--- Pada Sel, 10/2/09, Newsletter Oase <[email protected]> menulis:
Dari: Newsletter Oase <[email protected]>
Topik: [oase] [resend] Hikmah: Rendahkan Hati, Tinggikan Harga Diri
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Selasa, 10 Februari, 2009, 11:13 PM

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Rabu, 24 Agustus 2005, oleh: abufaiz97
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=536

Hikmah: Rendahkan Hati, Tinggikan Harga Diri

Seharusnya seorang mukmin itu ibarat padi. Makin berisi makin merunduk. alam
itu Umar bin Abdul Aziz sedang berada di kediamannya. Khalifah kaum Muslimin
yang keadilannya dikenal hingga kini itu, sedang menulis. Tiba-tiba terdengar
pintu diketuk. Seorang tamu masuk dan berbincang dengan sang khalifah. Saat
itulah lampu yang berada di atas meja Umar redup dan sepertinya kehabisan
minyak.

Sang tamu buru-buru bangkit dari duduknya dan berkata, “Biar saya yang
memperbaikinya.” Maksudnya, mengisi ulang minyak bakarnya.

“Menyuruh tamu, bukanlah perbuatan mulia,” ujar Umar.

“Kalau begitu, kubangunkan pembantumu!”

“Ia baru saja tidur,” jawab Umar. Ia pun segera bangkit dari duduknya dan
mengisi minyak lampu. 

“Engkau sendiri melakukannya, wahai Amirul Mukminin?” tanya sang tamu
heran.

“Aku melakukannya atau tidak, tetap saja aku Umar. Tak ada yang berkurang
dariku. Sebaik-baik orang adalah yang tawadhu di sisi Allah,” jawab Umar. 
Penggalan kisah itu hanyalah salah satu episode dari kehidupan Umar bib Abdul
Aziz. Selain dikenal adil, ia juga mengajarkan dan mempraktikkan sikap tawadhu.
Seperti kisah di atas. 

Bagi seorang Mukmin, sikap tawadhu menjadi modal merengkuh kesuksesan: dunia
dan akhirat. Al-Qur’an banyak merekam nasib sosok-sosok sombong yang akhir
hayatnya terjerumus pada kehinaan. Iblis adalah contoh konkret dari sosok yang
memiliki sifat takabbur. Dengan sombongnya ia mengaku di hadapan Allah bahwa dia
lebih baik dari Adam. Ia mengatakan bahwa api lebih baik daripada tanah. Dengah
demikian, ia menganggap dirinya lebih mulia, dan akhirnya merendahkan orang
lain. Sikap iblis inilah yang mengundang murka Allah dan akhirnya
mengenyahkannya dari surga.

Dalam sejarah manusia, Fir’aun adalah sosok yang sangat sombong. Ia pernah
memerintahkan teknokrat pribadinya, Haman, untuk membuat bangunan tinggi agar
sampai ke pintu-pintu langit dan dapat melihat Tuhan Musa. Allah berfirman,
“Dan berkatalah Fir’aun, ‘Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan
yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya
aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang
pendusta,” (QS al-Mukmin: 36-37). 

Tawadhu’ berarti menghargai orang lain. Sikap menghargai orang lain merupakan
sifat terpuji. Kita menganggap bahwa orang lain lebih baik, lebih benar dan
lebih mulia. Tentu, penghargaan dan pengagungan yang proporsional. Bukan taklid
buta.

Rasulullah saw adalah orang yang sangat menghargai prestasi dan pendapat para
sahabat dan pengikutnya. Menjelang Perang Badar, ia mengalahkan pendapatnya dan
menerima ide Hubbab bin Mundzir untuk menentukan strategi perang. Pada Perang
Uhud, ia menerima pendapat para sahabatnya yang ingin menyongsong lawan di medan
perang, berlawanan dengan pendapatnya sendiri yang ingin menanti musuh di dalam
kota. Usul Salman al-Farisi untuk menggali parit dalam Perang Khandaq, diterima
dengan baik oleh Rasulullah saw. Dengan rendah hati Nabi saw menerima pendapat
para sahabatnya.

Abdurahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah saw yang kaya sehingga para
sejarawan menjulukinya dengan Si Tangan Emas, tak pernah membedakan dirinya
dengan budak. Ketika ia sedang berada di tengah para sahayanya, orang-orang
sulit membedakan, mana Abdurahman dan mana budaknya.

Sungguh, Allah sangat suka terhadap orang yang merendah di hadapan-Nya,
sehingga diangkatlah derajat kemuliaannya ke tingkat yang sangat tinggi di
hadapan semua makhluk. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk,” (QS
al-Bayyinah: 7).

Sebaliknya betapa Allah sangat murka terhadap orang-orang yang menyombongkan
diri di muka bumi. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS an-Nisa: 36).
Surga pun mengharamkan dirinya untuk dimasuki oleh orang-orang yang di qalbunya
terdapat kesombongan walau hanya sebesar debu. Rasulullah saw bersabda, “Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun
seberat biji sawi,” (HR Muslim).

Rahasia hidup sukses atau hina, tidak terlepas dari seberapa mampu seseorang
menempatkan dirinya sendiri di hadapan Allah SWT. Tawadhu, inilah kunci bagi
siapa saja yang ingin memiliki pribadi unggul.

Seseorang akan lebih cepat berhasil jika ia mempunyai sifat tawadhu. Kunci
terpenting untuk sukses adalah kesanggupan menyerap ilmu dan kemampuan mendengar
serta menimba ilmu dari orang lain. Hal ini akan membuat kita semakin cepat
melesat dibandingkan dengan orang-orang sombong, merasa pandai sendiri,
mengganggap cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Biasanya, orang seperti ini akan
merasa dirinya tak lagi membutuhkan pendapat, pandangan, dan visi orang lain.

Kita, makhluk serba terbatas. Bahkan, hanya untuk melihat kotoran di mata atau
hidung sendiri, kita tak mampu. Kita membutuhkan cermin dan alat bantu agar bisa
menguji semua yang kita miliki atau melengkapi yang belum kita miliki.

Kita harus menjadi orang yang “tamak” terhadap ilmu, serakah terhadap
pengalaman dan wawasan. Setiap bertemu dengan orang lain, lihatlah kelebihannya,
simaklah kemampuannya, ambillah ilmunya. Hal ini takkan menjadikan orang
tersebut bangkrut dan tidak memiliki kelebihan lagi. Sebaliknya, kemampuan orang
yang kita mintai ilmunya akan semakin berkembang.

Sikap tawadhu sangat erat kaitannya dengan sifat ikhlas. Rangkuman keikhlasan
seorang hamba ada pada ketawadhuan. Orang yang tawadhu, menanamkan keikhlasan
dan bersarang di hatinya. Karena, ketawadhu’an lebih berfungsi horisontal.
Tawadhu’ banyak berhubungan dengan manusia secara sosial. Sedangkan ikhlas,
lebih bersifat vertikal, langsung pada Allah.

Seseorang belum dikatakan tawadhu kecuali jika telah melenyapkan kesombongan
yang ada dalam dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang,
semakin sempurnalah ketawadhuannya. Allah berfirman, “Aku akan memalingkan
orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari
tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka tidak
beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk,
mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka
terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat
Kami dan mereka selalu lalai dari padanya,” (QS al-A’raaf: 146).

Tawadhu adalah salah satu akhlak mulia yang menggambarkan keagungan jiwa,
kebersihan hati dan ketinggian derajat pemiliknya. Rasulullah saw bersabda,
“Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridha Allah maka Allah akan
meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam
pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri
maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam
pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan
babi,” (HR al-Baihaqi).

Ironisnya, kini kesombongan menjadi “pakaian” yang dikenakan banyak orang.
Suka membanggakan diri, merasa tinggi melebihi orang di sekitarnya, merasa orang
lain membutuhkannya, suka memamerkan apa yang dimilikinya, dan tidak mau menyapa
lebih dahulu menjadi fenomena yang mudah dilihat di mana-mana.

Hepi Andi [sabili]





------------------------------------

Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs
Yahoo! Groups Links






      Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan 
Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox

Kirim email ke