---------- Forwarded message ----------
From: Achmad Zar'an <>
Date: 2011/12/12
Subject:  Fwd: Kekasihku Pergi Saat Berjihad (kisah pegawai Pajak)


Kisah menarik tentang seorang pegawai pajak...

Salam
Zar'an

From: m mahdum
Date: 2011/12/12
Subject:  Fwd: Kekasihku Pergi Saat Berjihad (kisah pegawai Pajak)


http://sepedakwitang.wordpress.com/2011/12/08/kekasihku-pergi-saat-berjihad-kisah-pegawai-pajak/

Kekasihku Pergi Saat Berjihad [kisah pegawai Pajak]

SAYA TEMUKAN SOSOK IDEAL PEGAWAI PAJAK pada mendiang suami saya. Hanya
Allah pemilik kesempurnaan, dan Allah menciptakan sosok yang hampir
sempurna bagi saya dan anak-anak. Ismail Najib nama lengkapnya. Ia terlahir
dari keluarga yang sederhana di pelosok Jambi. “Ayah,” kami biasa
memanggilnya. Ibunya, mertua saya, memanggilnya Mael. Teman
kantornya memanggilnya Najib –atau Pak Najib.

Abang pergi mendahului kami. Ia menitipkan tiga buah-hati kami. Dafi
Muhammad Faruq, putra, umur enam tahun, kini kelas satu SD. Adiknya, dua
putri cantik kami, Kayyisah Zhillan Zhaliila, usia tiga tahun dan Mazaya
Hasina Najib, tiga bulan. Ketika Abang mangkat pada 21 Februari 2011,
si bungsu masih dalam kandungan empat bulan. Meski telah pergi, Abang
mendidik saya menjadi orang kuat dan mandiri. Dengan kondisi long distance,
saya memilih homebase di Kota Kembang demi pendidikan anak anak. Dengan
bekal ilmu agama yang Almarhum berikan, sekarang saya menjadi tahu apa itu
arti syukur, ikhlas, dan tawakal. Itulah yang membuat saya harus
bangkit menyikapi keadaan ini.

Pegawai Pajak, pekerjaan yang luar biasa “banyak godaannya”. Abang
memberikan pengertian pada saya bahwa materi yang identik melekat dengan
pegawai Pajak, jangan menjadi patokan kebahagiaan dan kesenangan. Karena,
tidak semua orang Pajak bermateri (saat itu saya tidak mengerti apa
maksudnya).

Hingga sekitar 2005, Abang mengutarakan puncak kegundahannya. Setelah
bekerja selama satu dekade , kebimbangan itu pun terucap, “Bunda, Ayah
takut apa Ayah sudah menafkahi keluarga ini dengan halal?” ia bertanya
kepada saya. Banyak pandangan negatif terhadap pegawai Pajak saat itu
–bahkan hingga kini. Saya bekerja di satu bank BUMN. Banyak nasabah dan
teman seprofesi yang “curhat” tentang tindak-tanduk pegawai Pajak dan
betapa ribetnya mengurus pajak –waktu itu, sebelum modern.

Kami melihat kenyataan bahwa saat itu ada pegawai pelaksana yang punya
rumah dan mobil mewah. Abang seorang kepala seksi, dan kondisi itu yang
membuat Abang sering memberi pengertian pada saya. Sebagai seorang istri
pegawai Pajak, saya harus hidup sederhana dengan gaji sebagai PNS. “Jangan
pernah terpengaruh dan mempengaruhi suami untuk mendapatkan sesuatu yang
tidak halal,” Abang memberi nasihat.

“Apa gaji yang ayah terima ini halal?” kembali ia gusar. “Nafkahilah
keluarga ini dengan keringatmu. Bun percaya Ayah akan memberikan yang
terbaik untuk kami,” jawab saya.

“Kira kira bagaimana jika Ayah keluar saja? Jadi guru ngaji,” tuturnya
membulatkan tekad. Matanya berlinang. Saya pun ikut menangis saat itu.

