---------- Forwarded message ----------
From: Aan Suwandoko <[email protected]>
Date: 2012/11/18
Subject:  Rhenald Kasali: Ahok, Jangan Pecahkan Batu!


Rhenald Kasali memberikan analisa kritis tentang gaya manajemen Ahok yang
disebut sebagai gaya "memecah batu".  Dan RK memberi saran alternatif
dengan metoda "memanaskan minyak yang beku".
Saya sendiri berharap Ahok masih terus bekerja denga gaya manajemen seperti
ini untuk melawan bikrokrasi yang korup dan tidak beorientasi kepada rakyat
seperti selama ini.
Mudah-mudahan dalam 2-3 tahun mendatang Rhenald Kasali bisa menulis ulang
tentang topik yang sama namun telah disertai dengan bukti empiris: apakah
manajemen "memecah batu" ini gagal atau sukses?

Salam,
Aan

 Ahok, Jangan Pecahkan Batu!
Hampir semua media minggu ini menurunkan berita tentang rapat yang dipimpin
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan Dinas
Pekerjaan Umum (PU).

Berita ini ramai beredar di hampir semua media jejaring sosial dan
dikomentari begitu luas.Akan berhasilkah Jokowi- Ahok memperbarui cara
kerja unit pemerintahan yang ditanganinya? Setiap orang yang memimpin
perubahan selalu punya cara. Ada cara “geram” bak membelah batu untuk
mendapatkan pecahan-pecahan yang diinginkan, tetapi ada juga yang memilih
cara memanaskan minyak yang membeku. Anda tinggal memilih, cara apa yang
Anda lakukan.

Semua ada konsekuensinya dan ada masalahnya masingmasing. Namun satu hal
yang jelas,Anda tak bisa mengontrol apa yang telah terjadi, tetapi Anda
bisa menentukan bagaimana Anda bereaksi terhadap hal-hal yang telah
terjadi. Reaksi Anda itulah pada akhirnya akan menentukan hasil apa yang
bisa didapatkan dari perubahan yang Anda gulirkan. Mari kita lihat
bagaimana Ahok membelah batu.

*Membangunkan yang Tertidur *

Seperti Anda, saya melihat Ahok melakukan rapat dengan Dinas PU di situs
web video berbagi YouTube (diunggah 8 November 2012).Tanpa basabasi, mantan
Bupati Belitung Timur itu langsung mengarahkan anggaran Dinas PU untuk 2013
dipotong 25%.“Sebelum dimulai apakah pagu anggaran sudah dipotong 25% untuk
biaya-biaya pembangunan ini, dan diduga dipotong 40% pun bisa. Kita potong
25% saja.

Saya kira fair, kami Gubernur dan Wakil Gubernur meminta 25% untuk kami
dikembalikan dalam bentuk APBD, dipotong,“ kata Ahok. “Ini kita siarkan
langsung di Youtube.Saya tidak ingin pembicaraan saya tidak diketahui semua
orang.Semua jelas.Jadi, mulai hari ini pembahasan anggaran di DKI semua
transparan, terbuka,”tegasnya dalam video itu.

Kalau pengurangan tersebut tidak dilakukan, dia berjanji akan membawa
masalah ini ke KPK.“Kalau bapakbapak ngotot tidak mau, saya akan taruh
anggaran ini di website.Semua orang akan tahu. Akan saya minta KPK untuk
periksa ini semua,”ujarnya. “Tidak usah berdebat. Kedua, saya hapus proyek
itu. Kasih saya speknya.Saya akan bangun dengan uang operasional saya. Saya
akan periksa kerjaan tahun-tahun lalu, saya akan buka koreng lama, saya
akan proses ke KPK dan ke kejaksaan.

“ Ahok juga mengatakan pihaknya akan mencopot seluruh pejabat Dinas PU
hingga eselon III jika anggaran pembangunan tidak bisa disesuaikan.“ Bukan
mengancam.Atau yang kedua, pembangunan kita tunda,tapi kita copot sampai
eselon III.Kita akan perang terbuka. PU tidak punya pilihan, yang jelas PU
harus potong harganya,”tutur dia.

Sepintas tak ada yang salah. Sama seperti Anda,kita semua geram melihat
cara kerja birokrasi yang dipercaya publik boros, tidak kritis,dan konon
“mudah dibeli” oleh kelompokkelompok tertentu. Politisi
bermain,pengusahapreman ikut memeras, dan mereka membiarkannya. Begitulah
jalan pikiran publik.

Memang selain melayani publik dengan servant leadership, “memecahkan batu”
adalah cara yang lazim ditempuh orangorang yang geram ketika mendapatkan
kursi di pemerintahan untuk melakukan change! Batu yang dipecahkan adalah
bagian dari manajemen mafia, yang berarti upaya memotong “tangan-tangan
liar” yang membelenggu organisasi pemerintahan.

Di luar sana,seperti layaknya sebuah kekuatan mafia-like,para peserta
tender sudah siap meraih kemenangan dengan badan-badan yang kuat. Ada ahli
gebrak meja, ada yang bertugas melobi pejabat di kamar-kamar karaoke di
sekitar area Mangga Besar dan daerah Kota,ada ahli hukum yang tak kalah
gertak, dan ada “good guy”yang cukup senyum sana-sini di lapangan golf,
atau jago-jago lain di gedung parlemen.

Semua saling terkait dan saling berbagi, melibatkan uang yang tidak
sedikit. Bahkan sampai ke operator- operator di lapangan yang mengatur
pembebasan lahan atau melibatkan ormas bayaran. Tak masalah “memecahkan
batu” karena kita butuh pemimpin yang berani, yang heroik. Tapi benarkah
ini efektif dalam melakukan perubahan?

*Strategic Management *

Dari CV-nya saya membaca Ahok pernah bersekolah di institut sekolah bisnis
yang cukup terpandang.Jadi ia pasti tahu bagaimana mengambil
langkah-langkah strategis. Semua itu harus dimulai dari selembar kertas,
bukan dari omongan yang ditayangkan di YouTube. Omongan bisa berubah,
tetapi strategi harus dibuat dengan argumentasi yang mendalam dan dibuat
tertulis untuk dimengerti semua orang dalam lingkaran kerjanya.

Perubahan menuntut adanya birokrasi. Ibarat tidur beramai-ramai, mimpi kita
harus sama sehingga jalannya juga sama. Iramanya beriringan. Tentu saja ini
sulit.Menulisnya butuh waktu dan sakit kepala.Orangorang Jepang yang sukses
membangun berupaya memilih capek di depan dan bekerja dengan
konsensus.Kalau di dalam sudah matang, baru digerakkan beramai-ramai. Lain
strategic management, lain lagi change management. Di situlah “kegeraman”
bermain. Letih,marah,gemas,dan ingin cepat melihat hasil.

Kata Jhon Kotter, upayakanlah “kemenangan- kemenangan jangka pendek”. Ahok
pun membelah batu supaya segera ada hasil.Namun di layar video di YouTube
saya melihat banyak birokratnya yang pura-pura tak menaruh perhatian. Asyik
melihat-lihat kertas, bingung, tak berani berdebat, melihat BB,pasif,siap
menerima nasib, atau ada kepura-puraan?

Saya tidak tahu persis.Tapi bukan birokrat namanya kalau orientasinya bukan
komando. Tapi change management bukan war management yang asal gempur. Ahok
harus berpikir lebih strategis, bukan sekadar memenangi pertempuran.
Jenderal yang hebat bisa kehilangan satu dua battle field, tetapi akhirnya
ia harus bisa memenangi perang. Nah apa jadinya bila cara membelah batu
kita pakai?

*Memanaskan Minyak *

Di Samarinda bulan lalu, Elprisdat M Zein,Ketua Dewan Pengawas
TVRI,memaparkan rencana-rencananya untuk meremajakan organisasi “tua” yang
tengah ngos-ngosan itu.Di depannya duduk jajaran direksi, anggota Dewan
Pengawas, dan para kepala stasiun yang dulu Anda sering lihat di layar
kaca. Bedanya mereka kini sudah sangat berumur dan wajahnya tak seterkenal
di masa lalu. Tapi dari pertanyaan- pertanyaan yang mereka ajukan saat saya
memaparkan cara menghadapi perubahan, suara mereka yang berwibawa masih
saya kenali.

Hanya saja, mohon maaf, di mata anak-anak muda TVRI yang saya temui,
sebagian besar orang-orang tua dianggap feodal, tak mau mendengarkan, sudah
ketinggalan zaman, tidak terbuka terhadap diskusi, dan tentu saja iklim ini
sangat bertentangan dengan industri yang mereka geluti: industri kreatif.
Elprisdat yang mantan penyiar, produser, dan eksekutif di ANTV bukan tidak
tahu itu.

Bedanya, ia menuangkan semua masalah itu di atas kertas dan membangun
koalisi dengan orang-orang yang berada di dalamnya. Berbeda dengan cara
Ahok membelah batu, Elprisdat menyatakan kepada saya bahwa ia tengah
“memanaskan minyak yang membeku”. “Kalau membelah batu, maka residunya akan
terasa di pojok dan residu-residu itu merasa terancam karena akan dibuang.
Saya memilih memanaskan minyak agar semua bisa ikut berperan menghadapi
perubahan.

” Saya ingin mengajak Ahok berpikir lebih strategis karena saya yakin Ahok
mewakili kegemasan kita semua.Tapi kita perlu mengingatkan Ahok, cara yang
ditempuh bisa rawan bagi organisasi. Sudah sering kita saksikan perubahan
yang dilakukan dengan cara membelah batu berujung pada kesulitan demi
kesulitan,bahkan sangat dialektis.

Kasusnya cukup banyak. Alih-alih melakukan sintesis kreatif,perubahan
dengan cara ini justru menjadi sangat problematis karena kurang inspiratif
ke dalam dan tak menampung partisipasi internal. Ahok perlu sedikit
bersabar agar aparat-aparatnya berperang bersama dirinya melawan para
mafia. Cara membelah batu memang heroik, tetapi bisa berakibat mereka akan
bergabung bersamasama para mafia melawan kita. Musuh perubahan itu bukanlah
anak buah yang sangat bermain, melainkan yang di luar sana.

Kalau tidak berhati-hati perubahan akan berputar bak lingkaran setan
seperti yang dapat Anda lihat dalam buku Change yang saya tulis 2005 lalu.
Cara itu antara lain pernah ditempuh para direksi TVRI beberapa tahun lalu
yang berakibat perubahan menjadi kandas dan perseteruan tak pernah
berhenti. Mereka hanya sibuk berkelahi, bukan memperbaiki. Kini TVRI memang
dalam fase baru perubahan.

Cara yang ditempuh bukan lagi membelah batu,melainkan memanaskan minyak
yang membeku. Memang, ia tak lari sebanding RCTI, SCTV, Metro TV,atau TV
One,tetapi ia pasti akan berubah.Tanpa perhatian, tetapi semua kelak akan
ikut. Ahok perlu berefleksi agar jangan hanya fokus pada pemenangan
pertempuran, melainkan memenangi peperangan. 

*RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI*

http://www.seputar-indonesia.com/analystofthemonth/ahok-jangan-pecahkan-batu
-- 

Salam, Aan
~Tanah mesti ditanami, sebab hidup tidak hanya hari ini.
Malam tidak akan berubah menjadi pagi hanya dengan memaki-maki ~ WdT

Kirim email ke