Hiduplah Indonesia Raya !!! 

☹ ☹ ☹ 



~®~

-----Original Message-----
From: Nugroho Laison <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 12 Jun 2011 19:03:50 
To: SMA 1 Bekasi<[email protected]>; Binusnet<[email protected]>; 
Blue Jackets<[email protected]>; Muhammadiyah 
Society<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] MEMUSUHI KEJUJURAN

Status Siaga 1 utk penegakkan kejujuran di negara kita.

============================================================

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/06/13/233440/70/13/Memusuhi-Kejujuran

MEMUSUHI KEJUJURAN
Senin, 13 Juni 2011 00:00 WIB     

BENCANA besar sedang mengintai bangsa ini. Bukan tsunami yang bersumbu pada 
gempa berkekuatan 8,7 pada skala Richter. Bukan pula kemelut politik akibat 
ketidakpuasan masyarakat. Juga bukan karena keterpurukan ekonomi akibat 
pemerintah salah kelola. 

Musibah yang lebih besar ialah punahnya sikap kejujuran. Lebih menyeramkan lagi 
karena pengikisan nilai-nilai kejujuran itu disemai di dunia pendidikan. 
Pertanda itu kian jelas. Kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional direstui. 
Seorang pelajar yang melaporkan adanya sontekan legal yang dimotori gurunya 
sendiri malah diperlakukan tidak adil. Keluarganya diusir sehingga terpaksa 
mengungsi. 

Kasus itu terjadi di Sekolah Dasar Negeri Gadel II Surabaya, Jawa Timur. 

Seorang siswa sekolah itu melaporkan kepada orang tuanya--Widodo dan 
Siami--bahwa dia diperintahkan gurunya untuk menyebarkan sontekan massal soal 
ujian kepada rekannya saat ujian nasional. Kedua orang tuanya kemudian 
melaporkan hal itu kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. 

Kepala sekolah itu dicopot dan dua guru mendapat sanksi penurunan pangkat. Akan 
tetapi, persoalan tidak lantas beres. Warga desa bereaksi. Mereka 
mengintimidasi dan mengusir keluarga Widodo. Kini Widodo dan keluarganya 
kembali ke rumah orang tua mereka di Gresik. 

Tragis. Betapa mahalnya harga kejujuran. Lebih tragis lagi, kejujuran yang 
semestinya menjadi roh pendidikan justru dimusuhi dan dilawan. 

Pudarnya sikap kejujuran dipacu tiadanya sosok anutan. Masyarakat kehilangan 
tokoh teladan dari berbagai tingkat. Ruang publik hanya dijejali sikap-sikap 
amoral yang dipertontonkan pejabat publik pengidap kleptomania yang gemar 
mencuri uang negara. Nilai-nilai yang mencuat didominasi sikap ketamakan, 
manipulasi, dan kebohongan. 

Kita prihatin karena kejujuran seorang anak SD diberangus secara sengaja justru 
oleh pendidik dan warga di kelilingnya. Akan jadi apakah kelak anak-anak kita 
yang kejujurannya dibunuh sejak dini? Jawabnya, akan tumbuh menjadi pembohong. 
Generasi pendusta tengah menunggu bangsa ini di depan. 

Pendidikan semestinya tidak hanya menumbuhkan kecerdasan intelektual, tetapi 
juga mengasah kejernihan hati nurani. Karena itu, sekali mengajarkan 
ketidakjujuran, kita telah menabung benih kecurangan dalam diri anak-anak yang 
kelak antara lain menjadi koruptor. 

Semua tahu, negeri ini termasuk salah satu negeri terkorup di dunia. Itu 
berarti tingkat kejujuran penyelenggara negara dan swasta masih rendah. Namun, 
kini kita, baik secara sadar maupun tidak sadar, melanggengkan korupsi untuk 
beberapa dekade ke depan melalui penanaman nilai ketidakjujuran kepada 
anak-anak usia dini. Tragis. 

Kita sungguh risau karena kejujuran kian tergerus dan bersalin dengan pemujaan 
terhadap kerakusan. Kita kian gagal membangun generasi yang jujur dan percaya 
diri. 

Negeri ini masih menjadi ladang subur koruptor. Terutama karena kita tidak lagi 
mengajarkan kepada anak-anak untuk membedakan yang baik dan yang buruk, yang 
benar dan yang salah.



Kirim email ke