---------- Forwarded message ----------
From: abdul.salam <>
Date: 2010/11/11



--- Pada *Rab, 10/11/10, Admin <>* menulis:

 Judul:  Mengapa Saya?
Tanggal: Rabu, 10 November, 2010, 6:05 PM



Message of Monday – Senin, 8 Nopember 2010
Mengapa Saya?
Oleh: Sonny Wibisono *

“If I were to say, ‘God, why me?’ about the bad things, then I should have
said, ‘God, why me?’ about the good things that happened in my life.”
-- Arthur Robert Ashe, Jr., petenis profesional asal Amerika, 1943 –1993

Arthur Ashe adalah seorang petenis kulit hitam legendaris asal Amerika.
Prestasinya sungguh luar biasa. Tiga gelar grand slam, turnamen paling
bergengsi tersimpan di lemari kacanya. Gelar itu adalah US Open (1968),
Australian Open (1970), dan Wimbledon (1975). Sebuah prestasi yang sulit
diraih pada masa itu.

Selesai berkarir di lapangan, dia pun gantung raket. Namun dia bernasib
kurang bagus. Pada 1979, ia terkena serangan jantung. Dokter memutuskan ia
harus operasi by pass. Dua kali operasi dijalankan agar Ashe sembuh.

Tapi bukan sembuh yang didapat. Operasi ternyata membawa bencana lain. Dari
transfusi darah, dia mendapat virus yang sekarang dikenal dengan nama HIV
pada 1983. Pada masa itu, pengawasan terhadap berjangkitnya virus ini memang
masih rendah.

Kenyataan pahit ini ia sembunyikan kepada publik. Sampai akhirnya, pada
April 1992, koran terkemuka USA Today menurunkan laporannya mengenai kondisi
kesehatannya. Sontak publik pun tercengang. Kebanyakan dari mereka
menyayangkan tragedi yang menimpa petenis yang rendah hati itu.

Sepucuk surat dari seorang pengagumnya pun sampai ke tangannya. Penggemar
itu menyatakan keprihatinannya. Dalam suratnya, sang penggemar bertanya,
"Why did God have to select you for such a bad disease?”. Pertanyaan yang
biasa saja, tapi sungguh dalam, “Mengapa Tuhan memilih kamu untuk menerima
penyakit ini?”

Ashe menjawab, “Begini. Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain
tenis. Di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis. 500 ribu
belajar menjadi pemain tenis profesional. 50 ribu datang ke arena untuk
bertanding. 5 ribu mencapai turnamen grand slam. 50 orang berhasil sampai ke
Wimbledon. 4 orang sampai di semifinal. 2 orang berlaga di final. Dan ketika
saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,
‘Mengapa saya?’ Jadi ketika sekarang saya menderita sakit, tidak seharusnya
juga saya bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’”

Pada 6 Februari 1993, Ashe mengembuskan napas terakhirnya. Dua bulan sebelum
mengembuskan napas terakhirnya, Ashe mendirikan the Arthur Ashe Institute
for Urban Health. Dan beberapa minggu sebelum ia wafat, Ashe masih
menyempatkan diri menulis memoarnya yang berjudul ’Days of Grace’.

Membaca ketulusan dan keikhlasan Ashe tidak saja menyentuh, tapi juga
mengetuk hati siapa saja. Penjelasan panjang lebar tentang kemenangan di
lapangan menggambarkan betapa dalam hidup kita hanya ingin mendapatkan
hal-hal yang terbaik belaka dan selalu lupa untuk sekadar berucap syukur
atas karunia itu. Bahkan alih-alih bersyukur, malah kesombongan yang kerap
muncul di saat berada di puncak kejayaan.

Kadang sebaliknya yang terjadi pada saat kesusahan. Pertanyaan kenapa nasib
buruk itu hanya menimpa pada kita kerap kali menggerundel dari mulut.
Seolah-olah keburukan tidak boleh mampir melintasi dalam perjalanan hidup
kita. Saat menerima cobaan, apa pun, kita bertanya kepada Tuhan ‘mengapa
saya, mengapa bukan orang lain?’ Sehingga kita merasa berhak menggugat
Tuhan. Bahkan memvonis betapa tidak adilnya Tuhan.

Ashe berbeda. Dia tak pernah mengeluh dan bertanya ‘mengapa saya’. Dia tetap
teguh dalam harapan. Seberapa besar pun beban hidup yang menimpa. Baginya,
kebaikan dan keburukan dari Tuhan adalah anugerah yang terindah dalam
hidupnya.

*) Sonny Wibisono, penulis buku 'Message of Monday', PT Elex Media
Komputindo, 2009


Kirim email ke