|
----- Original Message -----
From: christine
Sent: Thursday, June 01, 2006 3:28 PM
Subject: UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK Semoga
bermanfaat... -----Original
Message----- UNGKAPAN JUJUR SEORANG
ANAK Tahun 2002 yang lalu saya
harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika,
duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali
kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi
wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat
penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak
yang bermasalah. Saat saya tanyakan apa
masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di
rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu
belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian
merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada
Dika: "Apa yang kamu
inginkan ?" Dika hanya menggeleng. "Kamu ingin ibu
bersikap seperti apa ?" tanya saya. "Biasa-biasa saja"
jawab Dika singkat. Beberapa kali saya
berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya,
namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta
bantuan seorang psikolog. Suatu pagi, atas seijin
kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa
persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit.
Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu
segera memberitahukan hasil testnya. Angka kecerdasan rata-rata
anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan
pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan
kecepatan berkisar pada angka 140 - 160. Namun ada satu kejanggalan,
yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata
Cerdas). Perbedaan yang mencolok pada
2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan
pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan
saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika
perlu menjalani test kepribadian. Suatu sore, saya
menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test
kepribadian. Melalui interview dan test
tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang
menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal
Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil
Dika. Jawaban yang jujur dari hati
Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu
yang masih jauh dari ideal. Ketika Psikolog itu
menuliskan pertanyaan "Aku ingin ibuku :...." Dika pun menjawab :
"membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar
saja" Dengan beberapa pertanyaan
pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada
Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam
permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan
waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain
basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer
dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir
bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati
permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang
tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan
mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal
kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan
Dika hanya sederhana : diberi kebebasan bermain
sesuka hatinya, menikmati masa kanak-kanaknya. Ketika Psikolog menyodorkan
kertas bertuliskan "Aku ingin Ayahku ..." Dika pun menjawab dengan
kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya "Aku ingin ayahku melakukan apa
saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu" Melalui beberapa pertanyaan
pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi
diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan
apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin
ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan
minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri
koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi
hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang
tua. Ketika Psikolog mengajukan
pertanyaan "Aku ingin ibuku tidak ..." Maka Dika menjawab
"Menganggapku seperti dirinya" Dalam banyak hal saya merasa
bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras, disiplin, hemat, gigih
untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik
dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin
menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya
seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan
beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet
kecil. Ketika Psikolog memberikan
pertanyaan "Aku ingin ayahku tidak : .." Dika pun menjawab "Tidak
menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan
kecil yang aku buat adalah dosa" Tanpa disadari, orang tua
sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga
hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang
tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan
hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui
kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena
orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu
tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya
menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat
salah, kemudian iapun bisa belajar dari
kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan
tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di
waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang
serupa. Ketika Psikolog itu
menuliskan "Aku ingin ibuku berbicara tentang
....." Dika pun menjawab "Berbicara
tentang hal-hal yang penting saja". Saya cukup kaget karena
waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya
dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan
pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang
menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan
jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak
lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang
kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan. Atas pertanyaan "Aku ingin
ayahku berbicara tentang .....", Dika pun menuliskan "Aku
ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak
selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin
ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf
kepadaku". Memang dalam banyak hal,
orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari
kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya
sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya,
seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya. Ketika Psikolog menyodorkan
tulisan "Aku ingin ibuku setiap hari ....." Dika berpikir sejenak,
kemudian mencoretkan penanya dengan lancar "Aku ingin ibuku mencium dan
memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk
adikku" Memang adakalanya saya
berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi
dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan
ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih
indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama
kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan
yang tidak adil atau pilih kasih. Secarik kertas yang berisi
pertanyaan "Aku ingin ayahku setiap hari ...." Dika menuliskan sebuah kata
tepat di atas titik-titik dengan satu kata:
"tersenyum" Sederhana memang, tetapi
seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan
wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak
akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi
anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya
setiap hari. Ketika Psikolog memberikan
kertas yang bertuliskan "Aku ingin ibuku
memanggilku...." Dika pun menuliskan "Aku
ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus" Saya tersentak sekali!
Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh
arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu
memanggilnya dengan sebutan Nang. Nang dalam Bahasa Jawa
diambil dari kata "Lanang" yang berarti laki-laki. Ketika Psikolog menyodorkan
tulisan yang berbunyi "Aku ingin ayahku memanggilku
.." Dika hanya menuliskan 2 kata
saja, yaitu "Nama Asli". Selama ini suami saya memang
memanggil Dika dengan sebutan "Paijo" karena sehari-hari Dika berbicara dalam
Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. "Persis Paijo,
tukang sayur keliling" kata suami saya. Atas jawaban-jawaban Dika
yang polos dan jujur itu, saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di
sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak. Kepada banyak orang
saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi
Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada khalayak ramai saya bagikan poster bertuliskan "To
Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice" sebuah seruan yang
mengingatkan bahwa "Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan
Pilihan". Tanpa saya sadari, saya
telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang
tidak hormat dan bermartabat. Dalam diamnya anak, dalam
senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua
kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan
Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah
mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah
kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan
ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati
anak-anaknya. (Ditulis oleh :
Lesminingtyas) Christine
Novita S ------------------------------------------ PT Rajawali
Nusindo "Every
time you smile at someone, it is an action of love, a gift to that person, a
beautiful thing" Gabung, Keluar, Mode Pengiriman: [EMAIL PROTECTED] Forum Diskusi: http://www.sma2brebes.tk JANGAN MENGELUH! dengan keadaan, temukan jawabannya di http://www.bsbplus.tk
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