“Ayah, apa gak mau lingkungan Ayah jadi lebih baik? Kalau Ayah mundur
sekarang, gak ada perubahan di Pajak. Ayah harus mengubah kebiasaan itu.
Pajak memerlukan orang seperti Ayah untuk bisa berubah. Ayah pasti bisa,”
tutur saya menyambung percakapan waktu itu.

“Iya yah, Bun,” jawabnya. Kegelisahan itu akhirnya terjawab dengan
modernisasi dan reformasi birokrasi DJP. Pada 2006, sampailah juga
gelombang kantor modern di Jawa Tengah –waktu itu Abang dinas di Pekalongan.

Abang orang yang sangat sabar, tenang, tak banyak bicara. Malah terkadang
tanpa ekspresi. Namun dalam diamnya, saya tahu ia tak diam. Selama kami
bersama, belum pernah ia marah sekalipun. Ia laki-laki yang hangat dan
update –selalu tahu semua hal. Diajak segala macam diskusi, pasti langsung
nyambung apapun topiknya, apalagi soal agama. Keseimbangan itu yang kami
teladani di rumah. Ia orang yang ngocol, kadang jail dan sangat romantis.
Dengan gitar kesayangan, ia sering bernyanyi bersama anak-anak dengan
kekonyolannya, melucu sampai tertawa terbahak-bahak. Itu semua momen yang
kami rindukan.

Salah satu lagu pengantar tidur anak-anak yang sering dinyanyikan, “Demi
masa, sesungguhnya manusia kerugian,melainkan yang beriman dan yang beramal
sholeh, ingat lima perkara sebelum lima perkara, sehat sebelum sakit, muda
sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, hidup sebelum
mati…”

Loyalitas dan dedikasinya yang tinggi tak diragukan. Saya acungi jempol.
Saya ingat, saat itu saya sedang hamil enam bulan anak pertama. Tatkala
terkena pengristalan batu ginjal, ia masih bekerja larut hingga hampir
pingsan di sebuah klinik di Pekalongan. Opname yang dianjurkan dokter tak
dihiraukannya. Saat itu hari-hari akhir penerimaan SPT wajib pajak. Operasi
“tembak” adalah solusi yang kami pilih karena bisa lebih cepat pulih dan
tidak usah dilakukan pembedahan. Saran dokter, opname selama dua minggu.
Namun, bedrest hanya bertahan tiga hari. Kala itu belum ada mesin absen
fingerprint. Masih serba manual dengan tanda tangan. “Titip absen saja,
kenapa?” saya saking kesalnya memberi saran. “Lagi sakit kok
mikirin kerjaan, gimana bisa orang sakit kerjanya maksimal?”

Abang hanya tersenyum mendengar kekesalan saya. Alhasil, dengan keadaan
yang masih lemas, ia tetap kerja. “Sakit itu ujian dari Allah. Harus kita
nikmati,dan jangan mengeluh,” jawabnya simpel.

Tiga tahun tugas di Pekalongan dilalui dengan baik. Lalu, Abang mutasi ke
Palembang. Satu sisi lebih jauh dengan kami. Tapi di sisi lain, lebih dekat
dengan kampung halamannya. Alhamdulillah, Agustus 2010, kami didekatkan.
Abang mutasi di Kantor Pelayanan Pajak BUMN, kantor pajak dengan penerimaan
terbesar, yang perlu effort lebih tentunya. Saya hanya bisa berdoa
agar setiap langkah yang Abang ambil adalah yang terbaik. Saya dan Ibunda
tercinta –mertua saya–
mengkhawatirkannya. Semoga ia selalu sehat dan jauh dari “godaan”. Setiap
minggu Ibunda selalu mengingatkan, “Mael, hati-hati dalam setiap memutuskan
sesuatu. Jadilah orang yang jujur dan jangan sampai tergoda dengan duniawi
ya.”

“Kenapa suamimu gak minta pindah di Bandung saja? Kan bisa lewat Si Anu.
Yah, minimal setor satu Kijang lah,” salah satu teman saya yang suaminya
juga di Pajak mengipas-kipasi. Saya tak tahu maksud ucapannya, apakah ia
bercanda atau serius.

