Mencoba untuk direnungi dan diresapi

--- Pada Rab, 4/2/09, Ratu Eva Suryadi <[email protected]> menulis:
Dari: Ratu Eva Suryadi <[email protected]>
Topik: FW:  (Renungan) Mahalnya sebuah karir untuk wanita
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Tanggal: Rabu, 4 Februari, 2009, 7:05 AM


 
 




   
   

From: rini lestari [mailto:[email protected]]


Sent: Wednesday, January 07, 2009 9:27 PM

To: alfi amalia; airin; anggi; ester kartika; Ratu Eva Suryadi;
Iswi K; [email protected]; Ka MOrin; Harum Setiawati; Suhilda

Subject: FW: (Renungan) Mahalnya sebuah karir untuk wanita 

   








--- On Tue, 1/6/09, Marisa Rosiana <[email protected]> wrote: 
From: Marisa Rosiana <[email protected]>

Subject: FW: (Renungan) Mahalnya sebuah karir untuk wanita

To: "Susanty" <[email protected]>, [email protected], "Kusuma
Ayu Kinanti" <[email protected]>, "rini lestari"
<[email protected]>

Date: Tuesday, January 6, 2009, 8:22 PM 


Buat ibu2 wanita karier.....

  

  

  

-----Original Message-----

From: Umi Hani

Sent: Wednesday, January 07, 2009 8:58 AM

To: Mirna Kusmayati; Tri Anggorowati

Subject: FW: (Renungan) Mahalnya sebuah karir untuk wanita

  

 yg ini udah pernah baca?....

  

-----Original Message-----

From: Umi Hani

Sent: Wednesday, July 
 12, 2006 8:41 AM

To: Bank Mandiri Jakarta Gunung Sahari

Subject: (Renungan) Mahalnya sebuah karir untuk wanita

  

  

Mahalnya sebuah karir untuk wanita

  

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan

multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang

yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh

memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti

sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

  

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun

baru saja meninggal karena overdosis narkotika.

Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini

masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami

kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.

  

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan

Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik 
 kejiwaan, dia juga

merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang

bisa saya harapkan.

  

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah

pembantu kami.

  

Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

  

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak

Begitu hebat pada putri kami.

  

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia

telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur

2 tahun.

  

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya

sendiri.

  

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia

meninggal.

  

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku

hariannya berisi hal ini.

  

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname

di rumah sakit selama 3 minggu)

  

Maya hanya menulis singkat 
 sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini

Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.

  

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

  

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

  

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.

  

Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang

keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

  

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin

lebih.

  

Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan

urusan mereka.

  

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun

sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin

tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk

urusan

kantor.

  

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti

bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap 
 ibu

terlalu kuno cara berpikirnya.

Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami

6 orang anaknya.

  

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya

sangat baik.

  

Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan

penghasilan.

  

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan

mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana

kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa

gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?.

  

Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup mapan dalam karirnya

dan penghasilan.

  

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada

Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti

asal urusan kantor dan karir fokus saya.

  

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka,

toh teman yang 
 lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan

dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.

  

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan

begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.

  

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.

  

Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini

selalu terngiang di telinga.

  

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan

kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah

dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka

akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

  

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.

Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi

, setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah

meninggal dunia di 
 Rumah Sakit.

  

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari

rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

  

Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke

Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah

sudah masuk stadium 4 kankernya.

  

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini

saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu

kandungnya!

menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka

saja ke dunia.

  

Tragis !

  

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati

Kalau

lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa

bik Inah.

  

Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas

sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar

di pesantren.

  

Dan Doni pun begitu bersemangat 
 untuk hadir di acara itu padahal dia

paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

  

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya

tersenyum bersama.

  

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat

saya itulah foto terakhirnya.

  

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat

merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

  

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat

dengan urusan kantor.

  

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

  

Maya menulis :

"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin

Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau

pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya

cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak

bisa 
 tidur..........Ya Tuhan , Maya kangen banget sama bik Inah"

bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

  

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah

terlambat tidak mungkin bisa kembali,

  

seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja

untuk itu.

  

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya

pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang

terjadi.

  

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi

sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran

darinya.

  

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang

beratnya.

  

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas

hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang

mengalaminya.

  

Saat ini saya sedang mengikuti program 
 konseling/therapy untuk

menentramkan hati saya.

  

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

  

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya,

karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda

mempercayainya, tapi inilah faktanya.

  

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

  

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

  

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya

pada saya.

  

Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan

menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar

saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di

sisiMu".

  

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

  

  

  

  

  

"This e-mail (including any attachments) is intended solely for the

addressee and could contain information that is confidential; If you 
 are not the

intended recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or

dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you

should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the

views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer

viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus

and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient

should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of

e-mail transmission through Internet.” 




   




"This e-mail (including any
attachments) is intended solely for the addressee and could contain
information that is confidential; If you are not the intended
recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or
dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited
and you should immediately delete it. This message does not necessarily
reflect the views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been
checked for computer viruses, Bank Indonesia accepts no liability for
any damage caused by any virus and any malicious code transmitted by
this e-mail. Therefore, the recipient should check again for the risk
of viruses, malicious codes, etc as a result of e-mail transmission
through Internet.”


 



      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke