---------- Forwarded message ----------
From: Fakih, Ridwan <[email protected]>
Date: 2011/6/13
Subject: BEDAH KEJAHATAN KORPORASI: AQUA



Tantangan buat Para Ahli Geologi kita…..

Bukankah Di Amerika penyedotan air tanah bukan hal yang sederhana….Banyak
Aturannya.



Salam

Ridwan Fakih

BEDAH KEJAHATAN KORPORASI: AQUA

Siapa yang tidak kenal dengan merk dagang Aqua? Sangking terkenalnya,
nama Aqua kini telah menjadi semacam nama generik dari produk Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK) serupa di Indonesia. Coba perhatikan sekitar kita,
berapa banyak orang yang kita temui menyebut nama Aqua saat mereka
hendak membeli AMDK di warung atau toko? Dan perhatikan juga, jarang
sekali ada pembeli yang protes saat mereka diberi VIT, RON 88 atau ADES
oleh si penjual walaupun sebelumnya mereka meminta “Beli Aqua satu..”

Hal itu mungkin sekali terjadi karena Aqua adalah pelopor bisnis AMDK
dan menjadi produsen AMDK terbesar di Indonesia. Bahkan pangsa pasarnya
sendiri saat ini sudah meliputi Singapura, Malaysia, Fiji, Australia,
Timur Tengah dan Afrika. Di Indonesia sendiri mereka menguasai 80
persen penjualan AMDK dalam kemasan galon. Sedangkan untuk keseluruhan
market share AMDK di Indonesia, Aqua menguasai 50% pasar. Saat ini Aqua
memiliki 14 pabrik yang tersebar di Jawa dan Sumatra.

Produsen AMDK Aqua, PT. Golden Mississippi (kemudian bernama PT Aqua
Golden Mississippi) yang bernaung di bawah PT. Tirta Investama
(selanjutnya, dalam tulisan ini akan disebut sebagai Aqua saja, untuk
mewakili korporasi produsen AMDK tersebut), didirikan pada 23 Februari
1973 oleh Tirto Utomo (1930-1994). Pabrik pertamanya didirikan di
Bekasi. Sejak saat itu, orang Indonesia mulai mengubah salah satu
kebiasaannya secara mendasar dengan membiasakan diri mengkonsumsi AMDK,
membeli air.

Danone, sebuah korporasi multinasional asal Perancis, berambisi untuk
memimpin pasar global lewat tiga bisnis intinya, yaitu: dairy products,
AMDK dan biskuit. Untuk dairy products, kini Danone menempati posisi
nomor satu di dunia dengan penguasaan pasar sebesar 15%. Adapun untuk
produk AMDK, Danone juga mengklaim telah menempati peringkat pertama
dunia lewat merek Evian, Volvic, dan Badoit. Untuk bisa mempertahankan
diri sebagai produsen AMDK nomor satu dunia, Danone tentu saja harus
berjuang keras menahan gempuran Coca-Cola dan Nestle.

Untuk menambah kekuatannya, Danone mulai memasuki pasar Asia, dan
mengambil alih dua perusahaan AMDK di Cina. Menyadari kekuatan kecil
Aqua yang belum terjamah oleh Coca-cola atau korporasi lainnya, Danone
buru-buru mendekati Aqua. Akhirnya, pada tanggal 4 September 1998, Aqua
secara resmi mengumumkan “penyatuan” kedua perusahaan tersebut dan
bertepatan dengan pergantian milenium, pada tahun 2000 Aqua meluncurkan
produk berlabel Danone-Aqua. Pada tahun 2001, Danone meningkatkan
kepemilikan saham di PT. Tirta Investama dari 40% menjadi 74%, sehingga
Danone kemudian menjadi pemegang saham mayoritas Grup Aqua.

Tapi, pertanyaannya adalah, datang dari manakah air bersih yang dijual
oleh Aqua sehingga sekarang manusia perlu membayar hanya untuk
mendapatkan air bersih?

