Kabar terakhir di koran Media Indonesia pada hari ini, statement dari MenKes, ternyata bayi tsb sudah kurang sehat, ada gejala infeksi (ini dari infeksi Otak), namun petugas posyandu lalai menjalankan prosedur, langsung main vaksin, bahkan 2 vaksin sekaligus. walhasil infeksi menjadi tambah parah, dan menyebabkan bayi jadi meninggal.
jadi ini menjadi pelajaran bahwa umumnya kasus bayi sakit s/d meninggal karena vaksin, bukan karena issue konspirasi yg sering digadang-gadang oleh sebagian pihak yg terlalu paranoid dan negative thinking. namun lebih karena vaksin rusak, dan/atau bayi yg divaksin ada alergi thd salah satu komponen vaksin, atau bayi tsb dlm kondisi tdk sehat. Best Regards and Wassalam, Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.multiply.com/journal -=-=-=-- http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/09/PagePrint/09_11_2011_007.pdf Kasus Imunisasi Bekasi Melanggar UU Konsumen PENUTUPAN informasi atas kematian Hanif M Husnaya, 3, dan Isma Nur Fauziah, 3, menyalahi Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999. "Dinas Kesehatan Kota Bekasi harus menjelaskan secara medis dan ilmiah mengapa kedua balita itu meninggal dunia setelah mendapatkan vaksinasipolio dan campak," tegas Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta, kemarin. Ia mengingatkan menyembunyikan sebuah informasi yang dapat mencelakai keselamatan nyawa orang lain merupakan pelanggaran hukum. Pasalnya, baik orangtua Hanif maupun Isma terus meminta penjelasan soal penyebab kematian putraputri mereka, tapi Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi Anne Nur Chandrani Handayani berdalih sedang menginvestigasi. Anne dituding berbohong sebab sudah dua minggu kasus berlalu, tidak ada satu pun petugas investigasi mendatangi ibu kedua korban, Tian Setiani, 26, dan Eva Larasati, 30. Dari rumah sakit, orangtua mendapatkan penjelasan kematian disebabkan infeksi jaringan otak (ensefalitis). Keduanya dirawat di rumah sakit berbeda, tetapiterdapat kesamaan hasil rekam medis. Keluarga merasa sakit hati karena Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dengan entengnya menuding ibu kedua korban yang mesti bertanggung jawab sebab memberikan obat penurun panas dalam bentuk tablet. Tian dan Eva bersumpah tidak memberikan obat penurun panas sebagaimana tudingan gubernur. Dengan merunut peristiwa pemberian vaksin polio dan campak kepada kedua balita itu, Marius menyatakan kinerja petugas pemberi vaksin di pos pelayanan terpadu (Posyandu) juga perlu diperhatikan. "Jangan meletakkan vaksin di atas meja, apalagi jika vaksin terkena sinar matahari bisa terjadi perubahan. Apakah prosedur standar itu diterapkan?" katanya. Vaksin yang merupakan kuman harus dilemahkan sebelum dimasukkan ke tubuh. Idealnya, antibodi itu dalam kondisi dingin atau suhu es dan bukan dibiarkan terpanggang oleh sinar ultraviolet. Andai hal demikian terjadi, dikhawatirkan kuman yang tadinya lemah bisa hidup dan berbahaya. Dengan merujuk pada kematian Hanif dan Isma, Marius menyatakan setiap keluarga dapat mengajukan upaya hukum. "Kalau terbukti ada kelalaian dalam vaksin imunisasi, penyelenggara program (pemerintah daerah) setempat harus bertanggung jawab. Dalam UU disebutkan bahwa pelanggar aturan bisa dikenai denda Rp2 miliar dan kurungan. -=-=-=-=-- http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/11/ArticleHtmls/Infeksi-Otak-Penyebab-Kematian-Balita-di-Bekasi-11112011007008.shtml?Mode=1 Infeksi Otak Penyebab Kematian Balita di Bekasi MENTERI Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningish memastikan meninggalnya dua balita di Bekasi karena infeksi otak. Komentar itu merupakan klarifikasi atas meninggalnya Hanif M Husnaya, 3, dan Isma Nur Fauziah, 3, di Bekasi, Jawa Barat, yang dikabarkan meninggal setelah disuntik vaksin campak dan polio pada 21 dan 25 Oktober lalu. “Sebelumnya kedua balita itu sudah mengidap infeksi otak. Jadi meninggalnya bukan karena suntikan vaksin,“ tegas Menkes, di Jakarta, kemarin. Kepastian penyebab meninggalnya kedua balita didapat dari hasil investigasi yang dilakukan Tim KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) pascameninggalnya kedua balita itu. Namun, Endang mengakui petugas di lapangan sempat melakukan sedikit kelalaian lantaran tidak memeriksa status penyakit yang diidap kedua balita itu. Seharusnya imunisasi ditunda dahulu untuk memberi kesempatan pada keluarga yang bersangkutan berkonsultasi ke dokter. (Tlc/J-2)
