pembohong ke-1 sambil membunuh kebosanan, melintasi Jalan Lintas Timur Sumatera, ku baca majalah Tarbawi edisi 10 Februari 2011. Di rubrik Perspektif (Wijhat), ku amati dengan seksama materi serial etika komunikasi tersebut. ada beberapa paragraf yang menggelitik. "Tak semua orang yang (pernah) berbohong disebut sebagai pembohong, karena memang tak semua kebohongan diketahui. Stigma pembohong semakin layal disematkan pada yang bersangkutan, karena bisa jadi, orang itu berkali-kali berbohong dan banyak orang yang mengetahuinya. Atau, orang itu berbohong untuk masalah krusial, misalnya menyangkut hajat hidup orang banyak, sehingga banyak orang marah dan jengkel padanya." melompat ke paragraf berikutnya, di pertengahannya, tertulis anekdot berikut:"....sering muncul 'pemakluman' atas karakter politisi-pemimpin yang sulit berterus-terang. Jika politisi bilang 'iya', konon artinya 'mungkin'. Jika bilang 'mungkin', artinya 'tidak'. Jika sampai bilang 'tidak', berarti dia tak berbakat jadi politisi". Entah kenapa, pikiran natal dan prasangka, berterbangan dalam benakku, dan menggelitik, berkata, "mungkinkah semua politisi pembohong?" Bila benar, makin enggan aku bergaul dengan politisi. Namun ada teman yang berkata sebagai berikut:"Memang susah jadi politisi, seperti tukang sampah. Tidak disukai.Tidak ada yang mau. Dan kalau kerjanya tidak bersih, dicela. Tapi harus ada yang mau jadi tukang sampah". Maka bertarunglah 2 pemikiran tersebut di benakku....selalu.
pembohong ke-2 Malam ini, aku berdialog dengan setan. Sesuatu anomali yang ku coba nikmati dalam kontemplasiku. Agar siapa tahu dapat pencerahan. Maklum, aku lebih sering kalah bertempur dengan setan, atau terjebak dengan taktik dan tipu-dayanya. Entah kenapa malam ini, aku diizinkan berdialog, bukan bertempur dengannya. A: "Hei Setan, kau adalah pembohong abadi, benar begitu? Kata para ahli hikmah, tidak ada kalimat yang keluar dari mulutmu, kecuali hanya kebohongan, kepalsuan dan tipu-daya belaka, dan selalu bertolak-belakang dengan kebenaran. Benar begitu?!" S: "Aku ini jujur kok, kapan aku bohong?"A: "Wah, benar, kau ini pembohong abadi!" A: "Kenapa kau benci dengan Bani Adam?"S: "Kapan aku benci? Aku tidak benci, makanya aku jadikan Bani Adam sebagai temanku kelak di akhirat" A: "Pernahkah kau jujur?"S: "Sepertinya aku tidak pernah jujur, kan kau yang bilang sendiri, aku pembohong abadi" A: "Tapi ku dengar dari Hadits Rasulullah saw, dalam dialognya dengan sahabat Abu Hurairah ra, kau berkata jujur, terkait khasiat Ayat Kursi sebagai pelindung. Kurasakan, ucapanmu jujur lho?!"S: "Bah, itu terpaksa. Jujur itu tidak dipaksa. Jujur itu tulus. Aku dipaksa jujur." Aah...aku diam saja deh. Ternyata berdialog dengan setan itu absurd, membingungkan. Dan selalu terlontar kontradiksi serta ketidak-konsistenan. Setan memang pembohong abadi. Dan setan itu musuh. Mestinya tidak aku ajak bicara. Tapi mestinya aku lawan. Dan ternyata, ia mau dialog dengan ku, agar aku lalai dari Tafakur dan Tadabur, Dzikir dan Fikir. Setan lebih suka dengan orang yang tidak melakukan amal sholih apa pun. Karena gara-gara dialog, hampir saja aku luput Ibadah yang wajib. Memang Setan..ya Setan. Wassalam, Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal
