Thanks berat Mas Morry,
saya pertama kali baca kisah ini di Majalah Tarbawi beberapa tahun
lalu.Namun setiap dikirim artikel ini, selalu saja membacanya, dan
selalu saja kagum.moga makin banyak orang Indonesia seperti beliau.dan
kita coba mulai dari diri kita sendiri dahulu.
Wassalam,



Nugon

--- In [email protected], Morry Infra <morry.infra@...> wrote:
>
>  Subhanallah....
> Seneng banget kisah nyata ini terus bergulir sepanjang tahun....
> Teruskan di-forward kemana2....
> Mudah2an orang Indonesia tergugah hatinya sehingga makin banyak orang
> Indonesia yang kayak Pak Arif ini.... amien...
> Semoga Indonesia cepat bangkit.... amien....
>
> Wassalam,
> Morry Infra
>
> 2011/2/2 Bambang Hadianto <>
>
>
> >    Kisah yang sangat mengharukan dan mudah-mudahan bisa kita contoh!
> >
> > --- On *Wed, 2/2/11, Dwi Wahyu Budi Prasetyo <>* wrote:
> >
> >
> > From: Dwi Wahyu Budi Prasetyo <>
> > Subject:  Kisah seorang pemeriksa pajak
> > Date: Wednesday, February 2, 2011, 6:46 AM
> >
> >   Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak
kalang
> > kabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat
> > Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor
gelisah dan
> > belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi
itu
> > sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya
sengsara,
> > tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang
saya
> > rasakan langsung.
> >
> > Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA
di
> > Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
dan
> > selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian
saya
> > ditugaskan di  Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi
pertama yang
> > mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat
lazim.
> > Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu
saja,
> > karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi
daging dalam
> > diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.
> >
> > Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil
jarak
> > yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram.
Syukurlah,
> > prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam
pengajian
> > keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri
bahwa
> > saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang,
pegawai
> > Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya
hanya
> > sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo.
Kalau tidak
> > mau, ya sudah tidak jadi. Dari awal saya sudah berusaha menanamkan
komitmen
> > kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa
kalau kita
> > konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita
membutuhkan maka
> > Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan
konsistensi
> > kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami
selama
> > menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting
bagi
> > kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup
layak.
> > Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.
> > Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata
keluarga besar
> > misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa
orang
> > pajak pasti kaya.  Sehingga mereka biasa meminta kami membantu
adik-adik dan
> > keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda
dengan
> > imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada
keluarga
> > sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah
mereka
> > berkunjung ke rumah saya di  Medan, saat itulah mereka baru
mengetahui dan
> > melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan
mereka bisa
> > memahami.
> >
> >
> > Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau
> > pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan
sebenarnya karir
> > saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun.
Seharusnya
> > paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang
baru
> > Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak
menerima
> > uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap
tidak
> > cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk.
Terutama poin
> > ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.
> >
> > Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu.
Antara
> > lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari
kawan apa
> > pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan
mereka
> > lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak
ingin ada
> > orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti
mereka.
> > Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan
cara
> > paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan,
setelah
> > sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti
in
> > seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati.
Mereka
> > dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa
seperti
> > inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil,
mereka
> > akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja
dipakai,
> > sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.
> >
> > Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia
sangat
> > simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain
ke
> > rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti
sahabat,
> > bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa
memancing
> > sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia
biasa
> > juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri
> > menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang
diberikan
> > kepada anak-anak. Tidak terlalu saya perhatikan. Apalagi dalam
proses
> > pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan
dia juga
> > sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku
sambil
> > membawa anak-anak. Hingga satu saat saya mendapat  surat perintah
> > pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya
> > menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada
waktu
> > itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus.
Dia
> > mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka
perusahaan itu
> > bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap
efek
> > pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi.
Sementara
> > dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap
temuan
> > itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami
ungkapkan.
> > Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti
perusahaan lain.
> >
> >
> > Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai
logika
> > lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan
> > dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara
untung,
> > karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak
bisa saya
> > terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan
memintaagar
> > temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau
saya
> > tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap
sah. Tapi
> > saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan
sama
> > seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka.
Paling
> > tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh
atasan dan
> > disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai
sekarang,
> > bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang
> > direncanakan.
> >
> >
> > Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama
bersahabat dan
> > seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, "Sudahlah, dik
Arif
> > tidak usah munafik." Saya katakan, "Tidak munafik bagaimana Pak?
Selama ini
> > saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi". Kemudian
ia
> > sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun
ia
> > berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu,
saya
> > sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata  berkhianat.
Karena
> > terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti
itu,
> > kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang
suap.
> > Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis
bahwa
> > mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
> >
> >
> >
> > Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa
pun,
> > saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri
saya di
> > rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud
syukur. Ia
> > lalu mengatakan, "Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah
saya
> > pakai," katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah,
> > amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk
> > keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat,
meski
> > ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu
semuanya
> > masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka.
Jumlahnya
> > berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta.
Karena
> > sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.
> >
> > Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan
saya bawa
> > ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.
> > Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya
hingga
> > bertaburan di lantai. Saya katakan, "Makan uang itu, satu rupiah pun
saya
> > tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah
percaya
> > satu pun perkataan kalian." Mereka tidak bisa bicara apa pun karena
fakta
> > obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi
esok
> > harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya di
auditor, lantas
> > saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan
pemeriksa
> > pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat,
tentu
> > saja ada saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi
keluarga
> > saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai
sekarang saya
> > tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas.
> >
> >
> >
> > Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika
saya
> > mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua
lahir.
> > Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya
habis.
> > Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk
membawa
> > isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.
Saya mau
> > bicara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah
pekan
> > depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya
saya
> > keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari
sholat
> > dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu.
Sebelumnya
> > kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman
bahwa
> > isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit.
Wallahu
> > a'lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana,
tetapi
> > ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya
malah
> > ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah
lunas.
> > Alhamdulillah.
> >
> > Adalagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena
ada
> > lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi
karena
> > pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan
karena anak
> > saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke
Rumah
> > Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu
saya
> > lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?
Ketika anak
> > harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah
sekali
> > menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah
cukupkan
> > kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian
di
> > rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang
sudah
> > lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan
anak
> > saya sedang dioperasi. Dia katakan, "Kenapa tidak bilang-bilang"
Saya
> > sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika
ingin
> > menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah
dilunasi
> > oleh teman itu. Alhamdulillah.
> >
> > Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada
tekanan
> > keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang
tadinya
> > baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga.
Keluarganya
> > minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam
sana
> > sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga.
Karena
> > banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya
berusaha
> > dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan
mengajar dan
> > sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.
> >
> > Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih
banyak
> > dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka
sudah puas
> > dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan
bercanda,
> > misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen.
Mereka
> > gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi
mereka dapat
> > suap, lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan
siapa. Uang
> > yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka
selalu
> > takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan
bercanda,
> > "Uang setan ya dimakan hantu." Dari percakapan seperti itu ada juga
yang
> > mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali.
Harta
> > mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu
tidak
> > banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah  gaya hidup yang
semula mewah
> > lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.
> > Ada juga di antara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak
pernah
> > memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya
menerima
> > uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu
hanya
> > memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana.
Padahal
> > sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami
tidak akan
> > pernah bisa memberikan uang sebesar itu. Atasan yang memberikan itu
> > berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari
Jum'at atau
> > akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum'atan. Atasan yang
berikutnya
> > lagi pada momen berikutnya memberi juga. Kalau atasan yang lebih
tinggi lagi
> > biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau
dihitung-hitung
> > sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan.
Orang-orang
> > yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk
rajin
> > sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur'an. Tetapi mereka sulit
berubah.
> >
> >
> >
> > Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara
> > teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang
melarikan
> > diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan
> > lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya
sekadar
> > mapan.
> >
> > Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di
STAN.
> > Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika
> > keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan
keluarga
> > dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang.
Akhirnya ia
> > mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah
terlanjur jatuh,
> > akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan
sampai
> > sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang
> > mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang
dipecat
> > dan dipenjara. Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan
jihad
> > untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan
di mana
> > saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut
menggunakan
> > dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari
hasil
> > rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap
memberikan pada
> > kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca) .
> >
> >
> >
> >
> >
>

Kirim email ke