Dan seperti biasanya, ia hanya tersenyum saat saya ceritakan hal itu.
“Sudah, gak usah dipikir. Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita.
Yah kita berdoa saja. Sekarang Pajak sudah modern udah gak perlu kayak gitu
lagi kok. Yang penting kerja kita bagus. Apapun yang kita lakukan karena
Allah. Malah jadi ibadah kan?”

Ketika kasus Gayus terekspos, tentu ini mengecewakan banyak pihak yang
telah bekerja keras. Di satu sisi justru suami saya senang. “Pada akhirnya,
biarlah yang benar yang akan menang,” tuturnya. Di sisi lain, kita harus
membuktikan bahwa tidak semua orang Pajak seperti Gayus. “Orang Pajak
sekarang beda dengan yang dulu. Sudah modern, sudah tidak ada lagi
‘kebiasaan’ Itu,” tuturnya yakin. Secara tidak langsung saya pun ikut
menjadi “jubir” bagi teman-teman di lingkungan saya.

Kebiasaan Abang yang lain adalah ingin perfeksionis. Ia ingin segala hal
sempurna, rapi, dan sangat teliti. Tak mau meninggalkan cela pada
pekerjaannya. Contoh kecil saja, saya kalah bila harus menyetrika bajunya.
Tanpa menyakiti hati saya, ia bilang lebih puas dengan hasil
setrika sendiri.

Februari 2011, Abang mengemban amanat, jadi satu anggota tim yang menyusun
sebuah buku coaching di Kantor Pusat. Ia siap mengutarakan sejumlah gagasan
untuk penyempurnaan program itu. Sayang, dalam perjalanan menuju medan
tugas itu, Abang menyongsong takdirnya. Satu titik dalam sebuah periode
yang mengubah total kehidupan saya dan anak-anak.

* * *
DUA KALI KAMI tertunda berangkat haji. Pada akhir 2008, kami sudah siap.
Namun, Abang mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang tugas dari
Palembang menuju Jambi. Tabungan kami untuk Ongkos Naik Haji pun akhirnya
terpakai untuk biaya mengganti mobil dinas Livina yang ringsek. Abang tak
mau memanfaatkan fasilitas asuransi kendaraan kantor. Dia
memilih bertanggung jawab sendiri. Uang bisa dicari, mungkin Allah belum
berkehendak. Yang penting Abang selamat. Tahun 2009 pun kami lewatkan.
Maklum, masih belum cukup biaya untuk melunasi. Hingga akhirnya, 2010, saya
mantap naik haji. Berapapun biayanya. Apapun kendalanya. Saya berdoa,
“Mudahkan ya Allah, kami ingin beribadah.”Alhamdulillah, ada jalan walaupun
kami harus memanfaatkan pinjaman kantor saya. Itupun Abang masih ragu,
“Bunda, apakah ini hak kita?” tanya Abang. Padahal, dengan gajinya
sekarang, mungkin Abang bisa saja langsung melunasi ONH. Namun tidak
demikian. Abang masih bersikeras dengan alasannya. Alhamdulillah akhirnya
saya dapat memantapkan hati Abang. Dengan izin-Nya, kami bisa melunasi ONH
dari hasil tabungan gaji pokok PNS, bonus, dan sedikit tambahan pinjaman.
November, tiga bulan sebelum kehilangannya, berangkatlah kami berdua.
Sepertinya Allah sudah menyusun rencana dengan sangat indah. Empat puluh
hari saya bersamanya di tanah suci adalah waktu yang sangat indah dan tak
dapat saya lupakan. Selama kami berumah tangga dari awal menikah, kami
belum bisa kumpul bersama. Saat itulah saya merasakan indahnya kebersamaan
yang tak ingin terpisahkan. Sempurna rasanya sebagai istri yang bisa
melayani dan mengurus suami. Begitupun Abang. Ia menunjukka keceriaan yang
tak pernah saya lihat sebelumnya. Abang adalah tipe orang yang sangat
perhatian dan romantis. Satu kali kami hendak salat dan saya berdiri di
samping belakangnya. “Bunda salatlah di saf (barisan) perempuan.” “Tapi,
Ayah… Bunda sendirian.” kebetulan saat itu suasana padat sekali di Masjidil
Haram. Saya sempat mengelak.

“Berjihadlah, ayah bertanggung jawab mendidik Bunda dan anak-anak.” Sedih
rasanya mendengar jawaban itu. “Bunda harus terbiasa sendiri,” sambung
Abang.

“Kenapa, Yah?”
“Karena kita lahir sendiri. Mati pun sendiri.”
“Jangan bilang gitu yah. Anak-anak masih kecil.”
“Ada Allah yang menjaga anak-anak,” Senyumnya membuat hati saya merasa
tenang dan yakin. Ternyata ini pesantren yang Allah berikan lewat ilmu
agama yang baik dari Abang. Saya dapat pengetahuan banyak.Terima kasih ya
Rabb, Kau telah memberikan kesempatan untuk kami dapat beribadah bersama.
Sungguh, momen itu tak mungkin bisa terlupakan. Banyak nikmat yang
kami terima sampai kami tiba ke tanah air dengan selamat. Hadiah terindah
dari Tanah Suci, saya positif hamil.

Beberapa peristiwa merupakan pertanda yang tak saya sadari. Tanggal 9
Februari 2011, dua pekan sebelum hari celaka itu, kami nonton teve bareng.
Ada berita tentang selebritis yang jadi politisi kehilangan suaminya –yang
juga artis cum anggota Dewan. Sang istri menangis mengelus-elus nisan
suami. “Kalau Bunda seperti itu gimana, ya Yah? Anak-anak masih kecil…”
spontan saya nyeletuk dengan maksud bercanda.

Entah kenapa rasa humor yang seperti biasanya, hilang tergantikan dengan
tausyiah. “Itu yang tidak boleh,” tuturnya tenang, “menangis, meratapi di
pusara tidak baik. Yang diperlukan orang yang telah meninggal adalah doa
dari yang masih hidup, bukan bunga yang wangi atau nisan yang indah. Saat
Nabi Muhammad ditinggal istri tercinta Khadijah pun beliau merasakan
kehilangan dan hanya berkabung tiga hari. Boleh menangis, asal jangan
meratap.”

“Hidup di dunia hanya sementara, justru hidup setelahnya yang akan kekal.
Perbanyaklah bekal untuk di akhirat. Tiada daya upaya manusia untuk
mencegah bila Allah telah berkehendak untuk mengambil nyawa manusia. Jangan
takut, Allah lebih dekat dari urat nadi kita. Banyak baca buku tentang
agama, yah Bun. Biar tambah banyak ilmunya.”
Dengan senyuman khas yang menenangkan, Abang tak pernah seperti sedang
mengajari bila ia sedang berbagi ilmu. Abang berujar, “Tolong jaga
anak-anak. Didik agamanya dengan baik. Istikamahlah karena bila agamanya
kuat dan takut kepada Allah, dia bisa menghadapi dunia dengan ilmu. Bukan
dengan harta dan ingat Allah selalu tahu apa yang kita perbuat.”

* * *
SEMENJAK PULANG ZIARAH, Abang memperlakukan saya begitu istimewa. Mungkin
karena saya sedang hamil. Saya begitu dimanjanya. Hingga Minggu malam itu
(20/2)… Kehamilan dua anak sebelumnya, Abang tak pernah menuruti keinginan
saya, sekalipun merajuk jika meminta sesuatu. Tapi malam itu… “Kita makan
di luar yuk. Bunda pasti pengen apa deh. Kan lagi hamil muda. Ayo lagi
kepengen apa?” ujarnya setengah memaksa untuk pergi. Akhirnya kami pergi
makan di sebuah resto ikan bakar favoritnya. Karena lama tugas di Makassar,
kuliner ikan wajib sebulan sekali buat kami. Abang memesan menu lebih
banyak dari biasanya. Alasannya, bisa dibungkus untuk sahur. Alhamdulillah,
Senin-Kamis tak pernah terlewatkan untuk puasa sunah. Apa ini yang disebut
pertanda? Hendak berangkat ke resto, kami mendapati ban mobil
kempes. “Bersyukur, Bunda. Kita keluar rumah nih. Ban kempes, kalo
ketahuannya besok pagi, bisa-bisa Ayah kesiangan rapat di Kantor Pusat.
Ayah yang menyiapkan ide, masak terlambat? Gak enak dong.”Lagi lagi dengan
senyumanya.

