saya tdk bisa akses facebook karena diblokir.
tapi utk website, umumnya bisa akses, walau banyak yg tampilannya tdk terlihat 
sempurna (karena ada object/activex dan url serta script yg diblock).

artikel berikut menarik, memberikan sudut pandang lain bagi kita utk melihat 
masalah perkosaan.
bahwa penampilan mengundang, tentu bermasalah, bisa memicu perkosaan.
tetapi itu bukan satu-satunya faktor penyebab perkosaan.
masih ada banyak faktor lain yg perlu dicermati.

selamat membaca.
bila ada kritik/saran, bisa langsung menghubungi penulisnya (Gene Netto).

Best Regards and Wassalam,




Nugon
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!


http://nugon19.multiply.com/journal

----- Forwarded Message -----
From: Gene Netto <[email protected]>
To: Mualaf Indonesia <[email protected]>
Sent: Thursday, September 22, 2011 9:15 AM
Subject: [Mualaf Indonesia] Maaf, ini OOT, tapi mungkin ada yang membutuhkan...


Gene Netto posted in Mualaf Indonesia.
 Gene Netto 9:14am Sep 22  
Maaf, ini OOT, tapi mungkin ada yang membutuhkan informasi ini untuk dibagikan 
kepada teman yang lain. Mohon maaf bila tidak berkenan.
http://genenetto.blogspot.com/2011/09/penyebab-pemerkosaan-terhadap-wanita.html
Gene Netto: Penyebab Pemerkosaan Terhadap Wanita
genenetto.blogspot.com 
96. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, PASTILAH Kami 
akan melimpahkan kepad  
 
View Post on Facebook · Edit Email Settings · Reply to this email to add a 
comment.
  


http://genenetto.blogspot.com/2011/09/penyebab-pemerkosaan-terhadap-wanita.html


Penyebab Pemerkosaan Terhadap Wanita
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Saya baca komentar dari seorang ustadz, yang mengatakan penyebab dari 
pemerkosaan adalah pakaian wanita yang minim dan nafsu seks sebagian pria, yang 
tidak bisa dikendalikan setelah mereka melihat perempuan yang berpakaian minim 
itu.
Saya dulu punya teman kuliah di Australia yang menulis tesis tentang penyebab2 
pemerkosaan, jadi saya sudah belajar banyak dari dia waktu itu, dan sudah baca 
lebih banyak lagi sejak itu. Oleh karena itu, saya berniat menulis artikel 
singkat ini untuk memberikan masukan kepada teman2 di Indonesia yang merasa si 
perempuan yang pasti salah kalau diperkosa, disebabkan dia berpakaian minim.
            Pemikiran seperti itu terlalu sederhana, dan hanya kembali ke nafsu 
seks dan pakaian wanita sebagai penyebab dari pemerkosaan. Mungkin ini 
merupakan pendapat yang umum di Indonesia (dan mungkin juga diajarkan di 
pesantren atau masjid), tetapi ini merupakan pemikiran lama dari puluhan tahun 
yang lalu, yang sudah tidak didukung riset terbaru dari negara2 maju.

Pendapat bahwa penyebab pemerkosaan adalah pakaian wanita dan nafsu seks yang 
tinggi bagi si pria adalah terlalu sederhana, dan tidak berdasarakan riset yang 
sudah dilakukan selama puluhan tahun terhadap penyebab dari pemerkosaan. Kalau 
sebatas mengatakan “ada nafsu yang tinggi”, lalu ada kesempatan, maka 
seharusnya terjadi lebih banyak pemerkosaan di mana-mana, karena banyak sekali 
pria punya nafsu yang besar dan kesempatan sangat gampang dicari. Tapi banyak 
dari pria itu bisa dapat isteri (atau pasangan buat yang non-Muslim) yang 
memuaskan nafsu seks mereka, ada juga yang menikah lebih dari satu isteri, ada 
yang menggunakan pelacur, ada yang nonton film porno dan sering masturbasi, dan 
sebagainya. Jadi memiliki nafsu tinggi bukan semata-mata penyebab dari 
pemerkosaan. Tetapi bisa menjadi salah satu faktor saja.  

