Sahabat yth.

Mohon izin, ada curahan pikir yang saya buat akibat rusuh di KNPI Bekasi.
Saya mohon komentarnya....

http://komaribnumikam.com/?p=137

Transformasi KNPI Kab. Bekasi Demi Masa Depan Kaum Muda Bekasi





Berdiri di awal milenium baru, saat pemilihan kepala daerah Kab. Bekasi di
beranda masa, kaum muda Kabupaten Bekasi tengah dirundung kepailitan. Pailit
 psikologis. Pailit politis. Bahkan mungkin pailit moralitas. Apa sebab? Tak
lain dan tak bukan Kisruh di DPD KNPI Kab. Bekasi.



Pemuda mestinya tampil di muka. Di altar sejarah masa depan, sejatinya
berteriak nyaring mengawal bergulirnya dinamika politik yang masih dirundung
penyakit TPO (Transaksional-Pragmatisme-Opportunis). Bukan malah sibuk
dengan dinamika internal pemuda. Kisruh di KNPI.



Selayaknya pemuda tampil di depan pintu yang terhormat Bapak Bupati Doktor
Saadudin. Mengetuk kesadaran beliau dan bertanya lantang masa setiap akhir
tahun ada saja dana APBD yang tidak digunakan. Tahun 2010, malah konon
kabarnya tercatat Rp. 495 Milyar.  Dan, 58 Milyar ada di sektor pendidikan.
Padahal, betapa kondisi infrastruktur pendidikan masih centang perenang.
Belum lagi agenda pembangunan jalan lintas Utara, yang konon kabarnya dana
untuk itu sudah ada.  Saat ini Pemda hanya becus membebaskan lahan baru
sampai wilayah Sukatenang. Padahal itu dana bantuan Provinsi  konon senilai
Rp. 78 Milyar.



Belum lagi persoalan fundamental kaum muda. Krisis dimensional yang terjadi
selalu saja yang menjadi korban terbesar adalah kaum muda. Krisis ekonomi
dengan besarnya  jumlah kaum muda yang menjadi pengangguran. Kaum muda punya
paradigma keliru yang terus bersemayam di kepala mereka. Bahwa hidup itu
akan berharga hanya bila mereka menjadi pegawai negeri atau karyawan pabrik.
Hanya sedikit yang bekerja menjadi pewirausaha. Yakni mereka yang terpaksa.
Karena, tidak diterima bekerja di pabrik. Atau, di PHK.



Adalah kedegilan berjamaah. Karena hampir 4000 perusahaan yang berdiri di
Kabupaten Bekasi hanya menghasilkan ribuan buruh.  Mana transfer teknologi?
Coba pikir, sudah berapa tahun PT Epson berdiri di Bekasi. Pernahkah ada
teknologi Epson yang diduplikasi di Bekasi. Sumpah kagak ada!



Krisis politik dengan minimnya kader politisi muda yang tampil ke permukaan.
Hampir 100 % pemimpin di legislatif (baca DPRD Kab. Bekasi)  adalah ‘barang
lama’, mereka yang pernah menjabat di periode lalu. Partai politik gagal
memainkan peran sebagai inkubator pemimpin politik.



Tugas kaum muda adalah mengakhiri mitos. Bahwa senioritas bukan ukuran
kualitas dan tumpuan perubahan. Mitos baru dimunculkan. Dengan mempercayai
kapasitas kaum muda sebagai agen perubahan. Nyaris tak terbayangkan, bila
kondisi ini terus menerus terjadi di Bekasi. 4 L=Lu lagi, Lu Lagi. Meminjam
pandangan Hatta, generasi baru kaum terdidik, dengan kemampuannya untuk
membebaskan diri dari hipnosa kolonia, lebih mungkin mengambil inisiatif
untuk membangkitkan kekuatan rakyat dan menyediakan basis teoritis bagi
aksi-aksi kolektif.