Tengah malam, Kayyisah panas dan muntah. Rewel sekali. “Dede (panggilan
Kayyisah) pengen tidur sama Ayah aja…. Pengen dipeluk Ayah… aku sayang
Ayah. Ayah gak boleh kerja,” rengeknya. Abang pun membuka baju, dan memeluk
Dede. Dan Alhamdulillah panasnya reda. Dede pun terlelap.

Pukul setengah tiga dini hari, kami bangun salat tahajud. Biasanya, kami
selalu berjamaah. Setelah berdoa, kami berpelukan, saling meminta maaf.
Ritual itu tak pernah absen kami lakukan sehabis salat. Tapi kali ini Abang
minta salat sendirian. “Kita pisah yah. Ayah mau memperbanyak
salat tahajudnya.”

“Kenapa?” pertanyaan itu mestinya saya ungkapkan. Tapi tertahan di hati
saja.

Ikan bakar yang seharusnya jadi menu sahur tak Abang sentuh. Malah, Abang
meminta buah. “Bun, tahu gak buah-buahan itu makanan di surga. Jadi Ayah
cukup sahur dengan apel aja.” Saya tak bertanya, dua minggu terakhir ini
Abang bertausyiah tentang kematian terus. Keanehan yang lain, Abang
menitipkan Dede sama Mbak (pengasuh anak kami) berulang-ulang.

“Tak seperti biasanya, Bapak nyuruh jagain Dede berulang gitu. Kok kaya mau
kemana aja,” ujar Mbak kepada saya. Jam 03.30 pagi. Saya dan Dafi
mengantarnya hingga ke pool travel Xtrans di Metro Trade Center. Keanehan
yang lain terjadi lagi. Abang tak mau memandang saya. Seperti orang yang
sangat sedih mau pergi. “Ayah mau salat di mobil saja. Bun, hati-hati ya.
Titip anak-anak,” itu kalimat terakhirnya. Biasanya Abang minta berhenti di
rest area guna salat subuh.

Tepat pukul 04.30. Ring tone hape yang sengaja saya bedakan berbunyi. Abang
menelepon saya. Sayang, tak sempat saya angkat karena rasa kantuk. Kami
begadang karena Dede rewel semalaman. Seandainya saja saya bisa angkat
telepon itu, mungkin saya bisa mendengar suaranya yang terakhir kali…

Pukul 04:35. Menurut catatan kronologis Jasa Marga, peristiwa di Tol
Cipularang Jalur B Km 100 itu terjadi. Tabrakan karambol yang melibatkan
satu truk, minibus travel, dan sebuah mobil, menewaskan tiga orang.
Semuanya penumpang travel. Abang meninggalkan kami dalam keadaan puasa. Dan
mungkin tengah mendirikan salat subuh. Dalam perjalanan memenuhi tugas.

Di mata saya, Abang wafat dalam jihad. Wallahualam –Tuhan yang punya
ketentuan.

Allah punya kehendak lain. Allah lebih mencintai Abang daripada kami. Dia
lebih berhak atas Abang daripada kami. Ajal, jodoh, dan rejeki hanya Allah
yang tahu kapan dan di mana. Takkan pernah ada yang bisa menghalangi atau
pun tertukar. Bila Allah telah berkehendak, tak ada yang mampu menahannya.
Allah memberi kesempatan untuk saya agar lebih dekat dan banyak beribadah
lagi. Insyaallah ini menjadi ladang ibadah.
Menyangkut kejadian ini, jangan ditanya rasa sedih. Yang saya rasakan
hingga saat ini, air mata sepertinya tak bisa kompromi, seakan mendesak
keluar, jika mengingatnya. Namun, saya ingat pesan almarhum. Saya tak boleh
larut dipermainkan pikiran “seandainya-seandainya”. Itu semua sudah
kehendak-Nya. Tak kurang dan tak lebih. Sudah begitu adanya. Hanya doa saya
dan anakanak yang bisa kami berikan untuk kekasih kami… Ismail Najib.

Kirim email ke