Mas Nugon, Kayaknya waktu mulai ada calculator... opini seperti ini sudah ada... Begitupun ketika mesin ketik tergantikan dengan computer... juga banyak opini seperti ini... malah plus embel2.."wah, kita kurang bisa olahraga jari nich.... lama2 jari kita lebih mudah keseleo".
Lebih jauh lagi ketika dulu waktu orang masih suka jalan kaki ataupun naik kendaraan dan diciptakannyalah kendaraan baik yang manual, lalu bermotor... opininya mirip2.... Wah nanti banyak orang yang pada gemuk karena jarang gerak... dll... Jadi kalau sekarang ada internet yang bisa cepat mencari jawaban yang diinginkan.... yang opininya bakal serupa... Dan itu memang sudah terjadi.... Buat kita2 ya harus dianggap sebagai "warning" atau reminder atau pengingat agar jangan lupa menggunakan memori kita untuk yang lebih penting lagi.... sehingga kita jadi manusia yang lebih baik.... amien... Jadi kalau ada sesuatu yang memudahkan kita... jangan lihat jeleknya terus... tapi jadikan dampak buruknya itu sebagai reminder untuk jadi lebih baik lagi.... Mirip kayak orang bikin alat... trial and error sebelum akhirnya sempurna... terus berubaha design mengikuti perkembangan zaman dan pasar.... Terima kasih dah sharing artikel yang bagus... Salam, Morry Infra 2011/10/10 Nugroho Laison <[email protected]> > ** > > > > Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! > > http://nugon19.multiply.com/journal > > > -=-=-=-=- > http://www.vatih.com/efek-google-terhadap-daya-ingat-seseorang/ > > Efek Google Terhadap Daya Ingat > Seseorang<http://www.vatih.com/efek-google-terhadap-daya-ingat-seseorang/> > Written by Vatih <http://www.facebook.com/vatihbook/> on his > Opinion<http://www.vatih.com/blog/opinion/> at > 22 August 2011 - (146 views) > "..Cukup dengan membuka Google, dan semua yang dicari akan terlihat dengan > rapi. Tidak perlu lagi mengeluarkan banyak biaya, tenaga, dan pikiran untuk > menemukan hal-hal yang kita inginkan..." > [image: Efek Google Terhadap Daya Ingat > Seseorang]<http://www.vatih.com/efek-google-terhadap-daya-ingat-seseorang/> > Sebenarnya disini tidak hanya fokus membahas tentang efek dari sebuah > teknologi bernama Google. Namun lebih luas terhadap Internet secara > keseluruhan, tapi sepertinya kurang tepat juga kalau saya katakan > “keseluruhan”. Ya, intinya kalau Anda berkenan membaca artikel ini, maka > Anda akan tahu apa yang akan saya bahas di sini. Judul di atas hanya salah > satu trik saya untuk meningkatkan SEO terhadap blog ini :peace: dengan > mendompleng nama besar seperti Google, tentu sedikit banyak berpengaruh > terhadap blog saya. CMIIW. > * * * > Well, cukup dengan membuka Google, kita bisa mencari informasi teman lama, > menemukan artikel online, data buat menyusun makalah, bahkan skripsi, atau > mencari informasi-informasi lainnya. Yang saya ketahui, kebanyakan orang > (teman-teman saya) akan membuka Internet ketika dihadapkan pada > pertanyaan-pertanyaan sulit. Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, > mereka yang sudah ketergantungan dengan mesin pencari memiliki tingkat yang > lebih rendah dalam mengingat informasi itu sendiri dan yang lebih diingat > adalah di halaman mana ia mendapatkan informasi tersebut. > Contoh, ketika saya mencari informasi tentang “Optimasi kode PHP” misalnya, > maka yang paling saya ingat adalah di website mana saya mendapatkan > informasi tersebut. Jadi ketika saya lupa dengan beberapa poin penting yang > ada dalam artikel dari suatu website, maka dengan otomatis memori otak akan > bekerja dengan perintah “Dimana saya mendapatkan informasi ini?”. Kurang > lebih seperti itu. > Internet telah menjadi memori eksternal atau transaktif, di mana informasi > disimpan secara kolektif di luar diri kita. Efek horisontal dari aktifitas > candu ini adalah menyusutnya ukuran otak yang disebabkan oleh jarang > terpakainya otak dalam aktifitas normal sehari-hari (mengingat, berfikir, > merumuskan masalah, dll). Adictive, kecanduan akan sebuah mesin pencari > telah mengakibatkan seseorang untuk tidak menghargai sebuah ilmu. > Tentu hal ini sangat nyambung dengan latah manusia yang selalu merespon > kata “gratis” atau “free”. Manusia era modern lebih menyukai hal-hal yang > instant. Jadi, ketika Internet menawarkan yang gratis plus instant, dengan > tanpa ba-bi-bu manusia akan menerima hal itu seutuhnya. > Teknologi diciptakan memang bertujuan untuk memudahkan, tapi bukan untuk > membuat candu ataupun ketergantungan. Masalahnya adalah, kita tidak pernah > sadar sepenuhnya ketika perlahan-lahan kita dibawa dalam garis kecanduan > tersebut. Yang kita tahu tiba-tiba kita sudah berada dalam kubangan candu. > Mungkin, kecanduan Internet belum menjadi sebuah isu masalah besar tentang > kesehatan untuk saat ini. Tapi, (menurut saya pribadi) suatu saat akan > menjadi suatu hal yang bisa dijadikan alasan bagi seorang dokter untuk > memberikan nasihatnya pada pasien yang datang pada mereka, untuk sekedar > konsultasi (pencegahan) ataupun berobat (penyembuhan). > Tapi yang jelas, kecanduan Internet adalah perilaku berulang yang dilakukan > untuk memuaskan keingintahuan. Bisa berupa informasi, notifikasi FB, respon > atau tanggapan dari sebuah aktifitas (menulis) yang kita lakukan dalam > sebuah komunitas di Internet (bisa blog, jejaring sosial, dll). Yang mana, > ini dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang secara perlahan. > Terkadang untuk menghentikannya sangatlah sulit. Mungkin untuk sebagian > besar orang, apa yang saya katakan dalam bentuk tulisan ini bukanlah suatu > hal yang rasional. Saya mencoba maklum dengan Anda yang tidak sepakat dengan > apa yang saya jabarkan. Tapi ada beberapa hal yang sepertinya perlu untuk > pembaca ketahui, simak lebih lanjut tulisan ini. > Kemenciutan otak menurut beberapa sumber (yang Insya Allah terpercaya, > referensi saya cantumkan dibagian bawah catatan ini) yang saya baca bisa > berimbas pada berkurangnya daya pikir dan daya ingat manusia. Tiga orang > ilmuwan dari Columbia University dan Harvard University mengungkap rahasia > pengaruh Google terhadap kemampuan otak manusia untuk mengingat informasi. > Penetrasi internet yang sangat tinggi di negara-negara maju, dan populernya > mesin pencari seperti Google dan Yahoo! menyebabkan informasi menjadi milik > siapa saja. Siapapun, tak peduli umur dan tingkat pendidikannya, bisa > mendapatkan informasi tak terbatas yang tersedia di dunia maya dan > dihidangkan kepada kita melalui mesin-mesin pencari. > Untuk apa bersusah payah mengingat Informasi yang (katanya) ‘penting’ itu, > jika suatu saat ketika dibutuhkan maka tinggal panggil Google? Alih-alih > menyibukkan otak untuk mengingat sebuah informasi, lebih baik menyibukkan > otak untuk aktifitas lain. Padahal kita tahu, bahwa salah satu olahraga > untuk menstimulus otak adalah dengan meningkatkan daya ingat, menyerap > informasi baik permanen ataupun semi-permanen. Dan apa yang terjadi ketika > otak tidak dimanfaatkan untuk menyimpan informasi? Menciut. > Tiga orang peneliti dari Amerika yaitu Betsy Sparrow, Jenny Liu, dan Daniel > Wegner melakukan eksperimen sederhana untuk melihat efek Google terhadap > kemampuan mengingat otak manusia. Ada empat seri eksperimen yang dilakukan > untuk menguji apakah otak manusia masih bisa menjalankan fungsinya untuk > mengingat informasi jika otak kita tahu Google bisa menolongnya untuk > mencari informasi yang dibutuhkan. > Dari serangkaian eksperimen tersebut mereka menjumpai indikasi bahwa otak > manusia cenderung untuk melupakan informasi yang didapat jika mereka tahu > internet akan dapat menolongnya untuk menemukan informasi itu di kemudian > hari. > Para ilmuwan itu juga menemukan indikasi bahwa otak manusia akan mengingat > lebih baik jika menyadari bahwa suatu informasi akan dihapus dan tidak > disimpan di suatu tempat. Sebaliknya, otak akan mudah melupakan suatu > informasi jika tahu bahwa informasi tadi tidak dihapus dan disimpan di suatu > tempat. Dalam hal ini adalah Google, seperti yang sudah saya tulis di atas, > sebagai alat penyimpanan informasi secara transaktif. > Dan akhirnya, juga ditemukan indikasi bahwa otak manusia kini lebih suka > mengingat bagaimana mencari informasi yang dibutuhkan ketimbang mengingat > informasi itu sendiri. Misalnya jika Anda ditanya “apakah negara yang > memiliki hanya satu warna pada benderanya?”, saya yakin Anda akan segera > mengetik di Google “country one color flag”. Jawabannya: Libya. Jika > pertanyaan yang sama ditanyakan 5 tahun lagi, Anda mungkin sudah lupa > jawabannya tetapi tidak lupa kata kunci yang digunakan untuk mencari > informasi tersebut melalui Google. > Internet telah mengubah cara otak manusia berpikir. Informasi kini telah > menjadi milik bersama secara kolektif dan bisa diakses kapanpun. Tidak ada > lagi gambaran orang berpengetahuan seperti cerita-cerita klasik. Orang tua > duduk di kursi dalam ruangan perpustakaan berdinding kayu dan dikelilingi > ribuan buku. > Kini siapapun bisa menjadi orang berpengetahuan. Tidak perlu ribuan buku. > Cukup seperangkat komputer (yang ukurannya semakin mengecil) yang terhubung > dengan internet. > Konsekuensinya tentu saja manusia akan semakin pintar dari segi > tereksposnya ia dengan pengetahuan (knowledge). Tetapi dari segi mengingat > (memorizing), Internet telah mengubah cara otak bekerja. Manusia zaman kini > semakin sedikit mengingat. Selain karena arus informasi yang semakin deras > sehingga semakin susah untuk mengingat kesemua informasi itu, juga karena > ketersediaan informasi secara instan melalui mesin pencari seperti Google. > Salah satu fungsi penting otak manusia adalah untuk mengingat. Jika manusia > di masa kini dan masa depan semakin jarang mengingat informasi dan > menyerahkan sepenuhnya pada Paman Google, apakah itu berarti di masa depan > anak-cucu kita akan memiliki otak yang lebih kecil? > * * * > Internet mulai populer di Indonesia, baru beberapa tahun belakangan ini. > Kisaran kuartal ke dua tahun 2008. Dan semakin membooming setelah Facebook > membombardir Indonesia di awal tahun 2009. > Dulu, perpustakaan merupakan tempat yang populer bagi orang yang haus akan > pengetahuan. Beberapa juga karena tuntutan dari pihak lain agar yang > bersangkutan bergegas ke perpustakaan. Tetapi kini berbeda, orang tidak lagi > perlu bersusah payah berjalan (atau mengendara) menuju perpustakaan. Cukup > *one click away*, maka apa yang kita cari bisa tersaji tanpa perlu repot > gono-gini. > Internet buka 24 jam nonstop. Tak perlu beranjak pergi. Internet seperti > pasar bebas. Informasi apa saja yang kita cari, di Internet ada. Tak perlu > repot menghampiri katalog buku di Gramedia ataupun Togamas dan merogoh koceg > jika hanya sekedar mencari sejarah sebuah Negara, atau tentang biografi > tokoh tertentu, atau tips kesehatan, dan lain-lain. Jangankan informasi > bermanfaat, bahkan informasi ‘sampah’ pun banyak bertebaran di Internet. > Berita hoax, konten pornografi, kalimat umpatan, konten kekerasan, menyerang > pihak tertentu, dan lain-lain. > Apa solusi terbaiknya? > Hingga saat tulisan ini saya tulis pun, saya belum bisa menyimpulkan > rumusan terbaik untuk sebuah solusi yang solutif terhadap permasalahan pelik > (yang terlihat sederhana) ini. Namun yang pasti, kesadaran untuk mengubah > pola mencari informasi perlu sedikit dirubah. Mindset bahwa “Segala > informasi bisa didapatkan di Google” harus sedikit dirubah. Bukan hanya > untuk mendapatkannya, tapi bagaimana caranya supaya informasi itu juga bisa > masuk ke dalam memori otak kita, bukan sekedar sebagai angin lalu. > Kalau saya pribadi, saya memanfaatkan kebiasaan saya dalam menghafal Hadits > dan Qur’an, setidaknya ini sedikit membantu saya dalam mengimbangi aktifitas > saya dalam dunia Internet. Mempertahankan supaya otak saya tidak menciut, > hehe. > Mungkin ini saja sedikit pengetahuan yang bisa saya bagikan. Semoga > bermanfaat dan memberikan kita kesadaran dalam batas-batas dalam berfikir > dan beramal. Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk generasi setelah kita. > Referensi yang pernah saya baca: > - http://www.sciencemag.org/content/333/6043/776.abstract > - > http://www.psychologytoday.com/blog/therapy-matters/201107/the-google-effect > - > http://www.ibtimes.com/articles/181620/20110716/google-effect-changes-to-our-brains.htm > > > > > >
