Arief,

Itu kisah nyata cucunya Mahatma Gandhi di South Africa...

Salam,
Morry Infra

2011/11/1 Arief Kurniawan <[email protected]>

> **
>
>
> ** Nice sharing mas
>
> Kewajiban kita sebagai orang tua untuk mendidik anak dan mencontohkan
> perilaku yang baik kepada anak kita
>
> Bullying seorang anak bisa disebabkan beberapa hal
>
> 1. Dari rumah, dia terbiasa melihat hal bullying, Ayahnya kepada ibunya,
> ayah atau ibunya kepada dirinya, kakaknya kepada dirinya, dsb. Sehingga dia
> melampiaskan perasaan itu ke orang yg lebih lemah di sekolah atau
> lingkungan sekitar.
>
> 2. Dari televisi. Tontonan anak2 yang seharusnya memberi contoh baik
> terkadang memberikan pengaruh buruk, adegan2 gank2 anak SD yang
> mengintimidasi sesama dianggap hal yg biasa
>
> 3. Video game dan game online. Harus selektif.
> Saya pernah membaca buku Bahaya Candu Video Game. Lebih berbahaya dari
> Narkoba. Ada adegan game online atau video game, yang isinya si jagoan
> harus membunuh penjahat, merebut mobil, kemudian merampok untuk mendapatkan
> senjata. Lalu hadianya jika menang, berhubungan intim dengan gadis yg
> dibebaskan. (Ini saya baca dibuku tsb)
>
> Ada kisah menarik yang saya dengar dari rekan saya. Kisah seorang Bapak
> yang mendidik anaknya dengan kejujuran. Memang tidak terkait dengan
> bullying, tetapi metode mendidik bapak tsb perlu kita pelajari.
>
> Suatu ketika Bapak tsb baru selesai mengantar anaknya membuat SIM A.
> Dengan bangganya si Anak meminta ijin Bapaknya untuk mengemudikan mobil
> Bapaknya. Bapaknya berkata antarlah bapak ke kantor kemudian mobil nya
> silahkan dibawa kebengkel, kemudian jemput Bapak Jam 16 sore ya.
>
> Si Anak pun menyanggupi untuk mengantar bapaknya, setelah mengantar dia
> pun menyanggupi untuk membawa mobil ke bengkel. Jam 14 mobil pun selesai
> dari bengkel, sambil menunggu jam 16 dia pun main ke rumah temannya,
> kemudian mereka jalan2 hingga larut sore dengan mobil bapaknya tsb.
>
> Singkat cerita waktu sudah jam 1z sore, dia pun teringat harus menjemput
> bapaknya, sedangkan saat itu Hape belum dikenal di jamannya. Sampai kantor
> bapaknya jam 18, dia pun mengarang cerita berbohong kepada
> bapaknya.bapaknya bertanya kenapa baru datang? Apakah kamu lupa. Si anak
> berbohong dengan mengatakan bengkelnya penuh, kemudian bannya gembes,
> sambil gugup bercerita. Si bapaknya ini tahu kalau si anak berbohong. Dia
> pun berkata Nak kenapa kamu berbohong, apakah bapakmu ini mengajarkan kamu
> berbohong? Kemudian si bapak kembali berkata Nak, kesalahan diri bapak
> tidak bisa mendidikmu berkata jujur untuk hal yang hanya sepele saja. Maka
> karena ini kesalahan bapak, bapak akan pulang berjalan kaki ke rumah, mobil
> silahkan kamu yang bawa. Si anak pun mengikuti si bapak yang berjalan
> pulang dibelakang sambil mengendarai mobil dengan berderai air mata.
>
> Moral of the stories, mendidik bisa kita lakukan tanpa kekerasan tetapi
> juga dengan hati nurani.
>
> Semoga bermanfaat.....
>
> AriefK
>
> Sent from my NerdBerry® freakz smartphone
> ------------------------------
> *From: * Nugroho Laison <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Tue, 1 Nov 2011 00:59:10 -0700 (PDT)
> *To: *SMA 1 Bekasi<[email protected]>; Insistnet<
> [email protected]>; Muhammadiyah Society<
> [email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *[sma1bks] Fw: Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior , Mengapa Anak
> Berperilaku Buruk?
>
>
>
> Lampu Merah..Bullying sudah dimulai dari SD!!!
>
> -=-=-=-
> 
>
> http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/01/ArticleHtmls/Siswi-SD-Kelas-1-Disiksa-Senior-01112011006019.shtml?Mode=1
> *
> Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior
> *
>
> "AKU tak mau lagi sekolah.
> Takut..." pekik BM, 6. Siswi kelas satu SD Quantum Indonesia di Jalan
> Kalimanggis, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, itu terus menolak pergi
> ke sekolah.
>
> Orangtuanya, San, 44, dan Arf, 34, sudah berusaha meyakinkan sang buah
> hati bahwa kondisi sekolah sudah aman. Tidak ada yang perlu ditakutkan,
> tetapi BM sukar diyakinkan.
> "Dia minta dicarikan sekolah baru," ujar Arfi na, kemarin, dengan nada
> gusar.
>
> Bagaimana ia tidak gusar, putrinya sudah seminggu tak bersekolah karena
> trauma dengan perbuatan seniornya.
> "Anak saya ketakutan. Dia terlihat murung." BM sepertinya masih trauma
> dengan insiden yang terjadi Senin (24/10) siang.
> Bayang-bayang sang senior, VA, 8, terus menghantui putri kedua dari tiga
> bersaudara itu. BM tak lagi ceria seperti dulu. Ia suka sendirian atau
> mengurung diri dalam kamar.
>
> Trauma yang merenggut keceriaan BM bermula saat bermain-main di halaman
> sekolah. Ia asyik bermain sendirian karena memang sedang proses
> belajarmengajar.
> Sebagai siswa kelas paling bawah, ia hanya bersekolah sampai pukul 11.45
> WIB.
> Proses belajar kelas tiga hingga enam sampai pukul 14.00. Saat itu, BM
> sedang menunggu kakaknya yang duduk di kelas V.
>
> Tiba-tiba seorang siswi dari kelas tiga berinisial VA datang menghampiri.
> VA menghardik dan mendorongdorong BM sampai masuk ke toilet siswa.
> Di dalam toilet, kepala BM dibenturkan ke dinding dan wajahnya ditendang.
> VA memaksa korban menanggalkan pakaian lalu seragam tersebut disiram
> dengan air keran agar tidak bisa lagi dipakai korban.
> BM yang ketakutan hanya bisa melihat wajah VA dengan harapan dikasihani.
> Tatapan itu diartikan VA melototi dirinya dan diminta supaya menutupi mata
> dengan rambut. BM menangis dan minta VA berhenti menyiksa, tetapi diabaikan.
> BM mengerang kesakitan, tetapi sang kakak kelas bukannya kasihan malah
> semakin menjadijadi. "Saya haus! Saya ingin minum," teriak korban sambil
> bercucuran air mata.
> VA menyodorkan selang keran toilet ke mulut BM. "VA memaksa anak saya
> minum air keran," tutur Arfina lagi.
> Setelah puas memperlakukan korban tanpa terlihat orang lain sekitar 10
> menit, VA bergegas meninggalkan tempat kejadian perkara. BM pun memakaikan
> kembali seragamnya yang telah basah kuyup.
>
> Karena tidak terima anaknya disiksa sedemikian rupa, Arf melaporkan kasus
> kekerasan itu ke Polres Metro Bekasi.
> Kasus nomor laporan 2748/K/XX/2011/ SPKT itu ditangani unit pelayanan
> perempuan dan anak (PPA). Mengapa sekolah diam saja? "Kami berusaha
> memediasi dua pihak, yakni orangtua BM dan VA. Tetapi, kondisi saat ini
> tidak memungkinkan karena orangtua BM masih terlihat emosi," jelas Wakil
> Kepala SD Quantum Indonesia Ayi Listriani.
> "Pihak sekolah akan berusaha mempertemukan kedua pihak dan mencari
> solusi," terangnya. Ia menambahkan, VA dan BM sama-sama tidak masuk
> sekolah. Tercatat sejak Rabu (26/10) keduanya tidak mengikuti kegiatan
> belajar tanpa keterangan yang jelas.
> "Keduanya alpa. Namun, sekolah dapat memaklumi," imbuhnya. (Golda
> Eksa/J-1)
>
> -=-=-=-
> http://id.she.yahoo.com/mengapa-anak-berperilaku-buruk-043127837.html
> *
> Mengapa Anak Berperilaku Buruk?
> *
>
> TRIBUNnews.com – Sen, 31 Okt 2011 11.31 WIB
>
> TRIBUNNEWS.COM - Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak
> usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih
> bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah
> dengan pola asuh ibunya.
>
> Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan
> pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal
> usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu
> mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda.
>
> Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding
> balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik
> dibanding rata-rata anak usia 4 tahun.
> Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur.
> Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian
> anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun.
>
> "Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar
> berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber.
> Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau
> melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko
> tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.
>
> Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak,
> diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu
> bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan
> tumbuh menjadi anak berperilaku buruk.
>
> Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti
> tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola
> asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga
> pengaruh faktor genetik.
>
> Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang
> baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif
> dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting,"
> katanya.
>
>
> Disclaimer :
> This email and any files transmitted with it are confidential and intended
> solely for the use of the individual or entity to whom they are addressed.
> If you have received this email in error please notify the system manager.
> Please note that any views or opinions presented in this email are solely
> those of the author and do not necessarily represent those of the company.
> Finally, the recipient should check this email and any attachments for the
> presence of viruses. The company accepts no liability for any damage caused
> by any virus transmitted by this email.
>
>
>   
>

Kirim email ke