http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/09/30/PagePrint/30_09_2011_031.pdf

===MARI MEMBICARAKAN BAHASA===

PESAN singkat itu tampak berbeda dibanding pesan singkat lain yang biasa 
diterima oleh orang kebanyakan di ponsel mereka. Pemilihan kata, tanda baca, 
juga penggunaan huruf kapitalnya tepat mengikuti ejaan. Tak ada singkatan 
macam-macam. Alih-alih menggunakan kata email, Ia malah mengetik ‘surel’ 
sebagai kepanjangan dari surat elektronik. Tak perlu melihat nama pengirimnya, 
isi pesan singkat itu sudah berbicara sendiri. Dialah Ivan Lanin, seorang 
wikipediawan, editor, dan pecinta bahasa Indonesia.

Walau memiliki latar pendidikan di bidang teknik kimia, Ivan ternyata lebih 
kepincut dengan urusan kata. Ketertarikan itu muncul pada 2006 lalu, saat Ivan 
mengenal Wikipedia dan berinisiatif untuk menjadi kontributor  di laman 
ensiklopedi tersebut. Ia masih ingat betul artikel pertama yang disumbangkan 
adalah tentang pajak. “Dulu saat kerja, bos saya dari Belgia. Bicara saya 
campur-campur antara Indonesia dan Inggris. Semenjak saya menjadi kontributor 
untuk Wikipedia, saya mulai sadar, saya tidak bisa  bertutur dengan baik. 
Mulailah saya belajar dan mulai koleksi kamus,” katanya. 

Pada 2007 ketertarikan itu berubah menjadi hobi. Ia aktif bergabung di milis 
Bahtera yang beranggotakan para pemerhati bahasa Indonesia. Kamus jadi bacaan 
wajibnya menjelang tidur.  Mengedit artikel jadi syarat untuk melepaskan stres 
dan suntuk  di kantor. Setelah aktif berkiprah sebagai wikipediawan, Ivan 
bersama 19
orang lainnya mendirikan Wikimedia Indonesia pada 2008. Perkumpulan Wikimedia 
Indonesia merupakan sebuah organisasi nirlaba yang menjadi mitra  lokal 
Wikimedia Foundation, Amerika Serikat. Wikimedia Foundation sendiri merupakan 
organsasi nirlaba di balik proyek kolaboratif  Wikipedia, Wiktionary, hingga 
Wikiquote.

Dengan dibangunnya lembaga resmi di Indonesia, wikipediawan bisa lebih leluasa 
mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak. “Misinya untuk menyebarkan 
pengetahuan bebas dalam bahasa Indonesia  dan bahasa lokal,” ujar pria yang 
sempat menjabat Direktur Eksekutif Wikimedia Indonesia itu. Menurut Ivan, 
jumlah artikel Wikipedia berbahasa Indonesia berbilang meningkat tajam. Dari 18 
ribu pada 2006 menjadi 180 ribu pada 2011. Dengan jumlah tersebut, artikel 
berbahasa
Indonesia menempati urutan ke-23 dari 155 bahasa di dunia. Di Asia, Indonesia 
hanya kalah dengan bahasa Jepang, China, Arab, dan Korea. 

Kini, selain aktif bekerja sebagai konsultan manajemen risiko  di APB Group, 
Ivan aktif mengelola kamus daring Kateglo.com. Sejak 2009 lalu, ia pun  
terpilih sebagai editor untuk mengedit antarmuka bahasa Indonesia Google. 

=Ciptakan kata= 
Mengenal bahasa Indonesia punya keasyikan tersendiri. Sebagai pemerhati, 
pengguna, dan editor bahasa, Ivan kerap menciptakan kata untuk menyandingi 
istilah- istilah baru dari bahasa asing. Menurut Ivan, menciptakan kata mudah 
saja. Asal mengikuti aturan dan punya keberanian. Syarat pertama adalah 
mengerti konsep. Dengan mengerti konsep sebuah kata asing, kita bisa memilih 
kata yang tepat untuk menjadi terjemahannya. Selain itu, kreativitas dan 
rujukan kamus juga jadi faktor penentu hingga akhirnya kata baru itu diterima 
publik.

Ivan mencontohkan kata tethering, yang berarti menghubungkan ponsel pintar yang 
memiliki koneksi internet dengan perangkat komputer. Dalam Bahasa Indonesia, 
konsep kata tethering belum ada yang padanannya. Karena itu, perlu diciptakan 
bahasa baru yang bisa mewakili konsep tersebut. “Kita bisa menggunakan kata 
‘mengaitkan’ tapi konsep kata itu berlaku umum tidak spesifik seperti konsep 
kata tethering. Jadi kita cari kata lain. Terciptalah kata peranggitan yang 
berasal dari ranggit yang berarti kait dalam kamus Bahasa Indonesia.”

Pada dasarnya semua penerjemah atau penulis sah-sah saja menciptakan kata-kata 
sendiri. Beberapa orang bisa saja menerjemahkan istilah yang sama dengan kata 
yang berbeda. Namun, diterima atau tidak oleh publik, itu adalah soal lain. 
“Banyak yang berusaha menciptakan kata. Tahun 70-an, misalnya, ada yang 
memopulerkan kata ‘mangkus’ sebagai pengganti effective dan ‘sangkil’ sebagai 
pengganti effi cient, tapi tidak berhasil. Barulah se karang ini kata efisien 
dan
efektif diserap ke Bahasa Indonesia,”jelasnya. 

Contoh lain adalah penggunaan kata tetikus yang merujuk pada kata mouse, yang 
akhirnya juga tak banyak digunakan karena terdengar aneh. “Pada akhirnya, 
bahasa adalah soal kenyamanan karena kita tidak bisa memaksakan bahasa. Tapi 
tantangannya adalah apakah kita berani menggunakan istilah sendiri?”

=Tren bahasa asing=

Sebagai pemerhati, Ivan meng aku prihatin tentang minimnya kesadaran akan 
penggunaan bahasa Indonesia. Pemerintah, misalnya, lebih gemar menggunakan 
bahasa asing. Penggunaan istilah car free day, busway, dan 3 in 1 terasa akrab 
di telinga. Padahal, istilah hari bebas kendaraan bermotor  bisa saja digunakan 
dan dimasyarakatkan. Presiden pun ikut-ikutan menggunakan bahasa Inggris dalam 
pidato-pidato kenegaraannya. Ironisnya, beberapa tahun sebelumnya, Susilo
Bam bang Yudhoyono pernah mene rima penghargaan sebagai tokoh pengguna bahasa 
Indonesia yang baik dan benar. 

Kini, menurut Ivan, tokoh yang bisa jadi anutan berbahasa yang bagus adalah 
Boediono, Anas Urbaningrum, dan Emil Salim.  Bukan lagi Presiden kita. “Tapi 
kritik saya bukan berarti hujatan. Saya menjawabnya dengan berbuat sesuatu. 
Salah satu jalan keluarnya adalah sosialisasi agar bahasa ini semakin banyak 
dikenal,” lanjutnya. Ia menganggap bahwa penerjemah,  penulis, dan media massa 
punya peran besar sebagai agen perubahan untuk semakin mengenalkan bahasa 
sendiri. “Biarkan bahasa Indonesia semakin tumbuh karena kebiasaan.”
(M-6)

CHRISTINE FRANCISKA
[email protected]

Kirim email ke