Benar sekali…seperti nya muskil untuk bisa membuat anak jenius dalam waktu 2 
hari  pelatihan 

 

Best regards,

Vanda

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of 
Nugroho Laison
Sent: Wednesday, November 03, 2010 8:43 AM
To: Binusnet; Blue Jackets; Komunitas Tarbawi; SMA 1 Bekasi; Rumah Ilmu 
Indonesia
Subject: [sma1bks] "Teori otak tengah sudah jelas penipuan"

 

  


 

http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/33375

Sudahkah anda ikut tertipu? Mudah-mudahan tidak.
Sila dibaca,
JR

Sent from my Blackkerupuks®
powered by Gusti Allah
From: Satrio Arismunandar <satrioarismunan...@...> 
Sender: [email protected] 
Date: Wed, 27 Oct 2010 01:36:49 -0700 (PDT)
To: news Trans TV<[email protected]>; kampus 
tiga<[email protected]>; ppiindia<[email protected]>; nasional 
list<[email protected]>; ex menwa UI 2<[email protected]>; 
HMI Kahmi Pro Network<[email protected]>; 
jurnalisme<[email protected]>; AJI INDONESIA<[email protected]>; 
technomedia<[email protected]>; netsains 
sains<[email protected]>; 
warta-lingk<[email protected]>; sastra 
pembebasan<[email protected]>; Pers 
Indonesia<[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [jurnalisme] Sarlito Wirawan: "Teori otak tengah sudah jelas penipuan"

  


From: Anto Ryantori <ryanto...@...>
Date: Wednesday, October 27, 2010, 12:02 PM

 

Aslmkm rekan-rekan ISMES, info berikut semoga bermanfaat.

  

"Teori otak tengah sudah jelas penipuan" 

Dengan berpikir atau bertanya sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini 
adalah penipuan. Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang 
serba instan. Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita 

gampang sekali jadi sasaran penipuan. Inilah menurut saya yang paling 
memprihatinkan dari maraknya kasus otak tengah ini. 

Saturday, 18 September 2010 

Di suasana Lebaran ini mestinya saya menulis sesuatu tentang 

Lebaran,tepatnya tentang bermaaf-maafan, wabil-khusus tentang psikologi 
maaf. Namun,draf tulisan yang sedang saya siapkan terpaksa saya sisihkan 
dulu saking gemasnya mengamati perkembangan pseudo-science (ilmu semu)yang 

sangat membahayakan akhir-akhir ini tentang otak tengah(midbrain). 
Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif yang 
menarik di tengah tengah banjirnya (lebih parah dari banjir Pakistan)

artikel dan siaran tentang Idul Fitri di hari-hari seputar Lebaran ini. 

Otak tengah adalah bagian terkecil dari otak yang berfungsi sebagai relay 
station untuk penglihatan dan pendengaran. Dia juga mengendalikan gerak 

bola mata. Bagian berpigmen gelapnya yang disebut red nucleus (inti merah) 
dan substantia nigra juga mengatur gerak motorik anggota tubuh. Karena itu 
kelainan atau gangguan di otak tengah bisa menyebabkan parkinson. 

Untuk keterangan lebih lanjut silakan berkonsultasi dengan dokter. 

Namun, yang jelas, otak tengah tidak mengurusi inteligensi, emosi, apalagi 
aspek-aspek kepribadian lain seperti sikap, motivasi, dan minat. Para 

pakar ilmu syaraf(neuroscience) Richard Haier dari Universitas California 
dan Irvineserta Rex Jung dari Universitas New Mexico, Amerika Serikat, 
menemukan bahwa inteligensi atau kecerdasan yang sering dinyatakan dalam 

ukuran IQ tidak terpusat pada satu
bagian tertentu dari otak, melainkan 
merupakan hasil interaksi antar beberapa bagian dari otak. 

Makin bagus kinerja antar bagian- bagian otak itu, makin tinggi tingkat 
kecerdasan seseorang (teori parieto-frontal integration). Di sisi lain, 

pusat emosi terletak di bagian lain dari otak yang dinamakan amygdala, tak 
ada hubungannya dengan midbrain. Sementara itu aspek kepribadian lain 
seperti minat dan motivasi lebih merupakan aspek sosial (bukan neurologis) 

dari jiwa, yang lebih gampang diamati melalui perilaku seseorang ketimbang 
dicari pusatnya di otak. 

Sampai dengan tahun 1980-an (bahkan sampai hari ini) masih banyak yang 
percaya bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada IQ-nya. Makin 

tinggi IQ seseorang akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Itulah 
sebabnya banyak sekolah mempersyaratkan hasil tes IQ di atas 120 untuk 
bisa diterima di sekolah yang bersangkutan. Namun, sejak
Howard Gardner 
menemukan teori tentang multiple intelligence (1983) dan Daniel Goleman 
memublikasikan temuannya tentang Emotional Intelligence (1995), maka para 
pakar dan awam pun tahu bahwa peran IQ pada keberhasilan seseorang hanya 

sekitar 20–30% saja. 

Selebihnya tergantung pada faktor-faktor kepribadian lain seperti usaha, 
ketekunan, konsentrasi, dedikasi, kemampuan sosial. Walaupun begitu, 
beberapa bulan terakhir ini, marak sekali kampanye tentang pelatihan otak 

tengah. 

Bahkan rekan saya psikolog psikolog muda ada yang bersemangat sekali 
mengampanyekan otak tengah sambil mengikutsertakan anak-anak mereka 
kepelatihan otak tengah yang biayanya mencapai Rp3,5 juta/anak (kalau dua 

anak sudah Rp 7 juta, kan) hanya untuk dua hari kursus. 

Hasilnya adalah bahwa anak-anak itu dalam dua hari bisa menggambar warna 
dengan mata tertutup. Wah, bangganya bukan main para ortu itu. Mereka

pikir setelah bisa menggambar dengan mata tertutup, anak-anak mereka 
langsung akan jadi cerdas, bisa konsentrasi di kelas, bersikap sopan 
santun kepada orang tua, bersemangat belajar tinggi, percaya diri, dan 

sebagainya seperti yang dijanjikan oleh kursus-kursus seperti ini. 

Mungkin mereka mengira bahwa dengan menginvestasikan Rp3,5 juta untuk dua 
hari kursus, orang tua tidak usah lagi bersusah payah menyuruh anak mereka 

belajar (karena mereka akan termotivasi untuk belajar sendiri), tidak usah 
membayar guru les lagi (karena otomatis anak akan mengerti sendiri 
pelajarannya), dan yang terpenting anak pasti naik kelas, malah bisa masuk 

peringkat. Inilah yang saya maksud dengan “berbahaya” dari tren yang 
sedang berkembang pesat akhir-akhir ini. 

Untuk orang tua yang berduit, uang sebesar Rp3,5 juta mungkin tidak ada 
artinya. Namun, kasihan anaknya jika ternyata dia tidak bisa memenuhi

harapan orang tuanya. Selain bisa menggambar dengan mata tertutup 
(sebagian hanya berpura-pura bisa dengan mengintip lewat celah penutup 
mata dekat hidung), ternyata dia tidak bisa apa-apa. 

Konsentrasi tetap payah, motivasi tetap rendah, dan emosi tetap 

meledak-ledak tak terkendali. Pasalnya memang tidak ada hubungannya antara 
otak tengah dengan faktor faktor kepribadian itu. 

Namun, orangtua sepertinya tidak mau tahu. Dia sudah membayar Rp3,5 juta 
dan sudah mendengarkan ceramah Dr David Ting, pakar otak tengah dari 

Malaysia itu. 

Kata Dr Ting, anak yang sudah ikut pelatihan otak tengah bukan hanya jadi 
makin pintar, tetapi jadi jenius. Karena itu nama perusahaannya juga 
Genius Mind Corporation. Malah bukan itu saja. Menurut Dr Ting, anak yang 

sudah terlatih otak tengahnya bisa melihat di balik dinding, bisa melihat 
apa yang akan terjadi (seperti almarhumah Mama Laurenz), bahkan bisa

mengobati orang sakit. Ya, itulah yang dijanjikannya dalam iklan-iklan 
Youtube-nya di internet. Dan dampaknya bisa dahsyat sekali karena angka 
KDRT pada anak bisa langsung melompat naik gara-gara banyak anak dicubiti 

atau dipukuli pantatnya sampai babak-belur oleh mama-mama mereka sendiril 
antaran tidak bisa melihat di balik tembok, meramal atau mengobati orang 
sakit.*** 

Untuk menyiapkan tulisan ini, saya sengaja menelusuri nama David Ting di 

Google. Ternyata ada puluhan pakar di dunia yang bernama David Ting dan 
David Ting yang menganjurkan otak tengah ini ternyata bukan pakar ilmu 
syaraf, kedokteran, biologi, atau psikologi. Dia disebutkan sebagai pakar 

pendidikan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syaraf (neuroscience). 

Maka saya ragu akan ilmunya. Apalagi saya hanya mendapati beberapa versi 
Youtube yang diulang-ulang saja, beberapa tulisan kesaksian, dan 

cerita-cerita yang sulit
diverifikasi kebenarannya. Saya pun lanjut dengan 
menelusuri jurnal-jurnal ilmiah online, siapa tahu tulisan-tulisan 
ilmiahnya sudah banyak, tetapi saya belum pernah membacanya. Namun 
hasilnya juga nol. 

Maka saya makin tidak percaya. 

Saya yakin bahwa teori David Ting tentang otak tengah hanyalah 
pseudo-science atau ilmu semu karena seakan-akan ilmiah, tetapi tidak bisa 
diverifikasi secara ilmiah. Sama halnya dengan teori otak kanan-otak kiri 

yang juga ilmu semu atau astrologi atau palmistri (membaca nasib orang 
dengan melihat garis-garis telapak tangannya). Masalahnya, astrologi dan 
palmistri yang sudah kuno itu tidak merugikan siapa-siapa karena hanya 

dilakukan oleh yang mempercayainya atau sekadar iseng-iseng tanpa biaya 
dan tanpa beban apaapa. Kalau betul syukur, kalau salah yo wis. 

Lain halnya dengan pelatihan otak tengah dan dulu pernah juga populer 

pelatihan otak kanak-otak kiri.
Bahkan, saya pernah memergoki, di sebuah 
gedung pertemuan (kebetulan saya ke sana untuk keperluan lain), sebuah 
pelatihan diselenggarakan oleh sebuah instansi pemerintah yang judulnya 
“Meningkatkan Kecerdasan Salat”. Semuanya dijual sebagai pelatihan dengan 

biaya (istilah mereka“biaya investasi”) yang mahal. Ini sudah masuk ke 
masalah membohongi publik, sebab mana mungkin dengan satu pelatihan selama 
dua har iseorang anak bisa disulap menjadi jenius yang serbabisa, bahkan 

bisa melihat di balik dinding seperti Superman. 

Lagipula, apa hubungannya antara menggambar dengan mata tertutup dengan 
jenius? 

Einstein, Colombus, Thomas Edison, Bill Gates, Barack Obama, dan masih 

banyak lagi adalah kaum jenius tingkat dunia, tetapi tak satu pun bisa 
menggambar dengan mata tertutup. 

Teori otak tengah sudah jelas penipuan. Dengan berpikir atau bertanya 
sedikit, setiap orang bisa tahu bahwa ini
adalah penipuan. 

Namun orang Indonesia itu malas bertanya dan ingin yang serba instan. 
Termasuk kaum terpelajar dan orang berduitnya. Jadi kita gampang sekali 
jadi sasaran penipuan. 

Inilah menurut saya yang paling memprihatinkan dari maraknyakasus otak 

tengah ini. 

(*)SARLITO WIRAWAN SARWONOGuru Besar Fakultas Psikologi UI 
----------------------------------------------------

 



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke