http://www.hidayatullah.com/read/15956/20/03/2011/cara-warga-jepang-atasi-kesulitan-bencana-tsunami.html
Cara Warga Jepang Atasi Kesulitan Bencana Tsunami
Ahad, 20 Maret 2011
Hidayatullah.com--Semua terpukau dan salut. Pujian masyarakat internasional tak
henti-hentinya menghujani Jepang atas ketabahan dan kegigihan rakyat Negeri
Sakura itu. Jepang makin bersinar di tengah gulungan bencana gempa dan tsunami
yang maha dahsyat.
Jepang boleh berada di posisi ketiga disalip China sebagai negara dengan
perekonomian terbesar dunia setelah Amerika Serikat. Namun negara yang dipimpin
Perdana Menteri Naoto Kan itu menunjukkan diri sebagai contoh negara paling
beradab yang dapat memberi inspirasi.
Jepang dilanda gempa 9,0 Skala Richter Jumat (11/3), disusul tsunami. Mereka
juga menyimpan kekhawatiran terpapar radiasi nuklir akibat ledakan empat dari
enam reaktor nuklir di PLTN Dai-chi, Prefektur Fukushima. Situasi ini makin
bertambah parah dengan suhu dingin dan kelaparan yang menyebabkan ancaman lebih
lanjut untuk di kawasan Tohoku di timurlaut Jepang.
Gempa susulan masih sering. Suhu berada di bawah titik beku dan salju semakin
menambah penderitaan ratusan ribu pengungsi yang harus berjuang hidup tanpa
makanan, air dan tempat berteduh. Meski demikian mereka tetap sopan, jujur dan
bertanggung jawab di masa-masa tergelap sekalipun. Kesimpulannya, musibah tidak
merusak mental masyarakatnya.
Buktinya, hingga saat ini, kasus-kasus penjarahan dan pencurian yang sering
menyertai bencana di seluruh dunia, tidak terlihat di sana. Bahkan mereka masih
rela antre jika belanja sembako di supermarket. Menurut pengamatan CSmonitor,
sumpah serapah dan umpatan sangat langka didengar.
Semangat Gaman dan Gambaru-lah yang membuat sikap rakyat Jepang memukau dunia.
Dua nilai ini sudah dipupuk sejak dini di setiap orang Jepang. Nilai ini
memunculkan toleransi, sifat tenggang rasa dan sabar, bahkan saat dilanda
tekanan yang luar biasa.
Rouli Esther Pasaribu, WNI yang tinggal di Osaka, sekitar 510 km dari Tokyo,
menyatakan, semangat Gambaru (berjuang mati-matian sampai titik darah
penghabisan) sangat terasa pada setiap orang Jepang dari segala level
masyarakat, baik anak-anak, murid sekolah dasar, hingga perguruan tinggi,
bahkan media.
“Saya bersyukur ada di sini (Jepang). Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati
yang paling dalam Jepang telah mengajarkan arti dan mental Gambaru bagi saya,
seorang Indonesia,” kata Rouli, Senin (14/3) dalam blognya.
Di kampusnya, kata Rouli, setiap kali bimbingan dengan profesor, kata-kata
penutup selalu semangat Gambaru: “motto gambattekudasai” (ayo berjuang lebih
lagi), “taihen dakedo, isshoni gambarimashoo” (saya tahu ini sulit, tapi ayo
berjuang bersama-sama), “motto motto kenkyuu shitekudasai” (ayo bikin
penelitian lebih dan lebih lagi).
Gambaru terdiri dari dua karakter, yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”.
Jadi image karakter ini adalah “mau sesusah apapun persoalan yang dihadapi,
kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri agar kita bisa menang
atas persoalan itu”.
Sejak balita semangat gambaru sudah ditanamkan. “Putri saya umur tiga tahun di
sekolahnya diminta pakai baju tipis di musim dingin biar nggak manja terhadap
cuaca dingin. Di sekolah dilarang pakai kaos kaki karena kalau telapak kaki
langsung kena lantai baik untuk kesehatan,” kisah Rouli.
“Sakit-sakit sedikit cuma ingus meler atau demam 37 derajat tidak usah bolos
sekolah. Tetap diimbau masuk sekolah dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak
akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri,” kisah
Rouli yang sudah dua tahun tinggal di Jepang.
Apa yang terjadi pascabencana mengerikan ini? Dari hari pertama bencana, di
televisi Jepang tidak ada lagu-lagu sedih, anak-anak menangis, dan dompet
bencana seperti di televisi Indonesia.
“Di teve ada peringatan pemerintah agar warga tetap waspada. Imbauan agar
warga bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat
listrik agar warga di wilayah Tokyo dan Tohoku tidak lama-lama terkena mati
lampu),” terang Rouli.
Selain itu, pemerintah juga menyatakan permintaan maaf lewat teve karena
terpaksa memadamkan listrik. “Ada tips-tips menghadapi bencana alam, telepon
call centre 24 jam, pengiriman tim SAR ke daerah-daerah bencana, potret warga
dan pemerintah yang sigap menyelamatkan warga,” papar Rouli.
Yang sangat mengesankan Rouli adalah potret warga yang saling menyemangati.
“Ada yang nyari istrinya, belum ketemu-ketemu, mukanya galau banget. Tapi tetap
tenang dan nggak emosional. Dia disemangati seorang nenek di tempat
pengungsian, “’Gambatte sagasoo! kitto mit-sukaru kara. Akiramenai de (ayo kita
berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah),” ungkap Rouli.
Tulisan di twitter yang disebarkan pemerintah berisi, “Ini gempa terbesar
sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar
untuk dapat melewati bencana ini; Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik
bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah
ke atas.”*Sumber : RMOL
Red: Syaiful Irwan