Assalamu'alaikum Wr. wb..
Selamat Idul Fitri 1427H, Mohon Maaf Lahir & Batin.

Mohon tanggapan & masukannnya dari pengalaman saya di
bawah ini;

Perkenalkan nama saya Reza, saat ini bekerja sebagai
designer grafis di salah satu perusahaan di daerah
Tangerang - Banten. Pekerjaan saya di kantor mulai
dari
pembuatan konsep design baik grafis maupun produknya,
pembuatan contoh design (dummy), pembuatan design
untuk kemasan, sticker, iklan di media massa juga
terlibat dalam pengembangan produk baru dari sisi
design. Sekarang perusahaan ini sedang dalam proses
untuk mendapatkan sertifikasi ISO.
Saya termasuk yang beruntung dulu bisa lolos seleksi,
karena tidak pernah mengenyam pendidikan 
formal ataupun non formal design. Cuma bermodalkan
portfolio dan pengalaman kerja saya sebelumnya. Itupun

bukan di bidang design. Kebetulan design grafis dengan
komputer merupakan salah satu hobi saya setelah 
lulus SMA. Hobi saya yang lain adalah senang dengan
segala hal yang berkaitan dengan komputer/TI.

Sebelum bekerja di posisi ini setelah lulus SMA di
jaman pak Harto saya sempat menjadi tukang angkat2
barang, collector, sales & marketing juga menangani
sedikit infrastruktur TI di tempat kerja sebelum
sekarang. 
Pertengahan tahun '99 nekat daftar kuliah di salah
satu PTS di Jakarta di Fakultas Teknologi Informasi
jurusan Sistem Informasi (d/h Manajemen Informatika).
Dulu ketika menjadi mahasiswa saya pernah develop
situs sederhana menggunakan Dreamweaver, PHP & MySQL 
tentang profile & kegiatan perkumpulan mahasiswa kelas
karyawan (program extension), karena saat itu 
saya bekerja sambil kuliah di malam hari (bukan kuliah
sambil kerja).
Berhubung kesibukan saya menyusun skripsi waktu itu
akhirnya situs tsb mati begitu saja, karena memang 
tidak ada penerus yang memaintenance. Setelah lulus
kuliah tahun 2004 juga jarang kongkow (ngumpul) bareng

teman2 kampus. Lagi pula kami lebih fokus di forum
milist sampai sekarang.

Awal Februari yang lalu sempat browsing dan kebetulan
'nyasar' dalam situs2 yang berkaitan tentang
pendidikan di Indonesia. Sebagai orang yang bukan dari
latar belakang dunia pendidikan, saya akhirnya menjadi
tertarik mengikuti perkembangan dunia tersebut -
sampai sekarang, khususnya bidang TI di pendidikan
Menengah.

Sebelumnya saya memang jarang memperhatikan berita2 &
isu2 terakhir atau 'last update' seputar pendidikan 
di Indonesia. Kata orang Betawi bilang sih, "Jangan
kate masalah-masalah kritis bangsa UN, UAN, konversi
nilai dll, lha cara ngebedain SMK yang Teknik sama SMK
yang Akuntansi aje aye masih keder..!".

Join di milist ini pun baru-baru ini saja, hasil nemu
di Google karena saya memang masih 'kering' 
dalam bidang pendidikan.
Akhirnya waktu saya browsing di internet pun habis
untuk mendownload berita2, artikel2, dan lain
sebagainya yang berbau dunia pendidikan di Indonesia,
khususnya pendidikan TI. 
Lumayanlah untuk memperkaya wawasan, boleh dong
belajar untuk ikut pinter di bidang yang selama ini
tidak pernah kita sentuh...?

Sampai suatu ketika ada seorang saudara yang
menyarankan saya untuk terjun total dalam bidang
pendidikan yakni menjadi guru, khususnya guru di
bidang TI setelah tahu background sekolah saya. Suatu
saran
yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di kepala,
karena semasa kuliah dulu juga saya sempat mengkhayal 
untuk mengajar di sekolah sejenis STM yang berfokus
dalam bidang TI setelah lulus kuliah. 

Obsesi tersebut hilang begitu saja karena setelah
lulus kuliah saya kembali sibuk dgn urusan kantor.
Lagi pula 
waktu itu yang saya tahu untuk menjadi guru kan harus
kuliah di IKIP atau setidak2nya pernah sekolah SPG.
Yah, begitulah resiko menjadi orang yang kurang
wawasan.. sampai-sampai saya baru beberapa bulan ini
tahu kalau SMK TI itu beneran ada...! So, harap maklum
deh.

Minat menjadi guru sih minat, cuma ya itu, selama ini
yang saya tahu kalau menjadi guru itu bukanlah hal
mudah, suatu pekerjaan yang menuntut kompetensi luar
dalam. Luar dalam maksud saya adalah kalau guru itu
selain harus bisa mengajar (transfer ilmu) juga
dituntut untuk bisa mendidik (transfer moral). 
Kompetensi & pengalaman ini itu setinggi langit kalau
tidak dimbangi dengan manajemen moral oleh pelaku
didik
& peserta didik tentu akan percuma, itu menurut saya
lho.. (tolong ditambah kalau ada yang kurang).

Masa depan anak didik tentu yang akan menjadi
taruhannya. Memangnya ada guru yang mau lihat siswanya
pinter2 tapi moralnya rusak..? Saya yakin tidak ada.
Apalagi Anda-Anda peserta milist ini yang dulu
sekolahnya ngambil FKIP, pasti akan menambahkan ini
itu, yang kalo mengajar itu nggak gampanglah ,ribetlah
urusan administrasinya, capeklah karena harus mengajar
di 3 tempat setiap hari plus buka les di malam
harinya, dll sbgnya.

Bila dulu sewaktu masih menjadi sales & marketing di
tempat kerja yang lama saya diberi wejangan bahwa 
bagian pemasaran adalah ujung tombak sebuah
perusahaan, ketika bekerja menjadi designer grafis
mendapat 
satu ilmu lagi bahwa selain tim pemasaran yang solid,
kualitas & design suatu barang yang dibuat juga ikut 
mempengaruhi kelangsungan hidup sebuah perusahaan, dan
itu adalah tanggung jawab orang2 design dan R&D.
Jarang ada calon konsumen yang mau membeli barang
bagus tapi cepat rusak atau sebaliknya barang yang 
tahan banting tentu akan sulit diserap oleh konsumen
penggila mode. 
Makanya saya yakin, - juga menurut artikel-artikel
yang pernah saya baca -, kalau faktor utama maju
mundurnya 
bangsa ini adalah pendidikan. (mudah2an kata2 saya ini
tidak klise).

Saya menulis e-mail ini setelah sebelumnya bercerita
panjang lebar di atas semata2 HANYA ingin mendapat 
masukkan, atau wejangan, nasihat informasi atau apalah
yang sekiranya bisa menjadi acuan untuk melangkah 
ke depan. Apakah saya akan hidupkan kembali obsesi
saya mengajar TI di sekolah seperti saran dari saudara

saya? Atau cukup menjadi penonton saja dari jauh
melihat carut-marut dunia pendidikan kita? 
Kalau menuruti kata hati, sebenarnya saya juga ingin
memajukan dunia TI kita, minimal nggak ga-tek
bangetlah.
Lalu lewat jalur pendidikan lah yang paling logis
untuk kondisi saya saat ini. 

Sebab selama ini, -yang saya tahu-, para lulusan
sekolah tinggi TI rata2 berorientasi menjadi
programmer, system analyst, software engineer, network
engineer, database engineer, web admin dan
pekerjaan-pekerjaan lain yang IT-sentris. 
Koq jarang ya yang ingin berkecimpung di dunia
pendidikan TI. Jadi guru atau dosen TIK, kek.
Tapi itu yang saya tahu lho... (atau lagi2 saya juga
masih belum tahu kalau sebenarnya lulusan / sarjana TI
 
juga banyak yang berprofesi guru?). 
Makanya saya salut sama Anda para guru TI, sedikit
banyak usaha Anda dalam memajukan dunia TI di
Indonesia 
mulai ada hasilnya.

Pernah saya utarakan niat saya kepada seorang teman
yang juga berprofesi sebagai guru. Dia dengan ketus
bilang ngapain jadi guru, gajinya kecil, capek (sama,
saya juga & Anda semua kalau kerja juga capek, kan?). 
Sarannya mendingan juga kerja kantoran, tiap bulan
terima gaji. 

Tentu saja saya bukannya merasa sok tahu tentang dunia
kerja karena mentang2 datang dari dunia industri lalu 
tiba-tiba masuk ke dunia pendidikan untuk menjadi
guru. 
Percaya deh, saya juga masih banyak belajar koq.

Saya sangat yakin kalau Bapak-bapak & Ibu-ibu para
peserta milist ini yang berprofesi guru TI/TI&K pasti 
ilmu & jam terbangnya lebih banyak dari pada saya dan
Anda semua pernah mengalami kalau untuk menjadi
sesuatu
pasti ada prosesnya.
Dan saya pribadi SANGAT menaruh hormat kepada Anda
semua yang sangat concern dengan dunia pendidikan di
Indonesia khususnya pendidikan di bidang TI.
Tetapi saya & seperti juga Anda semua pasti tahu,
bahwa salah satu target output pendidikan adalah untuk
dunia 
kerja, dan sangat dibutuhkan iklim pendidikan yang
dinamis sesuai tuntutan dari dunia kerja. Baik itu
kurikulum, sistem pendidikan, maupun materi pelajaran
/ diklat yang benar2 'linking & matching' dengan dunia
kerja.

Btw, atas saran saudara saya pula akhirnya saya
mengambil program Akta IV & telah selesai. Sebab sudah
tidak mungkin lagi bagi saya untuk kembali mengambil
S1 (di FKIP) kalau untuk mengajar.
Plus minusnya program Akta IV ini tentunya kembali
kepada para peserta yang mengambil program tersebut. 
Apakah mentang2 sudah mengantongi ijazah S1 lalu akan
berhenti mempelajari sesuatu yang baru atau terus
belajar sepanjang hayat & belajar bagaimana caranya
belajar?
Saya rasa hal ini juga berlaku untuk siapa saja,
seorang guru paling senior atau kepala sekolah
sekalipun kalau dirinya merasa sudah tidak perlu lagi
meningkatkan kompetensi di bidang yang ia tekuni pun
tidak akan berkembang.
Apa lagi saya yang notabene bukan siapa-siapa.

Pernah seorang guru dari Garut lulusan S1 FKIP menulis
dengan e-mail sinis di forum lain kalau jadi guru itu 
tidak bisa instan, lha wong yang kuliah 8-10 semester
harus tahu perkembangan siswa, sedangkan yang ngambil 
Akta IV hanya beberapa bulan bisa "mengajar", dan yang
menjadi kekecewaan beliau yaitu ketika diperhatikan 
dalam mengajar, etika mengajar, serta perhatian pada
perkembangan siswa, kurang diperhatikan oleh guru dari

program Akta IV, terutama mungkin mereka lebih kepada
ilmu murni. Cara mengajarnya pun seperti mahasiswa, 
padahal perkembangan siswa itu ada tingkat-tingkat
tertentu. 
Bisa-bisa siswa jadi stress karena siswa "disuruh"
jadi peneliti murni. Begitulah tulisnya di e-mail.

Buat saya sih terserah saja orang mau ngomong apa,
sebab untuk maju pasti ada proses, tantangan,
tentangan & hambatan. Saya lebih suka menyebut
seseorang yang menghambat langkah orang lain untuk
maju itu sebagai
oknum. Bukankah lebih baik memulai dengan yang sudah
ada dari pada dengan yang seharusnya ada. Kalau nggak
kaya gitu ya kapan majunya, 'tul 'gak...?
Tapi bukannya saya mengkritik anak FKIP lho, saya cuma
mengangkat satu pengalaman saja. Saya yakin guru2 dari
FKIP tidak ada yang seperti di atas. Sebab bila memang
ada guru dari Akta IV yang seperti dikritik di atas
itu hanya masalah teknis di lapangan saja. Sama
seperti pekerjaan lainnya, BIASA mengajar dengan yang
BISA
mengajar itu pasti lain. Ada proses, Pak & Bu..

Harapan saya bila menjadi guru TI&K kelak, dapat
memberikan yang terbaik dalam usaha memajukan
dunia TI di Indonesia lewat jalur pendidikan. Semoga
pengalaman saya di dunia kerja dapat memberi
kontribusi
terhadap sistem pendidikan kita, nggak usah muluk2
tapi kenapa nggak dimulai dari diri saya sendiri gitu
lho...
Minimal dapat menerapkan metode belajar yang berbeda
dalam mempersiapkan siswa sebelum masuk ke dunia
kerja.

Mudah2an dengan ditulisnya e-mail ini ada tanggapan,
masukan, informasi atau kritik+saran untuk saya. 
Mudah2an pula apa yang sudah saya tulis di atas tidak
ketinggian, cuma sharing saja koq.
Mohon maaf sebelumnya bila ada kata-kata saya yang
salah tulis/ketik.
Terima kasih.

Maju terus guru, dunia pendidikan & IT di Indonesia.
Oemar Bakrie is dead but his spirit is never yet..

Wassalamu'alaikum Wr. wb..




        


        
                
_______________________________________________________________________________ 
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://beta.id.yahoo.com/



To subscribe, send an email to: [EMAIL PROTECTED]
Web only (no mail), send an email to: [EMAIL PROTECTED]
Reset to Default, send an email to: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, send an email to: [EMAIL PROTECTED]
Archive : http://groups.yahoo.com/group/smk-ti/messages
Homepage : http://smk-ti.sdti.co.id
Netiket : http://groups.yahoo.com/group/smk-ti/files/netiket.txt
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/smk-ti/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/smk-ti/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke