Untuk bahan bacaan iseng-iseng, he...he...

H

---------- Forwarded message ----------
From: udarapagi <[EMAIL PROTECTED] >
Date: Mar 5, 2007 10:37 AM
Subject: [Udara Pagi] Paradoks Bursa Efek Jakarta
To: [EMAIL PROTECTED]

Bursa Efek Jakarta butuh darah segar untuk memperkuat fundamental bursa yang
rapuh

OLEH: HIZBULLAH ARIEF

Apakah Anda pernah mendengar perusahaan bernama PT Tudung Putrajaya? Jika
tidak, saya ada sedikit petunjuk. Perusahaan ini adalah produsen tepung
tapioka yang didirikan oleh Darmo Putro di Pati, Jawa Tengah pada 1958.
Masih belum nyantol juga? Bagaimana bila satu lagi petunjuk? Dalam
perkembangannya mereka memproduksi kacang garing bermerek Garuda. Ya… Kacang
Garuda. Otak Anda pasti langsung teringat satu nama: Garudafood.
Anda benar, perusahaan itu kini tampil sebagai Grup Garudafood. Nama
Garudafood saat ini bisa dijumpai di mana saja, bahkan di warung kelontong
di dekat rumah Anda. Produknya tidak hanya kacang garing. Ada biskuit,
kacang atom, kacang telor, kacang madu, minuman ringan, hingga keripik
kentang. Pada 1998, perusahaan ini menguasai 65% pangsa pasar produk makanan
kacang di Indonesia. Kini jaringan pemasarannya sudah merambah seluruh
wilayah ASEAN, bahkan hingga ke wilayah Eropa, Australia, Amerika Utara
hingga Timur Tengah.
Keberhasilan perusahaan yang digawangi CEO, Sudhamek A.W.S ini menjadikannya
sebagai perusahaan yang digadang-gadang untuk segera masuk bursa oleh para
analis saham. Parto Kawito, manajer investasi dari Indopremier Securities
adalah salah satunya. Apalagi tahun ini dipandang sebagai tahun yang tepat
bagi perusahaan tertutup seperti Garudafood untuk mencatatkan diri di Bursa
Efek Jakarta (BEJ). Apa pasal?
Sejak 2002, BEJ terus menunjukkan kinerja yang sangat dinamis. Indeks
berkali-kali menembus rekor dan telah naik 350% pada akhir tahun lalu.
Likuiditas yang pada 2002 tercatat hanya Rp493 miliar per hari, saat ini
telah mencapai angka Rp2,55 triliun perhari. Itu semua berarti kesempatan
besar bagi perusahaan tertutup dengan masa depan cerah seperti Garudafood
untuk mendapatkan modal dari BEJ. Apalagi dalam wawancara dengan
BusinessWeek Edisi Indonesia, 19 Februari lalu Sudhamek menyatakan
perusahaannya sudah siap lahir batin untuk masuk bursa.

Belum saatnya

Lantas, apa lagi yang ditunggu? Alih-alih memilih bursa lokal. Apabila waktu
go public tiba nanti, Sudhamek malah mengincar bursa tetangga, Singapore
Stock Exchange (SSE) atau Kuala Lumpur Stock Exchange (KLSE), sebagai tempat
untuk melabuhkan kepemilikan sahamnya. Dan sebelum saat itu tiba,
perusahaannya lebih memilih untuk mendapatkan pendanaan dari pasar uang atau
dalam bentuk dedicated loan, kredit dari perbankan. "Sekarang bukan waktu
yang tepat (untuk mencatatkan diri di Bursa Efek Jakarta)," tuturnya.
Aspirasi Sudhamek mungkin mewakili ratusan bahkan ribuan perusahaan tertutup
lain di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk mencatatkan diri di BEJ.
Pada kenyataannya dari tahun ke tahun, jumlah perusahaan baru yang
mencatatkan diri ke BEJ masih bisa dihitung dengan jari. Walau tahun lalu
kapitalisasi pasar BEJ mengalami lonjakan yang luar biasa dari Rp800 triliun
ke Rp1200 triliun, kapitalisasi pasar primer (primary market)—yang bersumber
dari pencatatan emiten baru—tercatat hanya berkisar Rp3 triliun atau $300
juta. Sisanya disumbang pasar sekunder yaitu pasar emiten yang sudah eksis.
Langkanya emiten baru di BEJ bukan tanpa sebab. Sudhamek menyebut
pertimbangan PER (Price Earning Ratio) sebagai salah satu alasannya.
Dibanding dengan bursa efek regional seperti Bursa Efek Singapura (SSE) dan
Bursa Kuala Lumpur (KLSE), PER—yang mengindikasikan rasio harga saham
dibanding dengan pendapatan—BEJ, termasuk paling rendah yaitu 14,7.
Sementara PER di SSE dan KLSE tercatat 17.
Ini artinya, harga saham perusahaan di BEJ masih dinilai lebih rendah
dibanding harga saham di bursa sewilayah. Akibatnya, bila ada perusahaan
yang hendak mencatatkan diri di BEJ, itu berarti, mereka harus siap menjual
kepemilikan (saham) lebih banyak untuk mendapatkan modal yang mereka
butuhkan, karena harga saham mereka yang masih dinilai murah.
Kapitalisasi pasar BEJ yang kecil menjadi kekhawatiran Sudhamek yang kedua.
"Dengan jumlah pemain yang terbatas, BEJ jadi mudah digoyang," tuturnya.

