di banyak negara, orang lebih sering berbicara bukan dgn Bahasa Nasional yg jadi identitas negara dan bangsa tsb.Misal Malaysia, lebih sering berbicara dgn Bahasa Inggris, ketimbang Bahasa Melayu. Begitu pula India, dsb dsb dsb. kita punya Bahasa Indonesia yang jadi pemersatu dan identitas Nasional.suatu hal yg patut dibanggakan, yg jarang ada negara menyamainya.mungkin hanya RRC yg populasinya besar, dan kerap menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa Nasional dan pemersatu...yg mengalahkan penggunaan Bahasa Indonesia. namun sayang, karena orang jarang membaca dalam Bhs Indonesia, dampaknya penggunaan Bahasa Indonesia mulai kurang terarah atau menurun. dan nilai UN pun rendah. renungan bagi kita semua...di kala momentum Kebangkitan Nasional dan Hari Lahir Pancasila (di luar pro-kontranya). Best Regards and Wassalam,
Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2011/06/03/ArticleHtmls/03_06_2011_017_022.shtml?Mode=0 Nilai UN Bahasa Indonesia kembali TerburukSIDIK PRAMONO Tidak adanya budaya membaca di kalangan siswa menjadi penyebab buruknya nilai bahasa Indonesia dalam ujian nasional. MATA pelajaran bahasa Indonesia kembali menjadi momok dalam hasil ujian nasional (UN) tahun ini. Tidak cuma siswa SMA dan sederajat, siswa SMP dan sederajat pun menunjukkan hasil yang kurang memuaskan pada mata pelajaran itu. Data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memperlihatkan nilai akhir bahasa Indonesia mencapai nilai minimum 0,8. Hasil itu sebanding dengan matematika yang juga 0,8. Bahasa Inggris dan IPA masing-masing mencapai nilai minimum 0,9 dan 1,0. Untuk nilai rerata, bahasa Indonesia pun yang terendah di antara tiga mata pelajaran UN SMP dan sederajat, yakni 7,49, lalu disusul matematikadengan 7,50, IPA dengan rerata 7,60, dan tertinggi yakni bahasa Inggris dengan 7,65. “Kalau dilihat dari nilai minimum dan nilai rata-ratanya, nilai bahasa Indonesia termasuk yang paling rendah. Data ini akan menjadi pokok bahasan berikutnya,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Rabu (1/6). Sebelumnya, di tingkat SMA dan sederajat, ada 1.786 siswa yang diganjar ketidaklulusan UN tahun ini. Penyebabnya tidak lain karena nilai bahasa Indonesia mereka kurang dari nilai 4,00. “Memang aneh juga. Bahasa Indonesia untuk mereka seperti barang baru. Sepertinya siswasiswa ini baru pulang dari luar negeri,” kelakar Nuh tentang minimnya nilai UN pada bahasa Indonesia tersebut. Kepala Badan Penelitian danPengembangan Kemendiknas Mansyur Ramly juga langsung menyikapi hal itu. Ia menduga permasalahan itu terkait dengan tidak adanya budaya membaca siswa dan tidak terbiasanya menghadapi soal berbentuk cerita. “Padahal, tipe soal ini membutuhkan pemahaman yang cepat dan tepat atas teks. Kalau tidak sempurna pemahaman, analisis, serta daya serap (siswa terhadap teks), ini akan sulit. Apalagi, jawaban soal-soal bahasa Indonesia itu miripmirip,” ujar Mansyur.Sebab itu, lanjut Mansyur, saat ini pihaknya sedang merintis kerja sama dengan perguruan tinggi negeri, seperti Program Studi Bahasa Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta, dan asosiasi lainnya untuk memberi saran dan masukan dalam pengembangan bahasa Indonesia. "Kami juga akan minta keterangan dari sekolah-sekolah terkait tentang fenomena nilai bahasa Indonesia yang rendah ini. Setelah itu, akan kami tarik kesimpulan dan analisis guna perbaikan lebih lanjut," jelas Mansyur. NTT membaik Meski hasil nilai UN bagi SMP dan sederajat semakin menguatkan buruknya pembelajaran bahasa Indonesia, kabar menggembirakan justru datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah dua tahun berturutturut berpredikat terburuk, NTT membaik pada tahun ini. NTT ada di posisi ke-3, dari sisi persentase jumlah ketidaklulusan tertinggi, yakni 2,61%, atau 1.919 siswa. Untuk tahun ini, posisi terburuk beralih ke Kalimantan Barat dengan 6,15% dari 60.518 peserta UN. Adapun prestasi terbaik dicapai DKI Jakarta dengan 0,01% dari 134.061 peserta yang tidak lulus. "Peningkatan prestasi ini tidak lepas dari intervensi Kemendiknas atas 100 kabupaten/kota yang bermasalah dalam prestasi UN tahun lalu seperti perbaikan infastruktur, peningkatan kualitas, serta sertifikasi guru," kata Mansyur. Secara nasional, untuk UN SMP dan sederajat tahun ini, kelulusan peserta ujian mencapai 99,45% dari 3.660.803 siswa. Dengan kata lain, jumlah peserta yang lulus mencapai 3.640.569 dan yang tidak lulus 0,5% atau 20.234 siswa. Angka itu lebih baik 0,03% daripada tahun lalu, yang mencapai angka kelulusan 99,42%. (*/S-3) [email protected] [email protected]
