Pa charis,ym ya ol?borongan imelnya tuh...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Moch Charis <[email protected]>

Date: Fri, 15 May 2009 12:55:54 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [SMUN 1 Demak] Trs: Chain of Kindness ( GOOD STORY )


Rantai Kebaikan
 
Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang
berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu
dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria 
itu 
menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar 
menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati 
sang nyonya. 
Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun 
berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan 
melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. 
Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di 
Sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu 
membuat sang nyonya tambah kedinginan. 
Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam 
mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan 
Anderson." 
Wah, sebenarn ya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut 
seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian 
sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak.. Selama mendongkrak itu beberapa 
kali 
jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun 
akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. 
Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca 
mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu 
bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia 
sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. 
Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya 
menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. 
Berapapun ju mlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah 
membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu 
tak menolongnya. 
Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain 
tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan 
mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. 
Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal 
sebaliknya. 
Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas 
kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang 
memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang 
itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya." 
Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu 
dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia 
pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. 
Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia 
turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan 
badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe 
itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu 
sangat asing baginya. 
Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk 
mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun 
ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya 
melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun 
pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya 
kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan 
yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik 
kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada 
Bryan. 
Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas 
$100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian 
kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah 
pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat 
sesuatu tertulis pada lap di meja itu. 
Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: 
"Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. 
Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya 
lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau 
lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'" 
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi. 
Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus 
diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan 
untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan 
setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu 
dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu 
tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan ke lahiran 
bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. 
Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya 
sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut 
dan berbisik lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan 
Anderson!" 
Ada pepatah lama yang berkata, "Berilah maka engkau diberi." Hari ini saya 
mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. 
Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan 
saja! 
Kirimkan kepada teman-teman anda! 
Teman baik itu seperti bintang-bintang dilangit. 
Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada. 


      Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! 
http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke