---------- Forwarded message ----------
From: Budi Abdul Muiz <>
Date: 2010/12/30


http://www.eramuslim.com/oase-iman/abi-sabila-belajar-kesederhanaan-pada-sang-juara.htm
 Belajar Kesederhanaan Pada Sang Juara

*Oleh* *Abi Sabila*

“ Coba tebak, hadiah apa yang aku minta?” tanya gadis kecil itu pada dua
sahabatnya.

Seperti berlomba, keduanyapun berebut menebak hadiah apa yang diminta
sahabat kentalnya itu.

“ Sepatu baru, tas, baju, boneka, sepeda, hp, blackberry, laptop?” tanya
mereka bersemangat.

Setiap mereka menyebutkan, setiap itu pula si gadis menggelengkan kepalanya.
Tak ada yang bisa menebak dengan benar, akhirnya merekapun menyerah.

“ Kalian menyerah? “ si gadis tersenyum menggoda.

“ Ya! “ jawab keduanya kompak.

Si gadis kecil tak langsung memberikan jawaban. Ia tahu bahwa kedua
sahabatnya pasti akan kaget, bahkan menertawakannya. Tapi ia tak mau curang,
apapun tanggapan mereka, ia akan mengatakan yang sebenarnya.

“ Aku minta dibelikan es kelapa “ jawab si gadis apa adanya.

Sesuai dugaan, tanpa dikomando kedua sahabatnyapun tertawa. Mereka sama
sekali tak menyangka kalau sahabatnya yang sejak kelas satu selalu jadi
juara, ternyata hanya minta dibelikan es kelapa sebagai hadiahnya. Bagi
mereka ini bukan saja lucu, tapi juga aneh bahkan keterlaluan. Dalam hal
memilih hadiah, rupanya si gadis tak secerdas ketika sedang menangkap
pelajaran di sekolah, pikir mereka.

Cukup lama mereka tertawa terpingkal-pingkal. Setiap ingat es kelapa, setiap
itu pula mereka tertawa. Begitupun si gadis, ia ikut tertawa ceria. Tak ada
yang salah dengan permintaannya, meskipun itu kini membuat kedua sahabatnya
tertawa.

Puas tertawa, kedua sahabat si gadis pun ganti bercerita. Masing-masing
menceritakan hadiah apa yang mereka dapat dari kedua orang tuanya.

“ Aku dibelikan sepeda baru sama bapakku. Malah sebelum rapot dibagikan, aku
sudah lebih dulu dibelikan sepeda. Kata mamaku, bapak sudah punya firasat
kalau semester ini aku bakal masuk sepuluh besar “ cerita salah satu
sahabatnya bangga. Dia tidak berbohong, tadi pagi waktu ambil raport di
sekolah, si gadis memang melihat sahabatnya itu naik sepeda baru.

Sahabatnya yang satu lagi tak mau kalah. Dengan semangat, dia yang semester
ini berada di peringkat tiga bercerita bahwa ibunya akan membelikan dia hp
multimedia keluaran terbaru. Sebenarnya kalau ia bisa mendapat ranking dua,
Blackberry akan menjadi miliknya. Bahkan seandainya ia bisa ranking satu,
sang ibu berjanji akan menghadiahkan sepeda motor baru.

**

Lelaki itu tak jua bisa memejamkan matanya. Hampir satu jam dia berbaring,
rasa kantuk belum juga datang, justru semakin menghilang. Percakapan si
gadis bersama dua orang sahabatnya tadi siang memenuhi pikirannya,
menyesakkan dadanya.

Apa yang dikatakan si gadis memang benar adanya. Es kelapa muda di kios
ujung pasar, memang itu yang dia minta. Ia juga percaya bahwa kedua sahabat
si gadis tidak mengada-ada. Ia pernah mendengar cerita salah satu teman
kerjanya. Jika sang anak bisa masuk tiga besar, ia akan membelikan hp edisi
terbaru sebagai hadiahnya. Bahkan salah satu kakaknya berjanji akan
membelikan laptop jika sang anak bisa meraih peringkat pertama. Wajar saja,
selain dianggap baik oleh mereka, juga mereka mampu untuk membeli semua itu.

Lelaki itu mengulang doa tidurnya. Ia berharap bisa segera tidur malam
itu.Tapi untuk kesekian kalinya, lelaki itu gagal memejamkan matanya. Ia
pandangi wajah lugu si gadis yang tertidur pulas di sampingnya. Dia betulkan
guling yang terlepas dari pelukan buah hatinya. Dia rapihkan rambut yang
menutupi wajah mungilnya. Sebuah rasa menyesaki rongga dadanya. Ia teringat
seraut wajah yang mirip sekali dengan gadis kecil di hadapannya.

Biasanya, saat-saat bahagia seperti ini selalu mereka nikmati bertiga. Tapi
kini hanya berdua, ia dan gadis kecilnya. Lelaki itu berusaha keras
menghibur hatinya. Ia panjatkan doa untuk orang yang sangat dicintainya.

Lelaki itu pandangi wajah polos itu dalam-dalam. Banyak pelajaran yang ia
dapatkan dari gadis kecilnya. Kesabaran, ketegaran, ketabahan, keikhlasan
dan juga kesederhanaan. *Kesederhanaan seorang juara*. Kesederhanaan yang
pernah ditunjukan oleh almarhumah, juara yang sesungguhnya. Tak pernah
mengeluh menghadapi ujian, juga tak menjadi tinggi hati kala berprestasi.

Bagi anak seusianya, pada umumnya mendapatkan nilai terbaik adalah
kesempatan emas untuk memperoleh apapun yang ia inginkan dari kedua orang
tuanya. Tapi tidak dengannya. Ia tak meminta sepatu, tas atau baju baru.
Juga bukan boneka, sepeda ataupun hp multimedia seperti yang diminta
sahabatnya. Dia hanya minta dibelikan es kelapa, sesuatu yang bisa dia
dapatkan kapanpun tanpa harus menunggu menjadi juara.

Lelaki itu tersenyum haru. Ada butiran hangat meleleh di ujung matanya. Dia
tahu persis kesederhanaan gadis kecilnya. Bukan kali ini saja, berkali-kali
ia belajar kesederhanaan padanya. Saat kenaikan kelas kemarin misalnya.
Meski kembali menjadi juara, si gadis hanya minta dibelikan sepuluh buku
tulis yang berisi 58 lembar. Ada beberapa mata pelajaran yang tak cukup lagi
jika masih menggunakan buku yang lebih tipis, itu alasannya. Juga ketika
ujian tengah semester beberapa waktu lalu. Meski dinyatakan sebagai siswa
berprestasi terbaik, si gadis hanya minta dibelikan sebuah bingkai photo
berukuran 10 R untuk memajang piagam yang diperolehnya.

*Subhanallah, walhamdulillah!* Bibir lelaki itu bergetar. Tenggorokannya
terasa sakit untuk mengucapkan tasbih dan tahmid secara jelas. Rasa haru,
pilu, bahagia sekaligus bangga bercampur menjadi satu, memenuhi rongga
dadanya. Serangkai doa dia panjatkan untuk gadis kecilnya. Juga untuk
sesorang yang sangat dekat di hatinya.

“ *Sayang, aku bangga padamu. Aku berterima kasih atas kesederhanaan yang
kau contohkan padaku. Tetaplah kau menjadi kebangganku, kebanggaan
almarhumah ibumu. Meski kita tak bisa melihatnya, di alam sana ibumu
tersenyum bahagia dan bangga padamu….*.”

Penuh kasih sayang, lelaki itu mencium kening si gadis kecil yang sedang
terlelap. Wajahnya terlihat berseri, barangkali ia sedang bermimpi bertemu
orang yang sangat ia rindukan. Lelaki itu berharap bisa mendapatkan mimpi
yang sama. Sekali lagi ia ulangi doa tidurnya. Dia berbaring miring ke
kanan. Dalam hatinya, dia berharap malam itu Allah berkenan menganugerahinya
sebuah mimpi. Mimpi indah, seperti dulu ketika mereka masih utuh bersama.

http://abisabila.blogspot.com

--

Kirim email ke