Dari milist sebelah...
Inspiratif....

---------- Forwarded message ----------
From: Fathul Rachman < <[email protected]>>
Date: 2012/5/14
Subject:  Ayo Semangat................

True Story.

Maaf buat yang pernah membaca.

Sungguh sebuah karunia yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan
seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal
Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy yang kemudian
menjadi Vice President Citibank di Indonesia.



Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank
sendiri berada di USA. Tepatnya 10 Juni 2010, saya berkesempatan bertemu
pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang
diadakan oleh kantor saya, Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva
International, Jakarta. Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang
luar biasa mencerahkan, salah satu nya saya peroleh dari Pak Houtman.
Berikut kisah inspirasinya:Sekitar tahun 60an Houtman memulai karirnya
sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan Ibukota.

Merantau dari kampung dengan penuh impian dan harapan, Houtman remaja
berangkat ke Jakarta.



Di Jakarta ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan
ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi
seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak mudah diperoleh. Houtman
pun memilih bertahan hidup dengan profesi sebagai pedagang asongan, dari
jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan
dagangannya. Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman kehilangan
cita-cita dan impian.



Suatu ketika Houtman beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia
memperhatikan kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta.
Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman
remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai kendaraan berpendingin,
berpakaian necis dan tentu saja memiliki uang yang banyak.

Saat itu juga Houtman menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah
cita-cita dan tekad diazamkan dalam hatinya. Azam atau tekad yang kuat dari
Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib.



Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja
ke setiap gedung bertingkat yang dia ketahui. Bila ada gedung yang
menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran
kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari
berdagang asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.



Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan
yang sangat terkenal dan terkemuka di Dunia, The First National City Bank
(citibank), sebuah bank bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja
sebagai seorang Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam
sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor,
wc, ruang kerja dan ruangan lainnya.Tapi Houtman tetap bangga dengan
jabatannya, dia tidak menampik pekerjaan.



Diterimanyalah jabatan tersebut dengan sebuah cita-cita yang tinggi.

Houtman percaya bahwa nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman
telah membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas dan pekerjaannya dengan
baik. Terkadang dia rela membantu para staf dengan sukarela.

Selepas sore saat seluruh pekerjaan telah usai Houtman berusaha menambah
pengetahuan dengan bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya
mengenai istilah istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya
dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf mengernyitkan dahinya.



Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain nih OB nanya-nanya istilah bank
segala, kayak ngerti aja”. Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit
familiar dengan dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi,
Transfer, Kliring, dll. Suatu saat Houtman tertegun dengan sebuah mesin
yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini dikenal dengan mesin photo copy).
Ketika itu mesin foto kopi sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan
tertentu lah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas
khusus untuk mengoperasikannya.



Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi
mesin tersebut dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya.

Houtman pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin foto kopi, dan tanpa di
sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari petugas mesin
foto kopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa
menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai
Tukang Foto Kopi.



Menjadi tukang foto kopi merupakan sebuah prestasi bagi Houtman, tetapi
Houtman tidak cepat berpuas diri. Disela-sela kesibukannya Houtman terus
menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat
salah seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya.

Houtman pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang
staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu Houtman mengenang
ucapan sang staff dulu. “iya bener saya mau bantu, sekalian nambah ilmu”
begitu Houtman menjawab. “Tapi hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah
tanggungjawab lo, bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras.



Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah membubuhkan
stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu.

Stempel tersebut harus berada di dalam kolom tidak boleh menyimpang atau
keluar kolom. Alhasil Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk
menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali.

Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar mencap, tapi dia
membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi
sedikit memahami berbagai istilah dan teknis perbankan. Kelak
pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah
diduganya.



Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu
mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik. Dia pun ringan tangan untuk
membantu orang lain, para staff dan atasannya. Sehingga para staff pun
tidak segan untuk membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di
Citibank mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi
yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan SMA.



Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai Bank menjadi berita luar
biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff,
bahkan rekan sesama OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.
Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya, “jika masuk OB, ya
pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat. Houtman tidak
patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak
membuat goyah.



Houtman terus mengasah keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya
yang lain. Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena
materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam memegang suatu
jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang haus akan ilmu baru.

Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman
melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang
mengajarinya tentang istilah bank.



19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai Office Boy di The First
National City Bank, Houtman mencapai jabatan tertingginya yaitu Vice
President. Sebuah jabatan puncak citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi
citibank sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin
dijabat oleh orang Indonesia.Sampai dengan saat ini belum ada yang mampu
memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President,
dan hanya berpendidikan SMA.



Houtman pun kini pensiun dengan berbagai jabatan pernah diembannya, menjadi
staf ahli citibank asia pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu
gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi
banyak orang .(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam
training Leadership bank Syariah Mandiri) Penasaran?

Add pak Houtman di FB dgn search nama lengkapnya.
FR'72

Kirim email ke