi’
bermain dengan Ular besar dari jenis yang tidak berbisa tentunya. Kalau turis
berminat berfoto dengan ular juga boleh, anak-anak itu akan meminta bayaran 1
dolar.
Kami berempat memesan air kelapa. Sambil bergantian menyesap
air kelapa kami menikmati sejuknya angin yang bertiup di atas danau Tonle Sap.
Oh ya, jangan berpikir bahwa danau Tonle Sap ini airnya jernih, kebiruan atau
kehijauan dan tenang seperti kebanyakan danau yang kita lihat di Indonesia lho
ya. Air danau Tonle Sap ini berwarna coklat, mirip air yang mengalir di saat
banjir (karena membawa butiran lumpur tanah), dan beriak. Warna coklat air
Tonle Sap kemungkinan karena danau ini menampung air sungai Mekong yang meluap
di saat musim hujan. Memang di saat musim hujan, Tonle Sap akan menjadi danau
yang luasnya mencapai 16.000 km2 dengan kedalaman hingga 9 m. Sedangkan pada
saat musim kering luasnya hanya 2.700 km2 dan kedalamannya 1 m saja. Waaah,
perbedaannya cukup ekstrim ya..
Dari floating village di Tonle Sap, Tuk-tuk membawa kami
kembali ke Siem Reap. Karena hari sudah siang, kami bermaksud mencari tempat
makan. Siang-siang begini makanan halal sulit ditemukan kata Ari. Beruntung
kami menemukan papan nama “Muslim Family Restaurant” di mulut gang di jalan
yang kami lalui . Tuk-tuk segera menyusuri gang itu, dan…ahh restorannya tutup.
Kami berempat turun dan bermaksud ‘memaksa’ pemilik restoran
memasakan barang sedikit makanan untuk makan siang kami. Kali-kali aja bisa
gitu loh. Tapi restoran ini sepi. Akhirnya kami menyempatkan berfoto di depan
restoran dan juga masjid (satu-satunya di Siem Reap?) yang ada di depan
restoran itu.
Masjid Al-Nikmah namanya. Sepertinya sekitar sini
perkampungan muslim. Kami melihat beberapa anak perempuan mengenakan jilbab
lalu lalang di jalanan.
“Bener, ini restoran yang sempet direkomendasikan sama Mas
Heru (Susetyo),” kata Dee (Dian) sambil asyik foto-foto di masjid. Heru Susetyo
adalah lawyer kenalan kami yang juga seorang backpacker (dan sudah menerbitkan
buku). Tapi kenapa sepi bener yak…
Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam restoran. Seorang
laki-laki. Muslim Kamboja asli tapi fasih berbahasa Melayu. Ia menjelaskan
kalau restorannya baru buka sore sampai malam. Siang jarang ada pembeli
katanya. Tapi dia kemudian merekomendasikan restoran muslim lain. Dia langsung
bercakap-cakap dengan Sam menjelaskan arah jalan ke sana. Akhirnya kami kembali
ke pusat kota Siem Reap, menuju restoran yang letaknya di # 0275 National Road
No. 6 Banteay Chas Village, Salakam Cammune Siem Reap. Di restoran ini nantinya
benar-benar makan besar, dan pemiliknya, orang Malaysia, sangat senang dengan
kunjungan kami. Wuaah….
To be continue