Oleh : Ihsan Faisal MAgShalih 

dalam Alquran banyak diulang dalam beberapa ayat dan semuanya menunjukkan pada 
satu predikat, yaitu indikator keimanan seseorang. Rangkaian ayat dalam Alquran 
sering digabungkan antara “alladzina aamanuu” dengan “amilus shalihat.” Hal ini 
mengandung faidah bahwa antara iman dan amal shalih tidak bisa dipisahkan, 
bagai dua sisi mata uang (like two sides a coin), satu sama lain saling 
menyempunakan.Dalam Kamus al-Munawwir (h.788-789), istilah Shalih mengandung 
makna al-Jayyid (bagus), al-Baar (sholeh), al-manfa’at (kemanfaatan), al-Ni’mat 
al-Waafirah (keni’matan yang sempurna), dan lain-lain. Semua istilah tersebut 
merujuk pada satu kata ‘kebaikan.’ Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilah 
merujuk kepada ketentuan Allah SWT. Demikian rumus yang diberikan oleh 
kebanyakan ulama. Apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. 
Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan 
baik, karena kebohongan esensinya buruk.Berbuat baik (amal shalih) tentu tidak 
cukup hanya untuk diri sendiri saja. Hal tersebut hanya memberikan kesan 
menjadi shalih secara individual, padahal Islam menganjurkan terwujudnya suatu 
sistem akhlak yang mengerucut pada predikat kesahalihan sosial 
(kolektif/jama’i). Islam adalah sebagai sistem aturan (agama) yang berfungsi 
sebagai rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, sasaran akhlak yang baik selain untuk 
diri sendiri juga untuk Allah SWT, sesama manusia, dan alam secara keseluruhan 
(M Quraish Shihab, 2000:261-273).Perintah agama untuk berbuat kebaikan pada 
dasarnya merupakan washilah yang akan menghantarkan kita pada derajat keridhaan 
Illahi nanti di akhirat. Perintah dan dorongan berbuat baik itu datang dari 
Allah melalui para utusan-Nya. Namun sesungguhnya dorongan kepada kebaikan itu 
sudah merupakan “bakat primordial” manusia, bersumber dari hati nurani (nurani, 
bersifat nur atau terang) karena adanya fitrah pada manusia. Oleh karena itu 
berbuat baik merupakan sesuatu yang “natural” atau alami, karena dia tidak lain 
adalah perpanjangan nalurinya sendiri, alamnya sendiri, yang ada secara 
primordial, sejak seseorang dilahirkan ke dunia ini.Maka jika Allah 
memerintahkan kita berbuat baik, sesungguhnya seolah-olah Dia hanyalah 
mengingatkan kepada kita akan “nature” kita sendiri, kecenderungan kita 
sendiri. Dengan kata lain, berbuat baik adalah sesuatu yang manusiawi, yang 
sejalan dan mencocoki sifat dasar manusia itu sendiri. Dengan sendirinya 
perbuatan jahat adalah melawan kemanusiaan, menyalahi sifat dasar manusia 
itu.Karena itu, dari perspektif ini bisa disimpulkan bahwa perintah berbuat 
baik dari Allah SWT kepada kita bukanlah untuk kepentingan Allah sendiri. Dia 
Maha Kaya (al-Ghaniy), tidak membutuhkan pelayanan/service dari makhluk-Nya. 
Sebaliknya, ketika perbuatan baik dikerjakan manusia maka semuanya akan kembali 
untuk kebaikan manusia itu sendiri. Hal ini telah Allah tegaskan dalam QS 
Fushilat : 46, “Barang siapa berbuat baik, maka hal itu untuk dirinya sendiri; 
dan barang siapa berbuat jahat, maka hal itu adalah atas (kerugian) dirinya 
sendiri.” Berbagai kajian ilmiah mengenai manusia telah mengukuhkan bahwa 
manusia yang reach out,  mengulurkan tangan untuk menolong orang lain, adalah 
orang yang bahagia. Jika suatu kali kita bertemu dengan orang yang membutuhkan 
pertolongan, kemudian kita menolongnya, sepintas lalu nampak seperti perbuatan 
kita adalah untuk kepentingan orang tersebut. Tetapi, dalam perenungan yang 
lebih mendalam, seuntung-untungnya orang yang kita tolong itu, tetap masih 
beruntung dan bahagia kita sendiri, justeru karena kita mampu menolong. Lebih 
lanjut, karena perasaan bahagia itu, kita akan mendapatkan dunia ini terasa 
lapang dan luas untuk kita disebabkan oleh lapang dan luasnya dada (jiwa) kita. 
Kita dibimbing oleh Allah, berkat perbuatan baik kita sendiri, kepada kehidupan 
yang luas,lapang dan penuh harapan (Nurcholis Madjid, 1999 : 186-187) Inilah 
salah satu makna janji Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al-Zumar : 10   
“Katakanlah (Muhammad), “wahai-wahai hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada 
Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh 
kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang 
disempurnakan pehalanya tanpa batas.”Drs H Hamzah Ya’kub menyebutkan ada 
beberapa faktor penting dalam membentuk etika atau akhlak yang baik yang akan 
menghasilkan amal shalih. Dalam bahasa sekarang diistilahkan dengan pembentukan 
karakter (character building). Beberapa faktor tersebut antara lain : manusia 
(subjek), instink (naluri), Kebiasaan (habit), Keturunan (hereditas/nasab), 
lingkungan, ‘Azzam (tekad/motivasi kuat), Suara batin, dan pendidikan 
(tarbiyah). Dengan kata lain, kesuksesan seseorang dalam beramal shalih akan 
banyak ditentukan oleh faktor-faktor tadi. Akan tetapi hal di atas bukan 
bermakna menafikan peran hidayah Allah SWT yang sudah menjadi sifat mutlak bagi 
makhluk-Nya.Terjadinya musibah gempa bumi beberapa hari lalu yang menimpa kita 
dan saudara-saudara dekat kita di wilayah Kab. Bandung, Bandung Barat dan lebih 
luasnya Jawa Barat adalah sebagai lahan untuk mengaktualisasikan makna 
keshalihan sosial kita. Ketika sebagian besar saudara kita sedang membutuhkan 
pertolongan, maka seharusnya lah kita memberikan apapun yang kita mampu dan 
yang mereka butuhkan. Kepedulilan sosial kita mengindikasikan tingkat 
kecerdasan sosial kita (social intellegience). Kita berusaha simpati sekaligus 
empati atas segala musibah yang sedang menimpa saudara-saudara kita. 
Sebaliknya, ketika tidak peduli dengan urusan saudaranya, Rasul SAW sampai 
memberikan ultimatum: “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum 
Muslimin yang lain, maka dia bukan dari golongan mereka.”*) Penulis adalah 
Penyuluh Agama Islam pada Kemenag Kab Bandung & Mahasiswa S3 Hukum Islam UIN 
SGD Bandung 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Morry Infra <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 3 Mar 2011 20:11:37 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: MIK<[email protected]>
Subject: Re: [sma1bks] Klarifikasi

Kayaknya so far cuma Yahoo yang sering kebobolan....

2011/3/3 MIK <[email protected]>

>
>
> Rekans,
> Tadi sore ada email yang menggunakan Username saya
> isinya memuat :
>
> http://simplesocialmarketing.com/images/aaz.php
>
> dengan ini saya katakan bahwa email tersebut bukan berasal dari saya
> pribadi, jadi mohon diabaikan.
>
> selanjutnya saya mohon bantuan admin untuk unscribe account saya
> [email protected] dan diganti dengan
>  [email protected]
>
> terimakasih
> *salaMIK*
>
>  
>

Kirim email ke