Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.multiply.com/journal


-=-=-=-=-

http://nasional.kompas.com/read/2011/10/09/19113084/Teori.Joko.Tingkir.ala.Intelijen.Indonesia


Bedah Buku Busyro Muqoddas
Teori Joko Tingkir ala Intelijen Indonesia
Doddy Wisnu Pribadi | Marcus Suprihadi | Minggu, 9 Oktober 2011 | 19:11 WIB


MALANG, KOMPAS.com- Intelejen Indonesia, paling tidak di masa Orde Baru, 
menggunakan teknik pemecah belahan masyarakat untuk menciptakan situasi sosial 
yang rapuh agar kekuasaan rezim, dalam hal ini Soeharto, bisa dipertahankan. 
Caranya, menggunakan teknik Joko Tingkir, legenda sejarah seorang tokoh yang 
menyumpal telinga kerbau, hingga kerbau mengamuk. Seolah-olah hanya dia yang 
bisa menjinakkan kerbau yang mengacau, padahal pelaku kekacauan itu tak lain 
buatannya sendiri.
Melaui teknik ini, sejarah bisa merekam sejumlah operasi intelejen Orde Baru 
seperti operasi penumpasan Komando Jihad yang menciptakan karakter Imron.

Hal itu yang antara lain muncul pada diskusi bedah buku hasil disertasi Ketua 
Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas, berjudul Hegemoni Rezim 
Intelijen di kampus Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang (UM), 
Minggu (9/10/2011).
Busyro antara lain mengungkapkan ketidakyakinannya bahwa karakter ciptaan 
intelijen Orde Baru seorang petinggi Komando Jihad telah tewas, dalam operasi 
itu. Imron sejak semula dikenal tinggal di Arab Saudi, dan waktu itu ada info 
yang mengatakan Imron masih hidup di sana.
"Bahkan saat Ali Murtopo berada di Arab, Imron ada diantara orang Indonesia 
yang hadir dalam pertemuan itu, yang artinya dekat dengan petinggi intelijen," 
katanya.

Teori Joko Tingkir didukung oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri 
Malang Prof Dr Haryono yang juga pakar ilmu sejarah. Model operasi intelijen 
Joko Tingkir ini yang kemudian sukses menciptakan ketegangan antara sesuatu 
yang diistilahkan ekstrim kiri dan ekstrim kanan ciptaan Orde Baru pada awal 
1980-an, yang menunjukkan seolah-olah ada ancaman orang-orang kiri terhadap 
orang-orang kanan dan sebaliknya.  
"Inilah hantu-hantu yang diciptakan, yang disebut hantu jihad dan hantu 
komunis. Padahal yang sebenarnya terjadi, melalui ketegangan itu kemudian 
intelijen bisa mengetahui siapa yang berideologi yang mana, sehingga 
kedua-duanya ditumpas, bukan untuk kepentingan negara. Melainkan untuk 
kepentingan kelanggengan kekuasaan Orde Baru," katanya.

Kedua hantu ini menjadi sumber ketakutan, dan menutupi hantu sebenarnya, 
seperti diungkap John Perkins," kata Haryono, dalam buku Confessions of 
Economic Hitman yakni pengurasan sumber daya ekonomi pertambangan dan perkayuan 
oleh kekuatan asing. Operasi intelijen mengabdi pada hedonisme penguasa, 
menciptakan ketakutan yang membuat operasi pertambangan asing seperti Freeport 
atau Newmont bisa leluasa berkuasa di tengah kemiskinan rakyat di sekitar situs 
pertambangan.  

Menurut Busyro, ada informasi yang menyebut sebelum ini ABB dikenal dekat 
dengan para petinggi intelijen. Demikian pula hubungan antara petinggi Negara 
Islam Indonesia (NII) di Jawa Barat yang justru berhubungan dekat dengan mantan 
petinggi lembaga intelijen.  
"Meski dengan pemandangan demikian gamblang, namun kita lihat sendiri tak ada 
tindakan hukum terhadap NII dan orang-orangnya yang sudah terungkap luas, 
sampai hari ini. Jangan heran bahkan seorang Panglima Kodam, pernah bicara 
dengan saya usai wisuda anaknya bahwa ia berterima kasih pada saya karena 
setelah kuliah di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, anaknya 
itu yang terpengaruh NII bisa kembali ada orang tuanya. Lho ini seorang Pangdam 
saja tak berdaya mengahadapi NII," kata Busyro.

Melalui itu, Busyro menegaskan, para aktivis dan masyarakat luas hendaknya 
berusaha terus mengkritisi tiga RUU yang sedang diupayakan untuk segera 
disahkan, yakni RUU Intelijen, RUU Rahasia Negara dan RUU Pertahanan, yang 
dapat mengancam demokrasi. "Mari kita kembalikan intelijen bukan sebagai milik 
kekuasaan, melainkan milik negara dan milik rakyat. Intelijen bekerja untuk 
menjaga kepentingan negara, bukan kepentingan rezim berkuasa," katanya.

Kirim email ke