Riset sudah menentukan 3 jenis pemerkosaan yang paling utama:
1.    Anger Rape (pemerkosaan karena marah terhadap perempuan)
2.    Power Rape (pemerkosaan karena ingin berkuasa terhadap perempuan)
3.    Sadistic Rape (pemerkosaan yang menyiksa: penyiksaan membuat pria itu 
terangsang, jadi dengan memperkosa, tujuan sebenarnya ada menyiksa, dan 
penyiksaan memberikan mereka kepuasan seksual, yang tidak mereka dapatkan dari 
hubungan seks yang normal).

Di beberapa negara di Afrika, pemerkosaan sudah mulai dicatat sebagai “senjata 
perang” oleh PBB, dan ada juga gerakan untuk mencatat pemerkosaan secara massal 
di zona perang sebagai salah satu senjata perang dan kejahatan terhadap 
kemanusiaan (crime against humanity). Dengan dicap seperti itu, maka para 
komandan bisa ditangkap dan dibawa ke pengadilan internasional kalau bisa 
dibuktikan bahwa mereka memerintahkan pemerkosaan massal itu. Cara kejahatan 
itu dilakukan seperti ini: Pada saat suku A diserang oleh para prajurit dari 
suku B (atau negara B), maka prajurit-prajurit B akan diperintahkan untuk 
memperkosa semua perempuan dari suku A, sebagai hukuman terhadap mereka, untuk 
merusak keluarga mereka, dan mengganggu para suaminya. Anak perempuan di bawah 
umur juga diperkosa, mungkin balita juga, dan kadang semuanya dibunuh 
sekaligus. Kasus2 seperti ini sudah banyak terjadi di beberapa negara seperti 
di Afrika misalnya, dan baru belakangan ini ada
 gerakan internasional agar ini dihitung sebagai suatu kejahatan yang sengaja 
direncanakan dan diperintahkan, dan bukan disebabkan nafsu seks para prajurit 
saja.          
Pemerkosaan juga digunakan di beberapa negara sebagai “hukuman”, misalnya 
di Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, dan banyak negara yang lain.Seorang 
perempuan bisa dijatuhkan hukuman pemerkosaan massal oleh “pengadilan suku” di 
desanya. Yang mungkin terjadi, bukan si perempuan itu yang salah, tapi saudara 
lakinya. Tapi karena ada hukuman pemerkosaan yang mau dijatuhkan, maka si 
perempuan itu yang kena hukuman dan saudara laki-lakinyamalah lolos atau 
hanya dipukuli saja. Dan kalau si perempuan lapor ke polisi bahwa dia telah 
diperkosa, dan sekaligus bisa menyebutkan nama2 pria yang memperkosanya (karena 
mereka adalah tetangganya), maka si perempuan itumalah bisa ditangkap dan 
dipenjarakan karena “telah mengaku berzina dengan pria”.
Si perempuan dalam konteks itu berasal dari suku rendah, dan para pria yang 
memperkosanya berasal dari suku yang lebih tinggi status sosialnya, jadi polisi 
tidak berani menangkapnya. Kasus seperti ini sering disebut “honor rape” dalam 
bahasa Inggris, yaitu pemerkosaan untuk menjaga harga diri dari suku tinggi 
kaum pria. Misalnya, mereka merasa nama baik suku tinggi mereka telah 
dicemarkan oleh suatu tindakan, misalnya dua orang yang pacaran padahal 
seharusnya dilarang karena mereka berasal dari suku yang berbeda, jadi kaum 
pria dari suku yang tinggi ingin menghukum suku rendah itu dan kembalikan nama 
baik suku mereka dengan cara memperkosa si wanita dari suku yang rendah. Dan 
hukuman itu malah bisa diperintahkan oleh “pengadilan desa” di suku tinggi 
tersebut. Kasus seperti ini ada banyak sekali dan kadang masuk ke berita 
internasional.
Ada satu kasus terkenal sekali seperti itu yang terjadi di Pakistan. Mukhtaran 
Mai diperkosa oleh 14 pria, setelah dijatuhkan hukuman oleh “pengadilan desa”. 
Adik laki-lakinya berumur 12 tahun diduga berpacaran dengan seorang wanita dari 
suku yang lebih tinggi. Jadi Mukhtaran Mai kena hukuman diperkosa ramai-ramai 
disebabkan adik laki-lakinya dianggap telah mencemarkan nama baik suku tinggi 
tersebut. Mukhtaran Mai berani melaporkan pemerkosaan itu ke polisi dan para 
pelakunya ditangkap (tetapi Mukhtaran Mai langsung diancam oleh banyak pihak). 
Setelah proses hukum, 13 pria yang memperkosanya dibebaskan oleh Mahkamah Agung 
di Pakistan, dengan hanya satu tetap dipenjarakan. (Ada link berita di bawah.)
Untuk pemerkosaan yang terjadi di kota besar (seperti Jakarta) maka mayoritas 
dari pemerkosaan yang terjadi adalah Anger Rape dan Power Rape. Penyebab bukan 
nafsu saja, atau pakaian si wanita, tetapi suatu kebencian terhadap perempuan, 
dan keinginan untuk berkuasa di atas mereka. Riset terhadap pemerkosa yang 
pernah ditangkap dan dipenjarakan justru membuktikan bahwa mereka sebenarnya 
lebih cenderung suka hubungan seks dengan pasangan yang saling sayangi. Jadi, 
kalau ada isteri, atau pacar, maka mereka lebih suka seks dengan pasangan itu. 
Tapi pada saat2 tertentu, dan dalam kondisi tertentu, kemarahan mereka muncul, 
dan mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa berkuasa di atas kaum perempuan. 
Mungkin bisa disebabkan karena mereka sedang ribut dengan pasangan yang sudah 
ada, atau bos perempuan yang dinilai jahat terhadap mereka. Jadi, karena merasa 
dihina atau dilecehkan, maka untuk merasa sebagai jantan lagi, perempuan yang 
lain akan diperkosa.
Banyak perempuan yang diperkosa di seluruh dunia justru diperkosa oleh orang 
yang mereka kenal (tetangga, saudara, kenalan dari bapak atau ibu, dsb.). Dan 
tidak bisa dikatakan bahwa semua orang itu “tidak ada jalur untuk lepaskan 
nafsunya”. Mungkin mereka sudah punya isteri atau pacar, atau terbiasa 
menggunakan pelacur. Tetapi dalam kondisi tertentu, mereka masih bisa 
memperkosa wanita lain juga. Untuk sebagian dari kasus itu, nafsu seks mungkin 
saja ada perannya, tetapi memiliki nafsu tidak berarti nafsu itu tidak bisa 
dikendalikan atau dilawan. Melakukan pemerkosaan merupakan suatu pilihan, dan 
rata2 landasan dari pemiilhan itu ada keinginan untuk merasa berkuasa di atas 
perempuan.
Ada riset yang menunjukkan bahwa sebagian dari pria (sekian persen) yang 
memperkosa wanita tidak mengalami klimaks pada saat melakukan hubungan seks. 
Jadi spermanya tidak keluar sama sekali. Mereka melakukan aksi hubungan seksual 
seperti biasa, tetapi karena itu bukan suatu tindakan yang dilandasi nafsu seks 
semata untuk mereka, maka mereka tidak mengalami klimaks. Mereka hanya ingin 
melihat perempuan itu berada di bawah kekuasaan mereka, menyerah dan tidak 
melawan. Bagi orang2 itu, pemerkosaan tidak terkait dengan nafsu seks antara 
pria dan wanita. Semua dilandasi keinginan untuk berkuasa dan bukan untuk 
lepaskan nafsu seksnya.  
Di manca negara, ada banyak sekali perempuan yang diperkosa di dalam rumahnya 
sendiri, dalam kondisi semua pintu dan jendela dikunci. Jadi pria itu mencari 
cara untuk masuk ke dalam rumah, dan di situ si perempuan diperkosa. Artinya, 
kalau kita mengatakan perempuan yang salah karena berpakaian minim, maka 
pemerkosaan di dalam rumah tidak akan terjadi (karena dia tidak kelihatan dari 
jalan, jadi masuknya pria ke rumah itu tanpa melihat pakaian pasti disebabkan 
dia sudah berniat memperkosa tanpa peduli pada pakaian si perempuan).
Dan kalau perempuan diperkosa karena pakaian yang minim, maka itu berarti 
seharusnya tidak akan ada pemerkosaan di Arab Saudi atau negara Arab lain. Di 
sana semua wanita wajib menutup aurat dan banyak pria punya 4 isteri tanpa 
masalah (dan juga ada pelacur). Jadi, kalau hanya karena pakaian si perempuan, 
dan hanya karena nafsu pria yang tinggi, kenapa bisa terjadi banyak kasus 
pemerkosaan di negara2 Arab? Seharusnya tidak ada sama sekali.
Di negara seperti Saudi atau Pakistan, sangat sulit untuk dapat statistik 
tentang frekuensi pemerkosaan yang sebenarnya, karena di sana banyak kasus 
pemerkosaan justru tidak dilaporkan ke polisi. Kadang karena keluarga tidak mau 
malu di depan tetangganya, jadi lebih baik ditutupi. Kadang tidak dilaporkan 
karena mereka sudah tahu bahwa si perempuan itu malah akan disalahkan oleh 
polisi dan kejaksaan dan akan kena hukuman sendiri, tanpa ada usaha untuk 
mencari pria yang memperkosanya. Oleh karena itu, semua statistik yang ada 
dianggap kurang sah, karena diyakini hanya sekian persen dari apa yang 
sebenarnya terjadi di sana. (Dan mungkin juga seperti itu di Indonesia?)
Saya jadi ingat cerita dari teman yang berangkat untuk melakukan haji. Salah 
satu ibu dalam rombongan itu diperkosa, dan dibunuh di tengah malam. Di berita 
Indonesia, kasus itu tidak muncul sama sekali. (Mungkin sengaja ditutupi waktu 
itu karena pemerintah tidak mau jemaah haji takut berangkat ke sana.) Jadi yang 
tahu hanya keluarga dan teman di sini. Kalau berita dan statistik tidak ada, 
kita sulit membuktikan frekuensi pemerkosaan yang sebenarnya di sana, tetapi 
orang yang pernah tinggal di sana dan bergaul dengan orang sana bisa 
menjelaskan bahwa kasusnya cukup banyak, tetapi sulit untuk dapat data akurat 
yang bisa dikutip.
Kalau pakaian wanita dan nafsu tinggi adalah penyebabnya pemerkosaan, maka 
seharusnya tidak ada pemerkosaan di negara2 Arab, di mana semua wanita menutup 
aurat dan pria bisa punya 4 isteri tanpa masalah. Kalau pakaian dari wanita 
seksi adalah penyebabnya, maka tidak akan terjadi pemerkosaan terhadap ibu-ibu 
di atas umur 60 tahun, tetapi di manca negara ini menjadi kenyataan. Tidak akan 
ada pemerkosaan terhadap wanita kelas rendah di desa2 miskin di negara 
berkembang, di mana mereka mungkin tidak begitu cantik, kurang mandi, badan 
tidak terawat karena selalu kerja (tanpa ada biaya untuk kunjungi salon) dan 
sebagainya. Ternyata ada banyak sekali kasus.
Dan seharusnya tidak ada pemerkosaan di negara2 barat di mana perzinaan atau 
seks bebas dianggap boleh dan pelacuran juga diizinkan. Kalau di sana seorang 
pria melihat wanita seksi dan nafsunya bangkit, maka dia cukup mencari pacar 
atau pelacur untuk main seks. Berarti tidak akan ada kasus pemerkosaan karena 
nafsu seks bisa dilepaskan lewat jalur yang lain. Ternyata tidak begitu, dan di 
negara2 maju tingkat pemerkosaan juga tinggi. Jadi ini membuktikan bahwa 
hubungan antara pakaian wanita seksi dan pemerkosaan sangat kecil sekali, dan 
penyebab dari pemerkosaan bukan itu.
Sikap dan pendapat bahwa pakaian wanita menjadi penyebab utama dari pemerkosaan 
sudah tidak sesuai dengan data dan riset yang sudah dilakukan selama puluhan 
tahun oleh ilmuan di manca negara. Tetapi mungkin masih diajarkan seperti itu 
di Indonesia, karena tidak ada yang tertarik untuk baca riset tersebut (atau 
tanya kepada profesor di universitas). Cukup menyalahkan wanita saja, sekaligus 
menyalahkan nafsu pria yang “tidak bisa dikendalikan”, setelah melihat pakaian 
wanita tersebut.
Justru riset membuktikan bahwa mayoritas dari kasus pemerkosaan yang terjadi 
bukan disebabkan nafsu pria yang tinggi, dan bukan karena pakaian si wanita. 
Tetapi penyebab utama adalah karena pria tersebut memiliki rasa marah yang 
sangat besar terhadap perempuan, atau karena dia merasa harus membuktikan 
dirinya berkuasa, dan itu dilakukan dengan cara memperkosa seorang wanita yang 
tidak bersalah.
            Sebagian dari studi juga menunjukkan bahwa lebih mungkin seorang 
perempuan tidak akan diperkosa kalau dia melawan sekuat mungkin pada awalnya. 
Banyak wanita yang pernah diperkosa mengatakan bahwa mereka tidak melawan 
karena takut dibunuh, jadi mereka rela diperkosa asal tidak dibunuh, dan 
setelah diperkosa tanpa melawan, mereka memang dilepaskan. Tetapi sebagian dari 
wanita yang tidak melawan itu tetap juga dibunuh. Ketahuan mereka tidak melawan 
karena tidak ada luka, memar, goresan, atau yang lain, yang akan menunjukkan 
bahwa mereka berusaha melawan si pria. Artinya, jenazah wanita dalam kondisi 
mulus, alias tidak berantem dengan pria yang menyerangnya.
Jadi, walaupun ada ancaman akan dibunuh kalau melawan, lebih baik bila si 
perempuan tetap saja melawan dengan sekuat mungkin karena lewat itu lebih besar 
kemungkinan bahwa dia tidak akan diperkosa dan si pria malah akan kabur. Perlu 
diingat bahwa tujuan utama si pria bukan untuk main seks. Pasti bisa dicari 
pelacur kalau dia hanya perlu itu. Tetapi dia ingin berkuasa terhadap si 
perempuan, dan oleh karena itu kalau si perempuan melawan maka tujuan pria itu 
tidak akan tercapai. Ada kemungkin dia akan kabur, tetapi juga mungkin dia akan 
menjadi lebih marah dan agresif lagi (dari sebelumnya). Tidak bisa dikatakan 
bahwa kalau si perempuan melawan, maka pasti akan dilepaskan. Selalu akan ada 
risiko kalau memilih untuk melawan si pemerkosa.
Sebaiknya semua anak perempuan dan wanita dewasa diwajibkan mengikuti kelas 
bela diri (dari jenis bela diri yang mana saja) karena kemampuan untuk memukul 
dan tendang dengan keras adalah salah satu hal yang sangat mungkin akan 
menyelamatkan mereka dari pemerkosaan di tempat mana saja.

Semoga bermanfaat. Mohon maaf bila tidak berkenan.

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Bacaan : (Dalam bahasa Inggris, bisa diterjemahkan dengan Google Translate. 
Tidak ada info seperti ini dalam bahasa Indonesia. Saya baru saja mencarinya 
dan tidak dapat. Hanya ada berita tentang pemerkosaan saja.)

Causes of sexual violence

Types of rape
 
Some Myths & Facts About Rape

Defining a Rape Culture
    
Rape statistics (America)
 
Mukhtaran MaiRaped by 14 Men In Pakistan As Punishment

Kirim email ke