Fundamental bermasalah

Hal ini sangat disadari oleh Airlangga Hartarto, Ketua Asosiasi Emiten
Indonesia (AEI). Menurut Airlangga, pertumbuhan kapitalisasi pasar di BEJ
sangat rentan. Faktor fundamental BEJ menurutnya "sedikit" bermasalah.
"Bursa kita hanya didorong oleh 22 saham saja," tuturnya pada BusinessWeek
Edisi Indonesia, 26 Februari lalu. Sebanyak 45 emiten menguasai 80%
kapitalisasi pasar.
Akibatnya, kenaikan keuntungan dari perusahaan publik tidak tercermin pada
kenaikan kapitalisasi pasar. Kenaikan kapitalisasi pasar lebih tergantung
pada faktor regional dan sentimen lokal. Penyebabnya menurut Airlangga
adalah investor asing. Dari 600.000 investor yang tercatat di data resmi
BEJ, 60%-nya masih dikuasai oleh investor asing. "Dan investor asing sangat
terpengaruh oleh dua hal tadi (faktor regional dan sentiment lokal),"
tuturnya.
Melonjaknya transaksi di BEJ (kabarnya mencapai Rp4 triliun, jauh di atas
rata-rata transaksi harian yang sebesar Rp2,5 triliun) yang terjadi pada
Rabu (28/2) lalu—yang dipicu oleh terkoreksinya bursa Shanghai sebesar 9%
akibat ketakutan akan prospek ekonomi China—membuktikan teori ini. IHSG juga
sempat terkoreksi hingga 5%. Dan karena kebanyakan dana yang lari adalah
dana asing, maka rupiah pun tertekan hingga mencapai level Rp9.172.
Untuk mengatasinya, tidak ada jalan lain selain mengganjal lemahnya faktor
fundamental itu dengan emisi-emisi baru. Jumlah modal yang bisa diraup di
BEJ juga harus terus ditingkatkan. "Dalam artian pasar modal harus
benar-benar dijadikan sumber pembiayaan sebagaimana terjadi di luar negeri,"
tutur Airlangga.
PER yang rendah di satu sisi menguntungkan investor karena bisa membeli
saham dengan harga murah dengan potensi pendapatan yang besar. Namun di sisi
lain merugikan perusahaan tertutup yang akan masuk bursa karena harga
sahamnya dinilai murah. Saat ini emiten di BEJ menurut Airlangga masih
membatasi jumlah saham yang beredar di bawah 40%.
Dengan kondisi itu, menarik perusahaan untuk masuk bursa tidak mudah. Erry
Firmansyah, Direktur Utama BEJ adalah sosok yang paling bertanggung jawab di
balik upaya ini. Saat ini BEJ baru memiliki 342 emiten. Bandingkan dengan
709 emiten yang tercatat di Bursa Efek Singapura per Januari. Berbagai
rayuan pun dijuruskan. Kepada BusinessWeek Edisi Indonesia akhir Februari
lalu, Erry menyatakan, PER di BEJ sudah tidak lagi murah namun juga tidak
mahal. "PER kita sudah fair dengan kondisi regional," tutur Erry. PER BEJ
hanya kalah dengan bursa Korea dan Thailand yang lebih rendah. Namun masih
di bawah Singapura dan Malaysia. Sehingga, "Masih ada ruang untuk tumbuh,
waktunya untuk masuk pasar" tuturnya.
Haryajid Ramelan, Sekretaris Asosiasi Analis Efek Indonesia juga menilai
masih ada ruang untuk mengeruk pendapatan (earning) dari bursa. Rata-rata
pendapatan di BEJ mencapai 20-30%.

Tanya kenapa?

Dan potensi IPO perusahaan dalam negeri menurut Erry masih sangat besar.
Salah satu sektor yang sedang hot adalah perkebunan. "Sedikit sekali
perkebunan yang go public sementara perkebunan kita begitu banyak. BUMN
Perkebunan satupun tidak ada, kenapa?" tanyanya. Menurut Erry menjadi
perusahaan publik yang mahal adalah cost of transparency-nya. "Dan hal itu
tidak bisa dinilai dengan uang." Erry ingin menekankan dua hal. Pertama,
semakin banyak perusahaan yang masuk bursa maka tata kelola negara pun
semakin membaik. Hal ini karena, "Mohon maaf, banyak perusahaan (tertutup)
yang masih bisa 'bermain' dengan pajak," ujarnya. Kedua, filosofi perusahaan
masuk bursa harus diubah—tidak hanya untuk mencari modal tapi juga untuk
kelangsungan perusahaan. "Contohnya Astra. Kalau tidak go public, Astra
mungkin sudah hilang," tambahnya lagi.
Namun berwacana tidaklah cukup. Perlu insentif riil untuk menarik perusahaan
masuk bursa. AEI mengusulkan agar pemerintah memberi insentif pajak bagi
perusahaan yang go public. "AEI mengusulkan pembedaan pajak 5-10% bagi
perusahaan publik," ujar Airlangga. Hal ini dikarenakan biaya go public yang
tinggi. Termasuk biaya untuk memenuhi syarat-syarat keterbukaan di bursa.
"Kalau tak ada kompensasi maka yang terjadi adalah seperti 5 tahun terakhir.
Jumlah emisi baru relatif stagnan," tuturnya.
Menurut Airlangga, Spanyol sudah memberikan insentif pajak seperti ini. Juga
Jepang yang memberikan pajak deviden 0%. Saat ini insentif perpajakan masih
mengunggu selesainya pembahasan UU perpajakan. Bola ada di tangan DPR dan
pemerintah. Tahun ini BEJ menargetkan 25 emiten baru. Pada saat yang sama
pemerintah berencana memprivatisasi 15 BUMN.
Sesuai kesepakatan Komite Privatisasi, BNI, Jasa Marga, Wijaya Karya, Garuda
Indonesia, Merpati, ISI, Iglas, Cambrics Primisima menjadi BUMN mayoritas
yang akan diprivatisasi. Menurut Menteri Negara BUMN, Sugiharto, privatisasi
tahun ini akan difokuskan pada BNI, Jasa Marga dan Wijaya Karya. Khusus BNI,
BNI berencana melakukan right issue untuk menambah kapitalisasinya di pasar
sekunder guna meraih Rp4,4 triliun.
Menurut Airlangga, BUMN yang memiliki sifat alami (nature) monopoli,
berpotensi menjadi saham blue chip di pasar. Namun menilik kasus PGN
tampaknya banyak BUMN yang masih harus belajar soal transparansi, sebelum
memprivatisasi diri. Menurut Parto, kasus PGN bisa menjadi contoh keseriusan
BEJ dan Bapepam dalam menjaga kewibawaan bursa. Erry sendiri menanggapi
positif tuntutan itu. "Ada miskomunikasi antara perusahaan dan investor
(pada kasus PGN). Itu yang sedang kita selidiki," ujarnya.
Apabila transparansi belum bisa ditegakkan dan tidak ada insentif bagi
perusahaan yang go public, maka wajar Sudhamek dan ribuan CEO perusahaan
tertutup lain berpikir dua kali untuk masuk bursa. Saatnya BEJ, pemerintah
dan DPR membuktikannya.

Tabel.1
Lain Bursa Lain Ladangnya

JUMLAH EMITEN KAPITALISASI PASAR PER

BEJ 342 $132,8 miliar 14,7
SSE 709 $632 miliar 17

Tabel 2.
2 juta
Target jumlah investor di BEJ pada 2008 dibanding 600.000 investor saat ini

Tabel. 3
STAGNAN
Jumlah Emiten di BEJ

TAHUN 2002 2003 2004 2005 2006 2007*
JUMLAH 331 333 331 336 344 342

* Per Februari 2007

* *

* *

--
Posted By udarapagi to Udara Pagi
<http://abuzidan.blogspot.com/2007/03/paradoks-bursa-efek-jakarta.html> at
3/05/2007 10:24:00 AM

--
aku ingin seperti udara pagi
http://abuzidan.blogspot.com/

--
aku ingin seperti udara pagi
http://abuzidan.blogspot.com/

Kirim email ke