Kisah dari Sekitar Sumber Mata Air

Salah satu dari sekian banyak mata air yang dieksploitasi dan disedot
habis-habisan oleh Aqua hingga hari ini adalah mata air Kubang yang
terletak di kampung Kubang Jaya, desa Babakan Pari yang berada di kaki
gunung Salak, Sukabumi bagian utara.

Sumber mata air di Kubang mulai dieksploitasi oleh Aqua sejak sekitar
tahun 1992-an. Kawasan mata air Kubang yang sebelumnya merupakan
kawasan pertanian, kemudian oleh Aqua diubah menjadi kawasan seperti
hutan yang tidak boleh digarap oleh warga setempat. Sekeliling kawasan
mata air Kubang dipagari tembok oleh Aqua dan dijaga ketat oleh petugas
keamanan sewaan selama 24 jam penuh setiap harinya. Tidak ada seorang
pun yang boleh memasuki kawasan tersebut tanpa surat ijin yang
ditandatangani langsung oleh pimpinan kantor pusat Aqua Grup di Jakarta.

Pada awalnya air yang dieksploitasi oleh Aqua adalah air permukaan,
yaitu air yang keluar secara langsung dari mata air tanpa dibor. Namun
pada tahun 1994, Aqua mulai mengeksploitasi air bawah tanah dengan cara
menggali jalur air dengan mesin bor bertekanan tinggi.

Sejak air di mata air Kubang disedot secara besar-besaran oleh Aqua,
banyak perubahan yang dirasakan oleh warga sekitar. Yang paling terasa
adalah menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air di desa, dan
ini berdampak buruk pada kehidupan warga desa itu sendiri. Penurunan
daya dukung air ini tampak dari mulai munculnya masalah-masalah terkait
dengan pemanfaatan sumber daya air di tingkat komunitas sejak sumber
mata air Kubang dikuasai oleh Aqua. Salah satu masalahnya adalah
kurangnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga
sehari-hari termasuk air untuk minum, memasak, mencuci, mandi dan
lain-lain. Masalah ini dapat dilihat dari keadaan-keadaan sumur-sumur
milik warga yang menjadi sumber pemenuhan akan kebutuhan air bersih
sehari-hari. Sekarang, tinggi muka air sumur milik kebanyakan warga
maksimal hanya tinggal sejengkal saja atau sekitar 15 cm. Bahkan
beberapa sumur sudah menjadi kering samasekali. Padahal sebelum Aqua
menguasai air di sana, tinggi muka air sumur biasanya mencapai 1-2
meter. Dulu, hanya dengan menggali sumur sedalam 8-10 meter saja,
kebutuhan air bersih untuk sehari-hari sudah sangat terpenuhi.
Sekarang, warga perlu menggali sampai lebih dari 15-17 meter untuk
mendapatkan air bersih. Dulu, warga tidak memerlukan mesin pompa untuk
menyedot air untuk keluar dari tanah, sekarang dalam sekali sedot
menggunakan mesin pompa, air hanya mampu mencukupi 1 bak air saja dan
setelah itu sumurnya langsung kering. Bahkan pada beberapa kampung,
apabila dalam sebulan saja hujan tidak turun, sumur menjadi kering sama
sekali. Padahal dulu, saat musim kemarau memasuki bulan ke-6 pun tidak
membuat air sumur menjadi kering.

Masalah lainnya lagi adalah, kurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan
irigasi pertanian. Masalah ini dialami oleh para petani dari hampir
semua kampung di kawasan desa Babakan pari. Saat ini para petani di
beberapa kampung tersebut saling berebut air karena ketersediaan air
yang sangat kurang. Bahkan beberapa sawah tidak kebagian air dan
mengandalkan air dari air hujan saja. Akibatnya, banyak sawah
kekeringan pada musim kemarau dan tentu saja hal ini menimbulkan
masalah perekonomian yang cukup serius bagi para petani.

