sekedar nerusin aja
Bagi yang mau hadir silahkan 
konfirmasi (cukup sms saja) ke nomor:
* 085694596973 (Pandu)
*021-99474467 (Fajar)


SalaMIK



----- Forwarded Message ----
From: abdul malik <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Sent: Tue, July 20, 2010 11:57:05 PM
Subject: [LeoKristi] Peluncuran Buku Pacar Merah Indonesia 1 & 2 karya MATU MONA

  


UNDANGAN
TERBUKA
Peluncuran Buku Pacar Merah Indonesia 1 & 2
karya
MATU MONA

24 July 2010 pukul 13.00-16.00 wib 

Tempat:Toko
Buku Gramedia Matraman Lantai 3 Jakarta Pusat

Dengan
segala hormat, kami menganggap ini adalah undangan resmi kepada
teman-teman. 

Buku Pacar Merah Indonesia ini, aslinya
tersimpan di KITLV Leiden Belanda. Atas bantuan Prof. Harry A. Poeze
berhasil diterbitkan ulang oleh penerbit Beranda. Perjuangan Tan
Malaka dikupas secara eksplisit oleh penulisnya Matu Mona. Buku yang
mengandung sejarah paling otentik yang diterbitkan pertama kali pada
tahun 1938 oleh penulisnya Matu Mona yang dikenal dengan sebutan
"Penulis dari Penjara ke Penjara". Kedua tokoh, Tan Malaka
dan Matu Mona, terlibat dalam aksi kaum pergerakan pada masa itu,
patut disimak dan diketahui sepak terjangnya oleh generasi masa kini.
(Rita Matu Mona)

Bagi yang berkenan hadir mohon melakukan
konfirmasi (cukup sms saja) ke nomor:
* 085694596973 (Pandu)
*
021-99474467 (Fajar)

Terima kasih.

Keluarga Matu
Mona.

Pacar Merah Indonesia dan Sisi Kelam Pahlawan yang
Terpinggirkan
Monday, May 10, 2010 at 10:06pm
Bisa jadi nggak
banyak yang tau siapa Matu Mona di jagad kesusastraan Indonesia. Nama
itu tertutup karena tulisannya lebih pada tokoh-tokoh marjinal yang
terpinggirkan dan hanya dianggap nomer dua. 

Nomer dua tidak
akan pernah diperhitungkan, karena nomer dua bukan yang utama. Lihat
Jusuf Kalla, saat ia menjabat wakil presiden, tak banyak dikenal aksi
dan polahnya, tapi begitu ia tak lagi menjabat, orang justru berkaca
bahwa kesuksesan SBY banyak bersinggungan dengan peran pentingnya.
Lihat Bung Hatta, perannya sebagai ekonom selain wakil presiden, tak
banyak ditengok dan dilihat, meski pemikirannya tentang ekonomi
kerakyatan kini justru dilirik-lirik banyak pihak karena banyak yang
muntah dengan liberalisasi ekonomi. 

Lihat juga Tan Malaka,
aktivis pejuang nasionalis Indonesia yang sempat terpinggirkan karena
berseberangan dengan Bung Karno. Pendiri partai Murba ini sampai
terusir dari Indonesia, ditangkap berkali-kali hingga kematiannya
yang misterius. Padahal Mohammad Yamin pernah menulis "Tan
Malaka Bapak Republik Indonesia", di mana pendirian negara ini
tidak melulu terpusat pada Bung Karno dan Bung Hatta saja,
sebagaimana Jefferson Washington yang merancangkan Republik Amerika
Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai. 

Sisi gelap ini yang
diangkat oleh Matu Mona dalam bukunya, Pacar Merah Indonesia. Ditulis
tahun 1934 dan terbit pertama dengan judul Spionage-Dienst: Patjar
Merah Indonesia, diterbitkan oleh Centrale-Courant en boekhandel, di
Medan, Maret 1938. Novel sejarah yang dibungkus dengan kisah
spionase, tindakan kepahlawanan, pengkhianatan, peristiwa misterius,
bahkan percintaan. 

Mengkisahkan cerita buronan polisi rahasia
kolonial, di mana tokoh utama ceritanya, Pacar Merah, adalah julukan
untuk Tan Malaka yang dianggap sebagai tokoh misterius pergerakan
Indonesia Merdeka. Lucunya, buku keduanya justru beredar di negeri
kincir angin dan penerbit Beranda mendapatkannya lewat KTLV di Leiden
Belanda sebagai karya sastra yang patut diperhitungkan, bukan di
Indonesia sebagai negara asalnya. Beberapa waktu dekat, buku keduanya
segera diterbitkan.

Penulisnya Matu Mona, bernama asli
Hasbullah Parinduri. Lahir di Medan, Sumatera Utara, tanggal 21 Juni
1910. Memiliki latar belakang pendidikan St. Anthony’s Boys School
Medan. Setelah lulus, di tahun 1930, ia menjadi guru bantu di sekolah
tersebut. 

Beragam profesi pernah digeluti; 
Wartawan koran
Pewarta Deli (1931-1938) 
Pemimpin Mingguan Penyebar
(1941)
Pembantu Panji Pustaka (1943), 
Pendiri Koran Perjuangan
Rakyat di Garut (1946) 
Pemimpin Harian Tegas di Banda Aceh
(1950-1953) 
Pemimpin Mingguan Penyebar di Medan (1954-1959)

Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Selecta di Jakarta
(1960-1987)
Matu Mona meninggal di Jakarta pada tanggal 8 Juli
1987 di usia 77 tahun. 

Buku Pacar Merah Indonesia kini
diterbitkan lagi sejak tahun 2001 dan Februari 2010 kemarin dicetak
ulang. Adapun yang gigih membongkar-bongkar semua karya-karya Matu
Mona adalah Pandu Dirgantara, cucu langsung dari Matu Mona yang
memang jebolan Sejarah Unpad. Banyak karya Matu Mona yang harusnya
mengisi khazanah kesusastraan Indonesia. Berhubung konteks yang
disebutkan di atas tadi, karya itu sempat terkubur karena rezim
tertentu. 

Sementara ibunya, Rita Matu Mona, aktif di Teater
Koma dan mengajari kegemblungan teater pada adik saya, Aini, he he
he...
(sumber:
luqman hakim lewat facebooknya di
http://www.facebook.com/ritamatumona?v=wall&story_fbid=116326105074219#!/note.php?note_id=419099574574&id=759188351&ref=mf)


[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

Kirim email ke