Semoga kita tidak menjadi katak dalam tempurung dimasa yad. -----Original Message----- From: Jaringan Kerja Budaya [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] <mailto:[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]> Sent: Saturday, February 10, 2001 3:42 AM To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Subject: [komunitasbambu] CIA di Indonesia (Kompas, 9/2/2001) Berikut kami kirimkan tiga tulisan dari Maruli Tobing, mengenai CIA dalam sejarah Indonesia, yang dimuat dalam Kompas, 9/2/2001. Selamat mengikuti. Kompas, Jumat, 9 Februari 2001 _____ Bung Karno di Tengah Jepitan CIA TANGGAL 7 Desember 1957, pukul 19.39, Laksamana Felix Stump, panglima tertinggi Angkatan Laut (AL) AS di Pasifik, menerima perintah melalui radiogram dari Kepala Operasi Angkatan Laut (AL) Laksamana Arleigh Burke. Isinya, dalam empat jam ke depan gugus satuan tugas di Teluk Subic, Filipina, bergerak menuju selatan ke perairan Indonesia. "Keadaan di Indonesia akan menjadi lebih kritis," demikian salah satu kalimat dalam radiogram tersebut. Kesibukan luar biasa segera terlihat di pangkalan AL AS. Malam itu juga satuan tugas dengan kekuatan satu divisi kapal perusak, dipimpin kapal penjelajah Pricenton, bergerak mengangkut elemen tempur dari Divisi Marinir III dan sedikitnya 20 helikopter. "Berangkatkan pasukan, kapal penjelajah dan kapal perusak dengan kecepatan 20 knots, yang lainnya dengan kecepatan penuh. Jangan berlabuh di pelabuhan mana pun," bunyi perintah Laksamana Burke. Inilah keadaan paling genting, yang tidak sepenuhnya diketahui rakyat Indonesia. Perpecahan dalam tubuh Angkatan Darat, antara mereka yang pro dan kontra Jenderal Nasution, serta yang tidak menyukai Presiden Soekarno, mencapai titik didih. Pada saat yang sama, beragam partai politik ikut terbelah memperebutkan kekuasaan. Kabinet jatuh bangun. Usianya rata-rata hanya 11 bulan. Paling lama bertahan hanyalah Kabinet Juanda (23 bulan), yang merupakan koalisi PNI-NU. Situasi memanas menjalar ke daerah, benteng terakhir para elite politik di pusat. Daerah terus bergolak. Pembangkangan terhadap Jakarta dimulai sejak militer menyelundupkan karet, kopra, dan hasil bumi lainnya. Militer Indonesia yang lahir dan berkembang dari milisi berdasarkan orientasi ideologi pimpinannya, bukanlah jenis pretorian. Mereka tetap kepanjangan dari parpol, entah itu PNI, PSI, Masyumi, PKI, dan seterusnya. Terlalu kekanak-kanakan jika dikatakan tindakan sekelompok perwira mengepung Istana Bogor dan mengarahkan meriam pada 17 Oktober 1952 sebagai ekspresi ketidakpuasan semata, dan bukan percobaan "kudeta" terselubung. Demikian pula ketika Kolonel Zulkifli Lubis mencoba menguasai Jakarta, sebelum kemudian merencanakan pembunuhan atas Presiden Soekarno dalam Peristiwa Cikini, dengan eksekutor keponakan pimpinan salah satu parpol. Bagi Gedung Putih, inilah saat tepat melaksanakan rencana tahap III, yaitu intervensi militer terbuka ke wilayah RI. Presiden Soekarno harus tamat segera. CIA di bawah Allen Dulles telah mematangkan situasi. Melalui jaringannya di Singapura, Jakarta, dan London, sebagaimana dikemukakan Audrey R Kahin dan George McT Kahin dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri, agen-agen CIA berulang kali melakukan kontak khusus dengan Sumitro Djojohadikusumo, pencari dana untuk pemberontakan tersebut. Demikian pula dengan para perwira pembangkang seperti Kolonel Simbolon, Kolonel Fence Sumual, dan sejumlah perwira dan tokoh parpol lainnya. Namun, ketika perintah menggerakkan elemen Armada VII dikeluarkan, keputusan itu tampak tergesa-gesa yaitu kurang dua jam setelah pembicaraan melalui telepon antara Presiden Eisenhower dengan Menlu John Foster Dulles. Itu sebabnya ketika gugus tugas AL di Teluk Subic bergerak, barulah kedua tokoh ini sadar atas alasan apa intervensi nantinya dilakukan. Pemerintah Inggris, sekutu terdekat AS, sempat terperanjat dan menolaknya, sehingga kapal-kapal perang tersebut kembali ke pangkalannya. Namun, setelah lobi-lobi intensif, tanggal 23 Desember 1957 PM Harold Macmillan menyetujuinya dan membentuk kerja sama operasi untuk Indonesia. *** PERTENGAHAN tahun 1958 Gedung Putih akhirnya harus mengakui kegagalannya "menegakkan demokrasi" dan "membendung komunisme" di Indonesia. KSAD Jenderal AH Nasution yang disebut AS sebagai antikomunis, bergerak di luar perkiraan. Ia menerjunkan pasukan para merebut Bandara Pekanbaru. Dari pantai timur, didaratkan Marinir untuk menggunting pertahanan pemberontak. Alhasil, Dumai yang merupakan ladang minyak Caltex, berhasil diamankan. Pasukan Kolonel Akhmad Husein kocar-kacir, meninggalkan segala peralatan perang, termasuk senjata antiserangan udara yang belum sempat digunakan. Mereka tidak mengira serangan dadakan itu. Pesan rahasia dari Armada VII AS agar meledakkan Caltex tidak sempat lagi dipikirkan. Padahal inilah nantinya akan dijadikan kunci intervensi AS ke Indonesia. Dua batalyon Marinir AS sudah siaga penuh. Dalam tempo 12 jam, Marinir ini akan tiba di Dumai. Sejak itu sesungguhnya tamatlah riwayat PRRI yang dimotori para kolonel pembangkang serta tokoh PSI dan Masyumi. Pentagon tercengang. Pasukan PRRI makin terdesak, walaupun Sumitro Djojohadikusumo sebagai wakil PRRI di pengasingan tetap optimis. Kota demi kota berhasil direbut TNI hingga akhirnya para pemberontak hanya mampu melakukan perang gerilya terbatas. Bersamaan dengan itu dukungan rakyat kepada pasukan Kolonel Simbolon, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Akhmad Husein, Kolonel Dahlan Djambek, dan sejumlah perwira menengah lainnya, makin menciut. Bahkan terjangkit perpecahan intern. CIA gagal membaca situasi. Atas rekomendasi CIA pula sedikitnya AS telah mengedrop persenjataan bagi 8.000 prajurit pemberontak. Ini belum mencakup meriam, mortir, senapan mesin berat, dan senjata antitank. AS juga melatih sejumlah prajurit Dewan Banteng dan Dewan Gajah, yang diangkut dengan kapal selam menuju pangkalan militernya di Okinawa, Jepang. Keunggulan dalam sistem persenjataan dan pendidikan militer, ternyata bukan jaminan superioritas dalam setiap pertempuran. Penguasa Gedung Putih mulai patah semangat. Tanda kekalahan kelompok yang dibantu, yang disebutnya "patriot" sejati itu, makin jelas. Tetapi, CIA dengan intelijen AL AS, tetap memasok informasi keliru. Dalam laporannya, kekalahan pemberontak antikomunis akan mengguncang Malaya, Thailand, Kamboja, dan Laos. Ini sangat berbahaya. Atas pertimbangan itu, AS akhirnya tetap melanjutkan bantuan pada pemberontak, khususnya Permesta di Sulawesi Utara. Belajar dari kekalahan PRRI di Sumatera, di Sulawesi Utara penerbang AS dan Taiwan memberi perlindungan payung udara bagi Permesta. Pesawat pembom malang-melintang memutus jalur transportasi laut. Ambon, Makassar, bahkan Balikpapan dihujani bom. Korban terus berjatuhan. Namun, semua usaha ini juga menemukan kegagalan untuk menekan Jakarta. Ofensif dibalas dengan ofensif. Jenderal Nasution terus mengerahkan pasukan terbaiknya untuk merebut satu per satu pertahanan Permesta. Puncaknya ketika ALRI menembak jatuh pesawat pembom yang dikemudikan Allen Pope, warga negara AS, di Teluk Ambon pada 18 Mei 1958. Peristiwa ini tidak saja mengejutkan publik AS, tetapi juga masyarakat internasional. Apalagi Allen Pope mengaku bekerja untuk CIA. Kecaman terhadap agresi AS mulai mengalir. Tanpa sedikit pun merasa bersalah, AS kemudian dengan gampang putar haluan. Dari membantu peralatan perang dan pelatihan pemberontak, serta menyebarkan informasi bohong mengenai ancaman komunis terhadap stabilitas Asia Tenggara jika pemberontak kalah, Gedung Putih kemudian memutuskan membantu ekonomi dan militer Indonesia. Namun, kebijakan baru ini bukan berarti terputusnya hubungan dengan pemberontak yang disebutnya masih punya "masa depan" itu. Melalui jaringan CIA, sejumlah senjata ringan masih dipasok bagi DI/TII di Sulawesi dan Aceh, serta Permesta di Sulut. Presiden Eisenhower menyebutnya sebagai "bermain di dua pihak". *** KEBIJAKAN bermuka dua ini, tanpa peduli apa dan berapa banyak korban jiwa dan harta benda. Lantas di balik selubung bahaya ancaman komunisme, AS selalu berhasil memperdayai elite militer dan politik Indonesia. Gambaran lebih jelas mengenai Indonesia dikemukakan Presiden Eisenhower dalam konferensi gubernur negara bagian AS tahun 1953. Ia mengatakan, sumbangan AS sebesar 400 juta dollar AS membantu Perancis dalam perang Vietnam bukanlah sia-sia. Jika Vietnam jatuh ke tangan komunis, negara tetangganya akan menyusul pula. "Kita tidak boleh kehilangan Indonesia yang sangat kaya sumber daya alamnya," ujarnya. Bagi AS, di dunia ini hanya dikenal dua blok, yaitu komunis dan liberal. Di luar jalur itu dikategorikan sebagai condong ke komunis. Maka dengan kosmetik demikianlah bagi AS tidak ada ampun untuk seorang nasionalis seperti Soekarno. Tahap pertama operasi intelijen dengan membantu dana dua partai politik besar yang disebutnya antikomunis, agar bisa merebut suara dalam Pemilu 1955. Perolehan suara ini diharapkan akan mengurangi dukungan bagi Soekarno. Perkiraan ini meleset. PKI yang paling tidak disukai AS dan dianggap loyal terhadap Soekarno, justru memperoleh jumlah suara mengejutkan, hingga menempatkannya di urutan kelima. Padahal tujuh tahun sebelumnya, atau tahun 1948, PKI sudah dihancurkan dalam peristiwa Madiun. Peristiwa Madiun yang diprakarsai Muso tidak lama setelah kembali dari pengembaraannya di dunia Marxisme-Leninisme di Uni Soviet, mustahil dapat dipadamkan tanpa sikap tegas Bung Karno. CIA tidak memahami ini. Bung Karno tetap dianggap condong ke blok komunis. Itu sebabnya setelah gagal mendanai dua partai politik dalam pemilu, CIA kemudian mencoba cara lain yang lebih keras, yaitu "menetralisir" Bung Karno. Peristiwa penggranatan tanggal 30 November 1957 atau lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Cikini, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari skenario CIA. Walaupun bukti dalam peristiwa yang menewaskan 11 orang dan 30 lainnya cedera masih simpang-siur, tetapi indikasi keterlibatan CIA sangat jelas. Pengakuan Richard Bissell Jr, mantan Wakil Direktur CIA bidang Perencanaan pada masa Allan Dulles, kepada Senator Frank Church, Ketua Panitia Pemilihan Intelijen Senat tahun 1975, yang melakukan penyelidikan atas kasus tersebut, membuktikan itu. Ia menyebut sejumlah nama kepala negara, termasuk Presiden Soekarno, untuk "dipertimbangkan" dibunuh. Bagaimana kelanjutannya, ia tidak mengetahui. Bung Karno sendiri yakin CIA di belakang peristiwa ini. David Johnson, Direktur Centre for Defence Information di Washington, juga membuat laporan sebagai masukan bagi Komite Church. Peristiwa Cikini yang dirancang Kolonel Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai pendiri intelijen Indonesia, bukanlah satu-satunya upaya percobaan pembunuhan atas Bung Karno. Maukar, penerbang pesawat tempur TNI AU, juga pernah menjatuhkan bom dan menghujani mitraliur dari udara ke Istana Presiden. Presiden Eisenhower sendiri memutuskan dengan tergesa persiapan invasi ke Indonesia sepekan setelah percobaan pembunuhan yang gagal dalam Peristiwa Cikini. Ia makin kehilangan kesabaran. Apalagi peristiwa itu justru makin memperkuat dukungan rakyat pada Bung Karno. Ketegangan Bung Karno dengan Gedung Putih mulai mengendur setelah Presiden JF Kennedy terpilih sebagai Presiden AS. Ia malah mengundang Bung Karno berkunjung ke Washington. Dalam pandangan Kennedy, seandainya pun Bung Karno membenci AS, tidak ada salahnya diajak duduk bersama. Kennedy yang mengutus adiknya bertemu Bung Karno di Jakarta, berhasil mencairkan hati proklamator ini hingga membebaskan penerbang Allan Pope. Begitu Kennedy tewas terbunuh, suatu hal yang membuat duka Bung Karno, hubungan Jakarta-Washington kembali memanas. Penggantinya, Presiden Johnson yang disebut-sebut di bawah "todongan" CIA, terpaksa mengikuti kehendak badan intelijen yang "mengangkatnya" ke kursi kepresidenan. Pada masa ini pula seluruh kawasan Asia Tenggara seperti terbakar. CIA yang terampil dalam perang propaganda, kembali menampilkan watak sesungguhnya. Fitnah dan berita bohong mengenai Bung Karno diproduksi dan disebar melalui jaringan media massa yang berada di bawah pengaruhnya. Tujuannya mendiskreditkan proklamator itu. Hanya di depan publik menyatakan gembira atas kebebasan Allan Pope, tetapi diam-diam diproduksi berita bahwa kebebasan itu terjadi setelah istri Allan Pope berhasil merayu Bung Karno. Sedang pengeboman istana oleh Maukar, diisukan secara sistematis sebagai tindak balas setelah Bung Karno mencoba menggoda istri penerbang itu. CIA terus melakukan berbagai trik perang urat syaraf mendiskreditkan Bung Karno. Termasuk di antaranya Bung Karno berbuat tidak senonoh terhadap pramuria Soviet dalam penerbangan ke Moskwa. Jauh sebelum itu, Sheffield Edwards, Kepala Keamanan CIA pada masa Allan Dulles, pernah meminta bantuan Kepala Kepolisian Los Angeles untuk dibuatkan film cabul dengan peran pria berpostur seperti Bung Karno. Dalam satu artikel di majalah Probe, Mei 1996, Lisa Pease yang mengumpulkan berbagai arsip dan dokumen, termasuk dokumen CIA yang sudah dideklasifikasikan, menyebut yang terlibat dalam pembuatan film itu Robert Maheu, sahabat milyarder Howard Hughes, serta bintang terkenal Bing Crosby dan saudaranya. Lantas apa akhir semua ini? (Maruli Tobing) _____ Ketika CIA Menggusur "Diktator Komunis" TIDAK ada musuh permanen, kecuali kepentingan permanen. Itulah prinsip politik luar negeri AS. Mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang amat sangat dekat dengan Presiden AS terlarut dalam kekuasaan diktatornya yang panjang, hingga lupa prinsip politik luar negeri Paman Sam itu. Maka ketika ia terjungkal, juga oleh dukungan AS kepada oposisi, ia pun terperanjat harus melalui pemeriksaan bea cukai saat tiba di Bandara Hawaii.Lebih gawat lagi, di tempat pelariannya ini Ny Imelda Marcos, yang baru kemarin First Lady dan dipuja-puja pers lingkungannya, harus berlaku santun di depan petugas bea cukai yang menanyai asal-muasal perhiasan yang dibawa itu. Keterangannya yang meragukan membuat petugas itu memutuskan menahan perhiasan yang nilainya jutaan dollar AS. Esok harinya semua peristiwa ini muncul di jaringan media massa lokal, nasional, dan internasional. Rakyat Filipina tertawa girang melihat Imelda Marcos tunduk seperti pesakitan di depan tumpukan permata yang ditahan bea cukai. Sedang masyarakat dunia, termasuk tokoh-tokoh yang tadinya amat sangat ramah pada keluarga sang presiden, mencibir dan menyebut pasangan ini sebagai koruptor paling serakah di jagat ini. Marcos mengalami stres berat, sebelum kemudian sakit-sakitan. Tetapi, pengadilan AS, atas permintaan Jaksa Agung Filipina, tetap menyeretnya atas tuduhan korupsi dan pelanggaran HAM. Hingga saat terakhir, dalam kondisi diinfus di atas tempat tidur, Marcos tetap digiring mengikuti persidangan. Inilah Amerika Serikat sesungguhnya. Para "sahabat" di lingkaran Gedung Putih, kini seolah menemukan badut baru yang membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal, menyaksikan kondisi Marcos di persidangan melalui layar televisi. Marcos perlahan-lahan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tidak satu pun di antara "sahabat-sahabatnya" itu datang melayat. Milyaran dollar AS kekayaan Filipina yang dibagikannya dalam bentuk proyek kepada pengusaha maupun pejabat AS, ternyata bukan jaminan sebuah bangunan persahabatan. Bagi Gedung Putih, Marcos adalah masa silam. Sekarang muncul penggantinya, Cory Aquino, yang harus dirangkul. Marcos "jatuh" setelah empat jam pesawat yang membawa Philipp Habib lepas landas meninggalkan Filipina. Utusan Pemerintah AS ini memberi lampu hijau bagi kelompok Jenderal Ramos melakukan pemberontakan. Sebelumnya, Shah Iran yang menghamburkan milyaran dollar AS hanya untuk belanja peralatan perang, suatu industri utama AS, dan mengikuti keinginan Gedung Putih untuk tidak memberi sejengkal pun tempat perlindungan bagi pejuang Palestina, juga harus menanggung kecewa amat menyakitkan. AS menolak memberi tempat pelarian ketika Khomeini menumbangkannya dari takhta yang despotis itu. Dalam penerbangan meninggalkan negerinya menuju AS, tiba-tiba saja Gedung Putih menolak kehadirannya. Pesawat terpaksa putar haluan menuju Mesir, karena hanya negara inilah yang bersedia menerima dengan segala konsekuensinya. Tidak lama kemudian Shah Iran menghembuskan napas akibat komplikasi stres. Sejarah kekuasaan Shah Iran tidak dapat dilepaskan dari CIA. Berkat bantuan lembaga intelijen inilah kekuasaannya yang telah dipangkas parlemen, bisa dipulihkan kembali pada Agustus 1951 setelah militer menggulingkan pemerintahan PM terpilih Mossadegh. CIA menerapkan teori sindikalisme yang akrab dengan anarkisme. Melalui partai sayap kanan, Tudeh, yang didanai hingga 19 juta dollar AS, massa turun ke jalan mendesak parlemen yang demokratis. Tuntutan diikuti pengerahan massa, mendesak dikembalikannya kekuasaan eksekutif kepada Shah Iran. Rekayasa untuk menimbulkan bentrokan massa pendukung Mossadegh dengan Tudeh di jalanan Kota Teheran yang mengakibatkan 300 orang tewas, mengondisikan militer yang condong pada Shah Iran mengambil alih kekuasaan. Sejak itu AS mulai menancapkan bisnisnya di sektor perminyakan. Kermi Roosevelt, cucu Presiden Roosevelt, yang kala itu mengendalikan operasi CIA di Timur Tengah, tidak lama kemudian menjadi Wakil Presiden Gulf Oil. Inggris yang dibantu AS memulihkan kekuasaan Shah Iran, merelakan 60 persen sahamnya kepada perusahaan AS sebagai tanda terima kasih. Delapan perusahaan AS lainnya mendapat konsesi melakukan pengeboran minyak. Ketika Shah Iran berada di ujung tanduk Revolusi Islam yang begitu dahsyat, AS mencoba mendekati Khomeini, tetapi gagal. Ketika Pemerintah Islam ditegakkan, lagi-lagi AS mencoba mengambil hati dengan memberi daftar nama 200 agen-agen KGB di Iran. Pengawal Revolusi Iran menerimanya dan mengeksekusi semua agen KGB tersebut, tetapi hubungan dengan AS tetap haram bagi Teheran. Bahkan kemudian menyandera staf kedutaan AS. Kekejaman Savak, algojo Shah Iran yang dididik CIA, serta pengisapan kekayaan negeri ini, membuat pemerintahan Islam di Teheran muak melihat AS. Pada masa Perang Iran-Irak, AS kembali mencoba merangkul Iran dengan menjual peralatan militer. Sementara kepada Irak dijual foto-foto satelit konsentrasi Pengawal Revolusi Iran. Tetapi, pemimpin Irak lebih cerdik. Melalui pintu belakang, mereka membocorkan pembelian senjata itu, hingga publik AS geger. Penjualan senjata yang di luar sepengetahuan Kongres itu kemudian berubah menjadi skandal besar setelah Senat membentuk komisi pengusutan, karena ternyata melibatkan Presiden AS beserta jajarannya. Iran Gate dengan tokoh utama Letkol Oliver North adalah skandal terbesar masa itu. Uang hasil penjualan senjata itu dipakai membiayai kelompok gerilya Contra menggempur Sandinista. Dari lanjutan kasus ini pula terbongkar kegiatan CIA dalam perdagangan narkotik, kokain, untuk mendanai kegiatannya. Di Panama, CIA memborgol Presiden Noriega dan menerbangkannya ke negeri Paman Sam untuk diadili sehubungan kasus pelanggaran HAM dan perdagangan narkotika. Padahal sudah rahasia umum di Amerika Tengah bahwa Jenderal Noriega masuk dalam lingkaran CIA. Sedang mengenai bisnis narkotika, sesungguhnya bukanlah aib bagi CIA. Sejak 50 tahun silam, setelah berhasil mendorong mundur pasukan Koumintang ke arah selatan, memasuki perbatasan Myanmar Utara, CIA mendorong penanaman candu besar-besaran, yang kemudian berkembang menjadi segi tiga emas. Operasi CIA yang menghamburkan banyak uang, sebagian besar dipasok dari bisnis haram ini. *** PETUALANGAN AS kadang-kadang sulit dipahami akal sehat dan mirip wild west. CIA yang mirip negara dalam negara sangat berperan dalam politik luar negeri AS. Itu sebabnya perilaku politik AS selalu bermuka dua, seperti halnya intel. Contohnya, netralitas yang kerap didengung-dengungkan, tetapi melalui pintu belakang justru meruntuhkan pemerintah yang dianggap netral. Bung Karno dan Pangeran Sihanouk adalah korban "netralitas" AS. Begitu pula Ali Bhutto, yang baru saja meninggalkan Kedubes AS untuk suatu acara, tiba-tiba ditangkap pasukan Jenderal Zia Ul'haq yang melakukan kudeta. Bhutto kemudian digantung. Banyak cara yang dilakukan AS melalui CIA untuk menegakkan "netralitas" dan "demokrasi". Tetapi, pola baku adalah menuding kepala pemerintahan itu sebagai "rezim teror komunis" yang membahayakan stabilitas kawasan. Ada beberapa contoh menarik sebagai perbandingan. Tahun 1951, misalnya, untuk pertama kalinya Guatemala memilih presiden secara demokratis sejak Spanyol hengkang tahun 1820. Presiden terpilih Jacobo Arbenz yang ingin memperbaiki standar hidup rakyatnya melalui land-reform, harus menelan pil pahit. United Fruit Company, perusahaan AS yang 10 persen lahannya akan terkena land-reform dan industrinya setengah dinasionalisasikan, ternyata punya hubungan dengan CIA. Menlu John Foster Dulles segera mengeluarkan pernyataan, rakyat Guatemala saat ini hidup di bawah pemerintahan teror komunis. Presiden Eisenhower menyebut Presiden Arbenz sebagai "diktator komunis". Ibarat rangkaian yang sudah ditata, Dubes AS di Guatemala lantas mengatakan, "Kita tidak mungkin membiarkan Republik Soviet didirikan antara Terusan Panama-Texas". AS kemudian membuat pakta pertahanan dengan Nikaragua, Honduras, dan Panama, serta menempatkan 30 pesawat terbang di sana. Tanggal 18 Juni 1953, pesawat terbang AS menyebarkan pamflet yang isinya tuntutan "pemberontak" agar Presiden Arbenz mundur. Bersamaan dengan itu radio gelap di kedubes AS menyiarkan tuntutan itu setiap hari, diikuti dengan berbagai berita dan analisa kebusukan Presiden Arbenz. Tidak lama setelah itu CIA mendistribusikan 100.000 pamflet gelap di bawah judul Kronologi Komunisme di Guatemala, tiga film tentang "kebusukan" Presiden Arbenz, dan lebih 27.000 kopi poster yang menertawakan Arbenz. Pada April 1954, CIA mulai mempercepat iramanya. Sebuah pesawat terbang yang dimanipulasi dengan lambang Soviet, terbang rendah melintas Honduras, Nikaragua, dan Meksiko, sebelum masuk ke wilayah Guatemala. Kemudian pesawat AS mengebom wilayah Honduras yang berbatasan dengan Guatemala. Radio gelap AS serta koran-koran di bawah jaringannya, menyiarkan keadaan gawat. Pesawat Soviet mengedrop senjata bagi pemerintah "diktator komunis". Kemudian melakukan pengeboman terhadap pemberontak yang menentang kediktatoran itu. Situasi ini, ulas radio tersebut, mengancam stabilitas kawasan Amerika Tengah. Negara-negara tetangga Guatemala yang masuk pakta pertahanan AS mengajukan protes ke PBB, hingga akhirnya keluar resolusi mengutuk pemerintahan Arbenz. Dari sini mulai terbentuk opini dunia terhadap pemerintah yang sangat demokratis itu. Sementara itu, CIA terus menyiarkan propaganda mengenai kemenangan pemberontak, di samping memproduksi foto palsu kuburan massal dengan menyebutnya sebagai korban kekejaman rezim komunis Arbenz. Terakhir, CIA mengebom ibu kota, dan terus-menerus menyiarkan melalui radio bahwa pasukan pemberontak sudah hampir memasuki ibu kota dengan peralatan persenjataan berat dan dukungan Marinir AS. Padahal sesungguhnya pasukan pemberontak hanya menguasai beberapa desa, jauh di perbatasan. Dalam situasi panik demikian, Kolonel Castilo Armas, yang menerima 60.000 dollar AS dari CIA, melancarkan kudeta. Sejak itu land-reform dibatalkan, serikat pekerja dibubarkan, dan kebebasan pers diberangus. Dua puluh lima tahun kemudian, sesuai UU kebebasan mendapatkan informasi, dokumen CIA setebal 1.400 halaman mengenai perannya di Guatemala, terbuka pada publik. Rakyat Guatemala terperanjat begitu mengetahui isinya. Sementara itu tahun 1970, Salvador Allende yang terpilih juga dalam pemilu yang paling demokratis di Cile, menerima getirnya reformasi. Langkah pertama yang dilakukannya dengan mencabut hukuman mati, mengakui semua parpol, land-reform, dan terakhir nasionalisasi perusahaan tambang belerang AS, membuat gusar Gedung Putih. Melalui CIA, diproduksi pamflet, poster, dan dokumen palsu mengenai rencana jahat Allende untuk membangun komunisme. Di bawah pengendalian Deputi Direktur Operasi CIA, William Colby, yang sebelumnya sukses menjatuhkan Presiden Soekarno, CIA mulai melancarkan perang propaganda untuk mendiskreditkan Allende. Kemudian, seperti biasa, muncul foto kuburan massal di bawah judul korban kekejian diktator komunis Allende. Tahun 1973, di bawah nama sandi "Jakarta" terjadi pembunuhan seorang jenderal oleh pasukan yang sudah mendapat pelatihan dari CIA. Pembunuhan ini karena menolak tawaran melakukan kudeta. Tetapi, mesin-mesin propaganda CIA meniupkannya sebagai korban keganasan komunis diktator Allende. Jenderal Pinochet kemudian melakukan kudeta, mengeksekusi Allende dan ribuan warga. *** PULUHAN pemimpin pemerintahan di berbagai negara tersungkur oleh CIA. Metodenya hampir sama, yaitu diawali perang propaganda untuk mengondisikan citra negatif. Kemudian menyusul infiltrasi dalam tubuh angkatan bersenjata melalui berbagai program bantuan, mengadu domba militer-sipil, provokasi melalui insiden berdarah, baru disusul kudeta. Dalam beberapa kasus, jika memungkinkan, ditempuh jalan pintas. Seperti membunuh kepala negara atau pemerintahan bersangkutan. Tetapi, upaya ini kerap gagal, seperti pernah dua kali menimpa Presiden Soekarno dan 13 kali dialami Fidel Castro. Dalam aksi ini, yang paling digemari CIA untuk mengeksekusi adalah bom, granat, dan senapan mesin ringan. Patrice Lumumba, Presiden Kongo yang terpilih secara demokratis tahun 1960, mungkin contoh nasionalis paling sial. CIA pernah mengirim pakar mikrobiologinya, Dr Joseph Scheider, untuk menyebarkan virus bakteri yang akan membinasakan Lumumba. Ribuan orang tewas akibat penyakit aneh, tetapi Lumumba selamat. Terakhir CIA kembali ke pola standar dengan mendorong Jenderal Mobotu melakukan kudeta dan mengeksekusi Lumumba. *** MEMASUKI milenium ketiga, tidak bisa diramal apakah CIA masih menggandrungi pola lama tersebut. Jika ditarik pengalaman Indonesia dalam rentang waktu yang panjang, yakni sejak jatuhnya Bung Karno hingga lengsernya Soeharto, CIA tampaknya tidak ingin mengulangi metode yang sama di negara yang sama. Dalam penggulingan Bung Karno, misalnya, Indonesia berubah menjadi kolam darah-berbagai pihak memperkirakan angka tewas berkisar 500.000-satu juta jiwa-namun untuk Soeharto, CIA agak hati-hati karena menyimpan rahasia keterlibatan AS dalam G30S. Ketika Soeharto lengser, tidak satu pun terjadi pembersihan yang menelan korban jiwa. CIA tampaknya hanya mematangkan situasi dengan bantuan uang. Misalnya, saja antara tahun 1995-1997, sedikitnya 26 juta dollar AS bantuan CIA melalui lembaga penyelubungnya kepada LSM-LSM anti-Soeharto. Walaupun demikian, tidak ada pula salahnya mencurigai CIA ikut dalam peristiwa 13-15 Mei 1998 di Jakarta. Dalam peristiwa biadab itu, seluruh gelombang komunikasi radio aparat keamanan tidak bisa digunakan. Kemampuan teknologi demikian hanya dimiliki CIA dan Mossad, intelijen Israel. Peristiwa Mei adalah skenario melengserkan Soeharto agar menyerahkan kekuasaan kepada militer. Dukungan AS mulai beralih ketika Soeharto makin kikir dalam membagi rezeki kontrak tambang dan berbagai proyek besar lainnya. Soeharto yang makin uzur, kembali ke bentuk alami, dengan mengutamakan bisnis putra-putrinya. Selain itu, ketika AS melakukan embargo senjata, Soeharto atas saran BJ Habibie dan kawan-kawan, mulai mencoba mencari peralatan militer di luar AS, termasuk ke Moskwa. Suatu hal yang membuat AS berang. Puncaknya adalah ketika Myanmar, atas desakan Soeharto melalui PM Mahathir, diterima sebagai anggota ASEAN. Padahal AS dan Masyarakat Eropa sejak lama melakukan embargo dan terus berusaha mengisolir Myanmar. Gedung Putih yang mengutus Menlu Albright melobi pemimpin ASEAN agar menolak Myanmar, tidak dipedulikan. Dengan begitu pula makin kuat tekad melengserkan Soeharto. Puncaknya ketika angin puting-beliung krisis ekonomi memporak-porandakan benteng pertahanan Soeharto menjelang pertengahan 1997. Sekarang kita tinggal mencocokkannya di lapangan. Kalau hal ini juga tidak manjur, maka itu bisa dilihat dari siapa pejabat negara yang bermain dalam konflik internal dan kedekatan dengan salah satu korporasi multinasional AS serta pernah beberapa kali berkunjung ke negeri koboi itu. (mt) _____ Perang Urat Saraf yang Mematikan MENJELANG bulan Oktober 1965, mendung menyelimuti Jakarta. Di sana-sini orang berbisik, mencari tahu apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Tidak satu pun bisa menjawabnya, karena memang tidak satu pun tahu apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Hanya firasat sosial yang bergetar mengisyaratkan kita akan memasuki tahap genting. Gejolak pertarungan politik yang selama ini mengambil lahan subur di atas primordialisme, aliran, dan ideologi, tampaknya akan mencapai klimaks. Tidak seorang pun bisa menjawab apakah situasi itu akan menjebol tembok segregasi sosial yang lahir dari proses politik bertiraikan saling curiga itu. Republik Indonesia tidak beda dengan manusia uzur. Sejak dwi tunggal Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945, nyaris tidak ada hari tanpa konflik terbuka. Heroisme melawan kolonial di masa silam tetap dilanggengkan dalam bentuk kekerasan yang diwakili para "jawara" politik. Puncaknya, badai ekonomi dahsyat. Inflasi meroket sampai 600 persen menjelang pertengahan tahun 1965. Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi, menjadi tumpuan harapan. Tetapi, dalam situasi demikian, ia pun tidak beda dengan nakhoda kapal yang bocor dan oleng di tengah hantaman angin puting-beliung di samudera luas. Sementara penumpang baku hantam, tanpa mempedulikan situasi gawat. Kondisi psikologis demikian mewarnai Jakarta sejak pertengahan tahun 1965. Sulit dibedakan lagi antara kenyataan dan isu. "Ibu Pertiwi sedang hamil tua" begitu setiap hari kalimat yang diucapkan penyiar Suara Indonesia Bebas pada akhir siarannya, dan kemudian ditutup dengan kata, "Berontak!" Kecuali agen CIA, tidak ada yang tahu persis lokasi radio yang frekuensinya begitu kuat hingga dapat ditangkap melalui gelombang pendek di seluruh Indonesia. Banyak yang menduga posisi pemancar tersebut di Malaysia atau Filipina Selatan. Namun, Prof Roland G Simbulan dari University of the Philippines, dalam tulisannya mengenai peran rahasia CIA di Filipina, mengungkapkan hal lain. Ia mengatakan, tahun 1965 pemancar bergerak sangat canggih dengan frekuensi tinggi pada gelombang pendek, telah diterbangkan menggunakan pesawat pengangkut US Air Force C-130 dari pangkalan angkatan udara Clark, Filipina Tengah, menuju Jakarta. Radio ini ditempatkan di markas Jenderal Soeharto. Pengiriman radio itu atas perintah William Colby, Direktur CIA Divisi Asia Timur Jauh. *** TERDAPAT ratusan tulisan dan komentar mengenai peristiwa sekitar bulan Oktober 1965 oleh para ilmuwan, pengamat, dan aktivis HAM di mancanegara. Namun, yang menarik adalah apa yang dikemukakan Sundhaussen dalam bukunya The Road to Power: Indonesian Military Politics, bahwa untuk memahami peristiwa G30S, pertama-tama harus mengamati isu yang berkembang saat itu. Mengikuti alur pikir demikian, Dr Peter Dale Scott dari University of California, Berkeley, secara jelas menggambarkan trik disinformasi CIA yang begitu canggih hingga menimbulkan ketegangan luar biasa, khususnya antara PKI dengan kelompok Jenderal Nasution. Sebagian disinformasi diproduksi dalam pamflet gelap, yang disebarkan melalui jaringannya yang dulu terlibat dalam pemberontakan bersenjata. Pamflet ini, meminjam istilah Peter Scott, merekayasa paranoid. Salah satu pamflet pada Agustus 1965 berbunyi antara lain, "PKI sudah siap tempur. Kelompok Jenderal Nasution berharap PKI lebih dulu menarik pelatuk. Namun, PKI tidak akan melakukan hal ini. PKI tidak akan membiarkan dirinya terprovokasi seperti dalam Peristiwa Madiun. Sekarang hanya ada dua pilihan: PKI atau kelompok Nasution. Tidak ada alternatif di luar itu. Ralph McGehee, veteran CIA yang pernah bekerja selama 25 tahun (1952-1977) sebagai staf Counterintelligence CIA seksi Komunisme Internasional, menyebut proses eskalasi disinformasi secara sistematis telah dilakukan CIA. Melalui tulisannya The Indonesian Massacres and CIA, yang sebagian disensor CIA karena menggunakan data rahasia negara yang belum boleh dipublikasikan kepada publik, ia menyebut dokumen palsu itu telah menggiring massa melakukan kekerasan. Sebab, demikian tambahnya, temuan dokumen itu akan disusul berita bohong mengenai ditemukannya kuburan massal korban kekejaman komunis. Situasi Jakarta pada September 1965 amat sangat tegang. Di kalangan PKI beredar "dokumen" rencana jahat Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965, menyusul makin parahnya kondisi kesehatan Bung Karno. Jika kudeta ini berhasil, Angkatan Darat akan melenyapkan semua kader PKI. Sedang di kalangan militer menyebar dokumen rencana PKI untuk mengambil alih kekuasaan dan menghabisi para jenderal. "Dokumen" ini muncul tidak lama setelah beredarnya isu memburuknya kesehatan Bung Karno. Isu ini menyebabkan lenyapnya sandang-pangan di pasaran. Akan halnya isu mengenai memburuknya kesehatan Bung Karno, disebut-sebut bersumber dari hasil diagnosa tim dokter RRC yang memeriksa Bung Karno, yang laporannya dikirim ke Beijing. Walaupun nantinya tim dokter RRC kaget karena tidak pernah membuat laporan demikian, tetapi informasi palsu ini telanjur menimbulkan guncangan politik dalam masyarakat. Menurut Ralph McGehee dan sejumlah mantan staf CIA lainnya, pola disinformasi merupakan prosedur baku dalam operasi rahasia CIA. Tujuannya mendiskreditkan pemimpin atau kelompok yang dianggap menghalangi kepentingan AS. Kemudian melalui Divisi Pelayanan Teknis CIA, yang mempunyai jaringan atas ratusan media massa di AS dan di berbagai negara di dunia, informasi ini disajikan kepada publik sebagai suatu "temuan besar". Inilah juga yang dilakukan CIA untuk mematangkan situasi menjatuhkan Presiden Arbenz di Guatemala tahun 1954, Soekarno (1965-1966), Allende di Cile (1973), Juan Torres di Bolivia (1971), Arosemana di Dominika (1963), Joao Goulart di Brasil (1964), dan sejumlah kepala pemerintahan lainnya. Pemalsuan dokumen itu begitu canggihnya, hingga sulit mengatakan itu palsu. Terbukti, misalnya, Subandrio sampai perlu melaporkan dokumen Dewan Jenderal itu sepekan sebelum meletusnya G30S. Bahkan sejumlah perwira yang loyal kepada Bung Karno terpancing bertindak. Inilah memang yang dihendaki pembuat dokumen palsu itu. Perwira yang dipimpin Letkol Untung berencana menghadapkan para jenderal yang namanya tercantum dalam daftar Dewan Jenderal untuk menghadap Bung Karno. Mantan Panglima Angkatan Udara Omar Dani, yang baru saja menerbitkan biografinya, mengaku mendengar rencana ini dari Mayor Heru perwira intelnya. Sementara Kolonel Latief, empat jam sebelum meletusnya G30S, juga melaporkan adanya gerakan militer kepada Jenderal Soeharto. Sebaliknya, kegusaran pimpinan TNI AD yang antikomunis makin sulit dibendung setelah pada awal September muncul berita di salah satu surat kabar Malaysia yang mengutip sebuah koran di Bangkok, bahwa sebuah kapal mengangkut senjata dari RRC sedang siap-siap berlayar menuju Indonesia. Diduga senjata tersebut untuk memenuhi permintaan PKI, yang selama ini menuntut Pemerintah RI mempersenjatai kaum buruh dan tani sebagai Angkatan V. Berita dari luar negeri selalu dianggap kredibilitasnya tinggi, tetapi seandainya pun hendak dilakukan pengecekan, jelas bukan hal mudah. Surat kabar Thailand yang dikutip di Malaysia itu juga mengambil sumber "dipercaya" di Hongkong, yang hingga saat ini tidak diketahui siapa itu. Dalam situasi psikologis demikian, sebuah pemantik kecil akan membuka katup banjir bandang amok. Mereka yang paham permainan perang urat saraf, sekarang tinggal menggelindingkan bola ke arah mana. Pemain akan berebut mengejarnya. Para perwira pimpinan Letkol Untung makin gerah pada akhir September, mengingat rencana Dewan Jenderal melakukan kudeta 5 Oktober. Kasak-kusuk, sas-sus, dan ditemukannya kembali "dokumen" rahasia, membuat mereka terjerumus bertindak lebih dulu. Yang mengagetkan, seperti kata Omar Dani, para jenderal itu bukannya dibawa menghadap Bung Karno, tetapi tewas dibunuh. Syam Kamaruzaman, tokoh misterius yang menjadi penghubung DN Aidit dengan militer, disebut-sebut memprovokasi Untung dan kawan-kawan, dengan memberi instruksi menembak jenderal-jenderal kontrarevolusi itu jika memang diperlukan demikian. Sejumlah tulisan mengenai sekitar G30S menyebut Syam tadinya intel Kodam Jaya. Ia kenal baik dengan Soeharto pada waktu di Semarang. Ketika itu Syam menjadi kader salah satu parpol yang kelak dibekukan Bung Karno. Letkol Untung, Kolonel Latief, Brigjen Supardjo, Kolonel Suherman juga anak buah Soeharto di Kodam Diponegoro. Lebih menarik lagi, Brigjen Supardjo dan Kolonel Suherman, Asisten Intel Kodam Diponegoro, belum lama kembali dari pendidikan militer di AS. Ini artinya, seperti tulis Peter Scott, ia telah melewati prosedur seleksi ketat intelijen AS. Sedang Banteng Raiders, Batalyon 454 dan 530, yang selama ini disebut-sebut menjadi tulang punggung G30S, didatangkan dari Jateng atas perintah Jenderal Soeharto melalui radiogram. Dua batalyon Raiders ini pernah mendapat bantuan pelatihan dari Pentagon. *** TANPA bermaksud mengungkap siapa yang bersalah dalam peristiwa berdarah tersebut, menjadi sangat logis jika sejumlah pimpinan Angkatan Darat yang antikomunis dan masyarakat luas lainnya kemudian bereaksi keras setelah terjadinya G30S. Ditambah "bukti" pembantaian tujuh pahlawan revolusi secara "mengerikan", menjadi petunjuk akhir bahwa "dokumen" yang ditemukan selama ini otentik. Menurut McGehee, pada 23 Oktober 1965 lagi-lagi "ditemukan" dokumen rahasia PKI. Temuan besar ini dimuat di sebuah surat kabar Jakarta yang masuk jaringan CIA. Isi berita tersebut antara lain, "ditemukan jutaan kopi teks proklamasi Gestapu....Teks... sangat jelas dicetak di RRC. Selain itu ditemukan pula topi serta perlengkapan militer dalam jumlah besar. Ini merupakan bukti yang tidak terbantah mengenai keterlibatan RRC... Sedang senjata dikirim dengan kapal laut dengan berkedok kekebalan diplomatik..." Tanggal 30 Oktober 1965, masih menurut McGehee, Jenderal Soeharto, dalam pertemuan khusus dengan para jenderal dan perwira menengah lainnya, dengan nada gusar mengatakan, penemuan dokumen tersebut menunjukkan PKI berada di balik peristiwa G30S. Ia kemudian memerintahkan penumpasan komunis hingga ke akar-akarnya (communists be completely uprooted). Sejak itulah militer mulai melancarkan kampanye berdarah untuk membasmi hingga ke akar-akarnya segala yang berkaitan dengan komunis. Elemen-elemen masyarakat yang terjangkit histeria sosial digerakkan membentuk pagar betis. Banjir darah terjadi di mana-mana. Jutaan manusia kehilangan orangtua, ibu, kakak atau adik. Kedutaan RRC juga tidak luput dari amuk massa. Hubungan negara Tirai Bambu dengan RI yang tadinya begitu mesra, berubah menjadi musuh mengerikan. Hubungan diplomatik diputus. Suatu hal yang sangat didambakan AS untuk membendung pengaruh RRC. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, secara mengejutkan proses pembunuhan berjalan sangat sistematis. Aksi sepihak yang dilancarkan BTI (Barisan Tani Indonesia) merebut lahan "tuan tanah" pada masa sebelumnya, sekarang dibalas tanpa ampun. Kombinasi panik, dendam, dan ketakutan yang diekspresikan dalam amuk itu makin gawat setelah setiap hari dikumandangkan melalui RRI: "dibunuh atau membunuh". Para pejabat militer di daerah meneruskannya dengan mengulangi kalimat itu setiap saat. Sedang pemancar gelap Suara Indonesia Bebas yang lokasinya entah di mana, memberitakan aksi pembalasan yang dilakukan PKI di sejumlah daerah, pertempuran sengit berlangsung di kompleks Merapi-Merbabu, CC PKI membangun basis gerilya di Blitar Selatan, dan lain sebagainya. Berita fiktif ini membakar kepanikan di banyak tempat. Di luar Pulau Jawa, banjir darah paling dahsyat terjadi di Sumatera Utara. Korban terbesar buruh perkebunan. Di Sumut saja sedikitnya 100.000 korban tewas. Di Tapanuli Utara, Selatan, dan Simalungun, tatanan adat terjungkal setelah milisi Komando Aksi Penumpasan G30S mulai bergerak menetralisir elemen-elemen komunis. Mereka tidak peduli apakah calon korban adalah paman, satu marga atau keluarga istrinya. Padahal hubungan yang dibentuk hirarki adat itu adalah simpul keutuhan sosial. Sama seperti di Jakarta, sebelum terjadinya pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI, di kota-kota kecil seperti di Sumatera Utara beredar pula "dokumen" rahasia rencana jahat PKI. *** KETIKA mayat-mayat mulai bergelimpangan, Kedubes AS di Jakarta memberi daftar nama 5.000 kader PKI di berbagai organisasi kepada Jenderal Soeharto. Berbekal dengan ini, Kostrad dan RPKAD bergerak cepat merontokkan organisasi komunis tersebut, sebelum mereka sempat berbuat sesuatu. Publik AS mengetahui peristiwa itu setelah Kathy Kadane mengumpulkan informasi, kemudian menulisnya dalam Herald Journal (19/5/1990). Esok harinya San Francisco Examiner menurunkannya di halaman depan, kemudian disusul Washington Post hari berikutnya. Markas CIA, melalui jubirnya Mark Mansfield, membantah keterlibatan badan intelijen ini dalam pembunuhan massal. "Tuduhan itu jelas tidak mempunyai substansi hanya karena memberi daftar nama semata-mata," ujarnya. Namun, bukti yang dikemukakan Kathy Kadane membuat khalayak AS kali ini tidak percaya pada kebohongan CIA. Laporan Mansfield didasarkan pada pengakuan mantan Dubes AS di Jakarta, Marshall Green. Tetapi, demikian tambahnya, Green tidak begitu banyak tahu detail soal ini. "Daftar nama kader PKI itu sangat membantu Angkatan Darat," ujar Robert J Martens, mantan staf seksi politik di Kedubes AS di Jakarta, yang ditugaskan menyusunnya. Daftar ini kemudian disampaikan Edward Master, Kepala Seksi Politik Kedubes AS, kepada Adam Malik untuk diteruskan kepada Jenderal Soeharto. Disebutkan, setiap saat Kedubes AS selalu mendapat laporan dari markas Jenderal Soeharto mengenai "realisasi" daftar itu. "Amat sangat banyak yang berhasil ditangkap waktu itu," ujar Josepf Lazarsky, Kepala Perwakilan Stasiun CIA di Jakarta, bangga. Mengenai nasib mereka ini, Lazarsky berpegang pada ucapan Soeharto, "Jika ditahan terus siapa yang akan memberi makannya." AS melalui CIA sesungguhnya tidak hanya terlibat dalam memasok nama-nama kader komunis. Dalam laporan Dubes Marshall Green ke Washington awal November tahun itu, dikemukakan adanya permintaan senjata dari jenderal Angkatan Darat untuk digunakan kelompok milisi di Jawa Tengah dan Jawa Timur menumpas PKI. Hal itu juga dibenarkan Kathy Kadane dalam suratnya tujuh tahun kemudian setelah tulisannya yang menggegerkan itu. Dalam surat untuk editor New York Review of Books (10/4/ 1997) ia mengatakan, menit-menit Jenderal Soeharto memutuskan menumpas komunis, Pentagon mengapalkan mobil-mobil jip, lusinan radio lapangan, dan persenjataan. Salah satu radio dengan frekuensi tinggi dan yang paling canggih pada masa itu, dipasang di Kostrad, markas Soeharto. Antenanya, kata Kathy Kadane, kelihatan dipajang di depan. Melalui radio ini pula, intelijen AS tahu semua perkembangan, karena komunikasinya disadap. Namun, AS bukanlah pemain tunggal. Direktorat kontra intelijen luar negeri Inggris, MI-6, dan Australia, juga terlibat dalam perang propaganda menjatuhkan Soekarno. Dalam bukunya Britain's: Secret Propaganda War 1948-77, Paul Lashmar dan James Oliver mengatakan, enam bulan sebelum pecahnya G30S, MI-6 mengirim Norman Reddaway ke Jakarta atas permintaan khusus Dubes Inggris untuk RI, Sir Andrew Gilchrist. Operasi rahasia yang selama ini dilakukan untuk menggerogoti Presiden Soekarno, dinilai kurang manjur. Pemerintah Inggris sendiri sangat berkepentingan dengan jatuhnya Bung Karno untuk menghentikan kampanye konfrontasi ganyang Malaysia. Dalam hal ini MI-6 bergandengan dengan CIA. Yang menarik adalah disebutnya nama Ali Murtopo, dalam hubungan rahasia stasiun MI-6 di Singapura. Ketika konfrontasi ganyang Malaysia sedang berlangsung, Ali Murtopo dikabarkan pernah ke Singapura. Informasi ini bocor sehingga menjadi bahan pembicaraan. Persoalan sekitar G30S tidaklah sesederhana apa yang dibolehkan Orde Baru diketahui masyarakat selama ini. Jaringan intelijen asing yang sangat kompleks dan penuh liku, membuat mustahil memahaminya. Sama halnya seperti kita tidak akan pernah tahu peran apa yang dimainkan Agustus C "Gus" Long, bos perusahaan minyak Texaco, korporasi raksasa dalam skala dunia. Perusahaan ini, berpatungan dengan Socal (Standard Oil of California), menguasai saham Caltex. Agustus 1965, Long yang juga Dewan Direktur Freeport ditunjuk sebagai anggota dewan penasihat intelijen Presiden AS untuk urusan luar negeri. Sebelum jatuhnya Presiden Soekarno, Freeport mencoba lobi khusus melalui Presiden Kennedy dan adiknya, Robert Kennedy, agar bisa memperoleh kontrak penambangan. Bung Karno tidak bergeming, sehingga menimbulkan frustrasi eksekutif Freeport. Dalam tulisannya JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur, Lisa Pease mengatakan, dalam posisi sebagai penasihat intelijen Presiden AS untuk urusan luar negeri, Long banyak mengetahui ihwal jatuhnya Bung Karno. Maka tidak heran begitu UU PMA disahkan tahun 1967, yang pertama kali disetujui Soeharto adalah kontrak Freeport. Selain Long, pada periode 1960-an sampai 1970-an masih ada nama "sakti" lainnya dalam jajaran dewan direktur, yaitu Robert Lovett. Mantan Asisten Menteri Peperangan (PD II) dan kemudian menjadi Menteri Pertahanan ini, dijuluki sebagai "arsitek perang dingin". Periode setelah itu muncul nama-nama baru seperti mantan Menlu Henry Kissinger, menyusul lagi James Woolsey, mantan Direktur CIA. Mantan Direktur CIA Asia Timur Jauh, William Colby, menyebut sukses menumpas komunis di Indonesia sebagai yang terbaik dan seperti dikehendaki. Vietnam boleh jatuh ke tangan komunis. Kemudian akan menyusul negara-negara tetangganya. "Tetapi, kita tidak akan membiarkan hal ini terjadi pada Indonesia," kata Presiden Eisenhower tahun 1953. Selain pertimbangan posisinya yang strategis, kekayaan alamnya menempati urutan kelima di dunia. Tetapi, apakah untuk itu mayat-mayat bergelimpangan? Tidak ada yang bisa menjawabnya, sama seperti bertanya pada mayat korban peristiwa mengerikan itu. AS dan segenap jaringan agen CIA, termasuk di Indonesia, akan menyimpan rapat rahasia ini. Sebab jika ini terkuak, Pemerintah AS akan terkena puting-beliung yang menghancurkan harga dirinya sebagai pendekar HAM, baik oleh Kongres maupun masyarakat internasional. Tidak hanya itu, sangat mungkin pula diseret ke pengadilan internasional dan membayar kerugian bagi sedikitnya 5.000 korban daftar maut atau satu juta korban tewas keseluruhan, jika keluarga korban menuntutnya. Bertrand Russel, pemikir besar liberalisme, menyebut peristiwa ini sebagai hal amat mengerikan yang mustahil bisa dilakukan manusia. Namun, agaknya kita tidak peduli walaupun para perwira TNI akan diseret ke mahkamah internasional berkaitan kasus Timtim, karena kita percaya Soeharto yang telah memvonis PKI. Kita juga tidak peduli ketika para eksekutif korporasi multinasional bergelimang dollar dan emas hasil "jarahan" dari Indonesia. Di bawah benderang sinar lampu di Manhattan, mereka menghitung laba yang tidak habis-habisnya. Sementara di Republik tercinta ini baku hantam sejak kemerdekaan hingga sekarang terus berlanjut. Kita adalah katak dalam tempurung yang sejati. (mt) Yahoo! Groups Sponsor <http://rd.yahoo.com/M=176325.1307935.2900315.1248727/D=egroupmail/S=1700043 464:N/A=567197/R=1/*http://domains.yahoo.com> www. <http://us.adserver.yahoo.com/l?M=176325.1307935.2900315.1248727/D=egroupmai l/S=1700043464:N/A=567197/rand=821566623> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Keluarga Besar SMA 2 Padang di http://sma2pdg.rantaunet.com ================================================== Berlangganan/Berhenti menerima SMA 2 Padang Mailing List, kirimkan email To: [EMAIL PROTECTED] Subject: -dikosongkan- Isi email pada baris dan kolom pertama: mendaftar: subscribe SMA2-Padang email_anda berhenti: unsubscribe SMA2-Padang email_anda ------------------------------------------------------------------------------------------ WEB-EMAIL GRATIS [EMAIL PROTECTED] ---> http://mail.rantaunet.web.id ------------------------------------------------------------------------------------------ Kerjasama RantauNet.Com http://www.rantaunet.com dan server PT USINDO GLOBAL USAHA, Jakarta dan USINDO Group, San Fransisco, USA ==================================================
