As Salamu 'alaikum Mas Morry,

maaf ngerepotin mulu...bisa kirim lagi via japri? biar kelihatan 
fotonya....soalnya ane ikutan via web reading.

Thanks a lot.

Btw ane suka forward dari Mas Morry, menyejukkan hati.
Kalo di Arab sana bisa langganan Majalah Tarbawi...pasti Mas Morry 90% ikutan 
langganan...ini analisa ane...soalnya suka forward email membangun seperti ini.

Wassalam,



Nugon


--- In [email protected], Morry Infra <morry.in...@...> wrote:
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: batu gamping <>
> Date: 2010/11/9
> 
> dari milis sebelah
> --- On *Mon, 11/8/10, peni kusumawati <>* wrote:
> 
>   --- Pada *Sen, 8/11/10, Pangaribuan, Genoveva Iswati Jonggara
> <<gisw...@...>
> >* menulis:
> 
> 
> Dari: Pangaribuan, Genoveva Iswati Jonggara < <gisw...@...>>
> Judul: FW: Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim
> Piatu
> Kepada:
> Tanggal: Senin, 8 November, 2010, 2:37 PM
> 
> 
>               Bai Fang Li, Tukang Becak Penyumbang Ratusan Juta untuk Yatim
> Piatu<http://www.apakabardunia.com/post/inspirasi/bai-fang-li-tukang-becak-penyumbang-ratusan-juta-untuk-yatim-piatu->
> 
> Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh
> hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk
> memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja
> pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.
> 
> [image: http://www.samaggi-phala.or.id/images/naskah_damma/bai.jpg]
> 
> Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran
> becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar
> biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya
> untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk
> mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah
> jam delapan malam.
> 
> [image: cid:image002.jpg@...][image:
> cid:image003.jpg@...]
> 
> Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah
> dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa
> orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak
> orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega,
> melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas
> yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat
> bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.
> 
> Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di
> daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para
> penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia
> menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya
> ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana
> ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.
> 
> Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan
> tubuhnya beristirahat, diruang itu juga ia menerima tamu yang butuh
> bantuannya, diruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi
> beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah
> bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari
> tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng.
> Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang
> biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah
> menjelang.
> 
> Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia
> seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara
> sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang
> suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong.Tangannya
> sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu
> dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.
> 
> Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya,
> sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk
> dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya
> yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena
> telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasi
> lanny a disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi
> dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin . Yayasan
> yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.
> 
> 
> 
> *Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya*
> 
> Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya
> menginjak 74 tahun.
> 
> Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah
> mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus
> berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat
> barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan
> mengendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan
> tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia
> menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan
> wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur
> pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.
> 
> Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang
> berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu
> beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong
> roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu
> kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.
> 
> Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan
> berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak
> membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak,
> dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. "Uang
> yang saya dapat untuk makan adik-adik saya...." jawab anak itu. "Orang tuamu
> dimana...?" tanya Bai Fang Li.
> 
> "Saya tidak tahu...., ayah ibu saya pemulung.... Tapi sejak sebulan lalu
> setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus
> bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih
> kecil..." sahut anak itu.
> 
> Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki
> bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik
> Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak
> perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang
> compang camping.
> 
> Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu
> perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu,
> karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah,
> jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan
> keluarga mereka saja mereka kesulitan.
> 
> Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa
> menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin . Pada pengurus yayasan itu Bai
> Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasi
> lanny a untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan
> dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.
> 
> Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya
> mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk
> mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasi lanny a setelah dipotong sewa
> gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong
> kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia
> sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang
> kekurangan.
> 
> Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan
> dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung
> mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat
> pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain
> yang berbeda warna. Mhmmm... tapi masih cukup bagus... gumannya senang.
> 
> Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli
> dengan cuaca yang silih berganti, ditengah badai salju turun yang membekukan
> tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh
> kurusnya.
> 
> 
> 
> "Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin
> itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia
> melakukan semua ini...," katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau
> berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya
> sendiri.
> 
> 
> 
> *Dalam Memberi, Bai Fang Li Tak Pernah Menuntut Apapun*
> 
> Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah
> menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak
> yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.
> 
> Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20
> tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah
> donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun,
> dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu
> rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya
> ke sekolah Yao Hua.
> 
> [image: cid:image004.jpg@...]
> 
> Bai Fang Li berkata "Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak
> dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya
> sumbangkan......" katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu
> menangis........
> 
> Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan.
> Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar
> RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia
> berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk
> menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin.
> 
> [image: cid:image005.jpg@...]
> 
> Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya
> yang bertuliskan "Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang
> luarbiasa".
> 
> Bila SESEORANG yang miskin menyumbang dari kekurangannya, maka ia adalah
> salah satu PENGHUNI SURGA yang diutus ke dunia, yang mengajarkan kita untuk
> selalu BERSYUKUR dan selalu BERBAGI kepada sesama.
>



------------------------------------

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [email protected]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[email protected]! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke