Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!


http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-

http://id.berita.yahoo.com/tujuh-santri-raih-medali-olimpiade-matematika-internasional-123124635.html;_ylt=Ag6A1eoBj9DUhrjGHPLk9xp7V8d_;_ylu=X3oDMTRoZDFmbDgwBGNjb2RlA3NlbnRjdC5jBG1pdANTZW50aW1lbnQgVG9kYXkEcGtnAzkxNTVmZmU5LWUxZTQtMzE4ZC04ZGU1LTVjMWQ1ZjY1ZWMzOQRwb3MDMwRzZWMDTWVkaWFNb3N0U2VudGltZW50BHZlcgNhZTE1OTVmMC0wYTA1LTExZTEtYmI3ZC05ZGNmZjI1MzkxYzM-;_ylg=X3oDMTJ2MjkybDY4BGludGwDaWQEbGFuZwNpZC1pZARwc3RhaWQDNTExYzAzOTEtNTBlYy0zNDQ3LTk1ZWEtMjE5MDJmZWYyNWJlBHBzdGNhdANzZWFnYW1lczIwMTEEcHQDc3RvcnlwYWdl;_ylv=3



Tujuh Santri Raih Medali Olimpiade Matematika InternasionalRepublika – 20 jam 
yang lalu


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tujuh santri dari Pesantren Bustanul Ulum, Pamekasan 
Madura, menyabet medali perunggu Olimpiade Matematika Internasional yang 
digelar terpisah, di Beijing dan India belum lama ini.
Mereka berasal dari tingkat pendidikan madrasah tsanawiyah dan tingkat Aliyah, 
yakni empat berasal dari madrasah tsanawiyah dan dua dari madrasah Aliyah. Satu 
medali perunggu juga diperoleh tim matematika Aliyah.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU, Arvin Hakim Thoha, Selasa (11/8), 
mengatakan prestasi yang diraih santri tersebut membuktikan bahwa pendidikan 
pesantren saat ini bisa bersaing dengan sekolah umum.
Pendidikan pesantren saat ini tidak melulu belajar membaca kitab kuning dan 
pengetahuan agama dan hanya menelurkan kyai, tetapi juga banyak yang juga 
terjun ke dunia umum lainnya. “Mereka juga belajar ilmu-ilmu lainnya dan 
memiliki prestasi yang tidak kalah dengan sekolah umum,” katanya.
Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Mohammad Ali, mengapresiasi 
keberhasilan tersebut. Selain menjanjikan perbaikan fasilitas pendidikan di 
pesantren, ia juga menjanjikan memberikan tiket khusus kepada santri peraih 
medali untuk memilih perguruan tinggi kelak, tanpa harus mengikuti tes masuk 
PTN.
Ketua pembina lomba dari Erick Institut, Ahmad Zainal, mengatakan dalam ajang 
olimpiade tersebut para santri harus bersaing dengan peserta dari banyak 
Negara, termasuk Amerika serikat, Cina, Korea Selatan dan Malaysia. Latar 
belakang para santri itu bukanlah dari kaum berada. Seleksi serta pembinaannya 
pun tidak membutuhkan waktu khusus. Setelah diseleksi dari sekolah 
masing-masing, mereka lalu dibina setiap minggu sambil diseleksi kembali.
Ia mengatakan, siswa yang dinilai memiliki kelebihan diwajibkan memasuki 
pendidikan khusus atau karantina selama dua bulan sebelum diberangkatkan.  
“Jadi santri yang ikut bukan dari kalangan masyarakat mampu yang didukung oleh 
gizi baik serta fasilitas cukup. Mereka dari kalangan masyarakat kebanyakan 
dengan ekonomi terbatas,” ujarnya.


-=-=-=-

http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/31/09483750/Perkenalkan.Dhia.Fairuz.Juara.Dunia.Matematika


iswa Berprestasi
Perkenalkan: Dhia Fairuz, Juara Dunia Matematika
| Inggried Dwi Wedhaswary | Senin, 31 Oktober 2011 | 09:48 WIB


SURABAYA, KOMPAS.com — Sudah pernah mendengar nama Dhia Fairuz Sabrina? Siswa 
kelas VI SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, ini juara dunia Matematika saat 
berhasil menyabet emas dalam Wizards at Mathematics International Coimpetition 
di India, 26 Oktober pekan lalu. Ini bukan satu-satunya prestasi yang berhasil 
dia raih. Dhia sudah kerap menorehkan prestasi dalam ajang olimpiade dan 
kompetisi Matematika. Bagaimana keseharian Dhia?
Seperti anak-anak pada umumnya, Dhia selalu mengisi waktu luangnya dengan 
berlibur atau membaca cerita fiksi, baik komik maupun novel. Dhia mengaku tak 
bisa menanggalkan kesenangannya membaca komik.
"Kalau libur atau waktu senggang setelah belajar, saya lebih senang membaca 
komik dan novel apa saja. Saya tidak suka lihat televisi," ujar Dhia, Minggu 
(30/10/2011).
Membaca komik, menurut Dhia, tak hanya mendorong kemampuannya membaca, tetapi 
juga menumbuhkan daya nalar. Komik apa yang disukai Dhia?
"Aku suka Detektif Conan," ujar bocah kelahiran 6 Juli 2000 itu. 

Cerita emas
Ternyata, ada cerita di balik medali emas yang diboyong Dhia ke Tanah Air. 
Dalam kompetisi Matematika di India itu, Dhia sebenarnya peraih perak dan 
perunggu. 
"Yang penting bawa emas. Katanya, panitia sendiri yang menukar perak menjadi 
emas. Dengan raihan ini, Indonesia juara umum," kata Solikin, Kepala SD 
Muhammadiyah 4 Surabaya.
Kecintaan Dhia pada Matematika sendiri belum berlangsung lama. Saat duduk di 
kelas I dan II SD, siswa yang bercita-cita menjadi dokter ini tak mencatatkan 
nilai yang terbilang istimewa untuk pelajaran Matematika. Akan tetapi, kondisi 
ini berbalik saat Dhia duduk di kelas III dan IV. Nilainya memuaskan. Ia 
mengaku selalu mendisiplinkan diri menyisihkan waktu untuk belajar setiap hari.
"Saya suka logika dan tak suka menghapal. Saya memang ikut bimbel (bimbingan 
belajar) khusus Matematika," kata Dhia. 

Kirim email ke