Semoga kita tidak menjadi katak dalam tempurung dimasa yad.

-----Original Message-----
From:   Jaringan Kerja Budaya [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
<mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]> 
Sent:   Saturday, February 10, 2001 3:42 AM
To:     [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
Subject:        [komunitasbambu] CIA di Indonesia (Kompas, 9/2/2001)

Berikut kami kirimkan tiga tulisan dari Maruli Tobing, mengenai CIA dalam
sejarah Indonesia, yang dimuat dalam Kompas, 9/2/2001. Selamat mengikuti.
 
 
Kompas, Jumat, 9 Februari 2001

  _____  


Bung Karno di Tengah Jepitan CIA

TANGGAL 7 Desember 1957, pukul 19.39, Laksamana Felix Stump, panglima
tertinggi Angkatan Laut (AL) AS di Pasifik, menerima perintah melalui
radiogram dari Kepala Operasi Angkatan Laut (AL) Laksamana Arleigh Burke.
Isinya, dalam empat jam ke depan gugus satuan tugas di Teluk Subic,
Filipina, bergerak menuju selatan ke perairan Indonesia. "Keadaan di
Indonesia akan menjadi lebih kritis," demikian salah satu kalimat dalam
radiogram tersebut. 

Kesibukan luar biasa segera terlihat di pangkalan AL AS. Malam itu juga
satuan tugas dengan kekuatan satu divisi kapal perusak, dipimpin kapal
penjelajah Pricenton, bergerak mengangkut elemen tempur dari Divisi Marinir
III dan sedikitnya 20 helikopter. "Berangkatkan pasukan, kapal penjelajah
dan kapal perusak dengan kecepatan 20 knots, yang lainnya dengan kecepatan
penuh. Jangan berlabuh di pelabuhan mana pun," bunyi perintah Laksamana
Burke. 

Inilah keadaan paling genting, yang tidak sepenuhnya diketahui rakyat
Indonesia. Perpecahan dalam tubuh Angkatan Darat, antara mereka yang pro dan
kontra Jenderal Nasution, serta yang tidak menyukai Presiden Soekarno,
mencapai titik didih. Pada saat yang sama, beragam partai politik ikut
terbelah memperebutkan kekuasaan. 

Kabinet jatuh bangun. Usianya rata-rata hanya 11 bulan. Paling lama bertahan
hanyalah Kabinet Juanda (23 bulan), yang merupakan koalisi PNI-NU. Situasi
memanas menjalar ke daerah, benteng terakhir para elite politik di pusat.
Daerah terus bergolak. Pembangkangan terhadap Jakarta dimulai sejak militer
menyelundupkan karet, kopra, dan hasil bumi lainnya. 

Militer Indonesia yang lahir dan berkembang dari milisi berdasarkan
orientasi ideologi pimpinannya, bukanlah jenis pretorian. Mereka tetap
kepanjangan dari parpol, entah itu PNI, PSI, Masyumi, PKI, dan seterusnya.
Terlalu kekanak-kanakan jika dikatakan tindakan sekelompok perwira mengepung
Istana Bogor dan mengarahkan meriam pada 17 Oktober 1952 sebagai ekspresi
ketidakpuasan semata, dan bukan percobaan "kudeta" terselubung. Demikian
pula ketika Kolonel Zulkifli Lubis mencoba menguasai Jakarta, sebelum
kemudian merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno dalam Peristiwa
Cikini, dengan eksekutor keponakan pimpinan salah satu parpol. 

Bagi Gedung Putih, inilah saat tepat melaksanakan rencana tahap III, yaitu
intervensi militer terbuka ke wilayah RI. Presiden Soekarno harus tamat
segera. CIA di bawah Allen Dulles telah mematangkan situasi. Melalui
jaringannya di Singapura, Jakarta, dan London, sebagaimana dikemukakan
Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya yang sudah diterjemahkan
ke bahasa Indonesia, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, agen-agen CIA
berulang kali melakukan kontak khusus dengan Sumitro Djojohadikusumo,
pencari dana untuk pemberontakan tersebut. Demikian pula dengan para perwira
pembangkang seperti Kolonel Simbolon, Kolonel Fence Sumual, dan sejumlah
perwira dan tokoh parpol lainnya. 

Namun, ketika perintah menggerakkan elemen Armada VII dikeluarkan, keputusan
itu tampak tergesa-gesa yaitu kurang dua jam setelah pembicaraan melalui
telepon antara Presiden Eisenhower dengan Menlu John Foster Dulles. Itu
sebabnya ketika gugus tugas AL di Teluk Subic bergerak, barulah kedua tokoh
ini sadar atas alasan apa intervensi nantinya dilakukan. 

Pemerintah Inggris, sekutu terdekat AS, sempat terperanjat dan menolaknya,
sehingga kapal-kapal perang tersebut kembali ke pangkalannya. Namun, setelah
lobi-lobi intensif, tanggal 23 Desember 1957 PM Harold Macmillan
menyetujuinya dan membentuk kerja sama operasi untuk Indonesia. 


***


PERTENGAHAN tahun 1958 Gedung Putih akhirnya harus mengakui kegagalannya
"menegakkan demokrasi" dan "membendung komunisme" di Indonesia. KSAD
Jenderal AH Nasution yang disebut AS sebagai antikomunis, bergerak di luar
perkiraan. Ia menerjunkan pasukan para merebut Bandara Pekanbaru. Dari
pantai timur, didaratkan Marinir untuk menggunting pertahanan pemberontak.
Alhasil, Dumai yang merupakan ladang minyak Caltex, berhasil diamankan. 

Pasukan Kolonel Akhmad Husein kocar-kacir, meninggalkan segala peralatan
perang, termasuk senjata antiserangan udara yang belum sempat digunakan.
Mereka tidak mengira serangan dadakan itu. Pesan rahasia dari Armada VII AS
agar meledakkan Caltex tidak sempat lagi dipikirkan. Padahal inilah nantinya
akan dijadikan kunci intervensi AS ke Indonesia. Dua batalyon Marinir AS
sudah siaga penuh. Dalam tempo 12 jam, Marinir ini akan tiba di Dumai. 

Sejak itu sesungguhnya tamatlah riwayat PRRI yang dimotori para kolonel
pembangkang serta tokoh PSI dan Masyumi. Pentagon tercengang. 

Pasukan PRRI makin terdesak, walaupun Sumitro Djojohadikusumo sebagai wakil
PRRI di pengasingan tetap optimis. Kota demi kota berhasil direbut TNI
hingga akhirnya para pemberontak hanya mampu melakukan perang gerilya
terbatas. Bersamaan dengan itu dukungan rakyat kepada pasukan Kolonel
Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Akhmad Husein, Kolonel Dahlan
Djambek, dan sejumlah perwira menengah lainnya, makin menciut. Bahkan
terjangkit perpecahan intern. 

CIA gagal membaca situasi. Atas rekomendasi CIA pula sedikitnya AS telah
mengedrop persenjataan bagi 8.000 prajurit pemberontak. Ini belum mencakup
meriam, mortir, senapan mesin berat, dan senjata antitank. AS juga melatih
sejumlah prajurit Dewan Banteng dan Dewan Gajah, yang diangkut dengan kapal
selam menuju pangkalan militernya di Okinawa, Jepang. Keunggulan dalam
sistem persenjataan dan pendidikan militer, ternyata bukan jaminan
superioritas dalam setiap pertempuran. 

