http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/05/20/ArticleHtmls/20_05_2011_027_003.shtml?Mode=0
 
 





EORLINGAS KARENA KARYA TOLKIEN ITU ABADI 


CHRISTINE FRANCISKA 
 
 
 
 
Tak puas hanya membaca buku, mereka terus menggali, berimajinasi, dan 
berdiskusi tentang petualangan seru di dunia Middle-earth. 
 



 
Tak puas hanya membaca buku, mereka terus menggali, berimajinasi, dan 
berdiskusi tentang petualangan seru di dunia Middle-earth.
 
 
 
 
NOVIA Septiani gemar mem baca buku-buku fantasi. Tapi ketika mendengar nama 
pengarang JRR Tolkien dan buku Lord of the Rings, ia tak pernah sekalipun 
berminat membacanya. 
 
 
Hingga filmnya muncul pada 2000 lalu, Novia tetap tak menggubris. "You don't 
know what you're missing," kata Novia menirukan temannya yang sudah menonton 
film itu. 
 
 
Lama berselang, Novia akhirnya iseng menonton film besutan sutradara Peter 
Jackson itu. Awalnya ia tak punya harapan apa-apa. "Aku pikir akan seperti film 
action yang biasa aja, macam Hercules atau Xena gitu." 
 
 
Namun, tak perlu menunggu lama, Novia segera jatuh cinta pada adegan pembuka. 
Saat itu, penyihir Gandalf bertemu seorang hobbit bernama Frodo Baggins. Dengan 
kereta kayu mereka menelusuri daerah Shire dengan pemandangan hijau berbukit. 
Sungai membelah dataran dengan indah, sementara kincir angin dan rumah para 
hobbit menyatu selaras dengan alam. 
 
 
"Aku langsung menahan napas dan terpukau saat itu. Rasanya Peter Jackson 
membuka pintu Middle-earth dan mengundangku masuk," lanjut Novia.
 
 
Sejak itu, Novia menjadi pecinta karya JRR Tolkien. Semua buku karya Tolkien 
seperti LOTR, Silmarillion, The Hobbit, seri History of Middle-earth, hingga 
kumpulan surat-surat Tolkien lengkap dikoleksi. 
 
 
Ia pun sering menulis fanfiction, cerita yang ditulis fan dengan meminjam 
setting dan karakter kisah tertentu. 
 
 
Novia, misalnya, mengarang cerita yang hilang dari 12 hari perjalanan para 
hobbit dan aragorn ke Rivendell. 
 
 
Semuanya itu ditulisnya pada forum online livejournal. "Bukunya, bahkan hanya 
dengan tinta dan kertas, Tolkien bisa bikin aku merasakan emosinya. Aku selesai 
baca Return of The King jam empat pagi dan rasanya hampa banget karena seperti 
terbuang dari Middle-Earth. Aku kepengen kembali lagi dan lagi, ingin merasakan 
magic-nya." 
 
 
Novia tak sendiri. Rini Rafiani juga menggilai karya Tolkien dan dunia 
Middleearth ciptaannya itu. "Ceritanya yang detail dan solid, karakter 
tokoh-tokohnya yang utuh, pesan dalam cerita, bahasanya.
 

Belum lagi ciptaan dunia Middle-earth yang luar biasa. Intinya, karya-karya 
Tolkien itu cantik," kata Riri. 
 
 
Sejak mengenal karya Tolkien pada 1999 lalu, Riri juga terpengaruh dengan sang 
pengarang. Ia sampai memilih kuliah S-2 linguistik karena Tolkien adalah 
profesor ahli linguistik. 
 
 
Jauh sebelum bahasa Navii dalam film Avatar karya James Cameron, Tolkien 
menciptakan bahasanya sendiri. Seperti huruf dan bahasa yang digunakan oleh 
bangsa Elf dalam Lord of the Rings. 
 
 
Riri mengaku kagum setengah mati dengan profesor yang satu ini. 
"Bikin buku setebal itu perlu daya tahan dan imajinasi yang luar biasa. Pernah 
membayangkan menghabiskan waktu 10 tahun untuk membuat sebuah cerita seperti 
yang dilakukan Tolkien?" ujarnya yang kini merintis karier untuk jadi ahli 
linguistik.
 

Eorlingas Kecintaan pada dunia Middle-earth men dorong Riri, Novia, dan banyak 
pecinta karya Tolkien lain membentuk sebuah komunitas. Sejak 2004 lalu, 
komunitas pecinta karya Tolkien dengan nama Eorlingas pun berdiri. 
 
 
Nama Eorlingas diambil dari nama pasukan Eorl, sebuah pasukan berkuda dari 
Rohan. Walau pasukan ini tak sekeren pasukan Gondor atau bangsa Elf, mereka 
merupakan kesatria pemberani yang bisa diandalkan. 
 
 
"Mereka orang-orang yang berani mati, setia kawan, dan pintar naik kuda.
Pokoknya gagah deh!" jelas Riri. 
 
 
Misi Eorlingas sederhana saja, yaitu ingin mengumpulkan penggemar Tolkien di 
Indonesia dan berkegiatan bareng.
 

Misalnya kumpul-kumpul rutin membicarakan Tolkien, buka kelas bahasa , 
merayakan ulang tahun Profesor Tolkien pada 3 Januari, atau ulang tahun tokoh 
Frodo dan Bilbo pada 22 September, hingga menonton bareng. "Saya punya mimpi 
kelak kami akan mengadakan pesta tahunan ala Middle-earth," ujar Riri 
berimajinasi. 
 
 
Namun sayangnya, kini Eorlingas tak rajin berkegiatan seperti dulu karena 
kesibukan setiap anggota. Terakhir, mereka berpartisipasi dalam acara World 
Book Day di Jakarta. Sebuah usaha untuk bertemu pecinta Tolkien yang `tersesat' 
dan mendambakan gerbang menuju Middle-earth. Tetap abadi Layaknya buku-buku 
klasik dengan sang pengarang yang telah wafat, praktis tak ada karya baru yang 
bisa dinanti. Kisah Frodo Baggins dan cincin jahat pun sudah usai dalam buku 
dan trilogi filmnya. 
 
 
Tapi hal tersebut bukan menjadi hal yang menyurutkan minat. Film The Hobbit dan 
prekuel dari Lord of the Rings, kabarnya akan diproduksi oleh sutradara Peter 
Jackson. 
Tolkien Enterprise yang dikelola putra Tolkien baru saja merilis kumpulan 
naskah Tolkien yang belum pernah diterbitkan sebelumnya, Children of Hurin. 
 
 
"Karya ini abadi. Dibaca beberapa kali enggak akan bosan, dan pasti akan ada 
sesuatu yang kita lihat saat membaca ulang cerita-cerita itu," kata Riri. 
 
 
Selain itu, menurut Novia, Tolkien sudah mempertemukan dirinya dengan 
teman-teman yang punya minat sama.
 

"Yang paling berharga dari kecintaan kami terhadap Tolkien adalah pertemanan. 
Temen yang rela naik bus 14 jam ke Wonogiri untuk hadir di pernikahan sesama 
pecinta Tolkien, temen yang ngerti maksudnya saat kita bilang mathom, miruvor, 
lembas, dago hon, dan temen yang bisa nangis bersama saat enggak dapat tiket 
film Return of the King. Itu yang enggak ternilai harganya," kisah Novia. (M-1) 
[email protected] 












EMAIL
[email protected] 

 

Kirim email ke