--- Pada Rab, 18/3/09, Newsletter Oase <[email protected]> menulis:

Dari: Newsletter Oase <[email protected]>
Topik: [oase] Lembar Jum'at: Menghindari Ghibah
Kepada: [email protected], [email protected]
Tanggal: Rabu, 18 Maret, 2009, 10:10 PM

Archive update by: abufaiz97, 19 March 2009, 06:10:42 WIB
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=755

Lembar Jum'at: Menghindari Ghibah

Khutbah I
.....
.....
Jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah, 

Pada
kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengingatkan utamanya kepada
diri saya pribadi dan juga kepada jama’ah pada umumnya, untuk
senantiasa meningkatkan taqwa kepada Alloh, dengan sebenar-benarnya
takwa yaitu ikhlas menjalankan apa yang telah diperintahkan-Nya dan
meninggalkan apa yang telah dilarang. Kemudian marilah kita senantiasa
mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT semata. Allah telah
melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak
nikmat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan
kita untuk bersyukur. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam QS
Ibrahim: 34: 

Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat 
menentukan jumlahnya. 

Selanjutnya
khatib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah
agar melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan, yang
biasa kita kenal dengan istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada
pemimpin kita bersama, teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin
orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang
sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam,
keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga
akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah, semoga kita yang hadir di
tempat yang baik ini dipandang Allah layak dihimpun bersama mereka
dalam kafilah panjang yang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal
‘aalaamien.

Hadirin jam’ah shalat jum’ah rahimakumullah.

Allah berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12:
.....
.....
Yang artinya adalah:

“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu
menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu
memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat:12)

Ayat
ini mengandung larangan berbuat ghibah atau menggunjing atau seperti
apa yang telah ditafsirkan pula pengertiannya oleh Rasulullah,
sebagaimana yang terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud bahwa Abu Hurairah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang
dimaksud dengan ghibah itu?” Rasulullah menjawab, “Kamu menceritakan
perihal saudaramu yang tidak disukainya.” Ditanyakan lagi,
“Bagaimanakah bila keadaan saudaraku itu sesuai dengan yang aku
katakan?” Rasulullah menjawab, “Bila keadaan saudaramu itu sesuai
dengan yang kamu katakan, maka itulah ghibah terhadapnya. Bila tidak
terdapat apa yang kamu katakan maka kamu telah berdusta.”

Menurut
bahasa, kata ghibah berasal dari al-ghib (tidak tampak). Makna ghibah
berkembang jadi bergunjing atau membicarakan aib orang yang tidak
disukai. Ghibah merupakan penyakit jiwa yang destruktif (berbahaya) dan
termasuk kelompok Nafsu Lawwamah. Terbentuknya ghibah karena munculnya
sifat iri dan dengki dalam hati seseorang, karena faktor tidak suka,
cemburu dan benci. Kemudian sifat tersebut mengkristal menjadi
benih-benih su-uzhan (buruk sangka). Adapun pemicu munculnya su-uzhan
karena panca indera rekaman terhadap semua peristiwa dengan disertai
lintasan negatif thinking (pikiran yang buruk). Setelah itu,
disimpulkan menjadi sebuah persepsi dan opini, padahal kesimpulan
tersebut belum tentu sesuai dengan fakta dan realita. Selanjutnya,
persepsi tersebut diekspresikan dalam bentuk kata-kata. Ketika itu,
akal tidak mampu berpikir jernih karena tergulung gelombang ghibah,
sehingga membuncah kalimat kebencian dan keburukan pada orang lain yang
merupakan refleksi batiniahnya. Itulah yang disebut ghibah.

Ghibah
adalah haram. Tidak ada pengecualian mengenai perbuatan ini kecuali
bila terdapat kemaslahatan yang lebih kuat seperti beberapa hal atau
kasus sebagai berikut:

1.    Orang yang mazhlum
(teraniaya) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang
menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang
berwenang memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut haknya.

2.   
Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang
berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Pembolehan ini dalam
rangka isti''anah (minta tolong) untuk mencegah kemungkaran dan
mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang hak. Selain itu ini
juga merupakan kewajiban manusia untuk ber-amar ma''ruf nahi munkar.
Setiap muslim harus saling bahu membahu menegakkan kebenaran dan
meluruskan jalan orang-orang yang menyimpang dari hukum-hukum Allah,
hingga nyata garis perbedaan antara yang haq dan yang bathil.

3.   
Memperingatkan kaum muslimin apabila ada perawi, saksi, atau pengarang
yang cacat sifat atau kelakuannya, menurut ijma'' ulama kita boleh
bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan
untuk memelihara kebersihan syariat. Ghibah dengan tujuan seperti ini
jelas diperbolehkan, bahkan diwajibkan untuk menjaga kesucian hadits.
Apalagi hadits merupakan sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah
Al-Qur''an.

Mempergunjingkan seseorang selain pada hal-hal yang
diperbolehkan seperti pada hal-hal tersebut sebelumnya, pengharamannya
sangat kuat. Itulah sebabnya Allah menyerupakan perbuatan ghibah dengan
memakan daging manusia yang sudah menjadi bangkai.

Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Setiap harta, kehormatan, dan darah seorang muslim adalah haram atas
muslim lainnya. Cukup buruklah seseorang yang merendahkan saudaranya
sesama muslim.”

Bagi orang-orang khusus, melakukan ghibah meski
hanya di dalam hati itu tidak dibenarkan, karena dapat mengotori hati.
Sebagaimana pernah terjadi pada Syaikhul Junaidi Al Bagdadi, ketika
sedang berada di masjid menunggu jenazah yang akan disembahyangi.
Tiba-tiba datang seorang pengemis yang meminta-minta, melihat hal itu
beliau berkata dalam hati: "Andaikan pengemis itu mau berusaha, niscaya
lebih baik baginya dan tentunya tidak jadi pengemis." Kemudian malam
harinya beliau bangun sebagaimana biasa, untuk melakukan shalat malam
dan zikir. Tapi tidak biasa-biasanya beliau merasa sangat berat di
dalam melaksanakannya, akhirnya beliau hanya duduk hingga tertidur, di
dalam tidurnya bermimpi disuguhi hidangan yang masih tertutup rapi.
Kemudian dibukanya dan beliau sangat terkejut ketika melihat tumpukan
daging, di antaranya ada tersembul wajah pengemis yang tadi siang ada
di depan masjid. Belum lepas rasa kaget beliau, terdengar suara lantang:

"Makanlah
daging itu, karena kamu telah mengghibah orang tersebut. "Beliau baru
ingat kejadian tadi siang dan terlintas dalam hati: "Padahal aku hanya
bicara dalam hati, tidak sampai membicarakan kepada orang lain."
Kemudian langsung dijawab: "Orang yang seperti kamu tidak layak
melakukan ghibah, sekalipun dalam hati, seolah-olah kamu tidak mengerti
hikmah Allah. Karena itu, kamu harus meminta maaf kepadanya." Lalu
beliau terbangun dan bergegas mencari pengemis. Selang beberapa hari
kemudian, baru bertemu dengan pengemis itu di sebuah sungai. Beliau
perlahan-lahan berjalan mendekati pengemis tersebut. Sebelum beliau
lebih dekat dan sempat berbicara, pengemis tersebut lebih dulu
bertanya: "Apakah kamu akan mengulangi lagi, wahai Abul Qasim?"
"Tidak," jawabnya. Kemudian pengemis tersebut berkata lagi: "Sudah
pulanglah, semoga Allah mengampuni dosamu."

Jamaah Jumat yang berbahagia

Dalam
sekelompok orang yang sedang dalam perbincangan, kita sering menemui
pembicaraan yang mengarah kepada kejelekan seseorang, entah yang
memulai pembicaraan itu kita atau orang lain, disadari atau tidak
disadari. Yang jelas apabila kita ikut larut dalam memperbincangkan
kejelekan orang maka kita telah berbuat ghibah yang dalam Al-Qur’an dan
hadits telah diterangkan perbuatan itu adalah terlarang (haram). Maka
bagaimana sebaiknya kita menyikapi kasus yang demikian? Insya Allah
berikut ini adalah poin-poin yang dapat menjauhkan kita dari ghibah:

1.
Pertama merasakan apakah yang dibicarakan itu termasuk ghibah atau
bukan. Caranya mudah, yaitu bayangkan seandainya orang yang kita
bicarakan itu mendengar apa yang kita bicarakan, jika dia merasa tidak
senang maka itu adalah perbuatan ghibah.

2. Setelah mengetahui
haramnya ghibah maka berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhinya
yaitu dengan menyeleksi apa yang akan kita katakan. Apabila kita
ketahui apa yang akan kita katakan itu tergolong ghibah, maka harus
ditahan untuk mengatakannya. Atau apabila kita kemudian menyadari apa
yang terlanjur kita katakan itu adalah ghibah karena khilaf tidak
sengaja, maka sesegera mungkin bertobat (beristighfar) dan bertekad
lagi untuk lebih hati-hati dalam berbicara.

3. Menelaah,
merenungkan, dan meyakinkan diri sendiri bahwa dengan membicarakan
kejelekan orang lain sebetulnya itu sama sekali tidak akan menambah
derajat kita. Justru orang yang sering berbuat ghibah akan mudah untuk
tidak dipercaya orang lain, dan hatinya pun tidak akan tenteram.

4.
Menyadari bahwa seseorang yang kita bicarakan kejelekannya itu
sebenarnya adalah saudara kita sendiri, bukan musuh yang harus dihujat
atau pun dicela. Sekiranya seseorang tersebut melakukan perbuatan
tercela atau yang kurang berakhlak maka sesungguhnya dia belum
mengetahui tentang ilmu, maka kita seyogyanya ikut menunjukinya kepada
jalan yang lurus bukannya malah menggunjingnya.

5. Jika kita
diajak membicarakan kejelekan orang lain oleh seseorang maka kita harus
menyadari bahwa ada dua kemungkinan tentang orang yang menggunjing,
pertama karena dia belum tahu haramnya ghibah menurut Islam atau
kemungkinan kedua yaitu dia sedang khilaf tanpa sengaja telah
menggunjing. Maka berusahalah untuk menghentikannya secara ma’ruf tanpa
menyinggung perasaannya. Pertama ingatkanlah secara lisan bahwa kita
dilarang berbuat ghibah. Jika belum berhenti, maka kita bisa menanggapi
seperlunya kemudian berusaha mengalihkan kepada pembicaraan yang lebih
baik. Jika sekiranya kedua upaya itu belum menghentikannya berbuat
ghibah maka diam adalah lebih baik, kemudian berdoa supaya kita dan
orang tersebut sama-sama dijauhkan dari perbuatan ghibah.

Kaum Muslimin sidang Jum’at yang berbahagia,

Itulah
beberapa hal yang dapat saya sampaikan, bahwa sesungguhnya ghibah itu
dilarang dan merupakan salah satu penyakit hati yang kita harus bisa
berusaha untuk menyembuhkannya. Utamanya nasihat ini saya tujukan
kepada diri saya sendiri dan juga kepada seluruh kaum muslimin supaya
kita bisa saling mengingatkan untuk beramar ma’ruf nahi munkar,
mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kemunkaran.
Barakallahu lii wa lakum
 
Khutbah II
.....
.....
Jama’ah Jumat yang dimuliakan Alloh, 

Jumhur
ulama berpendapat, cara yang mesti ditempuh oleh orang yang bertobat
karena menceritakan saudaranya ialah hendaknya dia menghentikan
perbuatan itu dan bertekad tidak akan mengulanginya. Sebagian ulama
men-syaratkan pula untuk meminta maaf kepada orang yang telah
digunjingkannya itu. Adapun yang lainnya mengatakan bahwa tidak menjadi
syarat baginya meminta maaf kepada orang itu. Karena bila dia
memberitahukan kepada orang itu tentang gunjingannya, barangkali ia
akan merasa lebih sakit daripada dia tidak mengetahui apa yang telah
dipergunjingkan orang terhadap dirinya itu. Sehingga akan lebih baik
apabila umpatan diganti dengan pujian.” Sebagaimana yang telah
diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Mu’adz bin Anas al-Juhani bahwa Nabi
bersabda, “Barangsiapa yang membela seorang mukmin dari seorang munafiq
yang menggunjingkan dirinya, maka Allah akan menurunkan kepadanya satu
malaikat yang akan memelihara dagingnya di hari kiamat nanti dari
jilatan api neraka. Dan barangsiapa yang melemparkan kepada seorang
mukmin sesuatu yang dimaksudkan untuk mencelanya, maka Allah akan
menahannya di jembatan Jahannam sehingga dia menarik kembali apa yang
telah diucapkannya itu.” Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Abu
Dawud.

Demikianlah khutbah yang saya sampaikan, marilah kita tutup khutbah ini dengan 
berdoa bersama-sama,
.....
.....
Ya Allah, jadikanlah hari ini menjadi hari ampunan bagi segala dosa kami,
Hari dimana Engkau singkapkan tabir dari hati kami,
Hari dimana Engkau gantikan segala kegelapan dengan cahaya di hati kami.
Ya Allah, sucikanlah kami dari dosa-dosa,
Dan bersihkanlah diri kami dari segala aib,
Tanamkanlah ketaqwaan di dalam hati kami,
Hiasilah diri kami dengan penutup dan kesucian,
Tutupilah diri kami dengan pakaian qanaah dan kerelaan.
Jadikan amal-amal kami sebagai amalan yang tulus hanya kepada-Mu,
Ya Allah, sediakanlah untuk kami sebagian dari rahmat-Mu yang luas,
Berikanlah kami petunjuk kepada ajaran-ajaran-Mu yang terang,
Dan bimbinglah kami kepada kerelaan-Mu yang penuh.
.....
.....





------------------------------------

Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseislam.com/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs
Yahoo! Groups Links






      Pamer gaya dengan skin baru yang keren. Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru 
sekarang! http://id.messenger.yahoo.com

Kirim email ke