Untuk bahan bacaan,

H

---------- Forwarded message ----------
From: udarapagi <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mar 20, 2007 11:26 AM
Subject: [Udara Pagi] Saatnya Menebar Asuransi Mikro
To: [EMAIL PROTECTED]

Asuransi mikro bisa menjadi embrio jaminan sosial nasional. Pemerintah mau
tidak mau harus turun tangan.

OLEH: HIZBULLAH ARIEF

Semua orang tahu, masa pemerintahan SBY-JK penuh dengan bencana. Tsunami.
Gempa bumi. Tanah longsor. Banjir. Wabah virus H5N1. Malaria. DBD.
Kelaparan. Lumpur Lapindo, hingga kecelakaan di darat, laut dan udara.
Bencana-bencana itu secara total telah menelan korban ratusan ribu jiwa.
Belum lagi "bencana struktural" akibat kenaikan harga BBM. Semuanya
menciptakan kemiskinan dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Per Maret 2006, jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) menurut survey Biro Pusat
Statistik (BPS) jumlahnya mencapai 19,1 juta. Melonjak dari perkiraan BPS
sebelumnya yang 15,5 juta. Data ini adalah data yang digunakan oleh
pemerintah untuk penyaluran subsidi langsung tunai (SLT). Bila diasumsikan
setiap rumah tangga memiliki 4 anggota keluarga, maka jumlah penduduk miskin
dan tidak mampu (poor dan near poor) akan mencapai 76,4 juta. Data di atas
mempertegas keberadaan rakyat miskin dan tidak mampu di tanah air yang
jumlahnya mencapai 34% dari jumlah penduduk Indonesia.

Dan pada kenyataannya, golongan rakyat miskin dan kurang mampu adalah mereka
yang paling berisiko ketika terjadi bencana. Golongan ini tidak memiliki
sistem perlindungan (buffer) seperti tabungan atau investasi. Sehingga
ketika bencana datang, mereka akan menggantungkan uluran tangan orang lain
atau pemerintah, jika tidak berutang. Mereka sangat jauh dari kemandirian.
Padahal sistem untuk menciptakan kemandirian tersedia. Sistem itu adalah
asuransi.

Pelajaran inilah yang bisa dipetik dari Begum, seorang wanita miskin di
India. Seperti ditulis dalam laporan khusus The Review September 2005 lalu,
suami Begum tewas akibat tsunami. Kehilangan sumber pendapatan keluarga
tidak menjadikan keluarga Begum terlilit masalah keuangan. Mereka bisa
mandiri dan terselamatkan oleh polis asuransi yang preminya hanya EUR3,2
atau sekitar Rp38.000 per tahun. Selamat datang di dunia asuransi mikro.
Asuransi dengan premi yang terjangkau untuk kantong rakyat miskin.

Ancaman dan peluang

Di Indonesia, asuransi seperti ini masih jauh panggang dari api. Jangankan
asuransi untuk rakyat miskin, jumlah tertanggung di industri asuransi jiwa
secara keseluruhan pun masih minim. Menurut laporan Asosiasi Asuransi Jiwa
Indonesia (AAJI) yang belum diaudit, hingga kuartal ketiga tahun lalu,
jumlah tertanggung individu hanya mencapai 5,5 juta jiwa. Turun dari 5,6
juta tertanggung pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu
jumlah tertanggung grup naik menjadi 25,8 juta dari 12,6 juta tahun
sebelumnya. Alih-alih menggarap pasar rakyat miskin, saat ini perusahaan
asuransi lebih cenderung menciptakan produk untuk kalangan menengah ke atas.


Bencana yang menimpa rakyat Indonesia belakangan ini menurut Madjdi Ali,
Direktur Utama AJB Bumiputera 1912 awal Februari lalu, seperti dua sisi mata
uang. Di satu sisi, bencana membuka peluang melonjaknya permintaan penutupan
asuransi—khususnya asuransi kerugian seperti asuransi rumah dan kendaraan.
Pada kelas menengah atas, permintaan asuransi jiwa, boleh jadi, juga
mengalami peningkatan signifikan. Tapi di sisi lain, bencana ini merupakan
pukulan telak bagi industri. "Di kelas menengah ke bawah, bencana justru
memperlemah daya beli mereka," tuturnya. Padahal menurut Madjdi, golongan
ini lebih berhak mendapatkan proteksi.

Lalu mengapa tidak menciptakan produk untuk mereka? Padahal hitung punya
hitung, jika industri asuransi jiwa misalnya, bisa menggarap pasar rakyat
miskin dan kurang mampu yang berjumlah 76,4 juta jiwa tersebut, jumlah
tertanggung individu dan atau grup di industri asuransi jiwa akan melonjak
hingga 200%. Dengan skema premi yang Rp38.000 per tahun atau sekitar Rp3000
per bulan seperti yang harus dibayar oleh Begum, maka industri asuransi jiwa
berpeluang menangguk perolehan premi bisnis baru sebesar Rp2,9 triliun per
tahun.

Permasalahan ini sudah dihadapi industri asuransi jiwa di Tanah Air puluhan
tahun lamanya. Menurut Herris B. Simandjuntak, Direktur Utama Asuransi
Jiwasraya, masalah utama adalah mendesain produk asuransi mikro yang
memenuhi skala bisnis. Produk asuransi mikro harus memperhitungkan berapa
premi yang harus dibayar, berapa biaya kolektibilitas premi dan biaya
administrasi yang lain. "Kalau tidak maka itu akan seperti asuransi sosial,"
tuturnya pada BusinessWeek Indonesia.

Yang kedua, karena premi yang ditawarkan sangat terjangkau—perusahaan
asuransi jiwa sudah ada yang berani menjual produk dengan premi Rp5000-7500
per tahun—maka harus ada lembaga yang mengkoordinir sehingga menjadi sebuah
asuransi kumpulan. Misal satu desa, satu kecamatan, satu kelompok arisan,
satu rukun tangga (RT) atau satu partai. "Ini adalah hukum bilangan banyak,
law of the large number," tutur Herris.

Hukum itu juga harus mempertimbangkan kemampuan mayoritas masyarakat miskin
untuk membayar premi. Menurut Eddy Berutu, Direktur Eksekutif AAJI,
jangankan produk asuransi jiwa berpremi Rp5000 per tahun, produk dengan
premi Rp50.000 per tahun pun masih sangat terjangkau bagi rakyat miskin dan
kurang mampu. Analoginya sangat sederhana. "Biaya itu tidak lebih besar dari
biaya yang mereka keluarkan untuk (membeli) rokok setiap bulan," tutur Eddy.
Harga rokok rata-rata sebesar Rp5000 per bungkus. Apabila perokok
menghabiskan satu bungkus per hari, maka biaya yang harus mereka sisihkan
mencapai Rp150.000 per bulan. Menurut survey Biro Pusat Statistik, proporsi
belanja rokok keluarga miskin pada 2003 meningkat menjadi 13% pada 2003 dari
8% pada 1999. Sementara proporsi belanja makanan pokok justru turun menjadi
19% pada 2003 dari 28% pada 1999.

Pemerintah harus terlibat

Memang, kesadaran masyarakat miskin akan pentingnya asuransi masih sangat
minim. Mereka akan baru merasakan manfaatnya ketika tertimpa bencana.
Permasalahannya, siapa yang harus berinisiatif untuk mengenalkan produk
asuransi mikro dengan premi yang terjangkau ini kepada mereka? Jiwasraya
telah memiliki produk Siharta, sementara Bumiputera memiliki ASRI (Asuransi
Rakyat Indonesia). Allianz muncul dengan skema asuransi kredit bernama
Asuransi Payung Keluarga dengan premi yang disesuaikan dengan jumlah
pinjaman masyarakat tidak mampu. Misal untuk pinjaman senilai Rp1 juta,
premi yang harus dibayar sebesar Rp5000 dengan manfaat Rp2 juta untuk
pinjaman berdurasi 5 bulan. Namun penetrasi produk tersebut di masyarakat
masih sangat minim. Madjdi Ali berharap pemerintah serius berinisiatif
memikirkan skema perlindungan asuransi bagi masyarakat menengah ke bawah.
Jens Reisch, Direktur Utama Alliaz Life sepakat dengan Madjdi bahwa masih
dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk menjangkau masyarakat yang sangat
miskin.

Dan pada prakteknya, beberapa pemerintah daerah sudah bergerak untuk
mengasuransikan warga mereka. Pemerintah Kabupaten Yakuhimo, Papua yang
warganya sempat dilanda kelaparan, saat ini telah mengasuransikan kesehatan
seluruh warganya. Kabupaten Musi Banyuasin di Sumatera Selatan telah
mengasuransikan jiwa warganya sejak 2002. Semua Kabupaten di Provinsi
Kalimantan Timur kecuali Bontang telah bekerja sama dengan Askes memproteksi
kesehatan warga mereka.

Bagaimana keterlibatan pemerintah pusat? Program yang saat ini telah
berjalan adalah asuransi kesehatan bagi rakyat miskin atau Askeskin. Menurut
Orie Andari Sutadji, Direktur Utama PT.Askes, pada 2005 pemerintah
menganggarkan dana Rp2,3 triliun untuk asuransi kesehatan 36 juta rakyat
miskin. Dengan skema yang dipakai: Rp5000 / jiwa / bulan. Menurut Orie,
Askeskin saat ini telah memproteksi 41% dari jumlah penduduk Indonesia.
Namun saat jumlah RTM bertambah, skema yang dianggarkan pemerintah tidak
berubah, Rp5000 per jiwa per tahun. Padahal manfaat layanan kesehatan yang
dinikmati oleh rakyat miskin hampir tak terbatas, dari mulai layanan cuci
darah, operasi jantung, penyakit katastropis hingga perawatan sakit jiwa.
Menurut Orie, sesuai dengan standar aktuaris, premi ideal yang seharusnya
dianggarkan oleh pemerintah adalah Rp12.000 per jiwa per bulan
(Rp144.000per tahun). Jika dibandingkan dengan premi asuransi
kesehatan yang ada di
industri, premi ini tergolong sangat murah.

Hanya separuh

Namun untuk bisa mencapai hitung-hitungan premi semurah ini perusahaan
asuransi kesehatan menurut Orie, harus memiliki jaringan layaknya PT. Askes:
kantor perwakilan yang menjangkau seluruh wilayah di Tanah Air, jaringan
rumah sakit, puskesmas, termasuk jaringan dengan perusahaan farmasi.
Perusahaan asuransi kesehatan juga harus mengelola klaim yang sangat besar.
"Biaya kesehatan di tanah air sangat mahal, termasuk harga obat," tutur
Orie. PT. Askes harus membayar klaim untuk layanan kesehatan sebesar Rp300
miliar setiap bulan. Hingga saat ini, belum ada perusahaan asuransi
kesehatan yang berani menawarkan skema premi murah dengan manfaat tak
terbatas seperti yang sudah dilakukan oleh Askeskin ini.

Untuk mempromosikan embrio asuransi mikro ini, pemerintahan SBY mau tidak
mau harus turun tangan, paling tidak untuk perlindungan dasar yaitu asuransi
jiwa dan kesehatan. Dengan skema premi asuransi kesehatan ideal
Rp144.000per jiwa per tahun, pemerintah harus menganggarkan dana
sebesar Rp11 triliun
per tahun, ditambah Rp2,9 triliun untuk asuransi jiwa berdasarkan skema
premi Rp38.000 per jiwa per tahun. Jumlah ini ternyata hanya separuh dari
anggaran pemerintah pada tahun ini yang akan disalurkan ke departemen dan
lembaga untuk penanggulangan kemiskinan sebesar Rp25,41 triliun. Sudah
menjadi rahasia umum jika dana disalurkan ke departemen atau lembaga maka
peluang terjadinya moral hazards seperti korupsi sangat besar. Dengan
menyalurkannya ke industri asuransi, pemerintah lebih mudah melakukan
kontrol. Demi transparansi pemerintah juga bisa menenderkan program ini
untuk mendapatkan solusi yang terbaik.

Herris mengusulkan pembiayaan dilakukan secara bertahap. Untuk tahun pertama
pemerintah mungkin harus membayar penuh, tapi pada tahun-tahun berikutnya
pemerintah bisa membayarnya separuhnya. Porsi pemerintah semakin kecil
ketika masyarakat semakin sadar berasuransi dan mandiri. "Sekarang ini
masyarakat miskin seperti peminta-minta. Dan kalau terjadi bencana mereka
tak punya daya tahan," tutur Herris. Padahal menilik pembahasan di atas,
asuransi mikro adalah solusi yang logis dan terjangkau. Apalagi bila
pemerintah terlibat. SBY, apakah Anda mendengar?

--
Posted By udarapagi to Udara Pagi
<http://abuzidan.blogspot.com/2007/03/saatnya-menebar-asuransi-mikro.html>at
3/20/2007 11:23:00 AM

--
aku ingin seperti udara pagi
http://abuzidan.blogspot.com/

Kirim email ke