Inilah Kabupaten Bekasi. Pensuplai 56% gas untuk wilayah Jabotabek.
Penyumbang 44 Trilyun pajak dari kawasan industri ke Pusat. Sayang, kondisi
kaum muda hanya chasing saja. Sementara kondisi dan nasibnya layaknya kaum
tua renta. Kecurian elan vital daya muda.  Kaum muda yang tak punya mimpi
dan motivasi. Jangan-jangan kaum muda Bekasi tak lebih dari* stolen
generation*, generasi yang tercuri.



Pada titik inilah, kebutuhan kita, kaum muda untuk sebuah organisasi
kepemudaan, KNPI lebih berdaya. Mesin yang bisa menggesa transformasi mitos,
transformasi politik, transformasi budaya dan transformasi ekonomi.  Melalui
mesin ini, legalitas formal dari dikucurkannya dana pembinaan pemuda, konon
kabarnya ada sekitar Rp.750 Juta per bulan.



Sayang, ibu pertiwi tengah berduka. Organisasi tempat bernaungnya kaum muda
tengah diilit prahara. KNPI Kab. Bekasi tengah kisruh setelah rakerda yang
diadakan di Aula KH Noer Alia, kompleks pemda Kab. Bekasi. Intelektualitas
yang sejatinya dijadikan peta jalan bagi idealitas kaum muda diinjak oleh
keserakahan.  Kepatuhan terhadap konstitusi terkurung syahwat kekuasaan
sehingga masa kepengurusan yang sudah selesai enam bulan yang lalu, masih
belum juga diakhiri.



Ya Rakerda yang kisruh merupakan gejala adanya penyakit akut di dalam tubuh
KNPI.  Adalah hal wajar dan sangat masuk akal bila sekelompok OKP hendak
melakukan transformasi struktural dengan mencabut  mandat DPD KNPI yang
dipimpin oleh Rahmat Damanhuri dan menyerahkan kepada MPI atau
menyerahkannya kepada DPW Jawa Barat.  Juga sangat amat dipahami, bila
sekelompok OKP menyerukan agar penggunaan dana di tahun-tahun lalu diaudit.
Bila saja, selama ini OKP dilibatkan dalam proses tahapan dan penggunaan
dana itu tentu tidak akan terjadi hal ini.



Pun demikian, saya berharap peristiwa ini jangan sampai lebih besar dari
potensi kaum muda itu. Kaum muda Bekasilah yang harus mengambil tali kekang
atas peradaban kita sendiri.  *Riding the wave*. Mengendarai gelombang.
Inilah momentum yang tepat untuk melakukan transformasi KNPI Kab. Bekasi.



Mengambil tali kekang tentu dengan mengedepankan intelektualitas, nurani dan
moralitas. Bukan dengan premanisme terstruktur. Memberikan landasan
ideologis untuk bergerak menyelamatkan KNPI dan mencanangkan wacana untuk
arsitektur atas KNP Baru setelah era periode ini.



Arsitektur KNPI Baru inilah yang harus ditagih kepada mereka yang sejauh ini
gembar-gembor untuk menjadi Calon Ketua KNPI. Bukan sekadar modal kapital.
Tapi juga modal intelektual dan moralitas. Mau dibawa ke mana KNPI pasca
kepemimpinan Rahmat Damanhuri.



Pada titik inilah kalangan OKP jangan hanya menuntut DPD untuk memberikan
pertanggungjawaban atas kinerja dan penggunaan anggaran. Tapi juga menuntut
gerbong dan lokomotif yang nanti akan memimpin untuk memberikan arsitektur
KNPI baru. Ibarat perusahaan profesional, para lokomotif dan gerbong ini
harus memaparkan  *bussinesss plan*. Saya yakin optimisme itu masih
bersemayam. Hidup kaum Muda! Hidup Bekasi....! [komarudin ibnu mikam, Ketua
DPC Pemuda Demokrat Indonesia Kab. Bekasi]

Kirim email ke