Keren banget nich......

Salam,
Morry Infra

---------- Forwarded message ----------
From: Fakih, Ridwan <[email protected]>
Date: 2011/6/12
Subject:   Inovasi Teknologi Mengayuh Sepeda Pegas


Share..info



http://www.gatra.com/artikel.php?id=149055



*Inovasi Teknologi**
Mengayuh Sepeda Pegas*!

Awalnya adalah sebuah jam weker yang usang. Hariyanto, seorang guru SMAN 10
Malang, menyerahkannya kepada dua anak didiknya, Yusman Ahmad Nur dan Anisa
Nazila yang duduk di kelas I. "Coba kalian teliti jam weker ini. Mungkin ada
yang bisa diaplikasikan," kata Hariyanto.

Tak dinyana, di tangan Yusman dan Anisa, weker usang itu mengantarkan SMAN
10 Malang meraih penghargaan dalam kompetisi desain internasional, Dreamline
7th International Design Olympiad 2011, di Ankara, Turki, pertengahan April
lalu. Dewan juri menganggap karya inovatif mereka yang berjudul
"Environmental Cycle atau E-Cycle" layak mendapat penghargaan tertinggi,
medali emas. Mereka berhasil menyingkirkan 6.150 peserta lainnya dari 43
negara.

E-Cycle tak lain adalah sepeda bertenaga per pegas, yang boleh dibilang
untuk pertama kalinya diciptakan di dunia. "Selain sangat ramah lingkungan,
E-Cycle juga sangat hemat energi," kata Yusman.

Prestasi internasional itu dapat tercapai berawal dari weker tua tadi. Di
mata Yusman, cara kerja weker memang memesona. "Sekali kita putar, weker ini
bisa menyiman tenaga 24 jam lebih," katanya.

Yusman pun berpikir, jika putaran dapat lebih dioptimalkan, energi yang
tersimpan bisa lebih lama. "Bisa sampai sebulan lebih," kata Yusman.

Nah, prinsip kerja pegas inilah yang bisa dikembangkan lebih lanjut dan
dapat dengan gampang diterapkan pada peranti lain. "Kalau weker saja bisa,
maka tentu diterapkan untuk sepeda juga bisa," tutur Anisa.

Proyek inovatif itu pun dimulai pada Desember tahun lalu. Awalnya, mereka
menganalisis serta mengukur sifat dan kinerja potensial pegas. Setelah itu,
mereka putar otak, bagaimana supaya potensi energi pegas ini dapat efektif
diterapkan pada sepeda. "Kami harus mengukur berapa banyak putaran roda gigi
yang dibutuhkan dan berapa kali harus mengayuh," kata Yusman.

Selain itu, mereka juga ingin menambahkan sistem pengatur kecepatan dan rem.
Di sinilah letak sisi inovatif E-Cycle, selain penggunaan tenaga pegas tadi.

Menurut Yusman, ada sejumlah bagian penting E-Cycle yang membuatnya berbeda
dari yang lain. Bagian utama adalah pemutar roda gigi (*gear*) jari-jari 9
sentimeter yang terbuat dari besi. *Gear* ini dilengkapi dengan kumparan
pegas yang terbuat dari baja, lengkap dengan pedal kayuhan. "Bagian inilah
yang menggerakkan roda dengan dikayuh lebih dulu," ujar Yusman. Selain itu,
tak kalah dari sepeda modern lainnya, E-Cycle juga dilengkapi dengan
pengatur kecepatan dan tentu saja sistem rem.

Perbedaan lainnya, E-Cycle memiliki empat *gear* di tubuhnya. Ada tiga buah
di roda depan dan lainnya di roda belakang. "Penempatan sistem roda gigi itu
akan membuat energi pegas bekerja lebih efektif pada sepeda," tutur Anisa.
Menurut kalkulasi mereka, satu putaran *gear* mampu menghasilkan tiga
putaran pada roda sepeda.

"Jadi, jika pengendara mengayuh lima kali saja, sudah menghasilkan 102
putaran roda," kata Yusman. Bandingkan dengan sepeda biasa. Untuk menempuh
jarak 1 kilometer, sepeda biasa membutuhkan 160 kayuhan. Namun E-Cycle hanya
membutuhkan 23 kayuhan. "Ini artinya, pengendara E-Cycle mampu menghemat
tenaga hingga 680,5%," Yusman menambahkan. Selain itu, tentu tak memerlukan
bahan bakar dan ramah lingkungan.

Yang menarik, Yusman dan Anisa lebih banyak memanfaatkan bahan bekas dan
rongsokan untuk membangun prototipe E-Cycle. Mulai bagian-bagian mesin
fotokopi, sepeda motor bekas, hingga sebuah pegas bekas yang dibeli dari
pasar loak.

Meski bermodal bahan-bahan rongsokan, mereka menuai penghargaan
internasional. Bahkan Sampoerna Foundation yang menaungi SMA 10 Malang
berniat membantu mematenkan E-Cycle. "Prosesnya sedang kami urus," kata
Hariyanto.

Kini Yusman dan Anisa sibuk menyempurnakan E-Cycle. Bahkan Yusman ingin
melangkah lebih jauh. "Kami yakin, energi potensial pegas ini dapat
diterapkan pada alat transportasi lain. Jadi, kita tidak butuh bahan bakar
lagi," katanya bersemangat.

*Nur Hidayat, dan M. Nur Cholish Zaein (Malang)*
[*Ilmu & Teknologi*, *Gatra* Nomor 30 Beredar Kamis, 2 Juni 2011]

Kirim email ke