---------- Forwarded message ----------
From: Budi Abdul Muiz <>
Date: 2011/1/7


Alkisah, beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Surabaya
sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Di sampingnya duduk seorang ibu
yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam
obrolan ringan.

”Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta?”, tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke
Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang
ke-2”, jawab ibu itu.

”Wow, hebat sekali putra ibu”, pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahunya,
pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.
”Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang ke-2 ya bu?
Bagaimana dengan kakak adik-adiknya?”

”Oh ya tentu”, si Ibu bercerita:
”Anak saya yang ke-3 seorang dokter di Malang, yang ke-4 kerja di perkebunan
di Lampung, yang ke-5 menjadi arsitek di Jakarta, yang ke-6 menjadi kepala
cabang bank di Purwokerto, yang ke-7 menjadi Dosen di Semarang.”

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat
baik, dari anak ke-2 sampai ke-7.

”Terus bagaimana dengan anak pertama ibu?”

Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ”Anak saya yang pertama
menjadi petani di Godean Jogja, nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang
tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu……kalau ibu agak kecewa ya dengan
anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di
pekerjaannya, sedangkan dia cuma menjadi petani.“

Dengan tersenyum ibu itu menjawab, ”Ooo, tidak, tidak begitu nak…justru saya
sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah
semua adik-adiknya dari hasil dia bertani.”

*Pelajaran Hari Ini: Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu,
pikiranmu, *

Kirim email ke