selingan sedikit, artikel IT yg cukup bagus, dan multi-perspective.bisa
memperkaya wawasan.

Best Regards and Wassalam,


Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.multiply.com/journal

http://tech.groups.yahoo.com/group/KOMPUTER-TEKNOLOGI/message/41826
<http://tech.groups.yahoo.com/group/KOMPUTER-TEKNOLOGI/message/41826>
Saya forwardkan tulisan bang Ferizal Ramli tentang pencegahan korupsi,
praktisi SAP di Jerman.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Apakah Teknologi Informasi bisa mencegah Korupsi yang berkuasa Über
Alles???

http://ferizalramli.wordpress.com/2011/09/03/apakah-teknologi-informasi-\
bisa-men\
\
cegah-korupsi-yang-berkuasa-uber-alles/
<http://ferizalramli.wordpress.com/2011/09/03/apakah-teknologi-informasi\
-bisa-mencegah-korupsi-yang-berkuasa-uber-alles/>

Ada banyak pertanyaan ke saya, mungkin karena profesi saya sebagai
ekspatriat
dengan spesialis standard software SAP, yang kira-2 bunyinya begini:
„Apakah
penggunaaan Standard Software SAP itu bisa dipakai untuk menekan korupsi
di
Indonesia?"

Pertanyaan menggelitik yang pasti didasari sebuah latar belakang gelisah
kenapa
kok korupsi ndak bisa dihilangkan di Indonesia. Hanya pertanyaan
tersebut perlu
sedikit "dikoreksi", yang lebih akurat adalah apakah Teknologi Informasi
(TI,
bukan cuma SAP) bisa mencegah korupsi?

Kira-kira seperti inilah jawaban saya atas pertanyaan diatas. Secara
singkat
saya mau katakan bahwa TI pada level tertentu mampu mencegah korupsi
tapi tidak
mampu menghilangkan dampak korupsi sepenuhnya bahkan bisa jadi TI malah
bisa
mempermudah korupsi.
Kenapa?

Ada 2 hal penting yang harus dipahami untuk memberantas korupsi:
Satu: Pendekatan Sistem
Dua: Pendekatan Kultur

TI itu adalah bentuk pencegahan korupsi dengan pendekatan sistem tapi
pendekatan
sistem mengandung kelemahan. Saya ibaratkan jika sebuah Kapal Tanker, TI
adalah
mesin Kapal Tangkernya. Jika mesinnya ampuh maka kapal akan melajut
cepat menuju
tujuan.

Hanya apakah tujuan yang dicapai itu benar? Ini butuh Navigasi dan
Kemudi!
Navigasi dan Kemudi bisa mengarahkan pada tujuan benar jika mereka yang
paling
menentukan bertanggung jawab di bagian navigasi dan kemudi adalah orang
yang
punya integritas. Ini adalah masalah kultur. Ini tidak bisa lagi diatasi
dengan
pendekatan sistem…

Lalu pertanyaan anda, korupsi seperti apa yang bisa diselesaikan dengan
pendekatan sistem dan korupsi seperti apa yang tidak bisa diatasi dengan
pendekatan sistem? Jawabnya marilah kita bedah anatomi perilaku korupsi
sebagai
berikut…

XXX

Anatomi Korupsi

Perlu kita pahami korupsi itu pada hakekatnya ada 3 tingkatan stadium
kerusakan.
Saya determinasikan dari stadium yang paling rendah ke yang paling
tinggi:
(1) Korupsi Level Jalanan yang angkanya uang receh
(2) Korupsi Level Eksekusi yang angkanya milyaran
(3) Korupsi Level Kebijakan yang angkanya trilyunan

Korupsi Level Jalanan

Untuk lebih mudah memahami, kita bisa lihat contoh sederhana: jika
Polantas
nyemprit anda lalu dia minta damai, tawar-menawar harga pas lalu anda
boleh
tancap gas, maka ini korupsi level jalanan.

Jika anda ngurus KTP, Passport, SIM, atau mungkin untuk perijinan tanah
harus
dipaksa nyogok dan jika tidak nyogok dipersulit maka ini juga masuk
korupsi
level jalanan! Ini korupsi uang receh. Ini jelas menganggu dan menyaikit
anda
karena ini langsung berhubungan dengan keseharian anda tapi sekali lagi
ini cuma
level korupsi uang receh!

Korupsi Level Eksekusi

Jika panitia anggaran di DPR atau Pemerintah melakukan kolusi untuk
dapat proyek
seperti yang terjadi di Kementriannya si Muhaimin Iskandar, atau Mark Up
seperti
yang terjadi di Kementriaannya si Kumis Andi Malarangeng maka ini adalah
katagori korupsi di level eksekusi sebuah kebijakan. Contoh lain seperti
Anggoro/Anggodo yang nyogok para Jenderal Polri sehingga punya rekening
"babi
gendut" maka ini juga masuk katagori korupsi level eksekusi kebijakan.

Pada korupsi stadium ini, UU atau Kebijakannya itu sudah benar tapi si
pemegang
kekuasaan yang mengeksekusi kebijakan lah yang korup. Korupsi level ini
levelnya
di angka milyaran. Karakter penting yang harus dipahami dalam korupsi
level ini
pasti ada mafia di lembaga tersebut yang sengaja dipelihara. Jadi jangan
kaget
kita juga sering dengar sinyalemen Mafia Pengadilan, Mafia Pajak dan
Mafia-Mafia
lainnya.

Sebagian besar pejabat di Indonesia dari level Bupati, Gubernur, DPR,
Dirjend
bahkan terkadang sampai menteri masuk dalam katagori korupsi ini.

Korupsi Level Kebijakan

Ini adalah korupsi yang levelnya trilyunan! Korupsi ini sulit dijerat
dengan
hukum karena terkadang hukumnya memang dibuat untuk melindungi si
koruptor.
Hukum malah memberi kekuasaan untuk berbuat korup. Ini adalah korupsi
yang
tersulit. Sulit kita pahami, sulit kita jerat dengan hukum bahkan
pejabat hukum
yang paling idialis pun tidak bisa menuduh pelakuknya korup karena
Undang-2nya
justru mengatakan itu tidak korup. Hanya saja korupsi level ini
berdampak pada
proses pemiskinan rakyat sampai stadium terkronis!

Contoh korupsi:
SBY mengeluarkan kebijakan bahwa Lumpur Lapindo itu adalah bencana alam
sehingga
Abu Rizal Bakrie terbebas tanggung jawabnya. Beban dari kerusakan
tersebut
menjadi tanggung jawab APBN dan masyarakat yang ditimpah musibah. Dari
sudut
apapun anda TIDAK akan bisa membuktikan bahwa kebijakan SBY itu korup!
Tapi
dampak kerusakannya dapat dirasakan begitu memilukan, melukai keadilan
masyarakat dan parah!

Contoh lain Boediono dan Sri Mulyani dalam Bank Century! Uang 6,7
Trilyun
digelontorkan begitu saja tanpa ada pertanggungjawabkan sama sekali.
Tanpa
mereka secara transparan bisa menunjukkan kemana uang tersebut mengalir
kecuali
cuma slogan-slogan kekhawatiran pasar atas dampak sistemik jika Bank
Century
bangkrut. Korupsi ini pun sulit dibuktikan tapi jelas 6,7 Trilyun
tenggelam di
Century tanpa pertanggungjawaban apapun!

Contoh lain Sri Mulyani keluarkan kebijakan SUN (Surat Hutang Negara)
dengan
bunga 13% yang amat menguntungkan pemilik modal (para Investment
Banking) karena
menikmati pembayaran bunga berlimpah jika kasih hutang ke Indonesia.
(Catatan:
pinjaman Bilateral dengan Jepang itu suku bunganya cuma 0,3%, sementara
pinjaman
IMF yang kita nesu-2 sebagai lintah darat saja cuma 3,5%, sedangkan
SUN-nya Sri
Mulyani bungannya 13%) Ini adalah salah satu contoh korupsi level
kebijakan.
Jelas sulit dibuktikan itu korup tapi siapa yang akan bayar suku bunga
seperti
itu? Anak cucu kitakah nantinya?!

Contoh lain kebijakan-kebijakan pertambangan, perminyakan, dimana UU
kita justru
menginjikan pihak asing (perusahaan-perusahaan Amerika) menikmati semua
SDA
kita. Bisa juga korupsi penggudulan hutan yang dilakukan oleh para
Gubernur di
Kalimantan yang berkolaborasi dengan pengusaha Malaysia.

Ini adalah korupsi yang sulit untuk dipahami bahkan terkadang
Undang-Undangnya
membolehkan ini semua terjadi! Juga lebih sulit lagi dibuktikan karena
si
pelakunya terkadang tidak dapat kompensasi uang langsung atau keuntungan
finansial secara langsung. Tapi kompensasinya bisa dalam bentuk lain
seperti
privilege politik atau dukungan kekuasaannya agar semakin mapan. Ini
merupakan
Korupsi dalam wajah yang amat sempurna: Über Alles! Korupsi yang bisa
diatas
segala-galanya bahkan mereka yang koruptor itu sangat mungkin merasa
diatas
kuasa Tuhan.


XXX

Filosofis 80% – 20%

Lantas seberapa besar peran TI mencegah Korupsi ini? Pasti pertanyaan
ini yang
selalu mengganggu kegelisahan anda.

Agar jawabanya komprehensif maka mari kita pahami Anatomi Korupsi yang
telah
saya jelaskan diatas.

Jawabnya, jika pada titik Korupsi Level Stadium I (Korupsi Jalanan) maka
TI
mencegah korupsi dengan tingkat efektifitas mendekati mutlak.
Jika Korupsi Level II (Korupsi Eksekusi) maka TI tingkat efektifitasnya
tinggi
mencegah korupsi.
Sementara pada Korupsi Level Stadium III, TI hanya berperan sebagai
tools untuk
memudahkan pembuktian, jika dan hanya jika ada kesadaran tinggi akan
pentingnya
integritas untuk memberantas korupsi.

Jika anda bertanya lagi berarti TI signifikan dong memberantas Korupsi,
paling
tidak bisa mencegah korupsi Level Jalanan dan mengurangi korupsi level
eksekusi
kebijakan? Jawab saya: iya benar cukup efektif, tapi jawaban saya itu
masih koma
belum titik.

Saya ajak berdiskusi secara gamblang. Hanya juga agar diskusi kita mudah
dipahami maka ijikanlah saya adaptasi filosofis 80% – 20%. Filosofis
yang
biasanya amat lazim dipahami oleh para praktisi dalam TI. Sekali lagi
(mohon
jangan salah paham) penggunaan saya atas filosofis ini semata-2 hanya
untuk
mempermudah pemahaman saja. Sebuah ilustrasi yang sering digunakan oleh
para
praktisi TI.

Kira-kira begini: "Untuk mencapai titik prestasi 80% maka kita cuma
butuh
pengorbanan 20%, tetapi untuk mencapai titik 20% berikutnya sehingga
prestasi
kita menjadi 100% justru kita harus mengorbankan seluruh resources kita
sampai
80%". Inilah makna filosofis 80%-20%!

Sekarang filosofis ini saya adaptasikan dalam kasus korupsi Indonesia.
Jika
pencegahan korupsi secara kuantitas sehingga menurun sampai titik 80%
maka TI
akan bisa mencapainya. Tetapi untuk menurunkan 20% berikutnya sehingga
korupsi
kita mendekati titik nol% maka kita butuh metode lain selain TI yang itu
akan
menguras seluruh energi kita secara total.

Lalu anda akan senyum senang dan bilang paling tidak kan sudah 80%
korupsi bisa
kita cegah. Boleh saja anda senang, hanya jangan lupa kuantitas 80%
korupsi yang
bisa dicegah oleh TI itu hanya membuat kerusakkan (secara filosofis) 20%
saja
bagi bangsa Indonesia. Nah, sisanya korupsi yang 20% lainnya yang berupa
korupsi
Kebijakan, korupsi Über Alles ini yang justru membuat tingkat
kerusakannya jauh
lebih parah.

Jadi, jika kita pakai filosofis 80%-20% diatas maka kita bisa katakan
bahwa 20%
perilaku korupsi yang tidak bisa dicegah dengan TI justru memberi
kerusakan
sampai 80%!


XXX

TI itu hanya tools untuk mencegah Korupsi

Bagaimana pula caranya agar kita bisa menghilangkan korupsi sehingga
bisa
mencapai titik NOL%?

Harus kita pahami dan harus kita koreksi kesalahan common sense selama
ini. Kita
sering berpikir bahwa yang korup itu adalah sektor pelayanan publik
seperti PNS,
birokrat, aparat hukum, dll. Benar banyak diantara mereka itu sering
korup tapi
korupsi mereka lebih banyak di level stadium 1 atau 2 menurut anatomi
yang saya
tulis diatas. Sementara sektor swasta pemilik kapital dan para pemegang
kebijakan lah yang paling terlibat dengan korupsi stadium kronis 3!

Dari hasil kajian yang saya ikuti ternyata ada beberapa kelompok penting
aktor
korupsi. Maaf pembagian ini cuma untuk menyederhanakan model:
A. Aparat Penegak Hukum (Jaksa, Hakim, Polisi dengan karakteristik agak
berbeda)
B. Aparat Birokrasi (PNS sipil dan dengan karateristik tertentu polisi
juga
termasuk disini)
C. Masyarakat umum
D. Pemegang Kebijakan (Presiden dan Menteri pada Pos Strategis) dan
Politisi
E. Korporasi Swasta (Konglomerasi, Banking, International Banking and
Multinational Corporation)

Silahkan untuk lebih lanjut bisa baca link ini:
http://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/mencoba-membedah-anatomi-ko\
rupsi/
<http://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/02/mencoba-membedah-anatomi-k\
orupsi/>


Korupsi pada Aktornya Kelompok A dan B (Aparat Hukum dan Aparat
Birokrasi) serta
masyarkat umum itu bisa dicegah secara efektif dengan pendekatan TI.
Dibuat
sistem Pengendalian Internal yang benar dan transparan. Dibuat sistem
pemasukan/pembayaran hanya dari 1 pintu. Dibuat sistem pengeluaran
berdasarkan
anggaran. Dibuat sistem audit yang benar dan semuanya didukung oleh
sebuah
standard TI yang terintegritas maka korupsi di level Aparat Hukum dan
Aparat
Birokrasi serta merta segera turun. Tapi korupsi yang Aktornya Pemegang
Kebijakan dan Korporasi Swasta (Kelompok D dan C) ini tidak bisa diatasi
dengan
sistem TI!

Saya kasih contoh gampang. Di Jerman misalkan karena kemajuan TI dimana
identitas seseorang (KTP-nya) Jerman adalah valid dan terekam dalam
database
sehingga sulit membuat pemalsuan identitas atau penggunaan identitas
yang tidak
semestinya. Akibatnya, KTP tersebut pun menjadi acuan dalam sistem
perbankan.

Nah, sistem perbankan mereka (karena didesain secara otomatis) akan
segera
melaporkan ke Finanzamt (kantor keuangan Jerman) jika tiba-2 saja ada
uang masuk
diluar kebiasaan dan tidak jelas asal-usulnya. Bisa juga sistem TI Bank
memberi
tahu jika tabungan yang dimiliki nasabah lebih banyak dari penghasilan
semestinya. Masyarakat pun "tidak boleh" bertransaksi uang tunai dalam
jumlah
besar. Hampir semua transaksi harian masyarakat dengan gunakan sistem
Bank.

Dari contoh sistem seperti ini akan menyulitkan orang untuk korupsi.
Kemana
uangnya akan mereka simpan? Bagaimana membelanjakan uang hasil korupsi
tersebut
jika transaksi uang tunai dalam jumlah relatif besar itu ditolak! Harus
dengan
bank!

Saya punya contoh unik saat masih sekolah di Universitas Hamburg dan
masih kerja
Part-Time untuk biayai kuliah saya. Saat itu visa saya mau habis dan
harus
diperpanjang. Nah, untuk perpanjangan Visa maka di Rekening Bank saya
harus bisa
tunjukkan ada cukup uang untuk membiayai hidup saya selama 1 tahun. Lalu
saya
siasati agar para temen saya kirim uang ke rekening saya, jadi ter-print
uang di
rekening saya mencapai 5.000 Euro untuk saya tunjukkan ke bagian Visa
bahwa saya
punya uang.

Apa lacur? Yang terjadi malah saya dipanggil oleh Finanzamt serta
diinterogasi.
Mereka tanya dari mana uang itu? Apakah anda mendapatkan uang dengan
cara
ilegal? Kenapa penghasilan kerja Part-Time anda yang rata-rata sebulan
cuma
600-700 Euro bisa tiba-2 menerima pemasukan 5.000 Euro?

Dari contoh yang saya alami, anda bisa banyangkan, cuma level "sekecil"
itu
saja, sistem TI perbankan Jerman sudah mampu mencium ketidakberesan.
Jadi, tentu
saja sistem TI akan efektif mencegah korupsi pada level tertentu.

Jika sistem e-KTP, sistem Perbankan dan sistem Administrasi Pemerintah
menggunakan TI secara integrasi maka sudah pasti yang namanya korupsi
level
Jalanan atau Korupsi level Mark Up proyek akan bisa diatasi dengan
cepat! Si
pelaku korupsi akan mudah terindentifikasi jika ada perubahan cash flow
yang
tidak wajar.

Andakata pun, korupsi anda pakai uang tunai lalu anda lolos dari endusan
sistem
perbankan, toh uang tunai anda pun sulit dibelanjakan. Dikarenakan orang
ndak
mau menerima uang tunai anda dalam transaksi. Jika anda ingin masukkan
uang
tunai dalam jumlah besar ke Bank maka anda pun dipaksa membuat laporan
dari mana
anda dapat uang tersebut! Jadi, masak anda mau korup sementara uang anda
cuma
anda jadikan bantal seumur hidup anda dan anak cucu anda selama 7
turunan?

XXX

Integritas lah adalah spirit untuk melawan korupsi!

Pada titik mana TI tidak mampu memberantas korupsi? Pada titik korupsi
Level
Pembuat Kebijakan yang berkolaborasi dengan Korporasi Swasta! Sistem TI
tidak
akan mampu memberantas korupsi pada level pembuat kebijakan, bahkan
kerumitan
sistem TI yang sulit dipahami masyarakat justru malah dinding
perlindungan yang
baik atas perilaku korupsinya. Para pemegang kebijakan akan buat UU atas
nama
kerahasian negara atau slogan-slogan menakutkan lainnya yang membuat
perilaku
kejahatan mereka tersimpan rapih. Hanya key users saja yang tahu tentang
data
rahasia tersebut dan 1 atau 2 orang key users tersebut akan mudah
diamankan!

Dengan sistem TI ini pula mereka (para Koruptor Level Stadium Kronis)
bisa
memindahkan uang kejahatanya dengan mudah dari Bank di Jakarta ke Bank
di sebuah
pulau di tengah lautan Pasifik atau Atlantik tanpa membawanya secara
phisik!
Jadi, pada titik ini TI menjadi tumpul untuk mencegah kejahatan…

Jadi, siapakah yang bertanggungjawab mencegah korupsi di level Pemegang
Kebijakan ini? Kultur masyarakat yang memiliki integritas sehingga punya
pemimpin berintegritas adalah solusinya. Klasik memang solusinya, kita
semua
juga tahu tapi inilah sejatinya solusi kita.

Bangsa yang memiliki kultur berintegritas sehingga berhasil memenangkan
korupsi
pastilah bangsa yang menjadi pemenang! Jadi, selama kita tidak berhasil
membangun kultur yang mengutamakan integritas sebagai panglimanya maka
selama
itu juga kita kalah dengan korupsi dan selama itu juga kita jadi bangsa
kalah!

Begitu berhasil mengalahkan korupsi maka pasti saat itu juga kita sudah
jauh-jauh hari sebelumnya menjadikan budaya yang memiliki integritas
adalah
budaya keseharian. Saat itu juga, saat kita berhasil memenangkan korupsi
maka
kita secara otomatis tanpa kita sadari telah diakui oleh bangsa lain
sebagai
bangsa pemenang.

Lalu jika pertanyaan anda berlanjut bagaimana membangun budaya penuh
integritas
di masyarakat kita sehingga juga menghasilkan pemimpin berintegritas
yang bisa
membebaskan diri dari perilaku korupsi kebijakan, maka jawabannya saya
mohon
ijin untuk merenung dulu di Tepian Lembah Sungai Isar biar dapat
wangsit…

Di Musim Sömmer, 03 September 2011
Di Tepian Lembah Sungai Isar,

Ferizal Ramli


Kirim email ke