Aqua memiliki izin untuk mengambil air sebanyak 18 liter per detik
melalui sumur bor di dekat mata air Sigedang, yang juga merupakan air
sumber irigasi untuk lahan pertanian di lima kecamatan. Ironisnya, saat
kurangnya air irigasi ini memicu konflik di antara petani itu sendiri
dalam soal perebutan sumber air yang semakin mengering demi sawah-sawah
mereka, Aqua malah mengajukan permintaan menaikkan debit dari 18 liter
menjadi 60 liter per detik. Salah satu hal yang juga menjelaskan
mengapa ide swasembada pangan semakin menjadi angan-angan belaka.

Hari ini, selain Aqua, terdapat 246 perusahaan AMDK yang beroperasi di
Indonesia. Produksi AMDK amat boros air. Menurut catatan ASPADIN
(Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia), perusahaan
AMDK di seluruh Indonesia setiap tahun membutuhkan sekitar 11,5 miliar
liter air bersih, namun yang pada akhirnya menjadi produk AMDK hanya
sebanyak 7,5 miliar liter per tahun. Sisanya, 4 miliar liter air
bersih, terbuang percuma untuk proses pencucian dan pemurnian air.

Kejahatan yang Terlupakan di Balik Legalitas

Seperti sayur-sayuran, air yang merupakan sebuah produk alam, keluar
dari muka bumi secara gratis dan tentu saja bukanlah “milik” siapapun.
Sama seperti oksigen, seharusnya siapapun dapat mengakses air bersih.
Apa yang terjadi di desa Babakan Pari dan Kabupaten Klaten tadi adalah
contoh kecil bagaimana korporasi menguasai apa yang sudah seharusnya
dapat diakses oleh semua orang, dan lalu menjualnya kembali kepada
semua orang. Air bersih yang keluar dari muka bumi diklaim sebagai
“milik” sebagian individu saja melalui jalur legal, disedot, disuling,
dan dikemas oleh korporasi lalu ditenteng, dijajakan, diperiklankan,
dan dijualbelikan kepada semua orang—karena semua orang membutuhkan air
bersih.

Menurut penelitian, ketersediaan air tawar saat ini kurang dari 1,5%
dari seluruh air di muka bumi. Saban dua dasawarsa, kebutuhan umat
manusia akan air tawar meningkat dua kali lipat. Angka itu dua kali
lebih besar daripada tingkat pertumbuhan penduduk. Apabila
kecenderungan ini berlangsung terus, pada tahun 2025 permintaan akan
air tawar diduga meningkat sebesar 56% melebihi yang tersedia saat ini.
Kita dapat bayangkan sendiri apa yang akan terjadi apabila masa
tersebut tiba sementara air bersih dikuasai oleh beberapa individu saja
melalui korporasi-korporasinya.

Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan oleh produsen AMDK seperti Aqua
adalah sebuah bentuk “kejahatan legal”. Legal, karena hukum dan
masyarakat mengakui bahwa Aqua “berhak” atas air yang keluar dari muka
bumi secara gratis untuk menjadi “milik” mereka, karena mereka lalu
memproduksinya secara “legal” serta menperjualbelikannya, dan semua itu
dilakukan di bawah lindungan hukum. Artinya tidak melanggar hukum.
Tentu saja.

Namun, legalitas dan hukum adalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia,
dan selalu ada kepentingan tertentu di balik apapun yang diciptakan
manusia. Hukum memang diciptakan untuk melindungi kepentingan mereka
yang mampu menciptakannya.

Saat ini “hanya” air, tanah, api, dan udara yang bersih, suatu ketika
mungkin akan sampai satu masa di mana bahkan sinar mataharipun menjadi
barang dagangan dan tak tersisa sedikitpun hasil dari bumi ini yang
bisa kita rasakan manfaatnya tanpa mengeluarkan uang. Masalahnya, tidak
semua orang memiliki uang yang cukup, bahkan untuk sekedar memenuhi
kebutuhan bertahan hidup. Dan ini semua tampak tidak seperti sebuah
kejahatan, karena hukum melindungi dan melegalisir semua hal tersebut.

http://detikhots.info/kejahatan-korporasi-aqua/

[Non-text portions of this message have been removed]



-- 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
IATMI Middle East (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia Komisariat Timur
Tengah)

Website:
http://www.iatmi.or.id/iatmi/komisariat.php?id=12
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kirim email ke