200 Perawat Indonesia Siap Bertugas di Jepang Thursday, 07 August 2008 TOKYO (SINDO) – Sebanyak 200 perawat dari Indonesia kemarin tiba di Jepang. Mereka siap bertugas di sejumlah rumah sakit dan panti jompo di Negeri Matahari Terbit.
Yanti Kartina, salah satu perawat dari Jakarta, rela meninggalkan keluarganya demi bergabung dengan ratusan rekannya mengais rezeki di Jepang. Di sanalah dia mengadu nasib sekaligus membantu Pemerintah Jepang mengatasi bertambahnya populasi manusia lanjut usia. Para perawat itu bekerja di Negeri Sakura berdasarkan perjanjian kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang yang mulai diberlakukan sejak 1 Juli lalu. Dalam perjanjian itu, Jepang menerima tenaga medis dari Indonesia untuk dipekerjakan di sejumlah rumah sakit dan panti jompo. Memang, Jepang saat ini sangat membutuhkan para profesional kesehatan dari luar negeri. Negara maju itu sedang menghadapi krisis pertumbuhan populasi jompo tercepat di dunia. Kondisi itu semakin membuat jumlah tenaga kerja produktif mereka terus berkurang yang berpotensi merusak ekonomi. "Jepang merupakan negara maju pertama yang menghadapi krisis populasi ini," ungkap Hidenori Sakanaka, mantan Kepala Badan Imigrasi di Tokyo yang kini memimpin sebuah lembaga think tank. Lebih dari seperempat warga Jepang diperkirakan berusia di atas 65 tahun pada 2015. Itu berarti mereka menghadapi dampak ekonomi serius di masa depan, termasuk terbatasnya jumlah tenaga kerja yang akan berakibat pada GDP. Politisi partai berkuasa melihat tenaga imigran, termasuk para perawat asing, sebagai solusi jitu menjawab persoalan tersebut. Hal ini dibuktikan oleh Perdana Menteri (PM) Jepang Yasuo Fukuda dengan mengajukan proposal radikal untuk menarik imigran hingga 10% populasi dalam waktu 50 tahun. Putusan ini bertentangan dengan kebiasaan para pemimpin Jepang. Selama lebih dari 200 tahun terakhir hingga abad ke-19, Jepang membatasi jumlah imigran. "Saya rasa tidak ada cara lain kecuali mengizinkan imigran masuk ke Jepang," papar Sakanaka. Meski demikian, Sakanaka mengakui, saat ini masih ada kekhawatiran datangnya lebih banyak orang asing ke Jepang. Kepala Ekonom Goldman Sachs di Tokyo Tetsufumi Yamakawa yakin bahwa buruh migran ditambah dengan pekerja wanita serta orang jompo di bursa kerja dapat menambah pertumbuhan ekonomi sebesar 1%. "Saya pikir ini waktu yang sangat baik untuk berpikir tentang hal ini. Penurunan ekonomi telah membayangi kita," paparnya. (Rtr/syarifudin)
