http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/14/PagePrint/14_11_2011_022.pdf
Nasionalisme versus Fulus di Arena Laga

PELAKSANAAN SEA Games (SEAG) XXVI sudah tiga hari berjalan. Persaingan ketat 
para atlet 11 negara peserta mulai menunjukkan hasil berbaur dengan sorak 
penonton yang menambah semarak di setiap venue di Kompleks Jakabaring Sport 
City (JSC). Tidak gampang bagi setiap atlet untuk menundukkan lawan. Perlu 
strategi, kerja keras, dan doa untuk mencapai kemenangan. Di sisi lain, 
dukungan dari penonton memberikan nilai tambah lainnya.
 
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang atlet ketika berlaga tapi tidak ada 
yang memberikan dukungan. Itu sebabnya banyak pihak
yang sampai menyiapkan suporter, apa pun caranya, untuk memberikan dorongan 
semangat kepada atlet saat  bertanding. Teriakan dan juga polah tingkah mereka 
membuat ramai suasana.
 
Seperti halnya suporter dari Thailand yang tampil eksentrik dengan pakaian 
tradisionalnya. Kendati hanya tiga orang, nyatanya mereka mampu menghadirkan 
aura kemenangan buat tim bola voli putri saat menghadapi Vietnam di Palembang 
Sport and Convention Center.
 
Namun, menjadi aneh ketika penonton lokal justru memberikan dukungan fanatik 
kepada tim asing. Hal itu terjadi ketika ratusan pelajar Kota Palembang 
mengenakan baju, kaus, topi, dan sepatu berlogo  Malaysia, Singapura, dan 
Thailand. Selidik punya selidik, ternyata hal itu tidak gratis. Mereka mengaku 
dikerahkan oleh guru sekolah dengan imbalan Rp30 ribu per orang per hari.
 
Di titik tersebut, rasanya hal itu tidak bisa diterima naluri sebagai warga 
bangsa Indonesia. Naif sekali saat atlet Indonesia berjuang agar bendera Merah 
Putih berkibar dan lagu kebangsaan berkumandang
ada sekelompok pelajar Indonesia ‘berjuang’ agar itu tidak terjadi. Padahal, 
banyak penonton, bahkan sang atlet, menangis haru dan bangga ketika bendera 
Merah Putih berkibar diiringi laguIndonesia Raya.
 
Kalau dukungan sekelompok anak muda (pelajar) terkait dengan sang atlet 
tertentu sebagai idola, mungkin masih dapat dimaklumi. Satu lagi yang 
menyedihkan, tidak sedikit para pelajar mengaku cuma kebagian baju, kaus, topi, 
sepatu, dan makan siang saja. Uang lelah tidak diterima, tetapi mereka diminta 
untuk menandatangani tanda terima. Entah bagaimana rasanya mendukung dengan 
cara pragmatis begitu. Nasionalisme versus fulus.

Kirim email ke