wah...wah...wah tambah ramai nich..
   
  KONTAN, Edisi 39-10
   
  Gurita Seluler dari Hongkong
  Mengintip langkah Hutchinson di bisnis seluler
   
  Berbekal lisensi 3G dan 2G, akhir tahun ini Hutchinson Telecom bakal 
mengibarkan bendera bisnis selulernya di Indonesia. Meski merupakan pendatang 
baru, dengan modal besar, Hutchinson tak minder.
   
  Bagus Marsudi
   
  Perang tarif yang tengah dikibarkan para operator seluler tampaknya bakal 
berlangsung lebih panjang. Pasalnya, ada raksasa pendatang baru operator 
seluler yang siap bersaing. Dengan membawa bekal sumber dana cukup besar, 
rasanya bukan tak mungkin pendatang baru ini akan mengikuti pola permainan 
operator seluler di Indonesia.
  Operator baru itu adalah PT Hutchinson CP (Charoen Pokphand) 
Telecomunications. Berbekal modal investasi sebesar US$ 750 juta, anak 
perusahaan Hutchinson Telecom --raksasa operator seluler global yang berpusat 
di Hongkong-- itu bakal meluaskan gurita bisnis telekomunikasinya di Indonesia. 
Lisensi 3G maupun 2G mereka kantongi setelah mengambil alih 60% saham PT Cyber 
Access Communication (CAC) dari pemegang saham lama, Charoen Pokphand 
Indonesia, dua tahun lalu.
  Jejak langkah bisnis Hutchinson mulai jelas. Awal tahun ini Hutchinson telah 
menggandeng Siemens untuk memasok jaringan nirkabel berskala nasional. Siemens 
akan menyediakan pembiayaan dan layanan pengelolaan jaringan untuk tiga tahun 
pertama. Ini termasuk pemeliharaan jaringan, pengelolaan kapasitas dan kinerja 
jaringan, service management. Untuk tahap pertama, 2.000 cell sites akan 
selesai pertengahan tahun ini.
  "Kuartal terakhir tahun ini Hutchinson siap beroperasi," begitu tekad Rajiv 
Sawhney, Presdir Hutchinson CP Telecomunications.
  Pendatang terbaru bisnis telekomunikasi di Indonesia ini jelas diperhitungkan 
oleh operator yang sudah ada saat ini. Bukan cuma di belakangnya berdiri 
perusahaan raksasa dengan modal tak terbatas.
  Sepak terjang Hutchinson di beberapa negara memang terkenal menakutkan. 
Langkah penguasaan pasarnya begitu ekspansif. Operator ini selalu berani rugi 
di tahun-tahun awal (lihat boks: Gurita Bisnis nan Bikin Keder). Apalagi 
Hutchinson jauh-jauh hari sudah punya tekad.
  "Kami akan mengembangkan teknologi 2G maupun 3G secara bersamaan,"
  ujar Rajiv.
  Keputusan Hutchinson untuk mendorong pengembangan jaringan 2G ini bukan tanpa 
alasan. Menurut Rajiv, sekitar 95% pelanggan seluler di Indonesia menggunakan 
layanan 2G. "Pada prinsipnya, Hutchinson akan menyesuaikan dengan kebutuhan 
pasar," tuturnya. Kalau operator baru dengan modal cekak bakal membidik segmen 
tertentu, tak begitu dengan Hutchinson. Dengan modal yang tak terbatas, 
Hutchinson bakal menggaet semua pasar potensial. "Kita tak memilih A atau B 
atau C. Tapi, A dan B dan C," tandas Rajiv lagi.
   
  Dari awal sudah siap dengan risiko
   
  Lantas, bendera (brand) apa yang bakal dikibarkan Hutchinson? Untuk hal ini, 
Rajiv pelit bicara. "Kalau sudah siap, kami akan ungkapkan semua," jawabnya 
diplomatis. Alasan dia, sih, biar pelanggan tak kecewa. Tapi, pengalaman di 
negara lain, untuk layanan 2G di Eropa, Hutchinson menggunakan bendera Orange. 
Di negara-negara lain nama Hutch lebih banyak dikenal. Untuk layanan 3G, nama 
populer yang digaungkan adalah 3 (Three).
  Sebagai operator besar pendatang baru, Hutchinson tampaknya benar-benar pede. 
Rajiv menandaskan bahwa dengan 16 tahun pengalaman mengembangkan jaringan 
komunikasi di berbagai negara --baik di Eropa, Afrika, Asia, dan Australia-- 
Hutchinson paham betul bagaimana harus mengelola bisnis ini. "Kami tahu apa 
yang bisa jalan, mana yang enggak. Kami tahu bagaimana karakteristik pasar, apa 
maunya, dan persaingannya seperti apa. Yang pasti, kami paham bagaimana 
menemukan jalan keluarnya," ujar Raviv yang bekas Direktur Eksekutif Hutchinson 
Essar, anak perusahaan Hutchinson di India.
  Makanya, walaupun sebagai pendatang baru, Hutchinson tak menganggap diri 
terlambat. "Potensi pasar di Indonesia begitu besar. Pertumbuhan dua tahun ke 
depan juga diperkirakan pesat. Tak ada kata terlambat,"
  tutur Rajiv. Untuk menjamin penetrasi pasar, Februari 2006 Hutchinson 
menunjuk Nokia untuk menangani layanan jaringan (network solution).
  Termasuk dalam hal ini adalah membangun sistem terpadu untuk mengelola 
pelanggan prabayar dan pascabayar layanan 2G maupun 3G Hutchinson di Indonesia.
  Tapi, bukan berarti langkah bisnis Hutchinson ini lancar-lancar saja.
  Dua bulan lalu, bersama Natrindo Selular (Lippo Telecom), Hutchinson sempat 
bersinggungan dengan pemerintah soal biaya hak penyelenggaraan
  (BHP) 3G. Keputusan pemerintah untuk membebankan biaya tambahan ke operator 
yang sebelumnya sudah mengantongi lisensi 3G ini tak diduga sama sekali. 
Masalah kepastian hukum sempat disorot. Tapi, menurut Rajiv, ketidakpastian 
hukum itu bisa saja terjadi di banyak negara.
  "Ini merupakan bagian dari risiko bisnis kami," ujarnya. Toh, Rajiv yakin 
masalahnya tak bakal separah yang diperkirakan orang. Maklum saja, "Kami kan 
bawa duit ke sini," tandasnya.
  Rajiv juga masih enggan membeberkan langkah dan target bisnis 
telekomunikasinya di Indonesia. Bukan apa-apa, Hutchinson memang sudah punya 
perhitungan matang. Cuma, terlalu berisiko jika itu diumbar saat ini. "Anda 
tahu, dalam posisi kami sekarang rencana bisnis kami bakal menjadi perhatian 
besar para pesaing," kilah Rajiv.
   
  ***
   
  Boks
  Gurita Bisnis nan Bikin Keder
   
  Di jagat bisnis telekomunikasi, nama Hutchinson Whampoa Ltd. tak ubahnya 
momok. Perusahaan milik Li Ka-sing yang berbasis di Hongkong ini memang lebih 
dikenal bergelut dalam bisnis operator pelabuhan, raksasa ritel, dan perusahaan 
pertambangan. Tapi, sejak hampir 20 tahun terakhir kiprahnya di bisnis 
telekomunikasi semakin menjadi-jadi. Lingkup bisnisnya tak terbatas di Asia 
saja, tapi juga menjangkau Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika. Tak aneh jika 
Hutchinson dijuluki raksasa bisnis nan menakutkan.
  Salah satu bukti kegarangannya adalah langkah ekspansif mengembangkan layanan 
telekomunikasi berbasis teknologi 3G. Sejak enam tahun terakhir Hutchinson 
aktif berburu lisensi 3G di banyak negara, khususnya Eropa. Dengan dana seolah 
tak terbatas, mereka membeli dan mengembangkan layanan seluler berbasis 
teknologi terbaru di bisnis selular ini. Uniknya, sampai dua tahun lalu masih 
banyak yang meragukan prospek pengembangan layanan 3G ini. Tapi, Hutchinson 
bergeming.
  Lihat saja, di Eropa saja, sejak tahun 2000 Hutchinson telah menanamkan US$ 
16 miliar untuk lisensi dan peralatan 3G. Kendati selama tiga tahun awal 
perkembangan layanan ini kurang memuaskan, Hutchinson tetap ngotot berburu 
lisensi 3G dan terus mengembangkannya.
  Setelah Inggris, Italia, dan Australia, sejak dua tahun terakhir layanan dari 
Hutchinson telah merambah beberapa negara Eropa dan Asia.
  Sasarannya tak cuma negara maju, tapi juga negara berkembang yang pasar 
3G-nya masih terbilang bertunas.
  Cara ekspansif Hutchinson tak cuma berbekal modal gede. Dia juga berani 
mengambil keputusan mengejutkan. Salah satunya adalah langkah mengatasi kendala 
keluhan mahalnya layanan 3G. Contohnya, di Eropa, Hutchinson berani membanting 
tarif layanan 3G bermerek 3 (Three) sampai sepertiga dari harga pasar. Selain 
itu, pelanggan setahun di muka bisa mendapatkan handset 3G yang terkenal mahal 
dengan mematok harga cuma 15% dari harga normal. Tak aneh jika layanan 3G di 
sana cepat tumbuh.
  Seperti yang diduga, sayap bisnis selular Hutchinson mengalami kerugian besar 
beberapa tahun ini. Tapi, tampaknya hal ini tak membikin Li Ka-sing gerah. 
Pasalnya, kerugian di telekomunikasi bisa ketutup oleh keuntungan besar di 
sayap bisnis Hutchinson Whampoa lainnya. Apalagi Hutchinson terkenal dengan 
kecermatan membaca arah pasar. Beberapa anak perusahaan seluler berbasis 2G 
(Orange), yang dikembangkan dengan modal cekak, belakangan dilepas dengan harga 
tinggi ketika bisnis telekomunikasi di Eropa lagi mencorong.
  Apakah ini bakal terjadi di Indonesia? Kita lihat saja.
   
  ***

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/5AhqlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

------------------------------------------------------
Baca berita-2 terbaru seputar seluler via WAP:
http://tagtag.com/SMSMania

Untuk keluar dari milis, silahkan kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------------ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/SMSMania/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke