Dari judulnya ga enak dibaca..... [ Selanjutnya harap diganti ya... ],
Pelaku segelintir orang, kita2 juga semua yg kena cap ga baik.
Kita terlalu sabar, dan kurang berani.....[ Saran : Kedepan Harus Lebih Berani ]
Hidup Indonesia !

Maskar.




________________________________
Dari: dyah anggarini sasmito <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 7 September, 2009 11:05:48
Judul: Re: [SMUN 1 Demak] Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului

  
Kita bisa kaji lewat ilmu filologi, tak apalah, kita kan negara demokrasi, jadi 
musyawarah dulu, audiensi dulu sebelum mengklaim sesuatu. Tapi, sifat arogan 
malaysia yang acuh tak acuh, suka menyulut masalah, dan tak membuka pintu 
komunikasi lebih dekat, apalagi lau kebangsaan kita kok diplesetkan Indo-sial 
raya....blabla. ... hal itu yang bisa menjadikan kita bangsa indonesia untuk 
tetap meneriakkan GANYANG, MALAYSIA!!!

dyah




________________________________
From: nayarini estiningsih <nayariniestiningsih @yahoo.com>
To: ind...@yahoogroups. co.uk; smu1de...@yahoogrou ps.com; keluarga_kamid@ 
googlegroups. com; x-se...@yahoogroups .com
Sent: Sunday, September 6, 2009 20:06:53
Subject: [SMUN 1 Demak] Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului

  
untuk wacana.....silakan diteruskan


 


  
Indonesia-Malaysia
Sesama Penyolong Jangan Saling Mendahului

KOMPAS -- Minggu, 6 September 2009 | 03:00 WIB

Remy Sylado

Kompas ikut membikin ramai klaim-klaiman Indonesia terhadap Malaysia,
mencantumkan judul lagu ”Terang Bulan” sebagai ciptaan orang Indonesia.

Sebelumnya beberapa brodkas TV stel yakin mencocokkan lagu kebangsaan
Malaysia ”Negaraku” dengan lagu ”Terang Bulan”. Malahan seseorang yang
mengaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonesia yang pernah ”lari” ke
Malaysia, sebagai pencipta ”Terang Bulan”.

Salah satu, jika bukan satu-satunya media pers Indonesia pada 1957 yang
memuat berita tentang ”Terang Bulan” menjadi lagu kebangsaan Malaysia adalah
majalah Musika No 1 Th I September 1957. Majalah yang dipimpin Wienaktoe itu
menurunkan berita berjudul ”Negaraku” sebagai berikut: ”Melodi lagu ’Terang
Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu
kebangsaan Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan
diberi nama dan tekst baru ’Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia
untuk menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau
diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.

Kalau kita membaca Het Nationale Volkslied oleh Margreet Fogteloo & Bert
Wikie (AW Bruna Uitgevers BV Utrecht), jelas diuraikan bahwa ”Negaraku” yang
dulu di Indonesia dikenal sebagai ”Terang Bulan” adalah ciptaan orang
Perancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780- 1857).

Siapa sebenarnya orang ini? Ensiklopedia pertama yang terbit setelah
Indonesia merdeka, Ensiklopedia Indonesia, 1954, oleh TS Mulia dan KAH
Hidding mencatat nama Pierre Jean de Béranger sebagai pencipta sejumlah lagu
rakyat (Pr chanson populaire, Ing. folk song, Bld, volkslied). Di antara
ciptaannya yang terkenal di Indonesia sejak zaman penjajahan Perancis di
sini, Februari-Agustus 1811, sampai digegaskannya Bandung sebagai Parijs van
Java, 1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons
inédites.

Selama itu, pengaruh kebudayaan Perancis di Indonesia, jadi bukan di
Malaysia, memang besar. Di Manado, yang sekarang disebut katrili, dan
merupakan kesenian tradisional, berasal dari kata bahasa Perancis quadrille.
Lalu, di Bandung, teater tradisional longser merupakan serapan kata bahasa
Perancis, aba-aba seorang sutradara mengucapkan kata longer untuk bergerak
lalu. Dan, jangan lupa kereta sado di Batavia berasal dari bahasa Perancis
dos à dos, artinya duduk saling memunggung.

Tetapi, di antara tokoh-tokoh seni Perancis yang pernah lama mukim di
Indonesia, bukan Malaysia, adalah penyair terkemuka perkusor Simbolisme abad
ke-19, Arthur Rimbaud. Pada 1876 penyair ini tinggal di Salatiga sebagai
serdadu batalion I infanteri. Tentang dirinya di Salatiga bisa dibaca dalam
Het Koninklijk Negerrlands- Indisch Leger 1830- 1950 oleh Zwitzer & Heshusius
(Staatsuitvegerij ’s-Gravenhage) .

