artikel yg menarik utk kita baca.
Best Regards and Wassalam,

Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/11/03/14/169163-kalila-wa-dimna-dongeng-fabel-menarik-dari-dunia-muslim
Kalila wa Dimna, Dongeng Fabel Menarik dari Dunia MuslimMonday, 14 March 2011 
11:01 WIBREPUBLIKA.CO.ID, Kisah macam 'Kancil Mencuri Timur' juga dikenal di 
dunia Arab. Salah satu buku dongeng binatang yang dikenal Muslim sejak lama 
ialah "Kalila wa Dimna". Buku ini adalah salah satu karya terlaris selama dua 
ribu tahun dan hingga kini masih digemari banyak orang di dunia Arab.

Buku yang berarti Kalila dan Dimna--dinamai dari dua anjing hutan yang menjadi 
karakter utama--ditulis sebagai panduan dan instruksi pelayanan sipil. 
Kisah-kisahnya begitu menghibur hingga diterima di setiap kelas, menjadi 
dongeng rakyat di dunia Muslim. Orang Arab membawa kisah-kisah itu ke Spanyol, 
di sana buku tersebut diterjemahkan ke Bahasa Spanyol Tua, pada abad ke-13. 
Saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Italia, itu merupakan kali pertama buku 
tampil dalam versi cetak, setelah mesin cetak ditemukan.

Kalila dan Dimna aslinya ditulis dalam Bahasa Sansekerta, diperkirakan dari 
Kashmir pada abad ke-4. Dalam Sansekerta buku ini disebut Panchatantra atau 
"Lima Wacana". Buku tersebut sebenarnya ditulis untuk tiga pangeran muda yang 
telah membuat guru mereka putus asa dan sang ayah terganggu.

Raja takut memercayakan kerajaannya ke para putranya yang tak mampu menguasai 
pelajaran paling mendasar. Raja mendatangi wazirnya yang bijaksana  untuk 
meminta bantuan dan si wazir pun menulis Panchatantra. Buku itu mengungkapkan 
kebijaksanaan besar dalam kisah-kisah fabel binatang yang mudah dicerna. 

Enam bulan kemudian para pangeran sudah berada di jalan kebijaksanaan. Ketika 
raja mangkat, mereka menggantikan kepemimpinan ayahnya dengan penuh keadilan.

Dua ratus tahun kemudian, seorang shah Persia mengutus dokter pribadinya, 
Burzoe, ke India untuk menemukan jenis herbal tertentu yang konon mampu 
menghadirkan kehidupan abadi bagi mereka yang memakannya. Alih-alih, Burzoe 
malah membawa satu salinan Panchatantra, yang ia klaim sama baiknya dengan 
herbal ajaib karena ia menghadirkan kebijaksanaan besar ke pembacanya.

Shah memerintahkan Burzoe mengalihbahasakan ke Pehlavi, bentuk kuno Bahasa 
Persia. Ia begitu menyukai buku itu hingga menyimpannya dalam satu ruang khusus 
di dalam istananya.

Tiga ratus tahun berselang, setelah Muslim menguasai Persia dan Timur Dekat, 
seorang Persia yang telah memeluk Islam, bernama Ibnu al Mukaffah, menemukan 
buku itu dalam bahasa Pehlavi terjemahan Burzoe. Ia pun mengalihbahasakan lagi 
ke Arab dengan gaya penuturan begitu mengalir hingga sampai sekarang orang 
masih menganggapnya model prosa asli Arab.

Keberadaan buku tersebut menyebar ke berbagai negara termasuk Yunani, yang 
menjadi cikal sumber terjemahan versi berbagai bahasa di Eropa, mulai Latin, 
Slavia dan Jerman. Sementara versi Bahasa Arabnya juga diterjemahkan ke Bahasa 
Ethopia, Suriah, Persia, Turki, Melayu, Jawa, Laos dan Siam. Pada abad ke-19 
Kalila wa Dimna diterjemahkan ke Hindustan, dengan demikian melengkapi siklus 
yang dimulai 1.700 lalu di Kashmir.
 
Tidak semua versi adalah terjemahan sederhana. Buku itu sudah diperluas, 
diperpendek, mengalami modifikasi, penambahan dan penghilangan figur serta 
dipermak oleh sejumlah penerjemah dengan jumlah tak terhitung.

Salah satu kisah di bawah ini tidak termasuk dalam versi Sansekerta, juga tak 
ada di sebagian besar manuskrip Arab salinan Ibnu al Mukaffah, namun yang 
menarik ia telah memasuki daratan Eropa--masih dianggap dongeng dari Arab--dan 
menjadi kisah cukup terkenal di sana, berjudul "Memasang Bel ke Leher Kucing.

Cerita serupa mungkin bisa ditemukan di antologi dongeng lain, juga 
dalam Brothers Grimm. Bedanya, tikus-tikus Arab menyelesaikan masalah mereka 
jauh lebih tajam ketimbang sepupu mereka di barat. Berikut kisahnya.

Memasang Bel ke Leher Kucing

"Dahulu di tanah para Brahma terdapatlah sebuah rawa bernama Dawran yang 
membentang di semua penjuru dengan jarak ribuan kilometer. Di tengah rawa 
tersebut ada sebuah kota bernama Aydazinum. Kota itu memiliki banyak daya 
tarik, keistimewaan dan penduduknya sangat sejahtera hingga bisa mendapatkan 
apa pun yang mereka mau.

Dalam kota ada seekor tikus bernama Mahraz, ia memimpin seluruh tikus yang 
hidup di kota itu dan juga desa-desa di pinggir kota. Ia memiliki tiga wazir 
yang siap memberi nasehat untuk bermacam urusan.

Suatu hari para wazir berkumpul di hadapan raja tikus untuk mendiskusikan 
berargam masalah. Di tengah perbincangan, raja berkata, "Apakah mungkin 
membebaskan diri kita dari teror turun-menurun yang kita dan juga nenek moyang 
kita rasakan terhadap kucing?"

"Meski kita hidup nyaman dan memiliki banyak kesenangan dalam hidup, ketakutan 
kita terhadap Kucing telah melenyapkan semua kenikmatan tersebut. Saya harap 
kalian bisa memberi saran bagaimana mengatasi masalah ini. Apa yang kalian 
pikir harus kita lakukan?"

"Saran saya," ujar wazir pertama, "adalah mengumpulkan sebanyak mungkin lonceng 
kecil dan mengalungkan bel itu ke leher setiap kucing sehingga kita dapat 
mendengar mereka datang dan memiliki waktu untuk bersembunyi di lubang-lubang 
kita."

Raja menoleh ke wazir kedua dan berkata," Bagaimana menurut kamu saran 
kolegamu?"

"Saya kira itu saran buruk," ujar wazir kedua. "Setelah mengumpulkan semua bel 
yang dibutuhkan, lalu siapa yang berani memasang ke leher bahkan anak kucing 
terkecil sekalipun, apalagi tipe kucing jalanan veteran?"

"Dalam opini saya, kita harus bermigrasi dari kota dan tingga di desa selama 
setahun hingga orang-orang kota berpikir bahwa mereka dapat mulai mengeluarkan 
kucing karena tak punya sumber buruan. Orang-orang akan menendang mereka 
keluar, atau mungkin membunuh para kucing. Mereka akan tersebar dan hidup liar 
dan tak lagi cocok untuk kucing rumahan. Lalu kita dapat pulang kembali dengan 
aman ke kota dan hidup selamanya tanpa cemas terhadap kucing."

Raja, sepertinya masih tak puas dengan jawaban wazir kedua menolah lagi ke 
wazir ketiga, yang terbijak. "Bagaimana dengan ide tersebut?"

"Gagasan yang sangat menyedihkan," balas wazir ketiga, "Jika kita meninggalkan 
kota dan tinggal di desa bagaimana kita pastikan bahwa kucing-kucing itu akan 
menghilang dalam satu tahun? Bagaimana pula dengan kesulitan yang akan kita 
alami? Kehidupan di alam penuh dengan binatang liar yang juga suka makan tikus, 
dan mereka bisa melakukan hal lebih buruk ketimbang yang dilakukan kucing."

"Kamu benar tentang itu," ujar sang raja. "Jadi apa yang kamu pikir seharusnya 
dilakukan?"

"Saya dapat menyarankan satu rencana yang paling masuk akal. Raja harus 
memanggil seluruh tikus di kota dan kawasan sub urban dan memerintahkan mereka 
membangun lorong di dalam rumah-rumah orang terkaya yang menghubungkan ke semua 
ruang dalam rumah," ujar wazir ketiga.

"Lalu kita akan masuk ke terowongan itu, tapi kita tak akan menyentuh makanan 
manusia. Alih-alih kita konsentrasi merusak pakaian, tempat tidur dan karpet 
mereka. Ketika melihat kerusakan itu, ia akan berpikir. 'Wah satu kucing 
sepertinya tak bisa mengatasi banyak tikus di sini!' Dan ia pasti akan menambah 
satu lagi kucing piaraan," ujar Wazir.

"Begitu kucing ditambah, kita pun menambah jumlah kerusakan, benar-benar 
merobek pakaian-pakaian mereka. Ia pasti akan menambah satu lagi kucing, lalu 
kita tambah lagi kerusakan hingga tiga kali lipat. Itu seharusnya membuat 
mereka berhenti dan berpikir 'Hei, kerusakan hanya sedikit ketika aku memiliki 
satu kucing. Makin banyak kucing, semakin banyak tikus,' seolah-olah itulah 
yang terlihat" ujar wazir ketiga lagi.

"Jadi ia akan mencoba sebuah eksperimen. Ia akan menyingkirkan satu kucingnya. 
Saat itu pula kita akan turunkan jumlah kerusakan, menjadi dua pertiga saja. Si 
pemilik pasti berpikir, 'Aneh sekali,'. Ia lalu menyingkirkan satu lagi kucing 
lain. Lagi, kita pun kurangi kerusakan hingga hanya sepertiganya. Ia pun akan 
terdorong untuk menyingkirkan satu lagi kucing tersisa.

Saat itu pula kita hentikan aksi dan tidak merusak apa pun. Ia akan menemukan 
hal besar. 'Wah ternyata bukan tikus,'. Ia pasti bakal pergi ke para tetangga 
kaya lain untuk memberi tahu itu. Karena ia adalah orang terkaya dan dihormati 
maka semua akan mempercayainya dan mulai membuang kucing-kucing mereka ke jalan 
atau bahkan membunuh mereka. Kemudian setiap kali melihat kucing, mereka akan 
mengejar dan membunuhnya."

Raja Mahraz pun mengikuti saran wazir ketiga. Butuh waktu tak terlalu lama 
hingga tidak satupun kucing berada di kota tersebut. Bila mereka melihat lubang 
di pakaian mereka, orang-orang tetap yakin bahwa itu adalah ulah kucing.Kini, 
jika tu terjadi, mereka pasti berkata, "Seekor kucing pasti menyelinap ke rumah 
tadi malam. Seekor kucing pasti mengendap-endap di kota tadi malam." Alhasil, 
dengan strategi itu, para tikus benar-benar berhasil membebaskan diri dari 
warisan rasa takut turun-temurun terhadap kucing.


Redaktur: Ajeng Ritzki PitakasariSumber: Muslim Heritage

Kirim email ke