SMS Beberapa minggu lalu saya dikagetkan oleh SMS yang dikirimkan salah satu teman sekerja. Isinya sebuah berita singkat (namanya juga SMS) bahwa akan terjadi gempa pada pukul dua dini hari.
Padahal, saat saya menerima pesan singkat yang menyesakkan itu apartemen saya baru saja terkena pemadaman listrik gara-gara kilat dan petir yang memekakkan telinga dan mampu memadamkan nyala lampu sekian detik. Kilatnya seperti lampu disko di sebuah kelab malam. Bedanya, di kelab saya malah jingkrak-jingkrak dan bersorak, di dalam apartemen saya langsung keder. Beberapa hari setelah itu ada lagi pesan singkat yang masuk. Isinya, menurut seseorang yang tinggal di negeri Sakura, pada hari itu tepat pukul setengah tiga siang NKRI akan diguncang gempa sebesar delapan koma sekian pada skala Richter. Saya sedikit tak peduli karena guncangan gempa dini hari seperti cerita di atas sama sekali tak terbukti. Jadi, saya beranggapan yang satu ini juga isapan jempol semata. Meski harus diakui masih saja tersisa rasa deg-degan yang tinggal di dalam hati. SMS yang membuat deg-degan Saya menanti pukul setengah tiga siang itu dengan hati agak waswas. Saya beruntung hari itu kesibukan kantor cukup luar dari biasanya sampai saya lupa soal SMS itu. Redaktur pelaksana saya menerima berita gempa tengah malam sampai ia tak bisa tidur, berjaga-jaga semalam suntuk dengan rasa mengantuk, duduk di depan sofa sambil menyalakan televisi untuk menunggu berita yang bukan main-main itu. Meski mungkin saja, ada yang benar main-main dengan berita itu. Pada sore hari, saya baru sadar masa kritis yang diperkirakan akan terjadi itu berlalu juga. Sekali lagi, peringatan yang entah benar entah rekayasa seseorang ternyata cuma sebuah isapan-isapan saja. Meski akhirnya SMS itu tak terbukti, saat mendapat "peringatan" melalui SMS tadi saya langsung mem-forward berita kepanikan itu ke beberapa teman dan saudara. Artinya, saya sudah mengeluarkan dana untuk pengiriman SMS itu. Bahkan bisa jadi, orang lain juga melakukan hal sama. Tentu ada saja yang diuntungkan dengan berita "peringatan" itu. Mereka bisa dilihat mulia kalau mau dilihat begitu, atau bisa juga tidak mulia bila mau dipandang begitu. Jadi, terserah isi kepala masing-masing. Teman saya bilang, "Ya, mulialah. Kan elo paling tidak diperingatkan. Coba kalau enggak, tiba-tiba air laut setinggi kantor ada di depan muka elo dan elo hanyut lalu ditemukan enggak pakai muka. Males enggak sih." Benar juga pikir saya. Tetapi, saya masih bertanya, masak gempa sebesar itu tak terdeteksi para orang pandai negeri ini sampai negeri Sakura begitu concern-nya? Yang membuat saya sedikit merasa aneh, SMS itu diawali dengan kalimat, "Menurut anak teman saya yang tinggal di Jepang, bahwa Jakarta akan diguncang bla-bla-bla-bla." Teman saya mengawali SMS-nya yang dikirimkan kepada saya dengan kalimat begini, "Sam, bener gak sih SMS ini." Kemudian kalimat selanjutnya adalah seperti kalimat yang saya tuliskan di atas. Saya menjawab, karena saya bukan ahli gempa dan saya tidak tinggal di Jepang, jangan tanya saya, tanya saja sama anaknya yang di Jepang itu. Saya kemudian berpikir lagi, siapakah anak itu sebenarnya? Apakah anak itu anak Indonesia atau campuran Jepang-Indonesia sehingga ia begitu concern terhadap negeri ini? Atau anak itu adalah seorang anak-anakan yang direkayasa? Kok kasus sebesar itu datang dari seorang anak? Tak ada yang tahu dan tak ada yang mau tahu. "Udah deh gak usah dipermasalahkan. Pokoknya paling tidak elo selamet bukan? Saya jawab. "Bukan, Mbak. Saya Samuel, bukan selamet." SMS yang memberi berkat dan menghakimi Pengiriman SMS dengan ancaman halus juga sering saya terima. Misalnya, sebuah SMS yang sangat religiusdan saya diperintahkan untuk mengirimkan kepada 10 orang di luar yang mengirimkan SMS itu kepada saya. "Nantikan," demikian kalimat berikutnya, "Anda akan menerima berkat besok pagi. Jangan hapus SMS ini!" Namanya juga saya, akan diberi berkat kok menolak. Jadi dengan senang hati saya mem-forward SMS itu ke 10 orang seperti yang diperintahkan. Dan dengan meneruskan SMS macam itu sebetulnya saya hanya menimbun lebih banyak lagi tagihan telepon. Dasar memang saya ini telat mikir, saya lupa bahwa tanpa harus mengirim SMS itu sudah sejak dulu saya menerima berkat. Bahkan jaaaaaauuuuuh sebelum ada telepon genggam dengan fasilitas SMS-nya. Bisa bangun pagi dan diberi nyawa untuk hidup, dan saya sudah hidup lebih dari empat puluh tahun. Dan itu bisa saya pastikan bukan gara-gara saya mengirimkan SMS. Saya juga mendapat berkat karena bisa bekerja, memiliki kondisi keuangan pas-pasan. Pas untuk beli majalah luar kemudian ditiru. Pas buat beli jas Armani kemudian ditiru. Pas untuk menonton film terus ditiru. Pokoknya pas saja. Itu juga semua bukan gara-gara mengirimkan SMS. Nah, Rabu malam lalu, nyaris tengah malam saat saya sedang mengejar tenggat waktu untuk menyetor tulisan ini yang sudah terlambat beberapa jam itu, telepon genggam saya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Bunyinya dalam bahasa Inggris. Ini bukan saya sok berbahasa Inggris, kan sudah saya katakan dua minggu lalu bahasa Inggris saya kacau. Saya menerima dari teman saya yang saya yakin ia juga menerima dari orang lain. "Wishing you a happy world best friends day. Send it to all your good friends, even me, hoping Im one of them. See how many you get back. You are lovable if you get six. I am one of them, who loves you very much." Kok ya SMS itu datang ketika saya sedang menulis soal kiriman-kiriman SMS yang hanya isapan jempol semata yang isinya tak punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, malah sudah mampu membuat orang panik. Kalau memerhatikan SMS berbahasa Inggris itu terlihat ada kalimat perintah yang menyuruh saya menimbun lagi tagihan bulanan, send it. Yang kedua, SMS ini rada sak enake dewek. Apa coba dasar perhitungannya bahwa enam SMS yang akan saya terima kembali menyatakan saya ini adalah makhluk yang dicintai. Dicintai setaaaannnnnnn kali. Enam, enam, enam. SMS itu tak saya balas dan tak saya forward ke mana-mana. Kalau teman saya yang mengirim SMS itu mau berpikir saya tak peduli, ya itu hak teman saya. Tetapi, kok saya yakin saya akan tetap dicintai kalau saya yang memiliki inisiatif awal untuk mampu mencintai. Itu pekerjaan rumah saya. Bukan mengirimkan SMS ke mana-mana. Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup Minggu, 06 Agustus 2006 Copyright © 2002 Harian KOMPAS ------------------------------------------------------ Baca berita-2 terbaru seputar seluler via WAP: http://tagtag.com/SMSMania Untuk keluar dari milis, silahkan kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/SMSMania/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