Penguasa Gedung Putih mulai patah semangat. Tanda kekalahan kelompok yang
dibantu, yang disebutnya "patriot" sejati itu, makin jelas. Tetapi, CIA
dengan intelijen AL AS, tetap memasok informasi keliru. Dalam laporannya,
kekalahan pemberontak antikomunis akan mengguncang Malaya, Thailand,
Kamboja, dan Laos. Ini sangat berbahaya. Atas pertimbangan itu, AS akhirnya
tetap melanjutkan bantuan pada pemberontak, khususnya Permesta di Sulawesi
Utara. 

Belajar dari kekalahan PRRI di Sumatera, di Sulawesi Utara penerbang AS dan
Taiwan memberi perlindungan payung udara bagi Permesta. Pesawat pembom
malang-melintang memutus jalur transportasi laut. Ambon, Makassar, bahkan
Balikpapan dihujani bom. Korban terus berjatuhan. 

Namun, semua usaha ini juga menemukan kegagalan untuk menekan Jakarta.
Ofensif dibalas dengan ofensif. Jenderal Nasution terus mengerahkan pasukan
terbaiknya untuk merebut satu per satu pertahanan Permesta. Puncaknya ketika
ALRI menembak jatuh pesawat pembom yang dikemudikan Allen Pope, warga negara
AS, di Teluk Ambon pada 18 Mei 1958. Peristiwa ini tidak saja mengejutkan
publik AS, tetapi juga masyarakat internasional. Apalagi Allen Pope mengaku
bekerja untuk CIA. Kecaman terhadap agresi AS mulai mengalir. 

Tanpa sedikit pun merasa bersalah, AS kemudian dengan gampang putar haluan.
Dari membantu peralatan perang dan pelatihan pemberontak, serta menyebarkan
informasi bohong mengenai ancaman komunis terhadap stabilitas Asia Tenggara
jika pemberontak kalah, Gedung Putih kemudian memutuskan membantu ekonomi
dan militer Indonesia. 

Namun, kebijakan baru ini bukan berarti terputusnya hubungan dengan
pemberontak yang disebutnya masih punya "masa depan" itu. Melalui jaringan
CIA, sejumlah senjata ringan masih dipasok bagi DI/TII di Sulawesi dan Aceh,
serta Permesta di Sulut. Presiden Eisenhower menyebutnya sebagai "bermain di
dua pihak". 


***


KEBIJAKAN bermuka dua ini, tanpa peduli apa dan berapa banyak korban jiwa
dan harta benda. 

Lantas di balik selubung bahaya ancaman komunisme, AS selalu berhasil
memperdayai elite militer dan politik Indonesia. 

Gambaran lebih jelas mengenai Indonesia dikemukakan Presiden Eisenhower
dalam konferensi gubernur negara bagian AS tahun 1953. Ia mengatakan,
sumbangan AS sebesar 400 juta dollar AS membantu Perancis dalam perang
Vietnam bukanlah sia-sia. Jika Vietnam jatuh ke tangan komunis, negara
tetangganya akan menyusul pula. "Kita tidak boleh kehilangan Indonesia yang
sangat kaya sumber daya alamnya," ujarnya. 

Bagi AS, di dunia ini hanya dikenal dua blok, yaitu komunis dan liberal. Di
luar jalur itu dikategorikan sebagai condong ke komunis. Maka dengan
kosmetik demikianlah bagi AS tidak ada ampun untuk seorang nasionalis
seperti Soekarno. Tahap pertama operasi intelijen dengan membantu dana dua
partai politik besar yang disebutnya antikomunis, agar bisa merebut suara
dalam Pemilu 1955. Perolehan suara ini diharapkan akan mengurangi dukungan
bagi Soekarno. 

Perkiraan ini meleset. PKI yang paling tidak disukai AS dan dianggap loyal
terhadap Soekarno, justru memperoleh jumlah suara mengejutkan, hingga
menempatkannya di urutan kelima. Padahal tujuh tahun sebelumnya, atau tahun
1948, PKI sudah dihancurkan dalam peristiwa Madiun. 

Peristiwa Madiun yang diprakarsai Muso tidak lama setelah kembali dari
pengembaraannya di dunia Marxisme-Leninisme di Uni Soviet, mustahil dapat
dipadamkan tanpa sikap tegas Bung Karno. 

CIA tidak memahami ini. Bung Karno tetap dianggap condong ke blok komunis.
Itu sebabnya setelah gagal mendanai dua partai politik dalam pemilu, CIA
kemudian mencoba cara lain yang lebih keras, yaitu "menetralisir" Bung
Karno. 

Peristiwa penggranatan tanggal 30 November 1957 atau lebih dikenal dengan
sebutan Peristiwa Cikini, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari skenario CIA.
Walaupun bukti dalam peristiwa yang menewaskan 11 orang dan 30 lainnya
cedera masih simpang-siur, tetapi indikasi keterlibatan CIA sangat jelas. 

Pengakuan Richard Bissell Jr, mantan Wakil Direktur CIA bidang Perencanaan
pada masa Allan Dulles, kepada Senator Frank Church, Ketua Panitia Pemilihan
Intelijen Senat tahun 1975, yang melakukan penyelidikan atas kasus tersebut,
membuktikan itu. Ia menyebut sejumlah nama kepala negara, termasuk Presiden
Soekarno, untuk "dipertimbangkan" dibunuh. Bagaimana kelanjutannya, ia tidak
mengetahui. Bung Karno sendiri yakin CIA di belakang peristiwa ini. David
Johnson, Direktur Centre for Defence Information di Washington, juga membuat
laporan sebagai masukan bagi Komite Church. 

Peristiwa Cikini yang dirancang Kolonel Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai
pendiri intelijen Indonesia, bukanlah satu-satunya upaya percobaan
pembunuhan atas Bung Karno. Maukar, penerbang pesawat tempur TNI AU, juga
pernah menjatuhkan bom dan menghujani mitraliur dari udara ke Istana
Presiden. 

Presiden Eisenhower sendiri memutuskan dengan tergesa persiapan invasi ke
Indonesia sepekan setelah percobaan pembunuhan yang gagal dalam Peristiwa
Cikini. Ia makin kehilangan kesabaran. Apalagi peristiwa itu justru makin
memperkuat dukungan rakyat pada Bung Karno. 

Ketegangan Bung Karno dengan Gedung Putih mulai mengendur setelah Presiden
JF Kennedy terpilih sebagai Presiden AS. Ia malah mengundang Bung Karno
berkunjung ke Washington. Dalam pandangan Kennedy, seandainya pun Bung Karno
membenci AS, tidak ada salahnya diajak duduk bersama. Kennedy yang mengutus
adiknya bertemu Bung Karno di Jakarta, berhasil mencairkan hati proklamator
ini hingga membebaskan penerbang Allan Pope. 

Begitu Kennedy tewas terbunuh, suatu hal yang membuat duka Bung Karno,
hubungan Jakarta-Washington kembali memanas. Penggantinya, Presiden Johnson
yang disebut-sebut di bawah "todongan" CIA, terpaksa mengikuti kehendak
badan intelijen yang "mengangkatnya" ke kursi kepresidenan. Pada masa ini
pula seluruh kawasan Asia Tenggara seperti terbakar. 