Salah seorang sahabat Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lereng gunung
Ungaran sampai tua, dan termasuk yang dikunjungi Mata Hari (Margareha
Geertruide Zelle) sang ’polyglot harlot’ yang dieksekusi mati oleh otoritas
Perancis pada Perang Dunia I sebagai mata-mata.

Maunya, dengan sekelumit gambaran ini, jangan sampai gairah klaim-klaiman
Indonesia terhadap Malaysia lantas melupakan peribahasa ”semut di seberang
laut tampak gajah di depan mata tak tampak”. Sebab, kita juga punya
kebiasaan nyolong.

Sebagai pembuka ingatan, perhatikan dua lagu yang dianggap memiliki pathos
kebangsaan, yaitu lirik ”Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau”,
dan ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”. Yang pertama mengingatkan
lagu Perancis ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, bagian
yang sama dimanfaatkan Beatles juga.

Tetapi yang kedua, ”Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati”, adalah 100%
pencurian atas lagu gereja ”What a Friend We Have in Jesus”. Tidak tahu apa
ilusi grup musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada 1960-an
menyanyikannya menjadi ”Ibu Pertiwi sedang bersusah”. Lagu himne ini aslinya
diciptakan oleh Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada
musik, dan dicatat hak ciptanya pada 1876 lewat Biglow & Main.

Harapannya, dalam klaim- klaiman yang sedang panas sekarang ini, jangan pula
melahirkan pemeo baru ”Sesama pencuri jangan saling mendahului”. Sebab,
ujungnya kalau urusan marah-marah ini dibeberkan dengan kasus-kasus plagiat
yang ternyata tidak sepi di Indonesia, malunya harus ditanggung bersama.

Sekadar contoh lain untuk mengingatkan itu, pada 1971 Markas Besar Angkatan
Darat, ditandatangani oleh Brigjen Soerjadi, telah membuat malu memberi
piagam kepada Ismail Marzuki sebagai komponis yang disebut mencipta lagu
”Auld Lang Syne”. Periksa Lagu-Lagu Pilihan Ismail Marzuki, oleh WS Suwito,
Titik Terang, Jakarta. Tentu saja ini ngawur yang menyedihkan. Lagu ”Auld
Lang Syne” itu nyanyian tradisional Skot yang digubah oleh Robert Burn dan
dicatat penciptaannya melalui Preston & Son, London, 1799.

Sebelum itu, Ismail Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu ”Als die
orchideeën bleien” dan ”Panon Hideung”. Padahal, lagu yang pertama, yang
kemudian berlirik bahasa Indonesia ”Bunga anggrek mulai timbul”, adalah
ciptaan Belloni, pemimpin orkes Concordia Respavae Crescunt, yang
dinyanyikan oleh Miss Lie pada 1922.

Yang kedua, ”Panon Hideung” adalah lagu tradisional Rusia, diaransemen di
Amerika oleh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak cipta pada 1926 di
bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonesia, melalui Bandung
pada tahun yang sama oleh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.

Termasuk Presiden RI Soekarno, pada 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam
Widjajakusuma kepada Ismail Marzuki, yang menyebut dalam piagam itu bahwa
lagu ”Hallo- hallo Bandung” adalah ciptaan Ismail Marzuki. Padahal, lagu itu
aslinya ciptaan seorang prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing yang
dinyanyikan bersama peleton Bataknya dari long march Yogya-Bandung di zaman
revolusi. Tentang kematiannya bisa dilihat lukisannya di Museum Siliwangi,
Jl Lembong, Bandung.

Lagu ”Hallo-hallo Bandung” ciptaan Lumban Tobing ini hanya sama judul, tapi
beda melodi dan lirik dengan lagu Belanda nyanyian Willy Derby pada 1929
ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij)
beroperasi di Bandung versi baru rekaman ini dinyanyikan lagi oleh Wieteke
van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeesho w, 1972, dan dicetak
teksnya pada 1992 dalam De Wduwe van Indië.

Nah, ”Terang Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indië dalam dua teks,
yaitu bahasa Indonesia gaya KNIL dan bahasa Belanda. Kita baca teks yang
pertama saja:

Terang boelan

terang boelan di kali

Boewaja timboel

katanja lah mati

Djangan pertjaja

orang lelaki

Brani soempa

dia takoet mati.

Asal saja teks lama di atas tidak jadi ejekan kepada kita, Indon, sebagai
”brani soempa, dia takoet mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasanya elok
diingat teriakan Bung Karno dulu, ”Ganyang Malaysia!”

Remy Sylado Pengamat Musik, Novelis, Dramawan




. 


________________________________
 Get your preferred Email name!  
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com. 
________________________________
 Get your preferred Email name!  
Now you can @ymail.com and @rocketmail. com. 
   


      Mulai chatting dengan teman di Yahoo! Pingbox baru sekarang!! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

Kirim email ke