Dari Mbak Nani di Tarbawi, ia mengirim SMS utk memperingati Hari Ibu, sbb:
Ibu adalah Madrasah Pertama Insan.
Dibalik kelembutannya terdapat aura ketegaran yg menyejukkan.
Di dalam kasih sayangnya terdapat kekuatan.
Dalam kanannya ada gendongan kasih sayang...
Dalam kirinya terdapat ayunan harapan.
Sungguh, bukan sekedar kebetulan jika Rasul menyebutmu tiga kali berulang...
Karena engkau memang tak tergantikan.
Untuk para Ibu yang tak pernah merasa lelah berupaya mengantarkan anak-anaknya 
mendapat surga,
SELAMAT HARI IBU....
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!


http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-

http://nasional.vivanews.com/news/read/274035-hari-ibu-terus-diperingati--kdrt-terus-marak


Hari Ibu dan Seratus Ribu Kasus Kekerasan RT
"Peringatan hari Ibu cenderung melupakan sejarahnya dan yang mengemuka justru 
seremoninya"
KAMIS, 22 DESEMBER 2011, 07:04 WIB
Aries Setiawan


VIVAnews - Hari Ibu jatuh pada 22 Desember jangan hanya dijadikan sebagai event 
tahunan. Melainkan, harus benar-benar memberikan penghargaan untuk membebaskan 
kaum Ibu dari pelbagai bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, ekonomi 
dan seksual. 

Menurut Komisioner Komisi Nasional Perempuan untuk Pendidikan, Riset dan 
Partisipasi Masyarakat, Neng Dara Affiah, saat ini para istri dan ibu belum 
terbebaskan dari kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga. 

Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2010, dari total 105.103 kasus kekerasan 
terhadap perempuan, 96 persen atau 101.128 kasus adalah perempuan korban 
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Sementara itu, hasil dokumentasi Komnas Perempuan sejak tahun 1998-2010 
menunjukkan 1/4 atau 93.960 kasus adalah kasus kekerasan seksual berupa 
perkosaan, pelecehan seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, 
eksploitasi seksual, penyiksaan seksual, dan sebagainya.  

"Kasus yang kini marak dan peristiwanya terus berulang adalah perkosaan dalam 
angkutan kota. Hal ini semestinya menjadi perhatian penting pemerintah, 
terutama pemenuhan keadilan dan pemulihan bagi perempuan korban dan memberi 
sangsi hukum yang setimpal bagi para pelakunya," kata Neng Dara dalam 
keterangan persnya yang diterima VIVAnews.com, Kamis 22 Desember 2011.

Jika kekerasan terhadap perempuan masih sangat menguat di sekitar masyarakat, 
maka pemberdayaan terhadap perempuan akan sangat sulit dilakukan. Sebab, kata 
Dara, prasyarat perempuan untuk berdaya adalah membebaskannya dari kekerasan 
dalam bentuk apapun. 

"Kekerasan terhadap perempuan berdampak secara mental pada depresi dan 
kerapuhan jiwa yang akut, kemampuan menyelesaikan masalah yang rendah,  
keinginan untuk bunuh diri atau membunuh pelaku. Secara fisik pun ia akan 
berdampak masalah-masalah kesehatan reproduksi perempuan,” jelasnya.

Dara menjelaskan, kaum Ibu dan perempuan bukan hanya memiliki peran penting 
dalam kehidupan, melainkan dalam konteks publik dan kebangsaan. 

"Hari Ibu adalah hari dimana sejumlah organisasi perempuan pada tahun 1928  
berkumpul dan melakukan Kongres Perempuan I yang dihadiri 1000 orang untuk  
mendeklarasikan perjuangan melawan kolonialisme, memikirkan konsep negara 
bangsa dan mengantarkan pada apa yang disebut sebagai era Kebangkitan 
Nasional," jelasnya.
Peran penting inilah, menurut Dara, yang sering dilupakan oleh sejarah bangsa 
dan generasi berikutnya bahwa seolah-olah kaum perempuan dan kaum ibu tidak 
memiliki kontribusi signifikan dalam  gerakan kebangkitan nasional dan 
pembentukan Indonesia sebagai negara bangsa. 

"Peringatan hari Ibu cenderung melupakan makna sejarahnya dan yang mengemuka 
justru seremoninya,” cetusnya.• VIVAnews

Kirim email ke