CIA yang terampil dalam perang propaganda, kembali menampilkan watak
sesungguhnya. Fitnah dan berita bohong mengenai Bung Karno diproduksi dan
disebar melalui jaringan media massa yang berada di bawah pengaruhnya.
Tujuannya mendiskreditkan proklamator itu. Hanya di depan publik menyatakan
gembira atas kebebasan Allan Pope, tetapi diam-diam diproduksi berita bahwa
kebebasan itu terjadi setelah istri Allan Pope berhasil merayu Bung Karno.
Sedang pengeboman istana oleh Maukar, diisukan secara sistematis sebagai
tindak balas setelah Bung Karno mencoba menggoda istri penerbang itu. 

CIA terus melakukan berbagai trik perang urat syaraf mendiskreditkan Bung
Karno. Termasuk di antaranya Bung Karno berbuat tidak senonoh terhadap
pramuria Soviet dalam penerbangan ke Moskwa. Jauh sebelum itu, Sheffield
Edwards, Kepala Keamanan CIA pada masa Allan Dulles, pernah meminta bantuan
Kepala Kepolisian Los Angeles untuk dibuatkan film cabul dengan peran pria
berpostur seperti Bung Karno. 

Dalam satu artikel di majalah Probe, Mei 1996, Lisa Pease yang mengumpulkan
berbagai arsip dan dokumen, termasuk dokumen CIA yang sudah
dideklasifikasikan, menyebut yang terlibat dalam pembuatan film itu Robert
Maheu, sahabat milyarder Howard Hughes, serta bintang terkenal Bing Crosby
dan saudaranya. 

Lantas apa akhir semua ini? (Maruli Tobing) 

  _____  

Ketika CIA Menggusur "Diktator Komunis"

TIDAK ada musuh permanen, kecuali kepentingan permanen. Itulah prinsip
politik luar negeri AS. Mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang amat
sangat dekat dengan Presiden AS terlarut dalam kekuasaan diktatornya yang
panjang, hingga lupa prinsip politik luar negeri Paman Sam itu. Maka ketika
ia terjungkal, juga oleh dukungan AS kepada oposisi, ia pun terperanjat
harus melalui pemeriksaan bea cukai saat tiba 

di Bandara Hawaii.Lebih gawat lagi, di tempat pelariannya ini Ny Imelda
Marcos, yang baru kemarin First Lady dan dipuja-puja pers lingkungannya,
harus berlaku santun di depan petugas bea cukai yang menanyai asal-muasal
perhiasan yang dibawa itu. Keterangannya yang meragukan membuat petugas itu
memutuskan menahan perhiasan yang nilainya jutaan dollar AS. 

Esok harinya semua peristiwa ini muncul di jaringan media massa lokal,
nasional, dan internasional. Rakyat Filipina tertawa girang melihat Imelda
Marcos tunduk seperti pesakitan di depan tumpukan permata yang ditahan bea
cukai. Sedang masyarakat dunia, termasuk tokoh-tokoh yang tadinya amat
sangat ramah pada keluarga sang presiden, mencibir dan menyebut pasangan ini
sebagai koruptor paling serakah di jagat ini. 

Marcos mengalami stres berat, sebelum kemudian sakit-sakitan. Tetapi,
pengadilan AS, atas permintaan Jaksa Agung Filipina, tetap menyeretnya atas
tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM. Hingga saat terakhir, dalam kondisi
diinfus di atas tempat tidur, Marcos tetap digiring mengikuti persidangan. 

Inilah Amerika Serikat sesungguhnya. Para "sahabat" di lingkaran Gedung
Putih, kini seolah menemukan badut baru yang membuat mereka tertawa
terpingkal-pingkal, menyaksikan kondisi Marcos di persidangan melalui layar
televisi. Marcos perlahan-lahan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. 

Tidak satu pun di antara "sahabat-sahabatnya" itu datang melayat. Milyaran
dollar AS kekayaan Filipina yang dibagikannya dalam bentuk proyek kepada
pengusaha maupun pejabat AS, ternyata bukan jaminan sebuah bangunan
persahabatan. Bagi Gedung Putih, Marcos adalah masa silam. Sekarang muncul
penggantinya, Cory Aquino, yang harus dirangkul. Marcos "jatuh" setelah
empat jam pesawat yang membawa Philipp Habib lepas landas meninggalkan
Filipina. Utusan Pemerintah AS ini memberi lampu hijau bagi kelompok
Jenderal Ramos melakukan pemberontakan. 

Sebelumnya, Shah Iran yang menghamburkan milyaran dollar AS hanya untuk
belanja peralatan perang, suatu industri utama AS, dan mengikuti keinginan
Gedung Putih untuk tidak memberi sejengkal pun tempat perlindungan bagi
pejuang Palestina, juga harus menanggung kecewa amat menyakitkan. AS menolak
memberi tempat pelarian ketika Khomeini menumbangkannya dari takhta yang
despotis itu. 

Dalam penerbangan meninggalkan negerinya menuju AS, tiba-tiba saja Gedung
Putih menolak kehadirannya. Pesawat terpaksa putar haluan menuju Mesir,
karena hanya negara inilah yang bersedia menerima dengan segala
konsekuensinya. Tidak lama kemudian Shah Iran menghembuskan napas akibat
komplikasi stres. 

Sejarah kekuasaan Shah Iran tidak dapat dilepaskan dari CIA. Berkat bantuan
lembaga intelijen inilah kekuasaannya yang telah dipangkas parlemen, bisa
dipulihkan kembali pada Agustus 1951 setelah militer menggulingkan
pemerintahan PM terpilih Mossadegh. CIA menerapkan teori sindikalisme yang
akrab dengan anarkisme. 

Melalui partai sayap kanan, Tudeh, yang didanai hingga 19 juta dollar AS,
massa turun ke jalan mendesak parlemen yang demokratis. Tuntutan diikuti
pengerahan massa, mendesak dikembalikannya kekuasaan eksekutif kepada Shah
Iran. Rekayasa untuk menimbulkan bentrokan massa pendukung Mossadegh dengan
Tudeh di jalanan Kota Teheran yang mengakibatkan 300 orang tewas,
mengondisikan militer yang condong pada Shah Iran mengambil alih kekuasaan. 

Sejak itu AS mulai menancapkan bisnisnya di sektor perminyakan. Kermi
Roosevelt, cucu Presiden Roosevelt, yang kala itu mengendalikan operasi CIA
di Timur Tengah, tidak lama kemudian menjadi Wakil Presiden Gulf Oil.
Inggris yang dibantu AS memulihkan kekuasaan Shah Iran, merelakan 60 persen
sahamnya kepada perusahaan AS sebagai tanda terima kasih. Delapan perusahaan
AS lainnya mendapat konsesi melakukan pengeboran minyak. 

Ketika Shah Iran berada di ujung tanduk Revolusi Islam yang begitu dahsyat,
AS mencoba mendekati Khomeini, tetapi gagal. Ketika Pemerintah Islam
ditegakkan, lagi-lagi AS mencoba mengambil hati dengan memberi daftar nama
200 agen-agen KGB di Iran. Pengawal Revolusi Iran menerimanya dan
mengeksekusi semua agen KGB tersebut, tetapi hubungan dengan AS tetap haram
bagi Teheran. Bahkan kemudian menyandera staf kedutaan AS. Kekejaman Savak,
algojo Shah Iran yang dididik CIA, serta pengisapan kekayaan negeri ini,
membuat pemerintahan Islam di Teheran muak melihat AS. 

Pada masa Perang Iran-Irak, AS kembali mencoba merangkul Iran dengan menjual
peralatan militer. Sementara kepada Irak dijual foto-foto satelit
konsentrasi Pengawal Revolusi Iran. Tetapi, pemimpin Irak lebih cerdik.
Melalui pintu belakang, mereka membocorkan pembelian senjata itu, hingga
publik AS geger. 

Penjualan senjata yang di luar sepengetahuan Kongres itu kemudian berubah
menjadi skandal besar setelah Senat membentuk komisi pengusutan, karena
ternyata melibatkan Presiden AS beserta jajarannya. Iran Gate dengan tokoh
utama Letkol Oliver North adalah skandal terbesar masa itu. Uang hasil
penjualan senjata itu dipakai membiayai kelompok gerilya Contra menggempur
Sandinista. Dari lanjutan kasus ini pula terbongkar kegiatan CIA dalam
perdagangan narkotik, kokain, untuk mendanai kegiatannya. 

Di Panama, CIA memborgol Presiden Noriega dan menerbangkannya ke negeri
Paman Sam untuk diadili sehubungan kasus pelanggaran HAM dan perdagangan
narkotika. Padahal sudah rahasia umum di Amerika Tengah bahwa Jenderal
Noriega masuk dalam lingkaran CIA. 

Sedang mengenai bisnis narkotika, sesungguhnya bukanlah aib bagi CIA. Sejak
50 tahun silam, setelah berhasil mendorong mundur pasukan Koumintang ke arah
selatan, memasuki perbatasan Myanmar Utara, CIA mendorong penanaman candu
besar-besaran, yang kemudian berkembang menjadi segi tiga emas. Operasi CIA
yang menghamburkan banyak uang, sebagian besar dipasok dari bisnis haram
ini. 


***


PETUALANGAN AS kadang-kadang sulit dipahami akal sehat dan mirip wild west.
CIA yang mirip negara dalam negara sangat berperan dalam politik luar negeri
AS. Itu sebabnya perilaku politik AS selalu bermuka dua, seperti halnya
intel. 

Contohnya, netralitas yang kerap didengung-dengungkan, tetapi melalui pintu
belakang justru meruntuhkan pemerintah yang dianggap netral. Bung Karno dan
Pangeran Sihanouk adalah korban "netralitas" AS. Begitu pula Ali Bhutto,
yang baru saja meninggalkan Kedubes AS untuk suatu acara, tiba-tiba
ditangkap pasukan Jenderal Zia Ul'haq yang melakukan kudeta. Bhutto kemudian
digantung. 

Banyak cara yang dilakukan AS melalui CIA untuk menegakkan "netralitas" dan
"demokrasi". Tetapi, pola baku adalah menuding kepala pemerintahan itu
sebagai "rezim teror komunis" yang membahayakan stabilitas kawasan. Ada
beberapa contoh menarik sebagai perbandingan. 

Tahun 1951, misalnya, untuk pertama kalinya Guatemala memilih presiden
secara demokratis sejak Spanyol hengkang tahun 1820. Presiden terpilih
Jacobo Arbenz yang ingin memperbaiki standar hidup rakyatnya melalui
land-reform, harus menelan pil pahit. United Fruit Company, perusahaan AS
yang 10 persen lahannya akan terkena land-reform dan industrinya setengah
dinasionalisasikan, ternyata punya hubungan dengan CIA. 

Menlu John Foster Dulles segera mengeluarkan pernyataan, rakyat Guatemala
saat ini hidup di bawah pemerintahan teror komunis. Presiden Eisenhower
menyebut Presiden Arbenz sebagai "diktator komunis". Ibarat rangkaian yang
sudah ditata, Dubes AS di Guatemala lantas mengatakan, "Kita tidak mungkin
membiarkan Republik Soviet didirikan antara Terusan Panama-Texas". 

AS kemudian membuat pakta pertahanan dengan Nikaragua, Honduras, dan Panama,
serta menempatkan 30 pesawat terbang di sana. Tanggal 18 Juni 1953, pesawat
terbang AS menyebarkan pamflet yang isinya tuntutan "pemberontak" agar
Presiden Arbenz mundur. Bersamaan dengan itu radio gelap di kedubes AS
menyiarkan tuntutan itu setiap hari, diikuti dengan berbagai berita dan
analisa kebusukan Presiden Arbenz. 

Tidak lama setelah itu CIA mendistribusikan 100.000 pamflet gelap di bawah
judul Kronologi Komunisme di Guatemala, tiga film tentang "kebusukan"
Presiden Arbenz, dan lebih 27.000 kopi poster yang menertawakan Arbenz. 

Pada April 1954, CIA mulai mempercepat iramanya. Sebuah pesawat terbang yang
dimanipulasi dengan lambang Soviet, terbang rendah melintas Honduras,
Nikaragua, dan Meksiko, sebelum masuk ke wilayah Guatemala. Kemudian pesawat
AS mengebom wilayah Honduras yang berbatasan dengan Guatemala. 

Radio gelap AS serta koran-koran di bawah jaringannya, menyiarkan keadaan
gawat. Pesawat Soviet mengedrop senjata bagi pemerintah "diktator komunis".
Kemudian melakukan pengeboman terhadap pemberontak yang menentang
kediktatoran itu. Situasi ini, ulas radio tersebut, mengancam stabilitas
kawasan Amerika Tengah. 

Negara-negara tetangga Guatemala yang masuk pakta pertahanan AS mengajukan
protes ke PBB, hingga akhirnya keluar resolusi mengutuk pemerintahan Arbenz.
Dari sini mulai terbentuk opini dunia terhadap pemerintah yang sangat
demokratis itu. 

Sementara itu, CIA terus menyiarkan propaganda mengenai kemenangan
pemberontak, di samping memproduksi foto palsu kuburan massal dengan
menyebutnya sebagai korban kekejaman rezim komunis Arbenz. 

Terakhir, CIA mengebom ibu kota, dan terus-menerus menyiarkan melalui radio
bahwa pasukan pemberontak sudah hampir memasuki ibu kota dengan peralatan
persenjataan berat dan dukungan Marinir AS. Padahal sesungguhnya pasukan
pemberontak hanya menguasai beberapa desa, jauh di perbatasan. 

Dalam situasi panik demikian, Kolonel Castilo Armas, yang menerima 60.000
dollar AS dari CIA, melancarkan kudeta. Sejak itu land-reform dibatalkan,
serikat pekerja dibubarkan, dan kebebasan pers diberangus. Dua puluh lima
tahun kemudian, sesuai UU kebebasan mendapatkan informasi, dokumen CIA
setebal 1.400 halaman mengenai perannya di Guatemala, terbuka pada publik.
Rakyat Guatemala terperanjat begitu mengetahui isinya. 

Sementara itu tahun 1970, Salvador Allende yang terpilih juga dalam pemilu
yang paling demokratis di Cile, menerima getirnya reformasi. Langkah pertama
yang dilakukannya dengan mencabut hukuman mati, mengakui semua parpol,
land-reform, dan terakhir nasionalisasi perusahaan tambang belerang AS,
membuat gusar Gedung Putih. Melalui CIA, diproduksi pamflet, poster, dan
dokumen palsu mengenai rencana jahat Allende untuk membangun komunisme. 

Di bawah pengendalian Deputi Direktur Operasi CIA, William Colby, yang
sebelumnya sukses menjatuhkan Presiden Soekarno, CIA mulai melancarkan
perang propaganda untuk mendiskreditkan Allende. Kemudian, seperti biasa,
muncul foto kuburan massal di bawah judul korban kekejian diktator komunis
Allende. 

Tahun 1973, di bawah nama sandi "Jakarta" terjadi pembunuhan seorang
jenderal oleh pasukan yang sudah mendapat pelatihan dari CIA. Pembunuhan ini
karena menolak tawaran melakukan kudeta. Tetapi, mesin-mesin propaganda CIA
meniupkannya sebagai korban keganasan komunis diktator Allende. Jenderal
Pinochet kemudian melakukan kudeta, mengeksekusi Allende dan ribuan warga. 


***


PULUHAN pemimpin pemerintahan di berbagai negara tersungkur oleh CIA.
Metodenya hampir sama, yaitu diawali perang propaganda untuk mengondisikan
citra negatif. Kemudian menyusul infiltrasi dalam tubuh angkatan bersenjata
melalui berbagai program bantuan, mengadu domba militer-sipil, provokasi
melalui insiden berdarah, baru disusul kudeta. 

Dalam beberapa kasus, jika memungkinkan, ditempuh jalan pintas. Seperti
membunuh kepala negara atau pemerintahan bersangkutan. Tetapi, upaya ini
kerap gagal, seperti pernah dua kali menimpa Presiden Soekarno dan 13 kali
dialami Fidel Castro. Dalam aksi ini, yang paling digemari CIA untuk
mengeksekusi adalah bom, granat, dan senapan mesin ringan. 

Patrice Lumumba, Presiden Kongo yang terpilih secara demokratis tahun 1960,
mungkin contoh nasionalis paling sial. CIA pernah mengirim pakar
mikrobiologinya, Dr Joseph Scheider, untuk menyebarkan virus bakteri yang
akan membinasakan Lumumba. Ribuan orang tewas akibat penyakit aneh, tetapi
Lumumba selamat. Terakhir CIA kembali ke pola standar dengan mendorong
Jenderal Mobotu melakukan kudeta dan mengeksekusi Lumumba. 


***


MEMASUKI milenium ketiga, tidak bisa diramal apakah CIA masih menggandrungi
pola lama tersebut. Jika ditarik pengalaman Indonesia dalam rentang waktu
yang panjang, yakni sejak jatuhnya Bung Karno hingga lengsernya Soeharto,
CIA tampaknya tidak ingin mengulangi metode yang sama di negara yang sama. 

Dalam penggulingan Bung Karno, misalnya, Indonesia berubah menjadi kolam
darah-berbagai pihak memperkirakan angka tewas berkisar 500.000-satu juta
jiwa-namun untuk Soeharto, CIA agak hati-hati karena menyimpan rahasia
keterlibatan AS dalam G30S. Ketika Soeharto lengser, tidak satu pun terjadi
pembersihan yang menelan korban jiwa. CIA tampaknya hanya mematangkan
situasi dengan bantuan uang. 

Misalnya, saja antara tahun 1995-1997, sedikitnya 26 juta dollar AS bantuan
CIA melalui lembaga penyelubungnya kepada LSM-LSM anti-Soeharto. Walaupun
demikian, tidak ada pula salahnya mencurigai CIA ikut dalam peristiwa 13-15
Mei 1998 di Jakarta. Dalam peristiwa biadab itu, seluruh gelombang
komunikasi radio aparat keamanan tidak bisa digunakan. Kemampuan teknologi
demikian hanya dimiliki CIA dan Mossad, intelijen Israel. Peristiwa Mei
adalah skenario melengserkan Soeharto agar menyerahkan kekuasaan kepada
militer. 

Dukungan AS mulai beralih ketika Soeharto makin kikir dalam membagi rezeki
kontrak tambang dan berbagai proyek besar lainnya. Soeharto yang makin uzur,
kembali ke bentuk alami, dengan mengutamakan bisnis putra-putrinya. 

Selain itu, ketika AS melakukan embargo senjata, Soeharto atas saran BJ
Habibie dan kawan-kawan, mulai mencoba mencari peralatan militer di luar AS,
termasuk ke Moskwa. Suatu hal yang membuat AS berang. Puncaknya adalah
ketika Myanmar, atas desakan Soeharto melalui PM Mahathir, diterima sebagai
anggota ASEAN. 

Padahal AS dan Masyarakat Eropa sejak lama melakukan embargo dan terus
berusaha mengisolir Myanmar. Gedung Putih yang mengutus Menlu Albright
melobi pemimpin ASEAN agar menolak Myanmar, tidak dipedulikan. Dengan begitu
pula makin kuat tekad melengserkan Soeharto. Puncaknya ketika angin
puting-beliung krisis ekonomi memporak-porandakan benteng pertahanan
Soeharto menjelang pertengahan 1997. 

Sekarang kita tinggal mencocokkannya di lapangan. Kalau hal ini juga tidak
manjur, maka itu bisa dilihat dari siapa pejabat negara yang bermain dalam
konflik internal dan kedekatan dengan salah satu korporasi multinasional AS
serta pernah beberapa kali berkunjung ke negeri koboi itu. (mt) 

  _____  

Perang Urat Saraf yang Mematikan

MENJELANG bulan Oktober 1965, mendung menyelimuti Jakarta. Di sana-sini
orang berbisik, mencari tahu apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Tidak
satu pun bisa menjawabnya, karena memang tidak satu pun tahu apa
sesungguhnya yang sedang terjadi. Hanya firasat sosial yang bergetar
mengisyaratkan kita akan memasuki tahap genting. 

Gejolak pertarungan politik yang selama ini mengambil lahan subur di atas
primordialisme, aliran, dan ideologi, tampaknya akan mencapai klimaks. Tidak
seorang pun bisa menjawab apakah situasi itu akan menjebol tembok segregasi
sosial yang lahir dari proses politik bertiraikan saling curiga itu. 

Republik Indonesia tidak beda dengan manusia uzur. Sejak dwi tunggal
Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945, nyaris tidak ada
hari tanpa konflik terbuka. Heroisme melawan kolonial di masa silam tetap
dilanggengkan dalam bentuk kekerasan yang diwakili para "jawara" politik. 

Puncaknya, badai ekonomi dahsyat. Inflasi meroket sampai 600 persen
menjelang pertengahan tahun 1965. Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi,
menjadi tumpuan harapan. Tetapi, dalam situasi demikian, ia pun tidak beda
dengan nakhoda kapal yang bocor dan oleng di tengah hantaman angin
puting-beliung di samudera luas. Sementara penumpang baku hantam, tanpa
mempedulikan situasi gawat. 

Kondisi psikologis demikian mewarnai Jakarta sejak pertengahan tahun 1965.
Sulit dibedakan lagi antara kenyataan dan isu. "Ibu Pertiwi sedang hamil
tua" begitu setiap hari kalimat yang diucapkan penyiar Suara Indonesia Bebas
pada akhir siarannya, dan kemudian ditutup dengan kata, "Berontak!" 

Kecuali agen CIA, tidak ada yang tahu persis lokasi radio yang frekuensinya
begitu kuat hingga dapat ditangkap melalui gelombang pendek di seluruh
Indonesia. Banyak yang menduga posisi pemancar tersebut di Malaysia atau
Filipina Selatan. 

Namun, Prof Roland G Simbulan dari University of the Philippines, dalam
tulisannya mengenai peran rahasia CIA di Filipina, mengungkapkan hal lain. 

Ia mengatakan, tahun 1965 pemancar bergerak sangat canggih dengan frekuensi
tinggi pada gelombang pendek, telah diterbangkan menggunakan pesawat
pengangkut US Air Force C-130 dari pangkalan angkatan udara Clark, Filipina
Tengah, menuju Jakarta. Radio ini ditempatkan di markas Jenderal Soeharto.
Pengiriman radio itu atas perintah William Colby, Direktur CIA Divisi Asia
Timur Jauh. 


***


TERDAPAT ratusan tulisan dan komentar mengenai peristiwa sekitar bulan
Oktober 1965 oleh para ilmuwan, pengamat, dan aktivis HAM di mancanegara.
Namun, yang menarik adalah apa yang dikemukakan Sundhaussen dalam bukunya
The Road to Power: Indonesian Military Politics, bahwa untuk memahami
peristiwa G30S, pertama-tama harus mengamati isu yang berkembang saat itu. 

Mengikuti alur pikir demikian, Dr Peter Dale Scott dari University of
California, Berkeley, secara jelas menggambarkan trik disinformasi CIA yang
begitu canggih hingga menimbulkan ketegangan luar biasa, khususnya antara
PKI dengan kelompok Jenderal Nasution. Sebagian disinformasi diproduksi
dalam pamflet gelap, yang disebarkan melalui jaringannya yang dulu terlibat
dalam pemberontakan bersenjata. Pamflet ini, meminjam istilah Peter Scott,
merekayasa paranoid. 

Salah satu pamflet pada Agustus 1965 berbunyi antara lain, "PKI sudah siap
tempur. Kelompok Jenderal Nasution berharap PKI lebih dulu menarik pelatuk.
Namun, PKI tidak akan melakukan hal ini. PKI tidak akan membiarkan dirinya
terprovokasi seperti dalam Peristiwa Madiun. Sekarang hanya ada dua pilihan:
PKI atau kelompok Nasution. Tidak ada alternatif di luar itu. 

Ralph McGehee, veteran CIA yang pernah bekerja selama 25 tahun (1952-1977)
sebagai staf Counterintelligence CIA seksi Komunisme Internasional, menyebut
proses eskalasi disinformasi secara sistematis telah dilakukan CIA. Melalui
tulisannya The Indonesian Massacres and CIA, yang sebagian disensor CIA
karena menggunakan data rahasia negara yang belum boleh dipublikasikan
kepada publik, ia menyebut dokumen palsu itu telah menggiring massa
melakukan kekerasan. Sebab, demikian tambahnya, temuan dokumen itu akan
disusul berita bohong mengenai ditemukannya kuburan massal korban kekejaman
komunis. 

Situasi Jakarta pada September 1965 amat sangat tegang. Di kalangan PKI
beredar "dokumen" rencana jahat Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta
pada 5 Oktober 1965, menyusul makin parahnya kondisi kesehatan Bung Karno.
Jika kudeta ini berhasil, Angkatan Darat akan melenyapkan semua kader PKI.
Sedang di kalangan militer menyebar dokumen rencana PKI untuk mengambil alih
kekuasaan dan menghabisi para jenderal. 

"Dokumen" ini muncul tidak lama setelah beredarnya isu memburuknya kesehatan
Bung Karno. Isu ini menyebabkan lenyapnya sandang-pangan di pasaran. 

Akan halnya isu mengenai memburuknya kesehatan Bung Karno, disebut-sebut
bersumber dari hasil diagnosa tim dokter RRC yang memeriksa Bung Karno, yang
laporannya dikirim ke Beijing. Walaupun nantinya tim dokter RRC kaget karena
tidak pernah membuat laporan demikian, tetapi informasi palsu ini telanjur
menimbulkan guncangan politik dalam masyarakat. 

Menurut Ralph McGehee dan sejumlah mantan staf CIA lainnya, pola
disinformasi merupakan prosedur baku dalam operasi rahasia CIA. Tujuannya
mendiskreditkan pemimpin atau kelompok yang dianggap menghalangi kepentingan
AS. 

Kemudian melalui Divisi Pelayanan Teknis CIA, yang mempunyai jaringan atas
ratusan media massa di AS dan di berbagai negara di dunia, informasi ini
disajikan kepada publik sebagai suatu "temuan besar". Inilah juga yang
dilakukan CIA untuk mematangkan situasi menjatuhkan Presiden Arbenz di
Guatemala tahun 1954, Soekarno (1965-1966), Allende di Cile (1973), Juan
Torres di Bolivia (1971), Arosemana di Dominika (1963), Joao Goulart di
Brasil (1964), dan sejumlah kepala pemerintahan lainnya. 

Pemalsuan dokumen itu begitu canggihnya, hingga sulit mengatakan itu palsu.
Terbukti, misalnya, Subandrio sampai perlu melaporkan dokumen Dewan Jenderal
itu sepekan sebelum meletusnya G30S. Bahkan sejumlah perwira yang loyal
kepada Bung Karno terpancing bertindak. Inilah memang yang dihendaki pembuat
dokumen palsu itu. 

Perwira yang dipimpin Letkol Untung berencana menghadapkan para jenderal
yang namanya tercantum dalam daftar Dewan Jenderal untuk menghadap Bung
Karno. Mantan Panglima Angkatan Udara Omar Dani, yang baru saja menerbitkan
biografinya, mengaku mendengar rencana ini dari Mayor Heru perwira intelnya.
Sementara Kolonel Latief, empat jam sebelum meletusnya G30S, juga melaporkan
adanya gerakan militer kepada Jenderal Soeharto. 

Sebaliknya, kegusaran pimpinan TNI AD yang antikomunis makin sulit dibendung
setelah pada awal September muncul berita di salah satu surat kabar Malaysia
yang mengutip sebuah koran di Bangkok, bahwa sebuah kapal mengangkut senjata
dari RRC sedang siap-siap berlayar menuju Indonesia. Diduga senjata tersebut
untuk memenuhi permintaan PKI, yang selama ini menuntut Pemerintah RI
mempersenjatai kaum buruh dan tani sebagai Angkatan V. 

Berita dari luar negeri selalu dianggap kredibilitasnya tinggi, tetapi
seandainya pun hendak dilakukan pengecekan, jelas bukan hal mudah. Surat
kabar Thailand yang dikutip di Malaysia itu juga mengambil sumber
"dipercaya" di Hongkong, yang hingga saat ini tidak diketahui siapa itu. 

Dalam situasi psikologis demikian, sebuah pemantik kecil akan membuka katup
banjir bandang amok. Mereka yang paham permainan perang urat saraf, sekarang
tinggal menggelindingkan bola ke arah mana. Pemain akan berebut mengejarnya.


Para perwira pimpinan Letkol Untung makin gerah pada akhir September,
mengingat rencana Dewan Jenderal melakukan kudeta 5 Oktober. Kasak-kusuk,
sas-sus, dan ditemukannya kembali "dokumen" rahasia, membuat mereka
terjerumus bertindak lebih dulu. Yang mengagetkan, seperti kata Omar Dani,
para jenderal itu bukannya dibawa menghadap Bung Karno, tetapi tewas
dibunuh. 

Syam Kamaruzaman, tokoh misterius yang menjadi penghubung DN Aidit dengan
militer, disebut-sebut memprovokasi Untung dan kawan-kawan, dengan memberi
instruksi menembak jenderal-jenderal kontrarevolusi itu jika memang
diperlukan demikian. 

Sejumlah tulisan mengenai sekitar G30S menyebut Syam tadinya intel Kodam
Jaya. Ia kenal baik dengan Soeharto pada waktu di Semarang. Ketika itu Syam
menjadi kader salah satu parpol yang kelak dibekukan Bung Karno. Letkol
Untung, Kolonel Latief, Brigjen Supardjo, Kolonel Suherman juga anak buah
Soeharto di Kodam Diponegoro. 

Lebih menarik lagi, Brigjen Supardjo dan Kolonel Suherman, Asisten Intel
Kodam Diponegoro, belum lama kembali dari pendidikan militer di AS. Ini
artinya, seperti tulis Peter Scott, ia telah melewati prosedur seleksi ketat
intelijen AS. Sedang Banteng Raiders, Batalyon 454 dan 530, yang selama ini
disebut-sebut menjadi tulang punggung G30S, didatangkan dari Jateng atas
perintah Jenderal Soeharto melalui radiogram. Dua batalyon Raiders ini
pernah mendapat bantuan pelatihan dari Pentagon. 


***


TANPA bermaksud mengungkap siapa yang bersalah dalam peristiwa berdarah
tersebut, menjadi sangat logis jika sejumlah pimpinan Angkatan Darat yang
antikomunis dan masyarakat luas lainnya kemudian bereaksi keras setelah
terjadinya G30S. 

Ditambah "bukti" pembantaian tujuh pahlawan revolusi secara "mengerikan",
menjadi petunjuk akhir bahwa "dokumen" yang ditemukan selama ini otentik. 

Menurut McGehee, pada 23 Oktober 1965 lagi-lagi "ditemukan" dokumen rahasia
PKI. Temuan besar ini dimuat di sebuah surat kabar Jakarta yang masuk
jaringan CIA. Isi berita tersebut antara lain, "ditemukan jutaan kopi teks
proklamasi Gestapu....Teks... sangat jelas dicetak di RRC. Selain itu
ditemukan pula topi serta perlengkapan militer dalam jumlah besar. Ini
merupakan bukti yang tidak terbantah mengenai keterlibatan RRC... Sedang
senjata dikirim dengan kapal laut dengan berkedok kekebalan diplomatik..." 

Tanggal 30 Oktober 1965, masih menurut McGehee, Jenderal Soeharto, dalam
pertemuan khusus dengan para jenderal dan perwira menengah lainnya, dengan
nada gusar mengatakan, penemuan dokumen tersebut menunjukkan PKI berada di
balik peristiwa G30S. Ia kemudian memerintahkan penumpasan komunis hingga ke
akar-akarnya (communists be completely uprooted). 

Sejak itulah militer mulai melancarkan kampanye berdarah untuk membasmi
hingga ke akar-akarnya segala yang berkaitan dengan komunis. Elemen-elemen
masyarakat yang terjangkit histeria sosial digerakkan membentuk pagar betis.
Banjir darah terjadi di mana-mana. Jutaan manusia kehilangan orangtua, ibu,
kakak atau adik. 

Kedutaan RRC juga tidak luput dari amuk massa. Hubungan negara Tirai Bambu
dengan RI yang tadinya begitu mesra, berubah menjadi musuh mengerikan.
Hubungan diplomatik diputus. Suatu hal yang sangat didambakan AS untuk
membendung pengaruh RRC. 

Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, secara mengejutkan proses pembunuhan
berjalan sangat sistematis. Aksi sepihak yang dilancarkan BTI (Barisan Tani
Indonesia) merebut lahan "tuan tanah" pada masa sebelumnya, sekarang dibalas
tanpa ampun. 

Kombinasi panik, dendam, dan ketakutan yang diekspresikan dalam amuk itu
makin gawat setelah setiap hari dikumandangkan melalui RRI: "dibunuh atau
membunuh". Para pejabat militer di daerah meneruskannya dengan mengulangi
kalimat itu setiap saat. Sedang pemancar gelap Suara Indonesia Bebas yang
lokasinya entah di mana, memberitakan aksi pembalasan yang dilakukan PKI di
sejumlah daerah, pertempuran sengit berlangsung di kompleks Merapi-Merbabu,
CC PKI membangun basis gerilya di Blitar Selatan, dan lain sebagainya.
Berita fiktif ini membakar kepanikan di banyak tempat. 

Di luar Pulau Jawa, banjir darah paling dahsyat terjadi di Sumatera Utara.
Korban terbesar buruh perkebunan. Di Sumut saja sedikitnya 100.000 korban
tewas. 

Di Tapanuli Utara, Selatan, dan Simalungun, tatanan adat terjungkal setelah
milisi Komando Aksi Penumpasan G30S mulai bergerak menetralisir
elemen-elemen komunis. Mereka tidak peduli apakah calon korban adalah paman,
satu marga atau keluarga istrinya. Padahal hubungan yang dibentuk hirarki
adat itu adalah simpul keutuhan sosial. 

Sama seperti di Jakarta, sebelum terjadinya pembantaian massal terhadap
anggota dan simpatisan PKI, di kota-kota kecil seperti di Sumatera Utara
beredar pula "dokumen" rahasia rencana jahat PKI. 


***


KETIKA mayat-mayat mulai bergelimpangan, Kedubes AS di Jakarta memberi
daftar nama 5.000 kader PKI di berbagai organisasi kepada Jenderal Soeharto.
Berbekal dengan ini, Kostrad dan RPKAD bergerak cepat merontokkan organisasi
komunis tersebut, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu. 

Publik AS mengetahui peristiwa itu setelah Kathy Kadane mengumpulkan
informasi, kemudian menulisnya dalam Herald Journal (19/5/1990). Esok
harinya San Francisco Examiner menurunkannya di halaman depan, kemudian
disusul Washington Post hari berikutnya. 

Markas CIA, melalui jubirnya Mark Mansfield, membantah keterlibatan badan
intelijen ini dalam pembunuhan massal. "Tuduhan itu jelas tidak mempunyai
substansi hanya karena memberi daftar nama semata-mata," ujarnya. Namun,
bukti yang dikemukakan Kathy Kadane membuat khalayak AS kali ini tidak
percaya pada kebohongan CIA. 

Laporan Mansfield didasarkan pada pengakuan mantan Dubes AS di Jakarta,
Marshall Green. Tetapi, demikian tambahnya, Green tidak begitu banyak tahu
detail soal ini. 

"Daftar nama kader PKI itu sangat membantu Angkatan Darat," ujar Robert J
Martens, mantan staf seksi politik di Kedubes AS di Jakarta, yang ditugaskan
menyusunnya. Daftar ini kemudian disampaikan Edward Master, Kepala Seksi
Politik Kedubes AS, kepada Adam Malik untuk diteruskan kepada Jenderal
Soeharto. 

Disebutkan, setiap saat Kedubes AS selalu mendapat laporan dari markas
Jenderal Soeharto mengenai "realisasi" daftar itu. "Amat sangat banyak yang
berhasil ditangkap waktu itu," ujar Josepf Lazarsky, Kepala Perwakilan
Stasiun CIA di Jakarta, bangga. Mengenai nasib mereka ini, Lazarsky
berpegang pada ucapan Soeharto, "Jika ditahan terus siapa yang akan memberi
makannya." 

AS melalui CIA sesungguhnya tidak hanya terlibat dalam memasok nama-nama
kader komunis. Dalam laporan Dubes Marshall Green ke Washington awal
November tahun itu, dikemukakan adanya permintaan senjata dari jenderal
Angkatan Darat untuk digunakan kelompok milisi di Jawa Tengah dan Jawa Timur
menumpas PKI. 

Hal itu juga dibenarkan Kathy Kadane dalam suratnya tujuh tahun kemudian
setelah tulisannya yang menggegerkan itu. Dalam surat untuk editor New York
Review of Books (10/4/ 1997) ia mengatakan, menit-menit Jenderal Soeharto
memutuskan menumpas komunis, Pentagon mengapalkan mobil-mobil jip, lusinan
radio lapangan, dan persenjataan. Salah satu radio dengan frekuensi tinggi
dan yang paling canggih pada masa itu, dipasang di Kostrad, markas Soeharto.
Antenanya, kata Kathy Kadane, kelihatan dipajang di depan. Melalui radio ini
pula, intelijen AS tahu semua perkembangan, karena komunikasinya disadap. 

Namun, AS bukanlah pemain tunggal. Direktorat kontra intelijen luar negeri
Inggris, MI-6, dan Australia, juga terlibat dalam perang propaganda
menjatuhkan Soekarno. Dalam bukunya Britain's: Secret Propaganda War
1948-77, Paul Lashmar dan James Oliver mengatakan, enam bulan sebelum
pecahnya G30S, MI-6 mengirim Norman Reddaway ke Jakarta atas permintaan
khusus Dubes Inggris untuk RI, Sir Andrew Gilchrist. Operasi rahasia yang
selama ini dilakukan untuk menggerogoti Presiden Soekarno, dinilai kurang
manjur. 

Pemerintah Inggris sendiri sangat berkepentingan dengan jatuhnya Bung Karno
untuk menghentikan kampanye konfrontasi ganyang Malaysia. Dalam hal ini MI-6
bergandengan dengan CIA. 

Yang menarik adalah disebutnya nama Ali Murtopo, dalam hubungan rahasia
stasiun MI-6 di Singapura. Ketika konfrontasi ganyang Malaysia sedang
berlangsung, Ali Murtopo dikabarkan pernah ke Singapura. Informasi ini bocor
sehingga menjadi bahan pembicaraan. 

Persoalan sekitar G30S tidaklah sesederhana apa yang dibolehkan Orde Baru
diketahui masyarakat selama ini. Jaringan intelijen asing yang sangat
kompleks dan penuh liku, membuat mustahil memahaminya. 

Sama halnya seperti kita tidak akan pernah tahu peran apa yang dimainkan
Agustus C "Gus" Long, bos perusahaan minyak Texaco, korporasi raksasa dalam
skala dunia. Perusahaan ini, berpatungan dengan Socal (Standard Oil of
California), menguasai saham Caltex. Agustus 1965, Long yang juga Dewan
Direktur Freeport ditunjuk sebagai anggota dewan penasihat intelijen
Presiden AS untuk urusan luar negeri. 

Sebelum jatuhnya Presiden Soekarno, Freeport mencoba lobi khusus melalui
Presiden Kennedy dan adiknya, Robert Kennedy, agar bisa memperoleh kontrak
penambangan. Bung Karno tidak bergeming, sehingga menimbulkan frustrasi
eksekutif Freeport. Dalam tulisannya JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur,
Lisa Pease mengatakan, dalam posisi sebagai penasihat intelijen Presiden AS
untuk urusan luar negeri, Long banyak mengetahui ihwal jatuhnya Bung Karno.
Maka tidak heran begitu UU PMA disahkan tahun 1967, yang pertama kali
disetujui Soeharto adalah kontrak Freeport. 

Selain Long, pada periode 1960-an sampai 1970-an masih ada nama "sakti"
lainnya dalam jajaran dewan direktur, yaitu Robert Lovett. Mantan Asisten
Menteri Peperangan (PD II) dan kemudian menjadi Menteri Pertahanan ini,
dijuluki sebagai "arsitek perang dingin". Periode setelah itu muncul
nama-nama baru seperti mantan Menlu Henry Kissinger, menyusul lagi James
Woolsey, mantan Direktur CIA. 

Mantan Direktur CIA Asia Timur Jauh, William Colby, menyebut sukses menumpas
komunis di Indonesia sebagai yang terbaik dan seperti dikehendaki. 

Vietnam boleh jatuh ke tangan komunis. Kemudian akan menyusul negara-negara
tetangganya. "Tetapi, kita tidak akan membiarkan hal ini terjadi pada
Indonesia," kata Presiden Eisenhower tahun 1953. Selain pertimbangan
posisinya yang strategis, kekayaan alamnya menempati urutan kelima di dunia.
Tetapi, apakah untuk itu mayat-mayat bergelimpangan? 

Tidak ada yang bisa menjawabnya, sama seperti bertanya pada mayat korban
peristiwa mengerikan itu. AS dan segenap jaringan agen CIA, termasuk di
Indonesia, akan menyimpan rapat rahasia ini. Sebab jika ini terkuak,
Pemerintah AS akan terkena puting-beliung yang menghancurkan harga dirinya
sebagai pendekar HAM, baik oleh Kongres maupun masyarakat internasional. 

Tidak hanya itu, sangat mungkin pula diseret ke pengadilan internasional dan
membayar kerugian bagi sedikitnya 5.000 korban daftar maut atau satu juta
korban tewas keseluruhan, jika keluarga korban menuntutnya. Bertrand Russel,
pemikir besar liberalisme, menyebut peristiwa ini sebagai hal amat
mengerikan yang mustahil bisa dilakukan manusia. 

Namun, agaknya kita tidak peduli walaupun para perwira TNI akan diseret ke
mahkamah internasional berkaitan kasus Timtim, karena kita percaya Soeharto
yang telah memvonis PKI. Kita juga tidak peduli ketika para eksekutif
korporasi multinasional bergelimang dollar dan emas hasil "jarahan" dari
Indonesia. Di bawah benderang sinar lampu di Manhattan, mereka menghitung
laba yang tidak habis-habisnya. Sementara di Republik tercinta ini baku
hantam sejak kemerdekaan hingga sekarang terus berlanjut. 

Kita adalah katak dalam tempurung yang sejati. (mt) 


Yahoo! Groups Sponsor    

 
<http://rd.yahoo.com/M=176325.1307935.2900315.1248727/D=egroupmail/S=1700043
464:N/A=567197/R=1/*http://domains.yahoo.com>   www.            
 
<http://us.adserver.yahoo.com/l?M=176325.1307935.2900315.1248727/D=egroupmai
l/S=1700043464:N/A=567197/rand=821566623>       

To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> 




Keluarga Besar SMA 2 Padang di http://sma2pdg.rantaunet.com
================================================== 
Berlangganan/Berhenti menerima SMA 2 Padang Mailing List, kirimkan email 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Subject: -dikosongkan- 

Isi email pada baris dan kolom pertama:
mendaftar: subscribe SMA2-Padang email_anda
berhenti: unsubscribe SMA2-Padang email_anda
------------------------------------------------------------------------------------------
 
WEB-EMAIL GRATIS [EMAIL PROTECTED] ---> http://mail.rantaunet.web.id 
------------------------------------------------------------------------------------------
 
Kerjasama RantauNet.Com http://www.rantaunet.com dan server
PT USINDO GLOBAL USAHA, Jakarta dan USINDO Group, San Fransisco, USA
==================================================

Kirim email ke