Belum Haji Sudah Mabrur

Oleh: Ahmad Tohari

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Usia 
Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali, 
karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, 
maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. 
Jadilah, Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah 
remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, 
seiring usianya yang terus meningkat, dia kembali ke kampung kami. Para 
tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang 
sudah sangat renta. 

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka, ia berjualan nasi 
bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren 
kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya 
dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal, Yu 
Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini 
zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan 
pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Yu Timah kembali 
hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi 
bungkus. 
 
Yu Timah pernah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara 
soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu, Yu Timah masih bisa menabung di 
BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi, Yu Timah tidak pernah mau 
datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia 
menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun, setelah menjadi penerima 
SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu, saya 
melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, 
setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu 
Timah adalah Rp 650 ribu. 

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya 
bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah. 

‘’Pak, saya mau mengambil tabungan,'’ kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil. 

‘’O, tentu bisa. Tapi, ini hari sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. 
Bagaimana bila senin?'’ 

‘’Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.'’ 

‘’Mau ambil berapa?'’ tanya saya. 

‘’Enam ratus ribu, Pak.'’ 

‘’Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?'’ 

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. 

‘’Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan 
uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.'’ 

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan, dia mengulangi 
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, 
mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal, 
saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli 
kambing kurban. 

‘’Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. 
Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima 
kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah 
benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?'’ 

‘’Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini 
memang saya hanya jadi penerima. Namun, sekarang saya ingin jadi pemberi daging 
kurban.'’ 

‘’Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.'’ 

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, 
dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang. 

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, 
mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan 
oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya 
keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? 
Pertanyaan ini muncul, karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak 
mengubah watak orangnya. Mungkin, saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi 
malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu 
sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak 
kaubelikan makanan, televisi atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan 
kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, 
tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang 
sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik 
haji. 

Penulis adalah budayawan dan sastrawan.


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke