--- Pada Sab, 14/3/09, Newsletter Oase <[email protected]> menulis:

Dari: Newsletter Oase <[email protected]>
Topik: [oase] [resend] Hikmah: Capres Langitan
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Sabtu, 14 Maret, 2009, 12:17 PM











    
            Arsip artikel ini telah diupdate pada: Selasa, 15 Juni 2004, oleh: 
abufaiz97

http://www.oaseisla m.com/modules. php?name= News&file= article&sid= 308



Hikmah: Capres Langitan



eramuslim - Suminah, nama lengkapnya, yang biasa di panggil Mpok Minah,
terlihat kusut wajahnya, sambil membolak-balikan Koran. "Ahh... sulit
amat yaa milih presiden aja!" ujarnya. 



Mas Parno si penjual pisang goreng yang biasa mangkal di depan
rumahnya, dengan wajah sumringah, terlihat beberapa butiran keringat
mengucur dari keningnya, dan setumpuk gorengan yang belum laku terjual,
sedang matahari kian terik, menimpali celotehan Mpok Minah. "Wah aku
juga sekarang lagi bingung nih, dulu saya milih Bu Mega, karena bapak
saya katanya dapat wangsit dari mimpinya untuk selalu dukung Mega, kan
Mega anaknya Soekarno... Jangan lupa lo Mpok, Soekarno itu ilmunya
banyak, pasti kan anaknya juga begitu!" urainya polos. "Tapi terus
terang aja, sekarang saya masih tetap susah... tapi ya pilih aja deh
Mega lagi, abis wangsitnya begitu..." begitulah ujar Mas Parno yang
tetap pada pendiriannya.



Nia, seorang karyawati salah satu bank, yang duduk di samping Mpok
Minah, sambil menikmati sepiring ketoprak, menyahuti dengan santai,
"Ehh, jangan asal pilih Bang, jangan mau susah melulu, pilih dong yang
paling Abang senengin, biar ada perubahan. Kalau aku sih, SBY dong,"
tegasnya. "Kenapa? Ganteng, wibawa, dan terukur ucapannya... ," begitu
ujarnya sambil tersenyum kecil. "Udah bosan mas, negeri ini dipegang
sipil nggak keruan begini, penggangguran banyak, kerusuhan di mana
mana," ujarnya ceriwis. 



"Eh Nia, kamu tahu tidak partai yang dukung SBY jadi Capres?" Celetuk
Tono yang berada di samping kanannya. "Ya enggak tahu sih gitu jelas
latar belakangnya? " Ujar Nia. "Tapi partai kan hanya alat saja, toh
nanti kalau dia terpilih dia kan udah berjanji utuk memilih kabinetnya
dari orang professional. Udah deh pilih SBY aja... enggak bakalan
rugi..!" Ujarnya sedikit memaksa.



"Wah...wah, diskusi makin hangat yaa!" Celetuk Tono, putra Mpok Minah.
"Kamu mau tanya nih calon gue, dengan tegas jawabnya, Wiranto! Menurut
matematis nih gue bilang! Wiranto dan Mega akan menjadi 2 besar, dan
Wirantolah yang paling bisa saat ini menghentikan gerakan Mega,"
gayanya layaknya pengamat politik kawakan. "Gue sih intinya asal jangan
Mega! Berani taruhan, Wiranto pasti akan jadi presiden!" Sambil
mengacungkan jempol tangannya. "Nih, nasehat gue, seharusnya ente-ente
pade nih sesame ummat Islam harus mendukung dia agar Mega tidak kembali
mimpin bangsa ini lagi, kan udah jelas situasinya kalau dia mimpin,
banyak diemnya," ujarnya tegas dan langsung ngacir ke dalam rumah mpok
Minah.



Pak Bintoro, tetangga sebelahnya yang sehari harinya sebagai guru
madrasah terusik dengan dialog hangat tersebut, dia pun keluar dari
rumahnya dan menimpali, "Kalian semua harusnya melihat sejarah, setahu
saya, yang paling awal menggiring reformasi ini kan Pak Amien, dia kan
dari Muhammadiyah! Dia yang paling getol tuh waktu nyuruh Soeharto
turun. Jangan lupa tuch!" 



"Tapi kan secara matematis Pak Amien akan kalah dari calon lainnya," ujar Nia 
menimpali. 



"Kalah apanya pemilu aja belum!" ngotot Pak Bintoro. "Jadi siapa lagi
yang kamu pilih yang wakilin ummat! Dia Pak Amien seharusnya yang
kalian dukung biar menang, bersatulah! Lihat deh, pemimpin mana yang
paling bersih dari latar belakang maupun kejelasan hartanya... Aduh,
jangan pilih capres yang lain deh, yang tidak jelas juntrungannya,
belum lagi ada kesalahan kesalahan masa lalu dan dekat dengan orde
baru," ujarnya menutup diskusinya.



"Pak Bintoro!" Kejar Nia. "Kalau mau wakilin ummat ini, kenapa enggak
pilih sekalian Hamzah Haz, kan dia dulunya orang PPP, udah ketahuan
tuch Ka'bah lambang partainya, jangan buat bingung kita kita dong! Dan
dia juga udah pengalaman, kan udah jadi wakil presiden, kenapa kita tak
pilih dia aja, engkong engkong kita juga nyuruhnya pilih dia."



Pak Somad, suami Mpok Minah tersenyum mendengar dialog ini,
"Subhanallah, " ujarnya halus. "Luar biasa bangsa ini, se-RT aja untuk
pilih presiden udah beragam, hati-hati jangan sampe pade berantem."



Lalu Mpok Minah, Nia, Pak Bintoro, serta Tono yang keluar lagi dari
rumah memandang Pak Somad, seolah ingin mendengarkan pertimbangan dari
Pak Somad. Pak somad mengerti, mereka semua ingin adanya tanggapan
darinya, lalu dengan menghela nafas, Pak Somad berujar, "Saya sih tetap
pilih ALLAH!" Ujarnya tegas. 



Mereka menjadi semakin bingung, lalu lanjutnya, "Saya kembalikan semua
kepadaNYA, manusia udah berikhtiar, Allah lah penentu keputusanNYA.
Udah deh kita semua yakin itu pasti ada jawabannya. Sebagai manusia
kita perlu ikhtiar untuk memilih calon kita, tapi perlu diingat setiap
kita memilih sesuatu, itu akan terbawa menuju akherat. Jangan salah
pilih, jangan golput, jangan ikut-ikutan, pilihlah calon presiden
dengan penilaian langit! Jangan pikirin dulu kita kalah atau menang,
apalagi secara matematis, kan kemenangan itu hanyalah milik Allah,
jangan pilih pemimpin bermental dunia."



"Apa tuh pak, penilaian langit?" Ujar Tono ingin tahu. 



Lalu Pak somad menimpali, "Pemimpin yang sesuai penilaian langit adalah
pemimpin yang akan membawa rakyatnya semakin dekat dengan Tuhannya! Itu
inti masalahnya, kalo rincinya, pertama, ya cari aja pemimpin yang
paling jelas aqidahnya! tidak terkotori hal-hal yang membuat aqidahnya
cacat, dari tindakan maupun perkataannya. Kedua, pemimpin yang tidak
haus terhadap harta. kan kita bisa lihat jelas tuh..., apalagi kalo
udah jadi pejabat, kan kita bisa lihat perubahannye. Hartanye makin
banyak atau tetap," ujarnya senyum. 



"Ketiga," lanjutnya, "Pemimpin yang paling banyak infak buat rakyatnya.
Nah ini sebuah ciri khusus nih buat pemimpin atau orang orang mukmin,
coba dengerin nih di surat Ali Imran ayat 92, 'Kamu sekali kali tidak
sampai kepada kebajikan yang sempurna, sebelum kamu nafkahkan sebagian
harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka
sesungguhnya Allah mengetahui'. Jadi pemimpin yang harus dipilih adalah
infaqnya makin banyak dari harta-harta yang dia paling cintai. Itu
syaratnya, bukan nilepnya semakin banyak. He...he..he. .. Nah jelas kan
siapa yang harus kita pilih. Coba aja deh kita telusuri para calon
pemimpin kita dari tiga hal itu, saya yakin kalian akan menemukannya, "
jelasnya layaknya seorang Kiyai. 



Mpok Mineh, Nia, Tono dan Mas Parno tersenyum lega dan Pak Bintoro
lebih tersenyum lepas, karena mereka sekarang sudah punya pegangan
untuk menentukan pilihannya.



Abu Faiz




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke