Berhenti Sejenak – Untuk Berjalan Lebih Jauh 
  Saudaraku, tanpa terasa hari-hari terus berjalan berganti menjadi minggu, 
minggu pun berganti  menjadi bulan dan tanpa disadari atau tidak bulan pun 
berlalu menjadi tahun. Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun 1427 H 
dan menyambut kehadiran tahun 1428 H. Pertanyaannya: apa yang sudah kita 
perbuat di tahun 1427? Sudahkah kita menjadi seorang muslim yang baik, yang 
senantiasa memberikan manfaat terhadap kehidupan di sekitar kita? Sebelum kita 
melangkahkan kaki lagi untuk berjalan lebih jauh meyusuri perjalanan di tahun 
1428 H ada baiknya kita berhenti sejenak untuk bermuhasabah, menghitung diri 
sendiri, melihat ke dalam untuk memperbaiki diri :
   
  Bayangkan Saat Maut Menjemput
  Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat 
sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi 
tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. 
Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur'an dari beberapa orang yang 
hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara 
kita menghadap Rabb-nya, tidak peduli ia siap atau tidak. Innalillaahi wa inna 
ilaihi raaji'uun. 
  Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan 
tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan 
untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat 
seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat 
kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat 
tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap 
amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah 
serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa 
giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat. 
  Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita 
harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia 
perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia 
kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya 
sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan 
menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia 
atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan 
diterimanya di akhirat. 
  Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi 
pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur 
kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati 
indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat 
apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan 
membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para 
malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa 
menunggu keputusan yang akan diberikan Allah. 
  Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan 
balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, 
permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak 
membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu 
sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil 
dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis 
berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat. 
  Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang 
menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada 
dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita 
menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat 
untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada 
orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah 
menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika 
kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su'ul khotimah, sehingga semua orang 
memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak 
satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan 
mereka bersyukur. Na'udzubillaahi min dzaalik 
  Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah- 
tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika 
tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita 
karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, 
"Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk 
orang-orang yang tunduk". Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya 
untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan 
serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, 
"Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya 
disediakan untuk orang-orang yang beriman" Tapi, atas kehendak Allah jualah 
mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi 
kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan. 
  Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan 
kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, 
ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita 
mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, 
tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita 
kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah 
semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat 
kosong itu? 



  Saudaraku, pergantian siang dan malam, pergantian hari demi hari, bulan demi 
bulan, bahkan tahun demi tahun, jadikan sebagai alat ukur untuk mengevaluasi 
kemajuan diri kita. Karena memang kita diajarkan untuk itu. 
  Firman Allah Swt.: “Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada 
dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan 
nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya 
menetapi kesabaran” ( QS al-Ashr [103] 1-3 ) 
   
  Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi 
panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang 
diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad) 
   
  Maka kita perlu ingat pesan Rasulullah, siapakah orang beruntung itu ?
  Barang siapa hari ini  kwalitas hidupnya sama dengan hari kemarin maka ia 
tergolong orang yang merugi
  Barang siapa hari ini  kwalitas hidupnya  menurun dari hari kemarin maka dia 
termasuk orang yang celaka, dan
  Barang siapa hari ini kwalitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia 
termasuk orang yang beruntung.
   
  Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang 
mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar 
dalam menegakan kebenaran. 
  Semoga di penghujung tahun 1427 H ini kita masih diberi hidayah petunjuk oleh 
Allah Swt  dan mendapatkan ampunan dari-Nya serta diberi kekuatan untuk tetap 
istiqomah menjalani hidup dalam kebenaran dan beribadah kepadanya. Amieen…Ya 
Rabbal’alamien…
   
  Akhirnya :
   
  Selamat Tahun Baru 1428 H
  Semoga kita termasuk orang-orang beruntung, yang senantiasa mau dan mampu 
memperbaiki diri. Amien
   
  dari saudaramu
  Muhammad Asyiq 

 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

Kirim email ke