http://groups.yahoo.com/group/rumahilmu/message/4943 "Rumah Ilmu Indonesia" <rezaerv...@...>rezaervani Belajar Online itu Budaya Oleh : Reza Ervani *)
Alhamdulillah, 2 minggu terakhir, ujicoba pembelajaran Online di Sekolah Terbuka Rumah Ilmu Indonesia -http://sekolahterbuka.rumahilmuindonesia.net - berlangsung meriah. Tercatat 8 (delapan) orang peserta dalam 2 (dua) sesi : Sabtu Malam dan Ahad Malam, masing-masing 5 (lima) peserta dari beragam daerah - Lampung, Kendal, Sidoarjo, Samarinda, hingga Bima Nusa Tenggara Barat - ikut menguji model pembelajaran Online ini. Banyak evaluasi yang kami peroleh, salah satunya adalah kapasitas dan kekuatan server rumahilmuindonesia.net hingga SMS Gateway yang masih sering error. Pada April ini, dalam waktu setengah bulan semenjak ujicoba dilakukan, server rumahilmuindonesia.net mencatat hampir 1.000.000 hits yang dilakukan oleh para pengguna layanan di rumahilmuindonesia.net, termasuk SUPERPEDIA, Toko Open Source dan Sekolah Terbuka. Sungguh hal yang menggembirakan, karena ternyata apa yang disediakan benar-benar bisa mulai memberikan manfaat. Walau resikonya teguran dari layanan hosting akhirnya sampai pada kami, dan diminta untuk pindah ke server khusus, agar website lain tidak terimbas "lambatnya akses". Tak mengapa, ini menunjukkan adanya dinamika dan perkembangan, yang harus pula direspon dengan meningkatnya ilmu dan kemampuan pengelolaan. Ada hal kecil yang penulis sukai, bahwa saat menggunakan fasilitas pembelajaran online di Sekolah Terbuka -http://sekolahterbuka.rumahilmuindonesia.net - yang berbasis Moodle, peserta otomatis mengurangi jam kunjungnya ke website-website lain, termasuk situs jejaring sosial terkenal - Facebook. Dalam pertemuan pertama, banyak peserta masih meraba-raba, berusaha membiasakan diri dengan fitur-fitur moodle. Dua minggu berlalu, beberapa peserta sudah mulai menikmati. Bahkan ada dua orang peserta yang tercatat mengunjungi Sekolah Terbuka setiap hari. Tapi ada pula yang masih terus menyesuaikan diri. Begitulah, Proses Pembelajaran Online sesungguhnya membutuhkan penyesuaian budaya. Sama halnya ketika kita dulu pertama kali mengenal Facebook. Klik sana-sini untuk memahamkan diri dengan fitur-fiturnya. Lambat laun, jadilah facebook akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Sehingga tak lengkap rasanya hari tanpa memperbaharui status di Facebook. Menggeser budaya online menjadi budaya BELAJAR online bukanlah tantangan ringan. Butuh motivasi tinggi dari para pembelajar untuk menggunakan layanan belajar ini. Karena tidak seperti Facebook, yang tak ubahnya seperti hiburan maya, website belajar ini tentu tak bisa melepaskan "unsur keseriusannya". Walau canda dalam tiap kelas chatting juga diperkenankan, atau hal-hal sederhana yang ringan lainnya seperti memberikan komentar pada blog profil Moodle seseorang. Proses pergeseran kebiasaan online ini butuh supervisi, tidak bisa dibiarkan berjalan begitu saja. Karenanya dibutuhkan beragam model pembelajaran yang harus terus-menerus diujicoba. Dicatat kekurangannya, ditingkatkan kualitas kontennya, adanya instruktur "real" yang bertindak sebagai pemandu di setiap saatnya dan hal-hal pendukung lainnya mestilah disertakan di dalam upaya ini. Singkat kata, Belajar Online itu adalah sebuah Budaya. Mungkin budaya baru bagi kebanyakan dari kita. Dan layaknya sebuah budaya baru, dia butuh waktu untuk bisa masuk ke dalam kebiasaan kita sehari-hari. Karenanya, sepatutnya "kunjungan" ke website pembelajaran - termasuk Sekolah Terbuka Rumah Ilmu Indonesia - tidaklah dilakukan hanya ketika di hari belajar saja (Sabtu Malam atau Ahad Malam), tetapi kapan sempat dan kapan luang berkunjunglah kesana, agar budaya online untuk belajar, agar kebiasaan menggunakan waktu di depan internet untuk belajar, menjadi sesuatu yang perlahan-lahan menjadi bagian dari kehidupan kita. Kehidupan seorang guru .... Allahu 'Alam *) Penulis adalah Pembina Yayasan Rumah Ilmu Indonesia http://www.rumahilmuindonesia.or.id
