diambil dari http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/45543
menyedihkan nasib saudara kita yg jadi korban banjir di daerah kep. Maluku sana.

ayo mari kita tingkatkan kepedulian kita kpd saudara-saudara kita yg terkena 
musibah.
mereka adalah sama-sama manusia.

apalagi banyak di antara mereka juga merupakan saudara sebanga, senegara, 
sesuku, seagama.

kalau bicara politik dan bola pada hobi...mestinya bicara kemanusiaan harus 
lebih hobi lagi.

ayo bantu saudara-saudara kita.


 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  
http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-=-

http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/45543 


Catatan Perjalanan : Disaat Normalpun Korban Bencana di Pulau Seram Kekurangan 
Pelayanan Kesehatan
dr Era Catur Prasetya bersama Karsim (berompi biru) , perawat RS Muh Lamongan
Ambon – Relawan yang juga Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) 
Jawa Timur, dr Era Catur Prasetya, mengungkapkan kisah perjalanan melayani 
korban banjir di Dusun Ely Jaya Desa Luhu Kecamatan Huamual Seram Bagian Barat 
pada hari selasa (7/8). Dokter muda ini menyisir P Seram bersama Korbid Tanggap 
Darurat MDMC, Budi Santosa,  Karsim Ners -  perawat dari RS Muh Lamongan, Riva’ 
Tuhuleley - seorang relawan asal Maluku yang sempat bertugas pada saat Gempa 
Sumatera Barat dan tiga orang dari Dinas Kesehatan Provinsi Maluku.

“Setelah sholat shubuh kami meluncur ke pelabuhan Hila yang terletak di jazirah 
Leihitu atau bagian utara pulau Ambon, untuk kemudian menyeberang dengan perahu 
kecil ke Pulau Seram bagian barat” demikian dr Catur mengawali kisah. “Suasana 
dari mulai Hitu, Wakal, sampai Hila mirip sekali dengan  Jawa, kanan kirinya 
masjid” kisahnya kemudian.

Setelah satu jam perjalanan yang sempat diselinggi dengan bocornya ban mobil, 
sampailah tim kecil ini di pelabuhan kecil bernama Hila . “ Alhamdulillah bulan 
ini angin muson timur berhembus,  sehingga ombak tenang” kisah dr Catur.  

Perjalanan tim dilanjutkan dengan perahu kecil bermotor lebih kurang dua jam 
untuk sampai ke dusun pertama.  “Awalnya saya pikir kami akan naik kapal besar 
atau minimal feri, ternyata dengan kapal mungil meluncurlah kami ke Eli Jaya 
dusun pertama dari empat  dusun yg akan kami assessment dan  pelayanan 
kesehatan” kisahnya. “Itu tanpa pelampung he he he “ lanjutnya diringi tawa 
khas dokter muda yang bertugas di RS Muhammadiyah Lamongan ini.

Selain melanda 5 kecamatan di Kota Ambon,  banjir juga menimpa beberapa wilayah 
di Kecmatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat. Desa yang terlanda antara 
lain : Desa Luhu, Dusun Amaholu Losy, Mangge-Mangge, Nasiri, Limboro dan Dusun 
Saluku. Diberitakan juga di dusun Ely Jaya, masih di kecamatan yang sama, 
banjir telah menrenggut nyawa  Kepala Dusun, La Sarama dan imam masjid setempat 
atas nama La Edy

Pelayanan di Ely Jaya
Kerusakan akibat banjir di dusun Ely Jaya (foto : Riva'i Tuhuleley)

Seperti halnya dusun - dusun  lain di pulau Seram, Eli Jaya terletak persis di 
pesisir pantai, dibatasi lautan di sebelah luar dan dikelilingi perbukitan 
disebelah dalam. Dusun Ely Jaya berpenduduk lebih kurang 94 KK,  yang semuanya 
beragama Islam. Dusun ini termasuk dusun termiskin dari dusun-dusun yang 
kemudian didatangi oleh tim pada hari itu juga.

Menurut dokter Catur penduduk berusia dewasa yang periksa rata- rata menderita 
anemia, anak-anaknya perutnya besar - besar, khas penderita cacingan. Sementara 
lansianya banyak yang sudah tidak terurus.

“Sudah hampir tiga bulan tidak ada kunjungan pemeriksaan kesehatan di kampung 
ini, kata penduduk yang ada hanya kunjungan anggota dewan, mereka berfoto dan 
kemudian berangkat pergi lagi” kisah dr Catur.

“Sementara lingkungannya seperti tidak terurus, di tepi pantai kami juga 
menjumpai bangkai anjing tergeletak begitu saja” lanjutnya.

Di dusun tersebut, laki-laki bekerja sebagai nelayan, sedangkan perempuan 
bekerja di kebun-kebun cengkeh di atas bukit yang berada di sela-sela hutan. 
Curah hujan yang deras bulan ini menyebabkan banjir yang menyapu 23 rumah 
dikawasan ini. Seperti dinyatakan diatas, korban jiwa yang ditemukan meninggal 
tidak ada, tetapi kepala dusun dan khatib masjid dinyatakan hilang.

Di balai dusun  tim MDMC bekerjasama dengan dinas kesehatan provinsi Maluku 
mengadakan pengobatan masal, ada lebih kurang 100 pasien yang dilayani tim. 
Penyakit terbanyak  Myalgia (nyeri otot) dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan), 
ditemukan juga tiga kasus batuk darah yang butuh penanganan lebih lanjut 
seharusnya.

Di dekat dusun tersebut sebenarnya ada puskesmas . “Tapi saat ini hanya berupa 
bangunan diam yang terendam banjir dengan seorang perawat, tanpa pasien” 
kisahnya kemudian.

“Kami baru sampai kota ambon lagi pukul 21.00 WIT, dan dilanjut koordinasi 
hingga jam 04.00 pagi.  Karena ketiduran saya ketinggalan pesawat pulang ke 
Yogyakarta” demikian Budi Santosa ikut menambahkan kisah perjalanan di Pulau 
Seram tersebut. “Ombak lumayan membuat kami pusing, ketika perjalanan pulang 
melintas laut dari Seram menuju ambon” kata Riva’i Tuhuleley juga menambahkan.

Bersinergi dengan pemerintah daerah menjadi kode etik tim MDMC ketika turun 
dalam penanggulangan bencana. Langkah ini menjadi upaya kongkrit upaya MDMC 
untuk memperkuat pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana. Karena relawan 
bisa saja datang dan pergi, sementara pemerintah daerah bagaimanapun juga 
adalah instutusi yang terdekat di lokasi bencana bersama masayarakat setempat.

Tim kesehatan Muhammadiyah gelombang pertama yang dikoordinasikan oleh MDMC 
bertugas dari tanggal 5 hingga 14 Agustus 2012. Direncanakan tim kedua akan 
berangkat tanggal 13 agustus 2012. Sementara posko Muhammadiyah Maluku di kota 
Ambon yang digawangi MDMC Maluku bersama kader muda Muhammadiyah menyalurkan 
bantuan logistik, pakaian dan membantu membersihkan rumah yang terendam lumpur.

dr Era Catur bersama tim Dinas Kesehatan Provinsi Maluku (foto : Riva'i 
Tuhuleley)

Kirim email ke